NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Julian kemudian kembali bertanya dengan nada sangat sopan. "Dipanggil pulang? Apakah... Anda berasal dari Keluarga Adhitama, Tuan?"

Darius tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan kembali menyelimuti sebelum akhirnya berucap dengan suara berat.

"Benar, aku berasal dari Keluarga Adhitama," jawab Darius dengan suara datar. "Aku putra tertua keluarga itu."

Seketika itu juga, cengkeraman tangan Julian pada kemudi membeku. Pengakuan singkat itu berhasil membuat napas Julian tertahan selama beberapa detik.

Ia melirik spion tengah dengan mata yang melebar, mencoba mencerna fakta mengejutkan yang baru saja didengarnya.

"A-Anda... anak tertua dari Keluarga Adhitama?!" suara Julian bergetar hebat. "Bagaimana bisa, Tuan? Saya kira Anda tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga besar di negeri ini!"

"Kedua orang tuaku berpisah saat aku masih kecil. Aku ikut bersama ibuku dan tinggal di Kota Mandara," jelas Darius tanpa emosi, seolah sedang menceritakan kisah orang lain.

"Keluarga Adhitama menelantarkan kami. Baru kemarin mereka berhasil melacak keberadaanku dan memanggilku kembali," lanjut Darius sambil menyandarkan punggungnya.

Julian mengepalkan tangannya di atas kemudi mobil. Ia tahu betul betapa mengerikannya kekuatan dan pengaruh yang digenggam Darius, tetapi ada satu hal yang terasa sangat ganjil baginya.

"Apakah mereka menyadari siapa Anda sebenarnya, Tuan?" tanya Julian penuh rasa penasaran dan kewaspadaan.

Darius menyunggingkan senyum tipis yang terasa sangat dingin dan penuh ironi.

"Tidak," sahut Darius dengan suara pelan. "Di mata mereka, aku hanyalah seorang anak buangan, tidak berpendidikan, dan tidak punya masa depan."

Darius lalu mengibaskan tangan kanannya secara perlahan di udara. "Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Simpan semua pertanyaanmu, Julian."

Suara Darius yang pelan namun sarat akan penekanan itu seketika membuat suasana di dalam mobil tersebut mendadak membeku, menyisakan aura intimidasi yang membuat Julian bungkam seketika.

"Siap, Tuan! Maafkan kelancangan saya," tanggap Julian dengan sigap.

Ia langsung memfokuskan pandangannya ke jalanan di hadapannya, menekan dalam-dalam rasa penasarannya yang masih membuncah.

Darius menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi yang empuk. "Bawa aku berkeliling sebentar. Aku ingin melihat bagaimana rupa Ibu Kota saat malam."

"Baik, Tuan," jawab Julian dengan suara yang pelan namun sarat akan kepatuhan

Julian kemudian memutar kemudi menuju kawasan komersial utama Ibu Kota yang dipenuhi gemerlap lampu dan gedung-gedung pencakar langit.

Tak lama kemudian, mata Darius yang tajam menangkap sebuah bangunan megah bergaya modern dengan tata cahaya lampu keemasan yang sangat mencolok.

Di bagian depan bangunan tersebut, terpasang papan nama berukuran besar dengan huruf aksen kristal yang berkilau di tengah kegelapan malam: Black Diamond Club.

"Hentikan mobilnya," perintah Darius datar.

Julian dengan sigap menginjak pedal rem secara perlahan, menghentikan Maybach itu tepat di seberang jalan tepat di depan kelab malam tersebut.

"Ada apa, Tuan? Apakah Anda ingin berkunjung ke sana?" tanya Julian ragu, namun tetap menjaga nada bicaranya agar tetap sopan.

Darius menatap papan nama bangunan tersebut dari balik kaca mobil yang gelap. "Black Diamond... tempat apa itu, Julian?"

Julian melirik sekilas ke arah bangunan megah tersebut, sebelum menjawab dengan penuh hormat.

"Itu kelab malam kelas atas, Tuan," jelas Julian dengan sangat sopan. "Tempat berkumpulnya para pengusaha, pejabat, dan anak-anak dari keluarga konglomerat."

"Begitu..." gumam Darius pendek. Matanya melirik beberapa penjaga bertubuh tegap yang berjaga kelab tersebut.

Tepat saat itu, sebuah Lamborghini berwarna merah menyala berhenti tepat di depan kelab malam tersebut. Pintu mobil terangkat ke atas, dan seorang pemuda keluar dari sana dengan gaya yang angkuh.

