Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak Bekal
Keesokan paginya.
Langit baru berwarna jingga ketika Serina sudah berdiri di dapur. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda sederhana, lalu mengenakan celemek yang dipinjamkan salah satu pelayan.
Dapur mansion Timothy jauh lebih besar daripada seluruh lantai bawah rumah orang tuanya. Deretan peralatan memasak tersusun rapi. Semuanya mengilap, nyaris tak pernah tersentuh.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Selamat pagi, Nyonya." Seorang pria paruh baya mengenakan seragam koki membungkukkan badan sopan. "Saya Rudi. Kepala koki di mansion ini."
Serina membalas senyum tipis. "Pagi, Chef."
Chef Rudi memandang bahan-bahan yang sudah dikeluarkan Serina dari lemari pendingin. "Nyonya tidak perlu repot. Semua makanan keluarga Timothy sudah menjadi tanggung jawab kami."
"Tidak apa-apa." Serina mengambil selembar roti. "Aku hanya ingin membuat sarapan."
"Kalau Tuan Vincent memiliki menu khusus, saya yang akan menyiapkannya."
"Bukan untuk Tuan Vincent."
Chef Rudi terdiam. "Lalu...?"
"Untuk Viren."
Beberapa asisten koki saling melirik. Chef Rudi berdeham pelan. "Nyonya... saya rasa sebaiknya jangan."
Serina menghentikan gerakannya. "Kenapa?"
"Tuan Muda tidak pernah membawa bekal."
"Dia makan di sekolah?"
"Bukan."
Chef Rudi menghela napas. "Beliau tidak pernah mau menyentuh makanan buatan orang baru."
Serina teringat semangkuk sup yang didorong hingga ke bibir meja semalam. Ia tersenyum kecil. "Kalau begitu, biar dia yang memutuskan sendiri."
Chef Rudi hendak berkata sesuatu, tetapi urung.
Serina mulai mengoleskan selai tipis pada dua potong roti, lalu menambahkan telur dadar yang dipotong membentuk bintang kecil. Setelah itu ia memasukkan beberapa potong stroberi dan anggur ke dalam kotak makan berwarna biru yang ditemukan di lemari dapur. Sederhana. Namun rapi.
"Nyonya..." Chef Rudi kembali bersuara.
"Ya?"
"Sudah lima pengasuh mencoba mendekati Tuan Muda."
Serina mengangkat kepala.
"Semuanya menyerah."
Serina menutup kotak bekal itu perlahan. "Aku bukan pengasuh."
"Lalu?"
"Aku juga belum tahu aku ini siapa di rumah ini."
Jawaban itu membuat Chef Rudi terdiam.
...****************...
Vincent duduk di ujung meja tanpa banyak bicara.
Tak lama kemudian Soraya keluar dari dapur membawa sarapan. "Selamat pagi, Tuan."
Vincent hanya mengangguk. Pandangannya sempat berhenti pada kotak bekal di tangan Serina. "Apa itu?"
"Bekal untuk Viren."
Vincent tidak memberi tanggapan.
Beberapa detik kemudian langkah kaki kecil terdengar.
Viren datang dengan seragam sekolah yang rapi. Ia duduk di kursinya sendiri.
Soraya menyajikan omelet dan roti panggang di hadapannya.
Viren mulai makan seperti biasa.
Serina meletakkan kotak bekal itu di samping piringnya. "Kalau nanti lapar, kamu bisa memakannya."
Viren tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik kotak itu sekilas. Lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Tidak menerima. Namun juga tidak menolaknya.
Bagi para pelayan, itu sudah jauh berbeda dari kemarin.
Vincent selesai meminum kopinya. Ia meletakkan cangkir perlahan. "Pukul sembilan, seorang desainer akan datang."
Serina menoleh. "Desainer?"
"Untuk mengukur pakaianmu."
"Perlu?"
"Kamu sekarang Nyonya Timothy." Vincent berdiri. "Minggu depan kita menghadiri jamuan."
Serina masih tampak bingung. "Lalu... setelah itu?"
"Kamu bebas."
"Bebas?"
"Lakukan apa pun yang kamu suka."
Vincent mengambil jas yang telah disiapkan pelayan. Ia menoleh kepada Viren. "Sudah selesai?"
Viren mengangguk.
Vincent meraih tas sekolah putranya. "Ayo."
Viren turun dari kursi. Baru dua langkah berjalan, ia berhenti. Semua orang ikut memperhatikannya. Anak itu berbalik. Tangannya perlahan mengambil kotak bekal biru yang masih tergeletak di atas meja. Tanpa mengatakan apa pun, ia memasukkannya ke dalam tas sekolah.
Lalu berjalan keluar mengikuti Vincent.
Serina berdiri terpaku.
Chef Rudi tersenyum tipis. "Itu pertama kalinya, Nyonya."
"Apa?"
"Tuan Muda membawa bekal."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel pintu berbunyi tepat pukul sembilan.
Soraya mengantar seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun memasuki ruang tamu. Penampilannya elegan dengan setelan krem dan map kulit di tangan.
"Selamat pagi, Nyonya Timothy. Saya Clara."
