Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Retakan Pertama
Waktu akselerasi psikologis yang diterapkan sistem Nexus Academy akhirnya mencapai ambang batasnya. Pukul tiga pagi berikutnya, desis hidrolik terdengar serentak di sepanjang koridor Lantai 4. Pintu-pintu pod siber terbuka secara mekanis, melepaskan kepulan udara dingin dari dalam kapsul.
Dari tiga ratus dua puluh peserta yang masuk kemarin malam, kini hanya tersisa seratus delapan puluh orang yang berhasil bertahan hingga detik terakhir. Sisanya telah dievakuasi di tengah malam dalam kondisi kolaps.
Saat pintu pod nomor 103 di sebelah Atharva terbuka, seorang pemuda bertubuh jangkung langsung tersungkur ke lantai sementara. Napasnya memburu, matanya melotot liar menatap langit-langit logam ruangan. Ia mencengkeram seragamnya sendiri hingga robek di bagian dada, histeris.
"Tidak... jangan masukkan aku lagi! Sistemnya tahu semuanya! Sistemnya tahu apa yang kulakukan pada..." Pemuda itu berteriak histeris, suaranya melengking memecah keheningan koridor yang dingin.
Tiga petugas keamanan berbaju hitam tanpa atribut langsung merangsek maju. Mereka tidak menunjukkan simpati sedikit pun. Dua orang mengunci lengan pemuda itu, sementara satu petugas menyuntikkan obat penenang dosis ringan ke lehernya. Dalam hitungan detik, teriakan pemuda itu melemah seiring tubuhnya yang diseret keluar menuju pintu evakuasi belakang. Nama dan seluruh datanya langsung dihapus dari layar monitor koridor dalam sekejap.
Atharva melangkah keluar dari podnya dengan tubuh yang kaku akibat dua puluh empat jam tidak bergerak. Matanya yang dingin menyaksikan seluruh proses evakuasi brutal tersebut tanpa berkedip. Di sebelahnya, Keisya juga baru saja keluar. Wajah gadis itu pucat beralas lingkaran hitam di bawah kelopak matanya, namun ia tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat.
Atharva memperhatikan sisa-sisa ketakutan yang masih tertinggal pada riak wajah peserta lain. Nabila tampak dipapah oleh Dimas yang berjalan tertatih, sementara Gavin dan Nareswara bersandar pada dinding dengan tatapan kosong yang lelah.
Melihat semua distorsi ini, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Nexus Academy, sebuah pertanyaan besar muncul di kepala Atharva.
Apakah seleksi ini benar-benar bertujuan mencari siswa terbaik?
Menyaring seratus dua puluh ribu orang dengan tes logika ekstrem dan simulator krisis mungkin masuk akal untuk standar sekolah elite. Namun, membedah trauma terdalam remaja berusia tujuh belas tahun menggunakan teknologi neuro-respons hingga membuat mereka histeris dan hancur secara psikologis... ini bukan lagi sebuah ujian akademik. Ini adalah proses penaklukan.
Nexus tidak sedang mencari jenius yang merdeka. Mereka sedang mencari komoditas yang bisa dikendalikan. Sistem ini dirancang untuk meretakkan mental peserta terlebih dahulu, menghancurkan ego mereka sampai habis, lalu membangun ulang kepribadian mereka sesuai dengan parameter yang diinginkan oleh Yayasan Veritas Lux Fortuna.
"Kamu juga memikirkan hal yang sama, kan?" sebuah suara rendah menginterupsi pemikiran Atharva.
Keisya telah berdiri di sampingnya, menatap lurus ke arah koridor kosong tempat peserta histeris tadi diseret pergi.
"Sekolah ini tidak sedang mencari murid, Atharva," lanjut Keisya, suaranya setajam pisau bedah. "Mereka sedang menyaring siapa saja yang cukup kuat untuk menjadi alat mereka, dan siapa saja yang memiliki kelemahan untuk bisa diperas. Papaku dulu menolak sistem manipulasi psikologis ini... dan mereka melenyapkannya."
Atharva melirik Keisya sekilas, lalu kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. "Jika kamu sudah tahu tempat ini menghancurkan orang, kenapa kamu masih bertahan?"
Keisya menoleh, menatap tepat pada manik mata Atharva yang datar. "Karena retakan pertama ini baru permulaan. Aku akan mengikuti permainan mereka sampai aku berada di posisi tertinggi, tempat di mana mereka tidak bisa lagi menyembunyikan kebusukan mereka dariku. Bagaimana denganmu?"
Atharva tidak langsung menjawab. Ia berbalik, berjalan mendahului Keisya menuju barisan instruksi tahap berikutnya yang mulai dikoordinasikan oleh para pengawas di ujung koridor.