"Tuan," suara Julian kembali memecah keheningan. "Apakah Anda ingin masuk dan melihat-lihat?"

Darius menatap ke arah pemuda yang baru saja keluar dari Lamborghini merah tersebut. Dengan tenang, ia mengangguk pelan.

"Boleh juga. Aku ingin melihat bagaimana para petinggi dan anak-anak kaya negeri ini menghabiskan malam," sahut Darius dengan suara berat dan datar.

Julian dengan sigap langsung memutar kemudinya dan membawa Maybach itu memasuki parkiran kelab malam tersebut.,

Julian keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Darius. "Mari, Tuan. Saya akan mendampingi Anda."

Darius melangkah keluar dari mobil. Meskipun penampilannya sederhana, cara berjalannya yang tegap memancarkan aura yang tak bisa disembunyikan.

Saat hendak masuk, dua penjaga bertubuh tinggi besar yang mengenakan setelan jas sempat melangkah maju untuk memeriksa kedatangan mereka.

Namun, begitu mata kedua penjaga itu menangkap sosok Julian yang berjalan di belakang Darius dengan penuh hormat, wajah mereka seketika berubah pucat.

Sebagai CEO Mahendra Global Holdings, Julian adalah tokoh terpandang di Ibu Kota. Jika seorang konglomerat sekelas Julian berjalan di belakang seorang pemuda dengan sikap bak pelayan, siapa pemuda kemeja hitam itu?

Tanpa berani bertanya, kedua pengawal itu langsung menundukkan kepala. "Selamat datang, Tuan-tuan. Silakan masuk."

Begitu masuk, Darius dan Julian langsung disambut hiruk-pikuk kehidupan malam. Dentuman musik menggema berirama, berpadu dengan cahaya lampu kristal yang bernuansa elegan.

Di tengah ruangan, puluhan pasangan berdansa, sementara di area sofa melingkar, terlihat para pengusaha muda dan anak-anak konglomerat meminum anggur mahal bernilai ratusan juta.

Julian berbisik dengan sangat sopan di dekat telinga Darius, "Tuan, saya akan memesankan ruangan VVIP agar Anda bisa menikmati suasana dengan tenang."

"Tidak perlu," potong Darius datar. Matanya menyapu lantai dansa dan area bar utama. "Di sudut bar saja. Lebih santai."

"Baik, Tuan." Julian bergegas menuntun jalan menuju meja bar yang tidak terlalu bising, namun memiliki pandangan luas ke seluruh sudut ruangan.

Seorang bartender profesional langsung membungkuk hormat saat melihat mereka duduk. "Selamat malam, Tuan Mahendra. Mau dipesankan minuman apa untuk Anda dan tamu terhormat Anda?"

"Berikan whisky terbaik yang kalian miliki. Single malt berusia tiga puluh tahun," jawab Julian dengan tegas.

"Siap, Tuan Mahendra. Akan segera saya sajikan." sahut bartender itu dengan sopan.

Darius menyandarkan sikunya di atas meja bar yang dingin. Matanya yang tajam memperhatikan interaksi orang-orang di sekitarnya.

Namun, belum sempat gelas whisky diletakkan di meja, keributan kecil tiba-tiba pecah dari area sofa yang berada tak jauh dari meja bar tempat Darius duduk.

"Hei! Kau tahu tidak siapa aku?! Aku menyuruhmu minum, ya minum! Jangan berlagak sok jual mahal di depanku!"

Suara bentakan keras itu memecah dengung musik. Darius menolehkan pandangannya dengan santai.

Di sofa tersebut, pemuda yang tadi turun dari Lamborghini tampak berdiri dengan wajah merah padam karena pengaruh alkohol.

Di hadapannya, seorang wanita berambut panjang bergelombang dengan gaun hitam elegan tampak berdiri tegar, menatap sang pemuda dengan pandangan tajam.

"Tuan Rendy, jaga batasan Anda," suara wanita bergaun hitam itu terdengar jernih dan tenang. "Saya datang ke sini untuk membicarakan bisnis, bukan untuk yang lain."

"Bangsat! Kau pikir kau siapa berani bersikap seangkuh ini padaku?!" bentak pemuda bernama Rendy itu sambil menggebrak meja.

Beberapa pengawal bertubuh kekar di belakang Rendy langsung melangkah maju, mengepung wanita bergaun hitam tersebut untuk mengintimidasi.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!