NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: SISA BADAI DAN SERPIHAN YANG TERSISA

Sinar fajar pertama di Lembah Shrouded tidak pernah berupa cahaya matahari yang benderang, melainkan sapuan warna biru pucat yang samar-samar menembus kepekatan kabut kelabu. Di dalam pondok, hawa dingin sisa pertempuran semalam masih terasa menusuk tulang. Keheningan kembali berkuasa setelah tiga monster kabut berhasil dimusnahkan, meninggalkan aroma hangus yang pekat dan puing-puing kayu yang berserakan di lantai.

Mayang perlahan membuka sepasang matanya. Kepalanya masih terasa sedikit pening, sebuah efek samping yang wajar setelah energi cahaya misterius dari dalam tubuhnya terkuras habis untuk pertama kali. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang melingkupi tubuhnya. Ketika kesadarannya pulih sepenuhnya, ia menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam dekapan Dion, bersandar pada dada bidang pria itu yang kokoh bagai karang.

Dion, yang rupanya tidak tidur sama sekali sepanjang sisa malam, langsung menundukkan kepala begitu merasakan pergerakan kecil dari gadis di pelukannya. Mata abu-abu badainya menatap Mayang dengan kelembutan yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun.

"Kau sudah bangun, Cantik?" suara bariton Dion terdengar serak khas orang yang terjaga, namun getarannya begitu dalam hingga membuat jantung Mayang berdesir halus. "Bagaimana perasaanmu? Apakah ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?"

Mayang menggeleng pelan, wajahnya mendadak merona merah begitu menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini. Ia bergegas memosisikan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang, menjauhkan diri sedikit dari daya pikat Dion yang terlalu kuat bagi pertahanan hatinya. "Aku... aku hanya sedikit lemas, tapi selebihnya aku baik-baik saja. Bagaimana dengan lenganmu?"

Dion mengangkat lengan kanannya, menggerakkannya dengan santai seolah luka robek yang menganga semalam tidak pernah terjadi. Kulitnya di balik pakaian leather yang robek kini sudah kembali mulus tanpa cacat. "Sihir penyembuhanmu bekerja dengan sempurna, Mayang. Bahkan tidak menyisakan rasa perih sedikit pun. Seumur hidupku, aku belum pernah melihat manusia biasa yang memiliki kemampuan memurnikan racun kabut sepertimu."

Mendengar pujian itu, Mayang menunduk, menatap jemari tangannya sendiri. "Aku pun tidak tahu dari mana kekuatan itu berasal, Dion. Selama ini aku hanya gadis biasa yang merawat ibuku yang sakit. Tapi semalam... saat makhluk itu hendak merobek dadaku, aku merasakan ada sesuatu yang terbakar di dalam darahku."

"Kita akan mencari tahu jawabannya bersama-sama nanti," kata Dion seraya berdiri dari ranjang. Tubuhnya yang menjulang tinggi tampak kontras dengan kekacauan di sekeliling mereka. Ia memandangi pintu pondok yang kini telah hancur total menjadi serpihan kayu. "Tapi sebelum itu, kita punya tugas penting. Pondok ini adalah satu-satunya tempat berlindung yang aman di wilayah ini. Jika kita tidak segera memperbaikinya sebelum kabut siang turun, hawa beracun di luar akan memenuhi ruangan ini dan membuat kita sesak napas."

Mayang ikut berdiri, merapatkan jubah merah tuanya yang kini sedikit kotor terkena debu. "Aku akan membantumu. Aku tidak bisa hanya duduk diam setelah kau mempertaruhkan nyawamu untukku."

Dion menatap Mayang dengan sebelah alis yang terangkat, tampak terkesan dengan ketangguhan gadis desa di hadapannya ini. Kebanyakan gadis yang ia temui di lembah pasti sudah menangis histeris atau pingsan berhari-hari setelah melihat monster, namun Mayang justru langsung menawarkan bantuan. "Baiklah. Kalau begitu, kumpulkan serpihan kayu yang bisa digunakan kembali untuk menyalakan perapian, sementara aku akan mencari papan kayu baru di gudang belakang untuk menambal pintu."