"Aku tidak peduli mereka ingin menghancurkan mental siapa," bisik Atharva begitu pelan, hingga suaranya hilang ditelan dengung mesin Menara Akademik. "Tapi jika mereka menggunakan nama kakaku sebagai bagian dari simulasi sialan mereka, aku yang akan meretakkan sistem ini dari dalam."
...****************...
Di ujung koridor, Profesor Adrian kembali berdiri di bawah sorotan lampu putih. Lembar pemantau di tangannya menunjukkan sisa peserta yang lolos: seratus delapan puluh orang. Jumlah yang menyusut jauh lebih cepat daripada kalkulasi statistik tahun-tahun sebelumnya.
"Kalian yang berdiri di sini adalah sisa-sisa dari proses pembersihan," suara Profesor Adrian menggema datar melalui pengeras suara langit-langit. "Kalian mungkin merasa bangga karena berhasil mempertahankan kewarasan. Namun di Nexus, bertahan hidup hanyalah kualifikasi dasar. Tahap berikutnya akan menguji apakah kalian bisa menggunakan kecerdasan kalian saat dikelilingi oleh musuh."
Para pengawas mulai membagikan kartu digital baru berwarna perak kepada sisa peserta. Di layar kartu tersebut, tertera sebuah nomor ruangan baru di Gedung Kompetisi.
Nareswara yang baru saja menerima kartunya, langsung membolak-balik benda tersebut dengan kening berkerut. "Lantai 2 Gedung Kompetisi. Ini area faksi akademik antarpeserta," gumamnya pada Gavin yang berdiri di sebelahnya. "Artinya kita tidak akan diisolasi lagi di dalam bilik. Kita akan diadu langsung secara fisik di satu ruangan."
Gavin hanya melirik kartunya sekilas tanpa minat. "Bagus. Menghadap mesin membuatku bosan."
Di barisan belakang, Dimas masih memegangi lengan Nabila yang sesekali masih limbung. Wajah Nabila perlahan mulai mendapatkan kembali warnanya setelah meminum cairan elektrolit yang dibagikan panitia medis, namun matanya memancarkan kecemasan baru saat melihat kartu perak di tangannya.
"Tahap empat: Kelompok Akademik Antarpeserta," Nabila membaca teks yang muncul di kartunya. "Dim... kita tidak akan dipisah, kan?"
"Sistemnya acak, Nab. Tapi kalaupun kita kepisah, kamu harus ingat taktik tadi. Jangan biarkan anak-anak faksi kaya itu mengintimidasi nilaimu," jawab Dimas mencoba menenangkan, meski ia sendiri tahu bahwa di tahap kelompok seperti ini, peserta dari faksi beasiswa sering kali menjadi target eliminasi pertama oleh peserta faksi elite yang ingin mengamankan posisi puncak.
Atharva menatap kartu peraknya. Kamar 204.
Saat ia mulai melangkah mengikuti jalur evakuasi koridor menuju jembatan penghubung Gedung Kompetisi, ia merasakan di sekitarnya telah berubah total. Keramahan semu yang sempat terlihat di antara para remaja pada hari pertama kini telah menguap sepenuhnya. Siksaan dua puluh empat jam di dalam pod siber telah meninggalkan bekas luka psikologis yang nyata. Setiap peserta kini memandang peserta lain dengan tatapan penuh curiga, kalkulatif, dan dingin.
Keisya berjalan beberapa meter di samping Atharva, mengamati bagaimana pergerakan beberapa faksi yang mulai terbentuk secara alami di sepanjang koridor. Kirana Safira tampak berjalan di tengah kelompok anak-anak olimpiade dengan senyum lembutnya yang kini terasa dipaksakan, sementara Raka Elang mulai berbisik-bisik dengan beberapa peserta berwajah tegang di dekatnya sebuah taktik klasik untuk membangun aliansi jangka pendek.
"Mereka mulai membuat benteng masing-masing," kata Keisya tanpa menoleh pada Atharva.
"Benteng yang dibangun di atas rasa takut akan runtuh pada benturan pertama," balas Atharva pendek.
Langkah kaki seratus delapan puluh remaja itu bergaung berat di atas jembatan kaca yang menghubungkan Menara Akademik dan Gedung Kompetisi. Di bawah mereka, Kota Veridian tampak seperti hamparan sirkuit digital raksasa yang tidak pernah tidur.
Retakan pertama pada mental mereka telah terbentuk, dan di dalam ruangan-ruangan gelap Gedung Kompetisi yang sudah menunggu di depan, Nexus Academy siap menghantam retakan itu hingga pecah menjadi serpihan memaksa para jenius ini saling menjatuhkan demi menjadi bagian dari satu persen yang tersisa.