NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

​Kamar tamu di ujung koridor asrama putri itu sangat bersahaja. Hanya ada sebuah ranjang kayu dengan kasur kapuk yang dibungkus sprei katun putih bersih, sebuah lemari pakaian dua pintu yang aromanya khas kayu jati tua, dan sebuah meja kecil dengan cermin bundar di atasnya. Di balik jendela kaca yang bergeser, hamparan kebun sayur berundak-undak dan jajaran pohon aren menyajikan pemandangan hijau sejauh mata memandang.

​Bagi Zara, ruangan empat kali empat meter ini terasa jauh lebih aman daripada hotel bintang lima tempat pesta pernikahannya digelar. Di sini, tidak ada layar LED raksasa yang siap menelanjanginya, tidak ada tatapan menghakimi, dan tidak ada bisik-bisik tetangga yang meracuni telinga.

​Tiga hari pertama di Pondok Pesantren Al-Hidayah dihabiskan Zara hampir sepenuhnya di dalam kamar. Tubuhnya yang sempat ambruk menuntut hak untuk pulih. Di sela-sela waktu itu, Umil dengan telaten mengantarkan makanan tiga kali sehari, merawat luka memar di pipinya dengan kompres air hangat, dan membiarkan Zara tenggelam dalam kesunyiannya tanpa pernah mengajukan satu pun pertanyaan kepo.

​Pada hari keempat, Zara terbangun tepat saat lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an berkumandang dari pengeras suara masjid, bersahut-sahutan dengan kokok ayam jantan dan deru angin gunung subuh yang menusuk tulang. Ia menatap langit-langit kamar, merasakan detak jantungnya tak lagi seberisik hari-hari kemarin. Rasa sesak di dadanya perlahan mulai mengurai.

​Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di atas kasur ini, batin Zara sembari bangkit berdiri.

​Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh tubuhnya dengan air gunung yang sedingin es, lalu mengenakan salah satu gamis katun pemberian Dita. Kain kerudung hitamnya ia sematkan dengan rapi. Saat ia keluar dari kamar asrama, matahari pagi baru saja terbit, memancarkan semburat warna jingga dan emas di sela-sela kabut yang menyelimuti kaki Gunung Galunggung.

​Di halaman tengah, beberapa santriwati muda sedang sibuk menyapu daun-daun mangga yang gugur. Melihat Zara keluar, mereka serempak menghentikan aktivitas, lalu membungkuk hormat sembari tersenyum tulus. "Assalamualaikum.., Teh Zara. Selamat pagi," sapa mereka ramah.

​Zara sempat membeku, trauma masa lalunya refleks memicu rasa takut. Namun, melihat tidak ada kilat sinis atau kepura-puraan di mata gadis-gadis remaja itu, Zara perlahan mengembuskan napas lega. Ia menurunkan maskernya sedikit, membalas senyuman mereka dengan canggung. "waaalikumsalam...Pagi..."

​Langkah kakinya kemudian membawa Zara menuju kediaman Kyai Mukhlas. Beliau sedang duduk di teras, membaca sebuah kitab kuning tebal sembari menikmati segelas kopi hitam tanpa gula.

​"Assalamualaikum, Pak Kyai," sapa Zara lirih.

​Kyai Mukhlas mendongak, lalu menurunkan kacamata bacanya. Senyum teduh kembali terkembang di wajah sepuhnya. "Waalaikumussalam, Neng Zara. Alhamdulillah, katingalina parantos seger ayeuna mah," (Alhamdulillah, kelihatannya sudah lebih segar sekarang) ujar beliau, mempersilakan Zara duduk di kursi rotan seberangnya.

​"Alhamdulillah, Pak Kyai. Berkat kebaikan Pak Kyai dan Umil," jawab Zara, menunduk takzim. "Pak Kyai... saya merasa tidak enak jika hanya menumpang tidur dan makan di sini tanpa melakukan apa-apa. Jika diizinkan, saya ingin ikut membantu kegiatan di pesantren ini. Apa saja, Pak Kyai. Saya mau bekerja."