Mereka pun mulai bergerak membagi tugas. Mayang berlutut di lantai kayu yang dingin, dengan telaten memunguti potongan-potongan kayu pasak pintu yang hancur akibat hantaman cakar monster semalam. Setiap kali ia bergerak, wangi tubuhnya yang lembut seperti bunga liar di musim semi tercium oleh Dion, memenuhi ruangan temaram itu dan perlahan mengikis bau belerang yang menjijikkan.

Sementara itu, Dion kembali dari ruangan belakang dengan membawa beberapa bilah papan kayu ek yang tebal, kapak, dan beberapa paku besi besar. Pria itu melepaskan rompi kulit terluarnya yang sudah robek parah, menyisakan selembar kemeja kain hitam tipis yang melekat ketat pada tubuhnya. Saat Dion mulai mengayunkan kapak untuk menyesuaikan ukuran papan, otot-otot lengan dan punggungnya yang kekar bergerak dengan ritme yang sangat memikat. Keringat tipis mulai membasahi pelipisnya, membuat penampilannya malam itu terlihat berkali-kali lipat lebih jantan dan seksi di mata Mayang.

Mayang beberapa kali tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arah Dion. Setiap kali tatapan mereka tidak sengaja bertemu, Mayang buru-buru memalingkan wajahnya dengan canggung, berpura-pura sangat sibuk menyapu debu kayu dengan ujung jubahnya. Dion yang menyadari hal itu hanya mengulum senyum tipis, merasa terhibur sekaligus gemas dengan tingkah laku gadis di dekatnya.

"Jangan terlalu sering menatapku seperti itu, Mayang," cetus Dion tiba-tiba dengan nada menggoda, tanpa menghentikan ketukan palunya pada papan pintu. "Atau kau akan kembali terjebak dalam sesuatu yang tidak bisa kaukendalikan."

Wajah Mayang seketika memanas seperti disiram air hangat. "Si... siapa yang menatapmu? Aku hanya memastikan apakah papan yang kau pasang itu sudah lurus atau belum!" kilah Mayang dengan suara yang agak meninggi karena malu.

Dion terkekeh rendah, suara tawa baritonnya yang seksi menggema di dinding pondok. Ia meletakkan palunya, lalu berjalan mendekati Mayang yang sedang memegang tumpukan kayu bakar di dekat perapian. Jarak di antara mereka kembali terkikis hingga Mayang bisa merasakan embusan napas hangat Dion di atas kepalanya.

Dion mengulurkan tangannya, namun bukan untuk menyentuh Mayang dengan kasar. Jemarinya yang besar dengan lembut bergerak mengusap pipi kiri Mayang. "Ada noda arang di pipimu yang cantik," bisik Dion, matanya menatap lekat-lekat ke sepasang mata jernih Mayang. Sentuhan ibu jari Dion yang kasar namun hangat di kulit wajahnya membuat seluruh tubuh Mayang mendadak kaku, memicu kembali debaran liar yang sempat ia tahan sejak bangun tidur tadi.

Mayang terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam manik mata abu-abu Dion yang berkilau penuh intensitas. Rasa hangat yang menjalar dari jemari Dion seolah menghidupkan kembali bara api gairah yang sempat tertahan di bab sebelumnya.

Namun, sebelum momen intim itu melangkah lebih jauh, Dion menarik kembali tangannya dengan perlahan, meskipun matanya masih memancarkan riak hasrat yang tertahan. "Pintu sudah selesai kutambal. Setidaknya hawa kabut siang tidak akan bisa menembus masuk ke dalam untuk beberapa hari ke depan."

Mayang mengangguk kaku, mencoba menguasai kembali akal sehatnya yang sempat terbang melayang. "Terima kasih, Dion. Suasana pondok ini... sudah terasa jauh lebih hangat sekarang."

Mereka berdua memandangi hasil kerja keras mereka. Pintu pondok kini telah tertutup rapat oleh papan-papan kayu baru yang kokoh, dan lantai ruangan telah bersih dari sisa-sisa pertempuran. Perapian pun telah kembali menyala dengan api jingga yang stabil, mengusir seluruh sisa kebekuan malam yang sempat mencekam jiwa mereka. Namun, di balik rapinya pondok tersebut, mereka berdua tahu bahwa misteri yang lebih besar di luar sana sedang menunggu untuk dipecahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!