Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
Aroma keputusasaan selalu memiliki bau yang sama di dunia bisnis kelas atas: anyir, pekat, dan memuakkan. Di dalam lobi utama gedung V-Tech Investment, atmosfer dingin yang diembuskan oleh pendingin ruangan terasa mendadak membeku ketika pintu lift privat berdenting terbuka di lantai mezanin.
Adrian Atmadja melangkah keluar dengan ritme kaki yang konstan dan berat. Setelan jas abu-abu arang yang dijahit khusus untuk tubuh tegapnya tampak tanpa cela, memancarkan aura dominasi mutlak seorang kaisar bisnis yang sanggup menjatuhkan nilai saham sebuah korporasi hanya dengan satu jentikan jari. Di belakangnya, Yuda berjalan dengan takzim, menjaga jarak dua langkah yang aman, tahu persis bahwa tuannya sedang berada dalam mode berburu yang teramat tenang namun mematikan.
Ancaman yang dilontarkan Adrian kepada Sheila di lobi bawah beberapa menit lalu bukan sekadar gertakan kosong. Baginya, siapa pun yang berani mengusik atau menghina Vira Mahendra dengan kata-kata kotor seperti 'mandul' atau 'cacat' berarti sedang mengantarkan leher mereka sendiri ke atas altar eksekusi Atmadja Group.
Adrian berjalan menyusuri koridor kaca lantai atas yang sunyi, hingga sepasang mata elangnya menangkap sosok yang dicarinya.
Vira sedang berdiri memunggungi pintu, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang menjulang di balik dinding kaca tebal. Setelan blazers berwarna navy yang membalut tubuh rampingnya tampak sangat rapi, meniru keanggunan seorang penguasa sejati. Namun, Adrian bukanlah pria biasa yang bisa dikelabui oleh topeng luar. Dari jarak beberapa meter, dia bisa melihat bagaimana kedua bahu wanita itu menegang kaku. Dia bisa menangkap getaran halus yang menjalar di punggung Vira.
Wanita itu sedang mati-matian menahan badai trauma masa lalu yang baru saja diaduk kembali oleh teriakan histeris Sheila di bawah sana.
Reno, yang semula berdiri di dekat meja kerja dengan wajah khawatir, langsung menegakkan punggungnya dan membungkuk hormat begitu melihat kehadiran Adrian. Adrian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya memberikan satu isyarat mata kecil yang sarat akan perintah mutlak. Mengerti bahwa sang kaisar membutuhkan ruang privat bersama kakaknya, Reno mengangguk takzim lalu melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu kayu ek ganda yang tebal itu dengan sangat rapat tanpa menimbulkan suara.
Kini, di dalam ruangan luas bernuansa modern itu, hanya tersisa Adrian dan Vira.
Adrian melangkah mendekati Vira dengan perlahan, sengaja membiarkan bunyi ketukan sepatunya di atas lantai kayu terdengar agar tidak mengejutkan wanita itu. Ketika jarak di antara mereka mengikis, Adrian bisa menghirup samar aroma parfum mawar hitam yang tajam namun menenangkan dari tubuh Vira.
"Pertunjukan murahan di bawah terlalu bising. Aku sudah menyuruh orang untuk membersihkannya dari pandanganmu," ucap Adrian, suaranya yang bariton rendah memecah keheningan ruangan dengan kelembutan yang teramat dalam, sebuah nada suara yang tidak akan pernah didengar oleh siapa pun di dunia luar.
Vira tidak langsung berbalik. Dia menarik napas dalam-dalam, sebuah usaha keras yang terlihat jelas dari bagaimana dadanya naik-turun, mencoba menstabilkan emosi dan suaranya sebelum terpaksa menghadap sang penyelamat.
"Tuan Adrian... Anda tidak perlu melangkah sejauh itu," bisik Vira, suaranya terdengar datar namun ada serak tipis yang menyiratkan luka yang menganga kembali. "SCBD adalah kawasan publik. Tindakan arogan Anda di lobi tadi bisa memicu rumor buruk di media masa besok pagi. Saya bisa mengatasinya sendiri."
"Media?" Adrian terkekeh rendah, sebuah suara maskulin yang terdengar begitu seksi namun dipenuhi otoritas tanpa batas. Dia melangkah satu kali lagi, memosisikan tubuh tegapnya tepat di samping Vira, ikut melemparkan pandangan ke arah lanskap kota metropolitan di luar sana. "Di negeri ini, Akulah yang menentukan berita apa yang layak terbit besok pagi, Vira. Jadi, simpan kekhawatiranmu untuk hal yang lebih berguna."
Adrian menolehkan kepalanya, mengunci pandangannya pada garis profil wajah Vira dari samping. Di bawah siraman cahaya matahari siang yang menembus kaca, sisa-sisa kilat kemarahan dan kerapuhan tampak bergolak di sepasang manik mata indah wanita itu.
Adrian tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Vira saat ini. Hinaan Sheila tentang rahim yang cacat telah menyeret ingatan Vira kembali pada rentetan kekejaman keluarga Narendra tiga tahun lalu.
Masa di mana Davira yang malang harus kehilangan janin berusia sebelas minggu akibat dosis racun sup dan jamu kesuburan palsu yang sengaja ditingkatkan oleh Siska dan Sheila. Masa di mana setelah keguguran tragis itu, rahimnya terus menderita sakit-sakitan yang konstan selama berbulan-bula. Dan yang paling jahanam, ingatan tentang malam pendarahan hebat di mana Arka Narendra dengan tega menandatangani surat penolakan tindakan medis, lalu membuangnya ke klinik kumuh agar mati perlahan demi mencairkan polis asuransi jiwa senilai sepuluh miliar rupiah guna menyelamatkan proyek mereka yang gagal.
