NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 - Serangan Farmasi

Dr. Satria menelepon pukul 05.43. Arga menjawab pada dering kedua. Tidurnya selalu ringan, sejak dulu.

"Ada masalah." Suara Satria tidak bergetar. Satria tidak pernah bergetar. Namun ada bobot yang Arga kenali sebagai alarm yang ditahan. "Kontaminasi pada lot bahan baku. Reagen C-14, prekursor sintesis NX-7. Kami mendeteksi variasi kemurnian saat kontrol kualitas pagi ini."

Arga duduk di tempat tidur. Bianca bergerak di sampingnya, tetapi tidak terbangun.

"Tingkat kontaminasi?"

"Empat persen di atas ambang yang dapat diterima. Cukup untuk merusak sintesis dan membatalkan enam minggu produksi. Kalau tidak terdeteksi, senyawa akhirnya akan memiliki profil keamanan yang berubah. Pada model hewan, bisa menyebabkan hepatotoksisitas. Pada manusia..." Satria berhenti sejenak. "Bisa membunuh."

Darah Arga terasa membeku. Bukan karena takut. Karena marah. Jenis amarah yang tidak naik ke kepala, melainkan turun ke perut dan menetap di sana, berat, senyap, menunggu arah.

"Isolasi lot itu. Karantina total. Jangan sampai satu gram pun keluar dari gudang. Aku hubungi Rafael."

"Sudah kuisolasi. Aku di laboratorium sejak pukul empat."

Pukul tujuh pagi, Arga sudah berada di kantor Jiuxuan bersama Rafael dan Satria. Di meja ada tiga cangkir kopi yang belum tersentuh dan laporan analisis kimia delapan belas halaman.

"Ini bukan degradasi alami," kata Satria, mengetukkan telunjuk ke halaman tujuh. "Profil impuritasnya tidak konsisten dengan penuaan atau penyimpanan yang buruk. Ada yang memasukkan kontaminan ke reagen sebelum pengiriman."

"Pemasoknya," kata Rafael.

"Andara Kimia. Kontrak ditandatangani empat bulan lalu. Sampai sekarang, lima lot datang tanpa masalah. Lot keenam datang seperti ini."

Rafael membuka laptop. Sistem Codex, jaringan intelijen yang dibangun Arga selama bertahun-tahun, sudah berjalan.

"Andara Kimia punya kontrak paralel." Rafael memutar layar ke arah Arga. "Mereka memasok reagen untuk Gunawan Suplemen sejak 2019. Kontrak diperpanjang tiga kali. Volume tahunan dua setengah miliar."

Keheningan di ruangan itu berlangsung lima detik. Satria menatap Rafael. Rafael menatap Arga. Arga menatap layar.

"Lanjutkan," kata Arga.

Rafael mengetik. Lebih banyak data. Lebih banyak koneksi.

"Tiga minggu lalu, rekening operasional Andara Kimia menerima transfer Rp200 juta. Asal: rekening badan usaha yang terkait dengan Gunawan Suplemen. Deskripsi transfer: 'jasa konsultasi teknis.'" Rafael mengangkat mata dari layar. "Mereka tidak pernah menyediakan konsultasi teknis. Tidak pernah."

Satria berdiri. Berjalan ke jendela. Kembali lagi.

"Dia membayar mereka untuk mencemari bahan baku kita."

"Itu yang ditunjukkan data," kata Rafael.

"Aku mau lebih dari sekadar indikasi," kata Arga. Suaranya rendah, terkendali, setiap kata punya bobot sendiri. "Aku mau pengakuan."

Pertemuan dengan pemasok berlangsung di kantor Jiuxuan pukul 14.00 pada hari yang sama. Karim Andara, lima puluh enam tahun, pemilik Andara Kimia, masuk dengan mengira ini kunjungan rutin untuk membahas lot berikutnya.

Ia menemukan Arga duduk di satu sisi meja. Rafael berdiri di dekat pintu. Satria tidak ada. Arga memintanya pergi. Ilmuwan tidak perlu menyaksikan percakapan semacam ini.

"Karim, duduk."

Karim duduk. Ia melirik ke kiri dan kanan. Menyadari tidak ada air, tidak ada kopi, tidak ada basa-basi.

"Ada masalah dengan pengiriman?"

Arga membuka sebuah map. Meletakkannya di meja. Laporan analisis kimia. Rekening koran. Catatan kontrak Gunawan.

"Lot enam, reagen C-14. Kontaminasi sengaja dengan impuritas barium. Transfer Rp200 juta dari Gunawan Suplemen ke rekening Anda tiga hari sebelum pengiriman. Deskripsi palsu konsultasi teknis."

Wajah Karim memutih. Bukan pucat biasa, melainkan putih orang yang melihat lantai lenyap dari bawah kakinya.

"Saya..."

"Jangan bohong." Arga tidak meninggikan suara. Tidak perlu. "Kalau Anda berbohong sekarang, langkah berikutnya adalah Bareskrim. Kontaminasi bahan farmasi adalah kejahatan terhadap kesehatan publik. Ancaman empat sampai delapan tahun. Penjara."

Karim menatap map itu. Menatap Arga. Menatap Rafael di dekat pintu. Ia menelan ludah.

"Satrio. Satrio Gunawan. Dia menelepon saya sebulan lalu. Katanya dia ingin... menghambat operasi pesaing. Dia menawarkan Rp200 juta untuk mengubah kemurnian reagen. Katanya tidak akan ada yang sadar. Katanya cukup untuk menunda riset, bukan untuk menimbulkan bahaya nyata."

"Dia berbohong," kata Arga. "Tingkat kontaminasi itu bisa menyebabkan kematian pada uji klinis."

Karim menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.

"Saya tidak tahu. Sumpah, saya tidak tahu."

"Anda akan menandatangani pernyataan yang merinci semuanya. Tanggal, nilai, percakapan, instruksi. Semuanya."

"Kalau saya tanda tangan, Satrio akan menghancurkan saya."

Arga mencondongkan tubuh. Matanya tenang. Suaranya bahkan lebih rendah.

"Kalau Anda tidak tanda tangan, saya yang menghancurkan Anda. Dan saya lebih efisien daripada Satrio."

Karim menandatangani dalam empat puluh menit. Delapan halaman. Setiap detail. Setiap panggilan. Setiap instruksi.

Ketika Karim keluar, Rafael mengunci pintu. Arga berdiri di dekat jendela, menatap kota. Jakarta kelabu di bawah awan rendah. Lalu lintas di jalan arteri. Hidup normal bagi jutaan orang yang tidak tahu ada seseorang yang mencoba meracuni riset yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa.

"Apa yang kita lakukan?" tanya Rafael.

"Satrio Gunawan hampir menghancurkan penelitian berbulan-bulan." Arga berbalik ke Rafael. "Dan dia bisa membunuh orang. Kalau kontrol kualitas tidak menangkapnya, kalau lot itu lolos, kalau sampai ke uji klinis..."

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Tidak perlu.

"Kita tuntut?" Rafael sudah memegang ponsel.

Arga menggeleng.

"Tidak. Aku tidak akan menuntut." Ia berjalan ke meja. Duduk. Kedua telapak tangannya terbuka di permukaan kayu, jari-jarinya kokoh. "Aku akan menghancurkan perusahaannya."

Rafael menyimpan ponsel. Ia mengenal nada itu. Nada yang datang sebelum keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

"Caranya?"

"Dengan cara yang paling tidak dia duga. Lewat kebenaran."

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!