NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:40.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Penyesalan Abadi (END)

Jeruji besi tidak pernah mengenal kasta, begitu pula dinginnya lantai semen sel tahanan yang kini menjadi semesta sempit bagi raga Andi Wijaya. Di dalam ruangan berukuran dua kali tiga meter yang lembap dan berbau pesing, keponakan yang dulu diagungkan di atas altar kesalehan itu duduk meringkuk di sudut tergelap.

Kemeja koko putihnya yang bersih telah lama digantikan oleh kaos tahanan berwarna jingga kusam yang kasar dan berbau detergen murah. Tidak ada lagi tasbih yang melingkar di jemarinya yang kini gemetar ketakutan; yang ada hanyalah bayang-bayang masa lalu yang mengerikan dan bunyi denting parau gembok besi setiap kali sipir melakukan patroli malam. Andi telah resmi divonis hukuman penjara atas tindakan pencurian berencana dan penipuan berlapis. Di dalam kesunyian sel yang dingin, ia dipaksa untuk memakan racunnya sendiri, menyadari bahwa topeng kesalehan yang ia rawat dengan dusta telah hancur berkeping-keping, meninggalkannya membusuk di balik jeruji tanpa ada satu pun tangan yang sudi menyelamatkannya.

Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari dinginnya penjara, sebuah neraka yang berbeda sedang menyiksa raga dan jiwa Reza Adijaya serta ibunya.

Waktu telah berjalan satu tahun sejak badai di Hotel Mulia meruntuhkan dinasti kecil mereka, namun bagi Reza, waktu seolah berhenti dan membusuk di dalam gang sempit pinggiran Jakarta. Hujan gerimis yang turun sore itu membawa kembali aroma tanah basah dan hawa dingin yang begitu ia kenal—dingin yang sama dengan aspal tol di KM 26.

Di dalam kamar kontrakan tripleks yang kian lapuk oleh rembesan air hujan, Ningsih duduk bersandar di sudut kasur apeknya. Raga sang mantan sosialita Menteng itu kini tampak begitu menyedihkan. Rambut sasaknya yang dulu selalu berdiri tegak penuh keangkuhan kini telah memutih seluruhnya, awut-awutan tanpa pernah disentuh sisir mewah lagi. Matanya yang cekung menatap kosong ke arah dinding tripleks yang dipenuhi noda jamur hitam.

Pikiran Ningsih telah lama pecah. Stres berkepanjangan dan rasa malu yang teramat sangat telah merenggut sebagian besar kewarasannya. Jemarinya yang keriput dan gemetar tanpa henti terus melakukan gerakan melipat-lipat helai kain daster usangnya yang sobek, seolah-olah ia sedang merapikan lipatan kain sutra mahal di dalam lemari jati Menteng-nya dulu.

"Reza... di mana pelayan kita...?" bisik Ningsih, suaranya parau, nyaris tak terdengar di antara desis gerimis luar. "Ibu lapar... suruh Naya memasak sup ayam untuk Ibu... Naya... menantuku yang penurut..."

Reza yang baru saja pulang melangkah masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya yang dulu jangkung dan atletis kini tampak melengkung kaku, menyusut drastis akibat beban kerja kasar yang harus ia jalani setiap hari demi mendapatkan beberapa puluh ribu rupiah untuk membeli beras dan obat ibunya. Kemeja birunya yang dulu selalu disetrika licin kini telah berganti menjadi kaos kusam yang sobek di bagian bahu, kotor oleh noda semen dan debu jalanan.

Mendengar ibunya menyebut nama "Naya" dengan sisa-sisa ingatan yang rusak, dada Reza serasa dihantam oleh ribuan sembilu yang tajam. Ia menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas lantai semen yang dingin di samping kasur ibunya.

"Naya tidak ada di sini, Ibu..." bisik Reza, suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa sangat perih. Air mata keputusasaan yang kian sering mengalir kini kembali menetes, membasahi pipinya yang tirus dan kotor oleh abu jalanan. "Kita... kita yang telah membuangnya..."

Reza menatap telapak tangannya sendiri yang kini dipenuhi kapalan tebal dan luka goresan semen yang kasar. Tangan ini yang dulu ia gunakan untuk memegang kemudi Mercedes-Benz perak, tangan yang sama yang ia gunakan untuk menampar pipi wanita yang tulus mencintainya. Kini, setiap jengkal kulit di tangannya seolah berteriak menuntut balas, menghukumnya dengan rasa sakit fisik yang tak sebanding dengan perihnya penyesalan yang membakar ulu hatinya setiap detik.

Setiap kali malam tiba, setiap kali deru mesin mobil melintas di jalan raya dekat gang mereka, jiwa Reza ditarik paksa kembali ke malam maut di KM 26. Ia seolah bisa melihat kembali sosok Naya yang berdiri diam di bawah temaram lampu jalan tol, menatapnya dengan keheningan yang mematikan. Penyesalan itu adalah penyakit kanker bagi jiwanya, menggerogoti kewarasannya perlahan-lahan dari dalam, menahannya dalam siksaan abadi di mana ia tahu bahwa ia pernah menggenggam surga yang murni, namun memilih untuk membuangnya ke dalam lumpur demi sebuah kebohongan yang tak berharga.

Mereka hidup, namun sesungguhnya jiwa mereka telah mati dan membusuk di dalam kemiskinan dan rasa bersalah seumur hidup yang tak akan pernah menemui ujungnya.