​Kyai Mukhlas terdiam sejenak, mengusap janggut putihnya yang rapi. Beliau bisa melihat gurat ketulusan sekaligus keinginan kuat di mata Zara untuk melupakan rasa sakitnya melalui kesibukan.

​"Neng Zara, di sini mah tidak ada yang namanya menumpang. Semua yang datang ke sini adalah keluarga," kata Kyai Mukhlas lembut. "Tapi, kalau Neng memang ingin ikut berkegiatan, kebetulan di madrasah ibtidaiyah (SD) pesantren sedang kekurangan tenaga untuk mendampingi anak-anak belajar membaca dan menulis. Umil kewalahan karena harus mengurus administrasi asrama juga. Apakah Neng Zara berkenan?"

​Mata Zara berbinar seketika. "Mengajar anak-anak? Tentu, Pak Kyai. Saya sangat mau."

​"Alhamdulillah. Mulai besok, Neng bisa ikut Umil ke kelas ya. Tapi ingat, jangan dipaksakan. Kalau capai, istirahat," pesan Kyai Mukhlas.

​Keesokan harinya, dunia Zara resmi berubah arah. Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah hanyalah sebuah bangunan kayu panjang yang disekat menjadi empat kelas. Fasilitasnya sangat minim—hanya ada papan tulis hitam yang sudutnya sudah gompel, meja-meja kayu panjang yang penuh coretan tipe-eks, dan lantai semen tanpa ubin. Namun, energi di tempat itu luar biasa hidup.

​"Anak-anak, hari ini kita kedatangan Teh Zara dari Jakarta. Teh Zara yang akan membantu kita belajar bahasa Indonesia dan menggambar ya," tutur Umil memperkenalkan Zara di depan kelas satu yang berisi belasan anak desa berwajah polos.

​"Halo, Teh Zara!" seru anak-anak itu serempak, mata mereka bulat berbinar penuh rasa ingin tahu.

​Melihat kepolosan anak-anak yang pakaian seragamnya terkadang kekecilan atau robek di bagian lengan tersebut, sekat di hati Zara runtuh. Selama beberapa jam ke depan, ia seolah ditarik keluar dari pusaran nasib buruknya sendiri. Ia membagikan kertas, mengajari mereka mengeja kata, dan sesekali tertawa renyah ketika salah satu murid bertingkah jenaka.

​Tawa itu... Zara bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa tertawa lepas semenjak hari pernikahannya yang tragis.

​Sore harinya, setelah anak-anak pulang, Zara ikut membantu para santriwati di dapur umum. Pesantren ini menganut sistem kekeluargaan yang kental; mereka menanak nasi dalam dandang raksasa dan memasak sayur bersumber langsung dari hasil kebun sendiri.

​Saat memotong sayur mayur di lantai dapur bersama Umil dan beberapa santriwati lainnya, obrolan mengalir hangat. Mereka bercerita tentang impian-impian sederhana mereka, tentang panen cabai yang melimpah, hingga candaan-candaan khas perdesaan Sunda.

​"Teh Zara mah tangannya halus pisan, beda sama kita yang sudah kapalan karena pegang cangkul," seloroh salah satu santriwati bernama Lilis, memicu tawa yang lain.

​Zara tersenyum, menatap telapak tangannya sendiri. Benar kata Lilis, tangannya dulu hanya digunakan untuk mengetik laporan di komputer atau merias wajah. Namun sekarang, memegang pisau dapur untuk mengupas bawang bersama orang-orang tulus ini rasanya jauh lebih bermakna. Kesibukan fisik yang padat dari subuh hingga malam perlahan-lahan berhasil menyita pikirannya, membuat bayangan gelap tentang Reza dan video terkutuk itu tidak memiliki ruang untuk muncul ke permukaan.

​Namun, ujian sesungguhnya bagi Zara adalah saat malam tiba. Ketika lampu-lampu asrama dipadamkan dan seluruh pesantren tenggelam dalam kesunyian malam gunung yang magis, kamar tamu itu kembali menjelma menjadi ruang sidang bagi batinnya.

