Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pemburu yang Menjadi Mangsa
Matahari pagi menyinari kanopi Hutan Kabut, menyibak sedikit kegelapan yang menyelimuti area itu. Lin Tian berdiri di tengah hamparan kayu yang hancur, sisa dari pohon purba yang baru saja ia hancurkan dengan satu pukulan fisik murni.
Ia merasa sangat segar. Setiap tarikan napasnya terasa menarik energi bumi di sekitarnya.
Lin Tian membuka tangannya, dan sebuah gulungan perkamen tua muncul dari Cincin Penyimpanannya. Ini adalah Peta Alam Rahasia Kuno yang ia rampas dari Balai Lelang Pasar Gelap.
Ia membentangkan perkamen tersebut. Peta itu terbuat dari kulit Binatang Iblis tingkat tinggi yang kebal terhadap air dan api. Garis-garis peta itu digambar menggunakan tinta emas yang pudar, menunjukkan sebuah wilayah geografis yang tidak asing baginya.
"Ngarai Pemutus Jiwa," Lin Tian membaca aksara kuno yang berkedip di ujung peta.
Tempat itu terletak di perbatasan antara wilayah netral dan pusat Benua Timur. Ngarai itu terkenal sebagai zona terlarang bagi para kultivator di bawah tahap Inti Emas karena dipenuhi oleh kabut racun pemakan Qi dan Binatang Iblis mutan.
Di titik terdalam ngarai tersebut, peta ini menandai sebuah simbol berbentuk pusaran hitam.
"Sebuah Alam Rahasia yang belum pernah ditemukan oleh Lima Sekte Besar," gumam Lin Tian. Matanya memancarkan ketertarikan. "Tempat yang sempurna untuk bersembunyi dari kejaran sekte sekaligus mencari sumber daya untuk menembus tahap Inti Emas Akhir."
Lin Tian menyimpan peta itu kembali. Ia menarik napas panjang, bersiap mengerahkan Sayap Pengoyak Ruang-nya.
Namun, tiba-tiba, pusaran Inti Kehampaan di Dantiannya berdenyut pelan, memberikan sinyal peringatan. Panca indera Lin Tian yang kini sangat tajam menangkap riak halus di udara dari arah jam tiga, jam enam, dan jam sembilan.
Ada yang mengawasinya.
Dan mereka bukan kultivator sembarangan. Fluktuasi nafas mereka disembunyikan dengan sempurna, berbaur dengan kabut hutan. Jika bukan karena Inti Kehampaan yang sangat peka terhadap perubahan energi spasial, Lin Tian mungkin tidak akan menyadarinya.
Lin Tian tidak langsung menoleh. Ia tersenyum tipis, membiarkan tangannya beristirahat santai di balik jubah hitamnya.
"Aku tahu harga kepalaku mahal," suara Lin Tian memecah keheningan hutan, terdengar santai namun bergema jelas. "Tapi bersembunyi seperti tikus di balik pepohonan tidak akan membuat kalian mendapatkan Batu Roh itu. Keluarlah."
Keheningan menyelimuti hutan selama beberapa detik.
Lalu, terdengar suara kekehan serak dari arah dahan pohon beringin raksasa di sebelah kanan.
"Hehehe... Pantas saja Tetua Lu bisa kehilangan lengannya. Persepsimu sangat tajam untuk seorang bocah yang baru saja mencapai tahap Inti Emas, Lin Tian."
Wussh! Wussh! Wussh!
Tiga sosok melesat dari bayang-bayang kabut dan mendarat membentuk formasi segitiga, mengepung Lin Tian di tengah.
Mereka mengenakan jubah abu-abu ketat dengan lambang gagak hitam di dada mereka. Ketiganya memancarkan aura pembunuh yang sangat pekat dan dingin. Yang paling mengerikan, fluktuasi Qi ketiganya berada di tahap Inti Emas Puncak!
Ini bukan kultivator liar sembarangan. Mereka adalah ahli pembunuh yang terkoordinasi.
"Tiga Gagak Penjagal," Lin Tian mengenali lambang itu dari ingatan Lu Changkong. Mereka adalah kelompok pemburu bayaran elit paling mematikan di Benua Timur. Konon, mereka pernah membunuh seorang Tetua tahap Jiwa Nascent Awal dengan mengandalkan kerja sama dan formasi racun mereka.
