NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VILA

Vila yang dimaksud Arka ternyata bukan sekadar "tempat sepi". bila itu adalah sebuah kabin kayu bergaya Scandinavia yang tersembunyi di balik hutan pinus, tepat di puncak gunung dengan ketinggian yang membuat telinga berdenging. Udaranya begitu dingin hingga napas Lina keluar sebagai asap putih setiap kali dia menghela napas.

"Selamat datang di 'The Silence'," kata Arka sambil membuka pintu mobil. Dia mengambil koper Lina—yang isinya hanya baju ganti, paspor, dan beberapa buku—dengan satu tangan. "Di sini, sinyal HP cuma ada kalau kamu berdiri di atas pohon cemara tertinggi. Jadi, jangan harap bisa stalking Instagram mantanmu."

Lina turun dari mobil. Kakinya gemetar karena dingin, tapi anehnya hatinya terasa tenang. Tidak ada suara klakson. Tidak ada teriakan tetangga. Tidak ada notifikasi WhatsApp dari Dinda yang meminta maaf palsu. Hanya suara angin yang mendesau lewat didaunan pinus.

"Ini... terlalu sepi," gumam Lina, sambil merapatkan jaket tebalnya.

"Justru itu tujuannya," jawab Arka sambil mengunci mobil. "Ketika dunia luar bising, kita butuh keheningan untuk mendengar suara hati sendiri. Atau setidaknya, mendengar suara perut sendiri yang minta makan."

Mereka masuk ke dalam vila. Interior-nya minimalis: perapian batu, sofa kulit cokelat tua, dan jendela besar yang menghadap langsung ke lembah berkabut. Di atas meja dapur, sudah ada secangkir kopi panas dan dua potong roti bakar.

"Aku pesan tadi lewat aplikasi sebelum naik gunung," jelas Arka santai. "Pemilik vilanya baik hati, dia titipkan kunci dan makanan. Katanya, 'Bawa tamu yang sedang patah hati? Berikan dia kopi dan diam.'"

Lina tersenyum tipis. "bijak sekali pemiliknya."

"Dia juga gila," tambah Arka. "Tapi biarkan saja. Sekarang, duduklah. Minum kopimu. Jangan dipikirkan dulu soal Raka, Dinda, atau bayi haram mereka."

Lina duduk di dekat perapian. Dan memegang cangkir kopi hangat itu erat-erat, merasakan panasnya menjalar ke jari-jarinya yang kaku. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dia merasa aman.

"Arka," panggil Lina pelan.

"Hm?" Arka sedang sibuk menyalakan api di perapian.

"Kenapa kamu melakukan semua ini? Membawaku ke sini, membayari pengacara, mendengarkan keluhanku... Kamu bahkan tidak kenal aku sebelumnya. Apa motifmu? Apakah kamu ingin sesuatu dariku?"

Arka berhenti menyulut api. Dia menoleh, menatap Lina dengan tatapan serius. Api mulai menyala, memantulkan cahaya oranye di wajahnya yang tajam.

"Motif?" ulang Arka. Dia tertawa kecil, tawa yang terdengar lelah. "Dulu, istriku meninggalkan aku karena dia bosan. Bosan dengan rutinitas, bosan dengan keseriusanku, bosan dengan aku yang selalu bekerja dan lupa hidup. Saat dia pergi, aku merasa dunia berakhir. Aku menghabiskan waktu berbulan-bulan di kamar gelap, minum whiskey, dan menyalahkan diri sendiri."

Lina mendengarkan, matanya tidak berkedip.

"Sampai suatu hari," lanjut Arka, "aku bertemu seorang pria tua di taman. Dia melihatku menangis sambil memakan sandwich basi. Dia tidak menghiburku. Dia hanya duduk di sampingku dan berkata, 'Nak, rasa sakit itu seperti hujan. Kau bisa berlari menghindarinya, atau kau bisa berdiri di bawahnya dan membiarkannya membersihkanmu.' Sejak saat itu, aku berjanji. Jika aku bertemu orang lain yang terjebak dalam 'hujan' yang sama, aku akan menjadi payung mereka. Bukan untuk menyelamatkan mereka dari basah, tapi untuk memberi mereka tempat berteduh sampai badai reda."

Lina merasa dadanya sesak. Cerita Arka sederhana, tapi dalamnya menyentuh luka yang sama dengan miliknya. Pengkhianatan. Kesepian. Dan pencarian makna.

"Jadi, aku adalah proyek amal mu?" tanya Lina, mencoba bercanda untuk mengurangi ketegangan emosional.