Serina berdiri.
"Pagi."
"Saya datang sesuai jadwal Tuan Vincent."
Clara membuka mapnya.
"Beliau meminta saya menyiapkan pakaian untuk seluruh agenda Anda selama tiga bulan ke depan."
Serina berkedip.
"Tiga bulan?"
"Ya."
"Sebanyak itu?"
Clara tersenyum tipis.
"Itu masih tergolong sedikit."
Beberapa asisten mulai menurunkan koper-koper besar berisi kain dan contoh desain.
Tak lama kemudian, pita ukur melingkari bahu Serina.
"Lurus sedikit, Nyonya."
Serina menurut.
Clara mengangguk pelan sambil mencatat ukuran.
"Postur Anda sangat proporsional."
Ia melangkah mengitari Serina.
"Bahu seimbang, pinggang ramping, dan tinggi badan Anda ideal."
Salah satu asistennya ikut tersenyum.
"Kalau memakai gaun malam, hasilnya pasti luar biasa."
Serina terkekeh kecil.
"Aku tidak terbiasa memakai gaun."
"Itu bukan masalah."
Clara menutup buku catatannya.
"Yang sulit adalah mengubah bentuk tubuh."
"Tapi tubuh seperti milik Nyonya..."
Ia berhenti sejenak.
"...tidak membutuhkan banyak perubahan."
Serina hanya tersenyum canggung.
Ia belum pernah dipuji sedetail itu.
Clara kembali membuka map.
"Kalau begitu, kita mulai memilih konsep."
Serina melihat puluhan sketsa gaun yang dibentangkan di atas meja.
Gaun-gaun itu tampak seperti karya yang biasa muncul di peragaan busana.
"Semuanya... untukku?"
"Ya."
"Mana yang paling Tuan Vincent sukai?"
Clara tersenyum penuh arti.
"Tuan Vincent tidak memilih."
"Beliau hanya mengatakan satu kalimat."
Serina mengangkat kepala.
"'Pastikan semua orang tahu dia adalah Nyonya Timothy.'"
Ruangan mendadak sunyi.
Serina menatap sketsa-sketsa itu tanpa berkata apa-apa.Ia menyadari pernikahan ini bukan hanya mengubah statusnya. Mulai hari ini, setiap langkahnya akan membawa nama keluarga Timothy.
Sementara di sekolah.
Bel istirahat berbunyi.
Anak-anak berhamburan keluar kelas sambil membawa kotak makan masing-masing.
Ruang makan khusus taman kanak-kanak internasional itu segera dipenuhi suara tawa dan obrolan.
Viren duduk di tempatnya seperti biasa. Tas kecilnya diletakkan di atas kursi.
Seorang anak laki-laki berambut ikal duduk di sebelahnya. "Viren."
"Hm?"
"Kamu tidak bawa bekal lagi?"
Viren tidak menjawab. Sejak awal semester, semua teman sekelasnya tahu satu kebiasaan Viren Timothy. Ia selalu makan makanan yang disiapkan sekolah. Tak pernah sekali pun membawa bekal dari rumah.
Karena itu, ketika Viren membuka tasnya...
Beberapa anak spontan menghentikan aktivitas mereka.
"Itu..."
"Viren bawa kotak bekal?"
"Aku baru lihat."
Bahkan guru pendamping yang sedang membagikan susu ikut menoleh.
Viren mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna biru. Kotak itu masih tertutup rapi.
Teman di sebelahnya membulatkan mata. "Siapa yang membuatkan?"
Viren membuka pengait kotak makan tanpa tergesa. Di dalamnya tersusun dua potong roti berbentuk persegi, telur dadar berbentuk bintang, beberapa iris apel, anggur, dan stroberi. Sederhana. Namun terlihat dibuat dengan hati-hati.
"Wow..."
"Itu lucu."
"Enak kelihatannya."
Anak perempuan di seberang meja tersenyum.
"Ibumu yang membuat?"
Tangan Viren berhenti sesaat. Ia menatap isi kotak bekalnya beberapa detik. Lalu menjawab datar, "...Bukan."
"Terus siapa?"
Viren mengambil sepotong roti. Menggigitnya pelan. Baru setelah menelan, ia berkata, "Orang baru di rumah."
Anak-anak saling berpandangan. Guru pendamping memperhatikan dari kejauhan. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat. Hari ini...Untuk pertama kalinya sejak Viren bersekolah di sana...Anak itu membawa bekal dari rumah.
"Viren..."Seorang anak laki-laki bernama Kevin menunjuk kotak bekal itu. "Boleh aku coba satu?"
Meja makan mendadak hening. Beberapa anak saling berpandangan. Mereka tahu Viren tidak pernah suka berbagi makanan.
Viren menatap Kevin beberapa detik. Lalu menunduk melihat isi kotak bekalnya.
Tangannya mengambil satu potong stroberi.
Namun, sebelum memberikannya, ia berhenti.
Tatapannya kembali pada stroberi itu. Seolah sedang mengingat sesuatu.
Pagi tadi...Serina menyusun buah-buahan itu satu per satu ke dalam kotak. "Kalau nanti lapar, kamu bisa memakannya."