​Zara duduk bersila di atas sajadah, masih mengenakan mukena putihnya pasca-salat tahajud. Di luar, suara jangkrik dan gesekan daun bambu saling bersahutan, menegaskan kesunyian yang mencekam.

​Ia merogoh saku tas ranselnya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang sudah mati total selama berhari-hari. Sejak tiba di Tasikmalaya, ia sengaja mencopot kartu SIM-nya dan tidak pernah menyalakan daya ponsel tersebut, menuruti saran Dita untuk memutus diri dari internet.

​Dengan tangan gemetar, Zara menekan tombol daya. Layar ponselnya menyala, menampilkan logo pabrikan, lalu sedetik kemudian ratusan notifikasi langsung menyerbu masuk bertubi-tubi bagai air bah.

​Ponselnya bergetar tanpa henti selama hampir dua menit.

​Zara menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya sebelum membuka aplikasi pesan singkat. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal—kemungkinan besar wartawan atau netizen iseng yang mendapatkan nomor teleponnya. Ada pesan makian dari keluarga besar Reza yang menyebutnya wanita pembawa sial, dan yang paling membuat dadanya robek adalah pesan terakhir dari ibunya, Sarah, yang dikirim tiga hari lalu: “Jangan pernah hubungi kami lagi. Anggap kami sudah mati, sebagaimana kami menganggapmu sudah tiada.”

​Air mata Zara menetes, membasahi kain mukenanya. Penolakan dari darah dagingnya sendiri masih menjadi belati yang paling runcing.

​Ia kemudian memberanikan diri membuka akun media sosialnya. Benar saja, namanya sempat bertengger di jajaran trending topic. Video klarifikasi dari pihak Reza yang menyatakan pernikahan mereka telah batal secara hukum dan agama bertebaran di mana-mana, lengkap dengan ribuan komentar netizen yang menghujat wajah Zara dengan kata-kata paling kotor yang bisa dipikirkan manusia.

​Zara memejamkan mata, mematikan kembali ponselnya dengan sentakan kasar, lalu melempar benda pipih itu ke sudut kasur. Tubuhnya bergetar hebat menahan tangis yang tertahan di tenggorokan.

​Kenapa tidak ada satu pun orang di luar sana yang mencari kebenaran? rintihnya dalam hati. Kenapa mereka begitu mudah percaya pada apa yang terlihat di layar, tanpa memikirkan hancurnya hidup seorang manusia asli?

​Di tengah isak tangisnya yang sunyi, Zara bersujud di atas sajadah. Kepalanya menyentuh lantai kayu yang dingin. Dalam sujud yang panjang itu, ia menumpahkan seluruh rasa sakit, amarah, dan ketidakberdayaannya langsung kepada Sang Pencipta.

​"Ya Allah... jika ini adalah takdir yang harus kujalani, maka kuatkanlah hambamu yang lemah ini," bisik Zara di sela tangisnya. "Aku bersumpah demi nama-Mu, aku tidak akan mengakhiri hidupku dengan konyol. Aku akan bertahan di sini, mengumpulkan serpihan harga diriku yang hancur. Dan suatu hari nanti... jika Engkau mengizinkan, tunjukkanlah siapa iblis yang telah merenggut kebahagiaanku."

​Saat Zara mengangkat kepalanya dari sujud, angin malam berembus pelan menerobos celah jendela, mengusap wajahnya yang basah dengan kelembutan yang aneh. Rasa tenang yang mendalam perlahan kembali merayapi dadanya.

​Zara bangkit, melangkah menuju jendela, menatap siluet Gunung Galunggung yang berdiri kokoh di bawah taburan bintang malam. Di tempat terpencil ini, di antara anak-anak polos madrasah dan keteduhan Kyai Mukhlas, Zara Amanta tahu bahwa proses pembentukan dirinya yang baru baru saja dimulai. Ia bukan lagi Zara yang lemah yang bisa dihancurkan hanya dengan satu tamparan; di balik gaun putih yang telah tercoreng darah itu, kini tumbuh sebatang jiwa yang siap menempa diri menjadi sekeras baja.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!