NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

"Oh begitu. Saya minta maaf. Saya tidak tahu. Nona, jika punya masalah sebaiknya diselesaikan secara damai. Tidak baik ribut-ribut di tempat umum seperti ini." Pria yang awalnya membelanya dengan gampang termakan pada tipuan Joshua. Bahkan orang-orang sekitar juga ikut tertipu. Padahal awal nya dia berniat menjebak Joshua. Namun kini dirinya yang terjebak. Kerumunan tadi berangsur-angsur hilang.

Joshua tersenyum penuh kemenangan.

"Maaf ya, kalau orang-orang lebih percaya padaku."

Dian semakin kesal melihat wajahnya.

"Aku ke sini bukan untuk mengikuti mu. Aku datang menemani adik bungsuku untuk belanja."

"Kak Joshua! Kakak disini. Aku cari dari tadi."

Gadis cantik nan imut itu, kelihatan begitu manja pada Joshua.

"Maaf ya. Kakak tadi nggak sengaja ketemu dengan kakak iparmu."

Gadis kecil tadi melihat Dian dari atas sampai bawah.

Apa maksudnya melihat ku begitu. Apa dia ingin menghinaku dan mengganggap ku tidak cocok bersanding dengan kakaknya. Lagian aku juga nggak mau tuh.

Namun tebakan Dian salah. Gadis itu tersenyum saat tahu kalau Dian adalah kakak iparnya.

"Apa ini gadis cantik yang kakak ceritakan itu? Benarkah dia akan menjadi kakak iparku."

"Iya. Kenalkan ini kak Dian."

Si gadis kecil tadi maju dan langsung memeluk Dian. Sedangkan Dian hanya diam terpaku menerima pelukan yang tiba-tiba itu. Bahkan dirinya begitu tegap saat adik Joshua memeluknya.

"Mbak dian. Namaku Cindy. Senang sekali bisa bertemu dengan kakak ipar di sini." Kata Cindy dengan wajahnya yang begitu imut dan senyum yang tulus.

"A..a.a hai.." Dian menjawab dengan sedikit kikuk. Ia sangat gugup menjawab gadis kecil itu. Mungkin karena ia sangat lemah pada anak kecil yang imut.

"Apa mbak Dian datang ke sini untuk menemaniku. Apa kakakku yang memintamu?"

"Tidak... Aku itu..."

"Makasih mbak Dian. Aku sangat senang sekali akhirnya mbak Dian datang. Aku ke sini ingin membeli hadiah ulang tahun untuk temanku wanita ku. Aku sudah meminta saran pada mas Joshua tapi dia tak tahu apapun. Dari tadi dia hanya menawari ku merek pria saja. Padahal temanku itu sangat feminim dan tidak terlalu suka yang berbau tomboy seperti itu. Mas Joshua memang tidak bisa diandalkan."

Tanpa sadar Dian tersenyum mendengar omelan Cindy kepada Joshua. Joshua yang melihat nya ditertawakan oleh Dian merasa jengkel.

Gadis ini sangat berani.

Cindy menarik tangan Dian untuk mengikuti nya. Sedangkan Dian yang tidak bisa menolak hanya menuruti apa kata Cindy. Dian akhirnya lupa dengan janji temunya bersama kawan-kawan. Dia begitu terbawa alur suasana dan asik mencarikan hadiah untuk sahabat Cindy.

"Apakah kamu tahu temanmu itu suka mengoleksi sesuatu?"

"Ada. Dia suka sekali membeli kalung-kalung dengan bentuk yang cantik. Bahkan di dalam lemarinya ada tempat khusus untuk menyimpan koleksinya itu. Tapi sepertinya anak-anak lain akan membelikan untuk nya itu juga. Aku tidak ingin hadiah yang sama."

"Kalau peralatan make up?"

"Kurasa dia sudah punya banyak di rumah mbak."

"Umm, jika memang begitu temanmu pasti mampu beli sendiri jika kita menghadiahkan nya yang bermerek."

"Iya mbak. Dia bilang dia tidak ingin menerima hadiah yang seperti ini dariku. Dia bilang hadiahnya harus sesuatu yang bisa jadi kenangan penting untuk nya. Tapi aku bingung mau mencarikannya apa."