Pemimpin mereka, seorang pria paruh baya dengan mata buta sebelah bernama Gagak Hitam, menatap Lin Tian dengan senyum meremehkan. Di tangannya terdapat sepasang belati bergerigi yang meneteskan cairan hijau berbisa.
"Lima puluh ribu Batu Roh Menengah dan sebuah Pil Jiwa Nascent," ucap Gagak Hitam, menjilat bibirnya yang kering. "Sekte Awan Ungu benar-benar bermurah hati. Kami melacak jejak spasialmu dari Kota Naga Jatuh. Hebat juga kau bisa membantai cabang Sekte Darah Kemerahan, tapi sayangnya, keberuntunganmu berakhir di sini."
Di sebelah kiri Lin Tian, berdiri pria bertubuh raksasa setinggi dua setengah meter bernama Gagak Besi. Ia membawa sebuah palu godam berduri seberat ribuan kati. Ia adalah kultivator fisik.
Di sebelah kanan, berdiri seorang wanita cantik berwajah pucat bernama Gagak Berbisa, memainkan cambuk berduri di tangannya.
"Kakak Pertama, jangan buang waktu," dengus Gagak Besi. Suaranya terdengar seperti batu yang bergesekan. "Biar aku yang menghancurkan kepalanya. Aku ingin melihat seberapa keras tulang bocah yang katanya bisa mematahkan lengan Tetua Lu ini!"
"Jangan hancurkan kepalanya, Bodoh! Kita butuh kepalanya utuh untuk ditukar dengan hadiah!" peringat Gagak Berbisa.
Gagak Hitam mengangguk. "Tutup ruangnya. Jangan biarkan dia menggunakan sayap spasialnya!"
Seketika, ketiga pembunuh itu melemparkan pilar-pilar kecil bercahaya ke tanah. Pilar itu saling terhubung, membentuk kubah energi abu-abu yang menyegel fluktuasi ruang dalam radius seratus meter. Kini, Lin Tian tidak bisa berteleportasi kabur.
Lin Tian menatap kubah itu dengan ekspresi bosan.
"Sudah selesai?" tanya Lin Tian datar.
Sikap acuh tak acuh itu membuat Gagak Besi murka. Sebagai kultivator Inti Emas Puncak, ia terbiasa melihat targetnya gemetar ketakutan atau memohon ampun.
"Bocah sombong! Mati kau!"
Gagak Besi menghentakkan kakinya, membuat tanah meledak. Tubuh raksasanya melesat seperti meriam ke arah Lin Tian. Ia mengangkat palu godam raksasanya tinggi-tinggi. Qi tanah berwarna kuning pekat menyelimuti palu tersebut, mengubah massanya menjadi seberat gunung kecil.
"Pukulan Penghancur Bintang!"
Angin dari ayunan palu itu begitu kuat hingga menumbangkan pepohonan di sekitar mereka. Ini adalah pukulan fisik berkekuatan penuh dari seorang kultivator fisik Inti Emas Puncak!
Gagak Hitam dan Gagak Berbisa menyeringai. Mereka tahu, jika palu itu mengenai target, bahkan perisai artefak tingkat bumi pun akan hancur lebur.
Namun, di bawah bayang-bayang palu maut yang siap meremukkannya, Lin Tian bahkan tidak merapal pelindung Qi. Ia tidak mencabut Logam Hitam Tanpa Nama, dan ia sama sekali tidak menghindar.
Lin Tian hanya mengangkat tangan kanannya yang telanjang ke atas, membuka telapak tangannya untuk menyongsong palu berduri raksasa tersebut.
"Hahaha! Dia sudah gila! Dia mencoba menahan paluku dengan tangan koso—"
BAMMMMMMM!
Kata-kata Gagak Besi terputus oleh suara benturan yang memekakkan telinga. Gelombang kejut meledak hebat, menyapu debu dan kabut hingga bersih dari area tersebut.
Gagak Hitam dan Gagak Berbisa menahan napas, menunggu melihat tubuh Lin Tian hancur menjadi kabut darah.