Kontras dengan kegelapan yang membekap gang sempit itu, cahaya matahari pagi di pusat ibu kota bersinar dengan keanggunan yang luar biasa.

Di lantai tertinggi Atmadja Tower, di dalam ruang kerja CEO yang megah dengan dinding kaca temper yang menyuguhkan pemandangan seluruh cakrawala Jakarta di bawah kakinya, Anindya Naya Atmadja berdiri tegak. Pagi ini, ia tampil begitu menakjubkan dalam balutan setelan blazer sutra berwarna putih salju yang memancarkan aura kemurnian dan kekuasaan yang mutlak. Rambut hitamnya dibbiarkan jatuh bergelombang di bahunya, membingkai wajahnya yang kini tampak begitu segar, damai, dan bercahaya tanpa sisa-sisa kepedihan masa lalu.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kayu ek ruang kerjanya diketuk dengan sangat sopan.

"Masuk," ujar Naya, suaranya mengalun merdu, jernih, dan sarat akan wibawa seorang permaisuri yang telah kembali ke takhtanya.

Baskara melangkah masuk dengan sikap takzim yang luar biasa. Di tangannya, ia membawa sebuah map kulit berwarna merah marun dengan logo pengadilan agama dan logo emas Atmadja Group di atasnya.

"Nona Muda Anindya," sapa Baskara dengan senyum hangat yang tulus menghiasi wajah tuanya. "Kurir pengadilan baru saja mengantarkan dokumen ini. Proses persidangan telah selesai sepenuhnya."

Baskara meletakkan map kulit itu di atas meja jati raksasa di hadapan Naya.

Naya melangkah perlahan mendekati meja kerjanya. Dengan gerakan jemarinya yang lentik dan bersih tanpa cacat, ia membuka map tersebut. Di dalamnya, tergeletak selembar kertas putih tebal bergaris batas emas yang memantulkan cahaya matahari pagi dengan sangat indah.

Itu adalah AKTA CERAI RESMI.

Di bagian bawah dokumen tersebut, tertera nama Anindya Naya Atmadja dan Reza Adijaya dengan status hukum yang telah resmi terputus secara mutlak tanpa sisa hubungan apa pun.

Naya mengambil pena bulu berujung emas murni kesayangan almarhum ayahnya. Dengan sekali tarikan napas yang lega dan bebas, ia menorehkan tanda tangannya yang tajam di atas kolom tanda tangan penerimaan akta tersebut. Bunyi goresan tinta di atas kertas tebal itu terdengar begitu indah di telinganya—sebuah melodi pembebasan yang secara resmi mengunci pintu masa lalunya dan membuang kuncinya ke dasar samudera yang terdalam.

Tanda tangan selesai.

Naya meletakkan penanya kembali ke tempatnya. Ia merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa menjalar di dalam dadanya, sebuah perasaan ringan seolah-olah seluruh beban bumi yang selama tiga tahun ini ia pikul di atas bahunya baru saja menguap ditiup angin fajar yang segar.

Ia berjalan mendekati dinding kaca besar di hadapannya.

Di bawah sana, Jakarta tampak begitu luas, megah, dan bersinar di bawah naungan langit biru yang bersih tanpa kabut polusi. Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya, memantulkan kilau kebahagiaan sejati di matanya yang kini tak lagi menyimpan setetes pun air mata duka.

"Nona Muda," Baskara kembali bersuara dari belakangnya, nadanya dipenuhi rasa bangga yang teramat sangat. "Seluruh jajaran direksi dari pusat dan anak perusahaan telah berkumpul di ruang konferensi utama. Mereka menunggu arahan Anda untuk ekspansi bisnis kita yang baru ke pasar internasional."

Naya tidak langsung berbalik. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara pagi yang bersih memenuhi paru-parunya dengan energi kehidupan yang baru, sebelum akhirnya ia tersenyum—seulas senyum tercantik yang pernah ia miliki dalam hidupnya.

"Mari kita temui mereka, Paman Baskara," ujar Naya tenang.

Ia memutar tubuhnya dengan keanggunan yang mutlak. Dengan langkah kaki yang mantap, tegak, dan penuh percaya diri, Anindya Naya Atmadja melangkah keluar dari ruangan kerjanya, meninggalkan sisa-sisa bayangan masa lalu di atas aspal dingin yang telah lama menguap, siap menyongsong masa depan yang cerah, megah, dan tak terbatas di bawah naungan takhta Atmadja yang abadi.

1
Punkpunk 234
baru mulai ikutan baca.. udah ikut esmosi ..🤭
Iis Istiyani
suka.. tdk bertele-tele ceritanya
Pardjan Yono
mantab cerita ini , author keren tanpa basa basi, sayang nya selama penyamaran tanpa ada komunikasi ke perusahaan secara visual
Hartini Donk
makin runyam dan membagongkan.diulang ulang teross....rasanya mau kbor ini...
A.R
ceritanx keren,lngsung sat set,,biasanx ada pelakornx klau ini ngk ada cuma berurusan sama mantan suami dan mantan mertua 👍
A.R
seharusnya panggil KK atau Abang jgn paman kn keponakan emaknx
falea sezi
suka novel sat set gini g menye🤭
Margaretha Yenny
kalau panggil ningsih bibi, panggil reza ya abang atau kakak dong bukan paman, kan reza anak nya ningsih bukan suami nya nibgsih
Punkpunk 234: naa kaann.. jadi amburadul 😆..
total 1 replies
Thewie
novel tercepat dan terseru yg aku baca🙏
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!