NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Malam itu, Aura tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan tatapan mata Devan yang sedingin es dan ancaman yang dibisikkannya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang adalah seringai miring cowok itu dan noda kopi yang membasahi kaosnya. Aura tahu Devan bukan jenis orang yang menggertak sambal. Di kampus, siapa pun yang berurusan dengan Devanandra Bratadikara biasanya akan berakhir dengan mengajukan surat pindah atau, paling minimal, kehilangan kenyamanan mereka berbulan-bulan.

Keesokan paginya, Aura terbangun dengan kantung mata yang menghitam. Setelah memastikan ibunya sudah meminum obat penurun tekanan darah dan sarapan, Aura bergegas berangkat ke kampus. Ia sengaja datang satu jam lebih awal dari jadwal kuliah pertamanya, berharap bisa menghindari kerumunan dan—yang paling penting—menghindari Devan.

Kampus masih sepi saat Aura berjalan melewati koridor gedung Fakultas Hukum. Sinar matahari pagi yang hangat sedikit mengurangi rasa cemasnya. Ia langsung menuju mading utama untuk memeriksa jadwal ujian susulan yang sempat tertunda minggu lalu.

Namun, begitu Aura berdiri di depan papan pengumuman, langkahnya mendadak terkunci.

Sebuah kertas putih berukuran A3 tertempel tepat di tengah mading. Di sana, tercetak foto wajah Aura yang diambil secara diam-diam dari samping saat ia bekerja di kedai kopi semalam. Di bawah foto itu, terdapat tulisan besar dengan huruf kapital berwarna merah menyala:

"DICARI: GISELA AURA (JURUSAN HUKUM/ANGKATAN 22). BURONAN SAKSI INSIDEN KOPI. HARAP JAUHI ATAU LAPORKAN KE AREA PARKIR BELAKANG JIKA INGIN KULIAH ANDA SELAMAT."

Aura merasakan seluruh darah di tubuhnya berdesir turun ke kaki. Wajahnya seketika pias. Ia mendekat, tangannya gemetar saat merobek kertas itu dengan paksa dari mading.

"Apa-apaan ini..." gumamnya, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Aura!"

Sebuah suara familier membuat Aura tersentak. Ia menoleh dan mendapati Tari, sahabat sekaligus rekan kerjanya semalam, berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah dan wajah penuh kepanikan.

"Aura, syukurlah lo udah datang! Lo udah lihat mading?" Tanya Tari dengan mata membelalak, melihat kertas yang sudah diremas di tangan Aura. "Bukan cuma di sini, Ra! Di mading Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, bahkan di grup angkatan... foto lo menyebar luas!"

Aura merasakan kepalanya mendadak pusing. "Siapa yang melakukannya? Devan?"

"Siapa lagi kalau bukan gengnya?" Tari menarik Aura ke sudut koridor yang lebih sepi. "Tadi pagi-pagi banget, Bram dan anak-anak buah Devan keliling nempel ini. Mereka bilang, siapa saja yang kedapatan ngobrol atau bantu lo, bakal berurusan langsung sama Devan. Ra, lo sebenarnya ngapain semalam sampai Devan semarah itu? Semua orang tahu, Devan gak pernah ngurusin cewek sampai se-obsesif ini!"

Aura memejamkan mata rapat-rapat, meremas kertas pengumuman itu hingga tak berbentuk. "Aku gak sengaja menumpahkan kopi ke kaosnya setelah kami berdebat di perpustakaan. Cuma itu, Tar. Dia saja yang kekanak-kanakan dan gila hormat!"

"Tapi dia Devan, Aura!" Tari memegang kedua pundak sahabatnya, suaranya merendah menjadi bisikan penuh peringatan. "Lo gak tahu siapa keluarganya? Bratadikara itu bukan cuma nama marga kaya. Bokapnya... desas-desusnya adalah kepala sindikat yang menguasai jalur bisnis gelap di kota ini. Devan itu calon penerusnya. Dia gak kenal kata maaf kalau harga dirinya diusik!"

Aura melepaskan tangan Tari perlahan. "Aku tidak takut pada latar belakang keluarganya, Tari. Ini kampus, tempat belajar, bukan markas geng motor atau wilayah kekuasaan mafia. Ada hukum dan aturan di sini."

Tari menghela napas panjang, menatap Aura dengan tatapan cemas sekaligus kagum atas keras kepalanya. "Gue tahu lo pintar, Ra. Tapi hukum kadang gak berlaku buat orang-orang seperti mereka. Tolong, hati-hati ya hari ini. Kalau bisa, hindari area parkir belakang dan kantin utama."