"Bukan amal," koreksi Arka sambil duduk di karpet di depan Lina. "Investasi. Karena aku tahu, wanita seperti kamu kuat, cerdas, dan punya selera humor gelap dan akan bangkit. Dan ketika kamu bangkit, kamu akan menjadi teman yang menyenangkan. Teman yang bisa mengajakku minum kopi pahit dan mengeluhkan betapa bodohnya manusia."

Lina tertawa. Kali ini, tawanya renyah dan jujur. "Kamu aneh Raka Sangat aneh."

"Tapi efektif," sahut Arka sambil mengedipkan mata.

Malam semakin larut. Angin di luar semakin kencang, menerjang jendela-jendela kaca. Lina menatap api yang menari-nari di perapian. Pikirannya masih sesekali melayang ke Raka dan Dinda. Bayangan Dinda yang hamil, senyum kemenangan Raka, dan putusan pengadilan yang terasa setengah hati.

"Apa aku salah?" tanya Lina tiba-tiba, suaranya hampir tak terdengar di antara desau angin. "Apakah aku seharusnya berjuang lebih keras? Mempertahankan pernikahan itu demi... apa? Demi citra keluarga sempurna?"

Arka menggeleng. "Tidak, Lin. Pernikahan bukan tentang citra. Itu tentang kemitraan. Dan Raka telah memecat kamu dari posisi mitra itu tanpa pesangon. Kamu tidak salah karena menerima pemecatan itu dan mencari pekerjaan baru. Pekerjaan baru bernama 'Menjadi Lina Versi 2.0'."

"Lina Versi 2.0," ulang Lina. Terdengar keren. "Apa fitur barunya?"

"Fitur utamanya: Self-Love Mode. Fitur tambahan: No-Tolerance for Bullshit. Dan fitur premium: Ability to Enjoy Solitude."

Lina tersenyum. "Kedengarannya mahal."

"Gratis untuk kamu," kata Arka. "Karena kamu sudah membayar dengan cerita-cerita tragismu yang sangat menghibur."

Mereka tertawa bersama. Tawa yang mengisi kekosongan vila yang sunyi.

Tiba-tiba, ponsel Lina yang tadi dimatikan, bergetar di dalam tasnya. Getaran itu terdengar keras di keheningan malam.

Lina menoleh ke tasnya. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang menghubunginya? Raka? Dinda? Atau mungkin Ibu Tuti yang ingin memberikan update gosip terbaru?

Arka melihat gelagat Lina. "Jangan dibuka kalau kamu nggak siap."

Lina menatap tas itu lama. Rasa penasaran dan ketakutan bergumul di dadanya. Akhirnya, dia mengambil ponselnya. Layarnya menyala terang di ruangan yang redup.

Satu pesan masuk. Dari Ibu.

Ibu: Lin, Ibu dengar kabar dari Tetangga. Kata nya Dinda hamil anak Raka? Benarkah? Ibu shock banget. Tolong telepon Ibu segera. Ibu khawatir sama kamu.

Lina menatap pesan itu. Air matanya kembali menggenang. Bukan karena sedih, tapi karena lelah. Bahkan ibunya, orang yang seharusnya menjadi tempat pulang, kini menjadi sumber tekanan baru. Dia harus menjelaskan. Dia harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan dari keluarganya.

"siapa?" tanya Arka lembut.

"Ibu tahu," jawab Lina pelan. "Semua orang akan tahu. Gosip akan menyebar lebih cepat daripada virus."

Arka menghela napas. "Dunia memang kejam, Lin. Tapi ingat, opini orang lain tidak mendefinisikan siapa kamu. Kamu tahu kebenarannya. Dan kebenaran itu cukup."

Lina mematikan ponselnya lagi. Dia melemparkannya ke ujung sofa, jauh dari jangkauannya.

"Malam ini," kata Lina tegas, "aku tidak mau jadi anak yang baik. Aku tidak mau jadi istri yang sabar. Aku hanya mau jadi Lina. Lina yang ingin tidur nyenyak tanpa mimpi buruk."

Arka mengangguk. Dia berdiri, mengambil selimut tebal dari rak, dan melemparkannya ke arah Lina.

"Tidurlah, Besok matahari akan terbit lagi. Dan kabut di lembah sana akan hilang. Sama seperti kesedihanmu. Perlahan, tapi pasti."

Lina menarik selimut itu, menutupi tubuhnya hingga dagu. Dia memejamkan mata. Suara api yang berkretek, aroma kayu bakar, dan kehadiran Arka yang tenang membuatnya merasa aman untuk pertama kalinya.

Di luar, badai masih berkecamuk. Tapi di dalam vila kecil itu, Lina akhirnya menemukan kedamaian. Kecil, rapuh, tapi nyata.

Dan untuk malam ini, itu sudah cukup.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!