Namun, saat debu mereda, pemandangan yang terbentang membuat jantung kedua pembunuh itu nyaris berhenti berdetak.
Lin Tian berdiri tegap di posisinya, kakinya bahkan tidak bergeser satu sentimeter pun. Tangan kanannya menjulang ke atas, dengan santai memegang kepala palu berduri raksasa itu.
Tidak ada darah. Tidak ada tulang yang patah. Telapak tangan Lin Tian menahan beban seberat gunung itu seolah hanya sedang menangkap sehelai daun yang jatuh. Kulitnya memancarkan pendaran kuning keemasan yang samar—efek dari Esensi Sumsum Naga Bumi.
"P-Palu utamaku..." Gagak Besi terbata-bata, matanya melotot menatap pemuda di bawahnya. Otot lengan raksasanya bergetar hebat saat ia berusaha menekan palunya ke bawah, namun palu itu seolah menabrak dinding kosmis yang tak tergoyahkan.
"Pukulan yang lemah," suara Lin Tian memecah keheningan, dingin dan penuh belas kasihan palsu. "Apakah kau belum sarapan?"
KRAAAAK!
Kelima jari Lin Tian tiba-tiba mencengkeram kepala palu spiritual tingkat menengah itu dengan keras. Di bawah tatapan horor Gagak Besi, logam suci yang diklaim tak bisa dihancurkan itu mulai retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi serpihan besi rongsokan!
"T-Tidak mungkin! Tubuh fisik tingkat apa itu?!" jerit Gagak Berbisa dari kejauhan.
Sebelum Gagak Besi bisa mundur, Lin Tian memutar tubuhnya dan melepaskan pukulan lurus menggunakan tangan kirinya, langsung menghantam dada raksasa pria itu.
Tidak ada ledakan Qi. Hanya kekuatan fisik murni.
BUM!
"GAHK!"
Dada Gagak Besi melesak ke dalam hingga membentuk kawah seukuran kepalan tangan. Terdengar suara rentetan tulang rusuk yang patah, merobek paru-paru dan jantungnya secara bersamaan. Pria raksasa itu terlempar ke belakang bagaikan boneka kain yang rusak, menabrak formasi pelindung mereka sendiri dan jatuh tak bernyawa, memuntahkan darah hitam dari mulutnya.
Satu pukulan tanpa Qi. Ahli fisik Inti Emas Puncak... tewas seketika!
"Gagak Besi!" Gagak Hitam meraung kaget.
Teror absolut akhirnya merayapi hati sang pemimpin pembunuh. Ini bukan buronan biasa. Kekuatan fisik pemuda ini sudah melampaui logika alam tahap Inti Emas!
"Serang bersamaan! Gunakan racun layu jiwa!" teriak Gagak Hitam, membuang semua harga dirinya.
Gagak Berbisa mengibaskan cambuknya. Cambuk itu pecah menjadi ribuan bayangan ular berbisa yang melesat ke arah Lin Tian, melepaskan kabut racun berwarna ungu yang sangat mematikan.
Di saat yang sama, Gagak Hitam menggunakan teknik siluman bayangannya. Sosoknya menghilang ke dalam tanah, lalu tiba-tiba muncul tepat di belakang punggung Lin Tian, menusukkan kedua belati beracunnya ke arah ginjal dan leher sang pemuda.
Serangan kombinasi yang sempurna. Terjepit antara racun korosif dari depan dan tusukan fatal dari belakang.
Lin Tian hanya tersenyum tipis.
Tubuh Penelan Kehampaan: Aktif!
Pusaran Inti Kehampaan di Dantiannya berputar gila-gilaan. Aura kegelapan absolut meledak dari pori-porinya. Kabut racun layu jiwa milik Gagak Berbisa yang menyentuh radius satu meter dari tubuh Lin Tian langsung tersedot masuk bagaikan pusaran air, tidak melukainya sedikit pun. Qi Kehampaan melahap racun itu sebagai nutrisi.
Di belakangnya, belati Gagak Hitam menghantam leher dan punggung Lin Tian.
Tring! Tring!
Bunyi nyaring seperti besi beradu dengan baja suci terdengar. Belati spiritual mematikan itu menghantam kulit Lin Tian, namun alih-alih menembusnya, kedua belati itu patah seketika. Tubuh Lin Tian jauh lebih keras daripada senjata mereka!