Nasihat Tari terbukti benar dalam beberapa jam berikutnya. Hidup Aura di kampus mendadak berubah menjadi drama pengasingan.

Saat memasuki ruang kelas untuk mata kuliah Hukum Perdata, beberapa teman sekelas yang biasanya menyapanya atau mengajaknya berdiskusi mendadak membuang muka. Ketika Aura duduk di bangku baris kedua seperti biasa, dua mahasiswi yang duduk di sebelahnya langsung mengemas buku mereka dan pindah ke baris paling belakang, seolah-olah Aura membawa wabah penyakit menular.

Aura berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang berdengung di sekitarnya. Ia membuka buku catatannya, mencoba fokus pada penjelasan dosen, meskipun sepasang matanya beberapa kali melirik ke kursi kosong di pojok belakang ruang kelas—kursi yang biasanya ditempati Devan jika cowok itu memutuskan untuk hadir. Hari ini, kursi itu kosong. Devan tidak masuk kelas. Namun, absensinya justru membuat atmosfer di sekitar Aura terasa semakin mencekam, seperti ketenangan sebelum badai besar datang.

Siksaan psikologis itu berlanjut hingga jam makan siang. Aura memutuskan untuk pergi ke kafetaria kecil di belakang gedung perpustakaan, tempat yang biasanya lebih sepi. Ia hanya membeli satu kotak susu dan roti lapis. Namun, baru saja ia duduk di salah satu meja kayu di bawah pohon rindang, tiga orang mahasiswa berbadan tegap tiba-tiba datang dan berdiri mengitari mejanya. Salah satu dari mereka adalah Bram.

Bram mengetukkan jemarinya di atas meja Aura, menimbulkan bunyi yang mengintimidasi. "Gisela Aura," sapanya dengan senyum yang dipaksakan. "Bos besar minta lo datang ke tempat biasa sekarang juga."

Aura tidak mendongak. Ia tetap mengunyah roti lapisnya dengan tenang, meskipun dadanya bergemuruh. "Aku ada kelas tiga puluh menit lagi. Kalau temanmu itu punya masalah denganku, suruh dia datang sendiri ke sini."

Dua mahasiswa di belakang Bram terkekeh sinis. Bram condong ke depan, menumpu kedua tangannya di meja, menatap Aura dengan tajam. "Lo punya nyali juga ya. Tapi denger, ini bukan undangan santai yang bisa lo tolak. Devan gak suka menunggu. Dan kalau lo gak datang sekarang, gue gak bisa jamin beasiswa penuh yang lo banggakan itu bakal bertahan sampai besok sore. Satu telepon dari bokap Devan ke pihak rektorat, dan lo bakal terdepak dari kampus ini tanpa hormat."

Gerakan mengunyah Aura terhenti. Ancaman beasiswa adalah kelemahan terbesarnya. Jika beasiswanya dicabut, impiannya untuk lulus dan membiayai pengobatan ibunya akan hancur lebur. Aura meletakkan rotinya kembali ke dalam bungkus plastik. Ia mendongak, menatap Bram dengan pandangan yang sarat akan kebencian.

"Di mana dia?" tanya Aura dingin.

Bram tersenyum puas, menegakkan kembali tubuhnya. "Parkir belakang. Gedung tua laboratorium yang terbengkalai. Jangan telat."

Area parkir belakang Universitas Ganesha selalu terkenal sebagai wilayah abu-abu. Tempat itu jarang dilewati dosen atau sekuriti, menjadikannya tempat favorit bagi mahasiswa yang ingin merokok, membolos, atau menyelesaikan perselisihan secara jantan. Di ujung area parkir, berdiri sebuah gedung laboratorium tua berlantai dua yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun.

Aura berjalan dengan langkah mantap melewati barisan motor besar yang terparkir rapi. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ketika ia mendorong pintu kayu gedung tua yang berdecit nyaring, bau debu dan lembap langsung menyambut indra penciumannya.

Di dalam ruangan yang remang-remang, cahaya matahari menerobos masuk dari celah-celah jendela kaca yang kotor. Di tengah ruangan, duduk Devanandra di atas sebuah meja laboratorium kosong. Satu kakinya menekuk, sementara kaki lainnya bergelantungan santai. Ia mengenakan kaos putih bersih—kontras dengan kaos hitam yang dikotori Aura semalam—dan jaket denim longgar. Di tangannya, terdapat sebuah korek api gas zippo perak yang terus ia buka-tutup, menimbulkan bunyi klik-klik yang monoton di dalam ruangan sunyi itu.

