Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Bawah Salju
Kata-kata Nara bagaikan percikan api yang menyambar bensin. Amarah dan rasa sakit yang dipendam Kirana selama puluhan tahun akhirnya meledak. Kirana mencoba menerobos masuk untuk menyelamatkan apa pun yang tersisa dari kenangan ibunya, namun Nara sengaja mendorong bahu Kirana hingga Kirana hampir terjatuh. Pertengkaran hebat dan saling dorong pun tidak dapat dihindarkan di lorong lantai dua tersebut.
Husein yang mendengar kegaduhan itu langsung berlari menaiki tangga. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Nara yang sengaja menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai sambil meringis kesakitan dan menangis buatan.
"Ada apa ini?!" bentak Husein dengan suara menggelegar.
"Papa... Kak Kirana marah-marah dan mendorongku. Dia tidak mau menerima kami di rumah ini," aduh Nara dengan suara memelas, menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Mata Husein mendelik penuh amarah menatap Kirana. Tanpa mendengarkan penjelasan atau bertanya apa yang sebenarnya terjadi, rasa benci mendalam yang selama ini terpendam kembali mencuat ke permukaan. Bagi Husein, Kirana selalu menjadi pembawa masalah dan pengganggu ketenangannya.
"Cukup, Kirana! Kau baru saja kembali dan sudah membuat kekacauan di rumah ini!" teriak Husein seraya mencengkeram lengan Kirana dengan sangat kuat hingga membuat gadis itu meringis.
"Ayah, dengarkan aku dulu! Dia mengubah kamarku, dia membuang barang-barang peninggalan Ibu!" tangis Kirana pecah. "Kenapa Ayah selalu membela mereka? Aku ini putri kandung Ayah!"
"Kau bukan siapa-siapa bagiku selain pembawa sial!" kata-kata kejam itu meluncur mulus dari mulut Husein tanpa rasa iba sedikit pun. "Ibumu mati gara-gara kau lahir ke dunia ini! Dan sekarang kau mau merusak kebahagiaan baruku? Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!"
Husein menyeret Kirana turun dari tangga secara kasar. Kirana mencoba bertahan, menangis dan memohon, namun tenaga ayahnya jauh lebih kuat. Husein menyambar koper-koper Kirana yang masih tergeletak di lorong depan, lalu membuka pintu utama rumah lebar-lebar.
"Keluar dari rumahku! Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi!" bentak Husein murka.
Dengan sekali dorongan keras, Husein melempar Kirana keluar ke pelataran rumah, disusul dengan koper-kopernya yang dijatuhkan kasar ke tanah. Pintu kayu yang kokoh itu kemudian ditutup dengan dentuman keras dan dikunci dari dalam.
Malam itu, cuaca sedang berada pada puncaknya yang paling ekstrem. Angin malam berhembus sangat kencang, membawa serta bulir-bulir salju lebat yang turun menyelimuti kota. Suasana di luar begitu membekukan dan mencekam. Kirana terduduk di atas tanah yang dingin, terpaku menatap pintu rumahnya sendiri yang kini tertutup rapat baginya.
Ia mengenakan pakaian tipis—hanya sweater rajut sederhana yang tak mampu menahan gigitan udara membeku yang menusuk hingga ke tulang. Air matanya menetes deras, mengalir membasahi pipinya yang kian pucat, sebelum akhirnya membeku karena cuaca yang luar biasa dingin.
Dengan tubuh yang gemetar hebat dan gigi yang berjelatuk, Kirana berusaha bangkit. Ia menarik kopernya dengan jemari yang mulai mati rasa, mencoba berjalan menyusuri jalanan kompleks yang sepi menembus tumpukan salju yang semakin tebal. Namun, ke mana ia harus pergi? Ia tidak memiliki siapa-siapa di kota ini. Rumah yang ia harapkan menjadi tempat pulang kini telah mengusirnya tanpa belas kasihan.
Rasa dingin yang ekstrem perlahan-lahan menggerogoti pertahanan tubuhnya. Kesadaran Kirana mulai mengabur, pandangannya berbayang, dan rasa pusing yang teramat sangat menusuk kepalanya. Langkah kakinya semakin lambat dan berat hingga akhirnya kedua lututnya menyerah pada gravitasi. Kirana roboh di tepi jalanan yang sepi, meringkuk pasrah di atas tumpukan salju yang dingin. Dalam keputusasaan yang mendalam, Kirana memejamkan matanya, membiarkan kegelapan perlahan-lahan merenggut kesadarannya.