"A-Apa?!" Gagak Hitam terbelalak ngeri, tangannya bergetar karena gaya pegas dari senjatanya yang patah. "Baja Suci?! Tubuhmu terbuat dari Baja Suci?!"
"Kau terlalu dekat," bisik Lin Tian tanpa menoleh.
Lin Tian mengayunkan sikunya ke belakang, tepat menghantam wajah Gagak Hitam.
CRAT!
Kepala Gagak Hitam hancur berantakan seperti semangka yang dipukul godam. Mayat tanpa kepala itu ambruk ke tanah, menyemburkan darah ke udara.
Melihat pemimpin dan rekannya dibantai semudah menginjak semut, Gagak Berbisa menjerit histeris. Ia menjatuhkan cambuknya, berbalik, dan berlari gila-gilaan menuju kubah energi yang mereka pasang sendiri, mencoba menghancurkannya untuk kabur.
"Buka! Buka formasinya!" jeritnya sambil memukul-mukul penghalang energi itu.
Lin Tian berbalik perlahan. Ia tidak mengejar. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya ke arah wanita yang sedang panik itu.
Seketika, Inti Kehampaan melepaskan daya hisap spasial yang mengerikan.
"KYAAAA!"
Gagak Berbisa merasakan tubuhnya ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata. Kakinya terseret mundur. Ia mencoba melawan dengan Qi Inti Emas Puncaknya, namun di hadapan tarikan Kehampaan, Qi-nya seolah tidak berguna.
Ia melayang mundur melintasi udara, langsung menuju telapak tangan Lin Tian.
Greb.
Tangan Lin Tian mencekik leher wanita itu dengan erat. Gagak Berbisa meronta, wajah pucatnya dipenuhi air mata keputusasaan.
"T-Tolong... Tuan Lin... Hamba punya Batu Roh... Hamba bersedia melayanimu... Ampuni nyawaku!" isaknya dengan suara tercekik, mencoba menggunakan pesonanya.
Mata Lin Tian sedingin es abadi.
"Pesona wanita tidak berguna di hadapan kehampaan," ucap Lin Tian datar.
KRAK.
Dengan satu putaran tangan yang bersih, leher Gagak Berbisa patah. Nyawanya melayang dalam sekejap. Lin Tian membuang mayatnya ke tanah seolah itu adalah sampah yang tak berharga.
Tiga ahli Inti Emas Puncak. Pembunuh legendaris di Benua Timur. Dibantai dalam waktu kurang dari satu menit, tanpa Lin Tian perlu mencabut pedang atau menggunakan teknik bela diri tingkat tinggi.
Lin Tian menepuk-nepuk tangannya, menghilangkan debu imajiner. Ia berjalan mendekati ketiga mayat itu.
Dengan efisiensi yang dingin, ia menghancurkan Dantian mereka dan memanen tiga buah Inti Emas Puncak. Inti-inti emas itu memancarkan Qi murni yang sangat padat. Ia juga melucuti Cincin Penyimpanan dari jari mereka, yang berisi jutaan Batu Roh tingkat rendah dan ratusan ribu Batu Roh tingkat menengah hasil kerja kotor mereka selama bertahun-tahun.
"Master Sekte Awan Ungu benar-benar mengirimiku sumber daya gratis," Lin Tian menyeringai lebar sambil melemparkan ketiga Inti Emas itu ke udara layaknya bola kacang, lalu menangkapnya kembali.
"Dengan tiga Inti Emas Puncak ini, menembus Inti Emas Menengah hingga Akhir hanyalah masalah waktu."
Lin Tian menyimpan harta rampasannya. Ia menjentikkan jarinya, mengirimkan seberkas aura hitam yang langsung melahap kubah pelindung di sekitarnya.
Setelah memastikan tidak ada lagi pemburu lain di sekitarnya, Lin Tian memusatkan energinya ke punggung.
ZRAAASH!
Sayap keperakan raksasa membentang, membelah udara pagi. Dengan satu kepakan kuat, tubuh Lin Tian melesat ke angkasa, menembus awan dan meninggalkan jejak kekosongan di langit.