Mendengar suara pintu, Devan menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Aura yang berdiri beberapa meter di depannya.

"Akhirnya datang juga," ujar Devan, suaranya menggema di ruangan kosong itu. Ia turun dari meja dengan gerakan seringan kucing, melangkah perlahan mendekati Aura.

"Hentikan semua lelucon kekanak-kanakan ini, Devan," langsung Aura tanpa basa-basi. Ia mengangkat kertas pengumuman yang sudah diremasnya dan melemparkannya ke lantai di dekat kaki Devan. "Menempel fotoku di seluruh kampus, mengancam teman-temanku, dan mengancam beasiswaku... apakah ini cara seorang pewaris keluarga kaya menyelesaikan masalah?"

Devan melirik kertas di lantai, lalu kembali menatap Aura. Bukannya marah, ia justru tertawa kecil—sebuah tawa rendah yang terdengar berbahaya.

"Lelucon?" Devan menggelengkan kepalanya, melangkah maju hingga jarak mereka kembali terkikis. Aura bisa melihat dengan jelas goresan luka kecil yang baru di dekat alis kanan cowok itu. "Gue gak pernah bercanda, Aura. Gue udah bilang semalam, lo mengibarkan bendera perang sama orang yang salah. Di kampus ini, gak ada yang boleh bikin gue kelihatan konyol di depan umum. Dan lo... lo sukses melakukannya dua kali dalam satu hari."

"Itu ketidaksengajaan! Aku sudah minta maaf!" bela Aura, sepasang matanya menatap Devan dengan berani, menolak untuk mengalihkan pandangan.

"Maaf lo gak bisa ngebersihin noda kopi di baju gue, dan maaf lo gak bisa ngembaliin reputasi gue yang terusik karena ditentang sama cewek kutu buku," balas Devan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aura. Tatapannya begitu intens, mengunci pergerakan Aura sepenuhnya.

Aura bisa merasakan hembusan napas hangat Devan di kulit wajahnya. Jantungnya berpacu gila-gilaan, bukan lagi karena marah, melainkan karena ketegangan yang mendadak terasa berbeda. Ada dominasi yang begitu kuat dari sosok di depannya ini.

"Lalu apa yang kamu mau?" tanya Aura, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Uang untuk mengganti bajumu? Aku tidak punya uang sebanyak itu. Tapi aku bisa mencucinya sampai bersih jika itu yang kamu minta."

Devan terdiam sejenak. Ia menatap bibir Aura yang sedikit gemetar namun tetap melontarkan kalimat-kalimat tegas, lalu beralih menatap mata cokelat gadis itu yang memancarkan kilat perlawanan yang murni. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang selalu mencari perhatiannya atau ketakutan setengah mati saat ia dekati, Aura justru menatapnya seolah Devan adalah musuh yang harus ditaklukkan.

Sebuah ide gila mendadak melintas di kepala Devan. Seringai miringnya kembali muncul, kali ini tampak lebih licik.

"Gue gak butuh uang lo, dan gue gak butuh baju gue dicuci," ucap Devan pelan, sengaja menggantung kalimatnya untuk menikmati ekspresi bingung di wajah Aura.

"Lantas?"

Devan menjauhkan wajahnya sedikit, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denimnya. "Mulai hari ini, sampai tugas akhir lo selesai dan lo lulus dari kampus ini, lo berada di bawah pengawasan gue. Lo harus ikut ke mana pun gue pergi kalau gue panggil. Lo harus ngerjain tugas-tugas kuliah gue yang menumpuk. Dan yang paling penting... lo gak boleh dekat-dekat sama cowok lain di kampus ini tanpa izin dari gue."

Aura terbelalak. "Kamu gila? Itu sama saja menjadikanku budakmu! Aku menolak!"

"Pilihan ada di tangan lo, Aura Kirana," Devan berbalik, berjalan santai menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu, ia menoleh ke belakang, memberikan senyuman paling menyebalkan yang pernah Aura lihat. "Tolak kesepakatan ini, dan gue jamin sebelum matahari terbenam sore ini, surat pencabutan beasiswa lo sudah ditandatangani oleh Rektor. Selamat memilih, Good Girl."

Brak.

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Aura sendirian di dalam gedung laboratorium yang dingin. Aura merosot duduk di salah satu kursi tua yang berdebu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Ia tahu, ia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan sang monster, dan jalan keluar dari kampus ini tampaknya akan menjadi sangat panjang dan berdarah.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!