Keluarga Narendra menjadi sekaya dan semewah itu murni karena mereka menjarah seluruh warisan melimpah peninggalan mendiang ibu Davira yang dititipkan melalui kesepakatan janji suci pernikahan. Mereka merampas hartanya, membunuh bayinya, lalu mencoba melenyapkan nyawanya tanpa belas kasihan.
Tanpa meminta izin, Adrian mengulurkan tangan kanannya yang kokoh. Dengan gerakan yang teramat lembut, jemari panjangnya bergerak menyelipkan beberapa helai rambut Vira yang sedikit berantakan ke belakang daun telinganya. Kulit hangat Adrian menyentuh pipi tirus Vira yang terasa sedingin es.
Vira sempat sedikit tersentak, tubuhnya menegang menerima sentuhan yang begitu intim, namun dia tidak menjauh. Sepasang mata indahnya bergerak perlahan, membalas tatapan intens dari sang kaisar bisnis.
"Tanganmu gemetar, Ratu-ku," bisik Adrian.
Adrian menurunkan tangannya, meraih jemari kanan Vira yang sejak tadi mengepal kuat di sisi tubuh hingga kuku-kukunya memutih. Dengan kesabaran yang luar biasa, Adrian membuka kepalan tangan itu satu per satu, lalu menyusupkan jemari tangannya di sela jemari Vira. Dia menggenggam tangan wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah sedang menyalurkan seluruh kekuatan, kehangatan, dan perlindungan mutlak yang dia miliki ke dalam aliran darah Vira.
"Aku bisa menghancurkan sisa-sisa dari mereka dalam waktu dua puluh empat jam jika kamu menginginkannya," lanjut Adrian, sepasang mata elangnya mengunci manik mata Vira tanpa memberikan celah untuk menghindar. "Narendra Group, Arka, Siska, atau wanita gila di bawah tadi... aku bisa membuat mereka merangkak di jalanan sebagai gelandangan terkutuk besok pagi, tanpa perlu kamu mengotori tangan indahmu ini sedikit pun."
Vira menatap genggaman tangan mereka yang bertautan erat. Rasa hangat dari telapak tangan Adrian perlahan mulai mengusir rasa dingin dan getaran trauma yang sempat menguasai tubuhnya. Perlahan, seulas senyuman tipis, senyuman dingin, tajam, dan penuh kemenangan yang sangat dikagumi Adrian kembali terukir di bibir ranum Vira.Dia membalas remasan tangan Adrian dengan kekuatan yang tidak kalah solid.
"Tidak, Tuan Adrian," ucap Vira, suaranya kini telah bertransformasi seutuhnya menjadi suara seorang penguasa wanita yang tak kenal ampun. "Jika Anda melenyapkan mereka dalam semalam, itu adalah sebuah bentuk belas kasihan yang teramat mewah bagi iblis seperti mereka. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya secara perlahan, helai demi helai, rupiah demi rupiah. Aku ingin mereka merangkak di dalam lumpur kemiskinan dan penyesalan, menyadari bahwa setiap kemewahan yang mereka nikmati selama ini adalah kutukan dari darah bayi saya dan air mata mendiang orang tua saya."
Mendengar bait-bait kalimat yang keluar dari bibir Vira, suatu kebanggaan di dalam dada Adrian bergemuruh hebat penuh kepuasan. Ini adalah alasan terbesar mengapa dia menjatuhkan pilihannya pada wanita ini. Vira bukanlah mawar rapuh yang butuh disembunyikan di dalam rumah kaca mewah miliknya. Vira adalah sebilah belati berlapis berlian , teramat indah dipandang, sangat berharga, namun mematikan bagi siapa saja yang berani menyentuhnya dengan tidak hormat.
"Baiklah, jika itu keputusan hukum yang kamu inginkan, aku akan menjadi hakim pengeksekusinya," Adrian menarik tangan Vira sedikit, membimbingnya melangkah menjauh dari dinding kaca menuju sofa panjang berbahan kulit premium di sudut ruangan. "Namun untuk siang ini, kesampingkan dulu pedang balas dendammu. Aku datang ke sini bukan sebagai rekan bisnismu yang kaku."
Adrian mengarahkan pandangan matanya ke meja kopi kayu ek di depan sofa, di mana Yuda ternyata sudah meletakkan sebuah kotak bekal susun berwarna biru cerah dengan stiker dinosaurus t-rex di atasnya.
"Elvano menolak menyentuh makan siangnya di rumah karena dia bersikeras ingin aku mengantarkan kotak bekal ini untukmu. Dia bilang, Tante Cantik tidak boleh telat makan karena sedang berperang melawan orang jahat," ucap Adrian dengan senyuman hangat yang tulus terbit di wajah tampannya.
Vira tertegun menatap kotak bekal biru yang tampak kontras di dalam ruang kantornya yang mewah. Seketika itu juga, seluruh dinding es, kabut dendam, dan bayang-bayang kegelapan masa lalu di matanya mencair tanpa sisa, digantikan oleh binar kelembutan dan rasa haru yang teramat murni.
Melihat senyuman tulus itu akhirnya kembali terukir di wajah Vira, Adrian bersumpah di dalam batinnya: dia akan melakukan apa saja, bahkan jika harus meruntuhkan seluruh dunia ekonomi negeri ini hanya untuk memastikan bahwa tidak akan ada satu orang pun yang bisa merenggut senyuman itu lagi dari wajah sang Ratu.