"Jika temanmu berkata demikian, apa sebaiknya kamu memesan lukisan wajah nya? Jika dia memang sering memesan sesuatu yang bermerek, mbak sangat yakin dia pasti tidak pernah memesan lukisan."

"Lukisan?" Cindy berpikir keras. Idenya memang menarik. Dirinya bahkan tidak tertarik dengan lukisan.

"Iya. Memang sangat jarang orang menghadiahkan lukisan. Tapi kamu harus mencobanya siapa tahu dia suka."

"Baiklah. Aku akan mencobanya."

"Jika kamu bingung, mbak akan temani kamu ke pelukis kenalan mbak. Dia sangat hebat."

"Benarkah. Apa bisa hari ini?"

"Bisa. Dia punya banyak waktu jadi kamu tenang saja."

Mereka berjalan keluar meninggalkan mall. Joshua mengikuti dari belakang. Dia sudah seperti seorang bodyguard saja.

Saat di tempat parkiran, handphone Dian tiba-tiba saja berbunyi. Dian memukul dahinya saat melihat nama seseorang yang dikenal nya.

Ah lupa!

Dian mengangkatnya.

"Halo Di, kamu dimana? Kami menunggu dari tadi. Apa kamu nggak jadi datang?"

"Aduh Min, maaf ya. Aku ada urusan mendadak. Dan sepertinya aku nggak jadi ke situ."

"Kamu ini, seenaknya batalin janji kita. Coba bilang dari awal. Kami nggak perlu menunggu."

"Maaf ya. Urusan nya juga mendadak. Dan aku lupa nelpon kalian. Bisa bilang maaf ke teman-teman."

"Iya. Ya sudah. Aku matikan."

Panggilan dimatikan.

"Ada apa mbak? Apa mbak Dian punya urusan lain."

"Tidak ada. Kamu nggak perlu khawatir."

Dian melihat ke Joshua yang berdiri di belakang mereka.

"Cindy akan pergi dengan ku. Kamu pulang saja. Aku akan mengantarnya."

"Tidak. Aku tidak bisa membiarkan adikku pergi sendiri. Aku akan ikut."

"Tapi aku tidak suka kamu semobil dengan ku."

"Aku punya mobil sendiri. Aku dan Cindy naik semobil. Dan kamu bisa memandu kami."

"Kamu kira aku pemandu apa."

"Kak Dian kenapa marah sama Kak Joshua?"

"Karena kakakmu itu nakal dan membuat ku marah. Makanya aku tidak suka berada di dekatnya."

"Kak Joshua. Jangan pernah membuat kak Dian marah. Kak Dian adalah kakakku mulai sekarang. Aku akan melindungi nya dari kak Joshua."

"Kamu memarahi kakakmu dan lebih membelanya."

"Biarin." Cindy menarik tangan Dian dan menyuruh untuk membawanya pergi.

"Aku akan ikut kak Dian. Kak Joshua tidak perlu mengikuti kami."

Dian tersenyum melihat wajah kesal Joshua. Kali ini dia yang menang.

Gadis ini benar-benar meremehkan ku..

Joshua mengepal tangannya dengan kuat.

Ia melihat mobil Dian yang jalan di depan mobilnya.

"Terus awasi mereka. Jangan sampai kita kehilangan mereka."

"Pak, seperti nya mobil di depan kita makin cepat jalannya dan tambah menjauh."

"Apa? Gadis itu benar-benar! Cindy ada di dalam mobilnya. Apa yang dia pikirkan. Apa ini perintah dari ayah nya itu. Tetap kejar mereka!"

"Tuan kita kehilangan mobilnya."

 Joshua melihat ke depan mereka dan benar tidak ada mobil Dian lagi.

"Pokoknya kita harus menemukan mereka. Tetap melaju ke depan! Telepon anak-anak untuk membantu melacak mobilnya!"

"Baik pak."

Di mobil lain Cindy merasa deg-degan merasakan aksi mbak Dian yang sangat brutal.

"Mbak Dian. Hampir saja kita tertabrak. Apa yang mbak Dian lakukan. Dan mas Joshua sepertinya tidak ada di belakang kita lagi."

"Kamu tenang saja. Mbak Dian sangat ahli dalam membawa mobil. Kakakmu itu pasti akan menemukan kita. Jadi kamu tidak perlu khawatir."

Setelah beberapa saat mereka tiba di sebuah bangunan tua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!