Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 20
Debum pintu yang ditutup kasar oleh Galang menyisakan gema yang perlahan lenyap di ruang tamu. Keheningan kembali merayap, menyelimuti rumah yang terasa semakin dingin dari hari ke hari.
Aulia masih berlutut di lantai, mendekap Cantika erat-erat. Dia bisa merasakan bahu kecil putrinya terguncang pelan, menahan tangis yang tak mampu disuarakan dengan sempurna. Hati Aulia mencelos, namun bukan lagi oleh rasa sedih yang melemahkan, melainkan oleh amarah yang membeku menjadi tekad bulat.
"Anak pintar, anak cantik Ibu..." bisik Aulia lembut, mengecup puncak kepala Cantika.
"Papa sedang sibuk. Sekarang, kita main berdua di kamar, yuk? Ibu punya krayon baru untuk Tika."
Cantika mendongak, menghapus air matanya dengan punggung tangan mungilnya, lalu mengangguk pelan. Senyum tipis kembali terukir di wajah bocah itu, kepolosan yang begitu kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam rumah ini.
Setelah memastikan Cantika asyik mewarnai di kamarnya, Aulia berdiri dan berjalan ke arah jendela ruang tamu. Dari balik tirai yang tersingkap sedikit, dia melihat mobil Galang perlahan bergerak meninggalkan pekarangan rumah.
Aulia tersenyum tipis. Sangat tipis, namun sarat akan kepuasan yang dingin.
"Nikmati hari Minggumu, Mas," gumam Aulia lirih.
"Karena ini akan menjadi hari Minggu terakhir yang bisa kamu nikmati dengan tenang."
Dia melangkah menuju kamarnya sendiri. Dari bawah tumpukan baju di lemari paling sudut, Aulia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal yang selama seminggu ini dia sembunyikan dengan rapat.
Di dalam map itu, bukan hanya ada cetakan rekening koran dari bank yang dia datangi secara diam-diam Senin lalu. Dari hasil cek mutasi itu menunjukkan aliran dana ratusan juta yang ditarik Galang untuk membelikan sebuah mobil bekas atas nama Belinda, tetapi juga barang-barang mewah untuk wanita itu, bahkan ternyata kartu kredit milik Galang hampir mencapai batas limit untuk menyenangkan Belinda.
Tak hanya itu, lembar-lembar berikutnya berisi tangkapan layar percakapan mesra, foto-foto kedekatan serta rincian reservasi hotel atas nama Galang dan Belinda yang berhasil didapatkan Aulia dari bantuan seorang detektif swasta sewaan. Semua bukti sudah lengkap, tersusun rapi, dan siap untuk di berikan ke pengadilan agama sebagai bukti kongkrit.
Sementara itu, di sebuah kafe estetik di sudut kota, Galang tertawa lepas. Di hadapannya, Belinda duduk dengan gaun merah muda yang mencolok, memainkan jemarinya di atas punggung tangan Galang dengan manja.
"Kamu kok tumben telat sih, Yang? Aku bosen tahu nungguinnya," rajuk Belinda dengan bibir mengerucut.
"Maaf, Sayang. Tadi ada sedikit 'gangguan' di rumah," ujar Galang.
Mengingat wajah Cantika dan tatapan kosong Aulia. Namun, dia segera menepis bayangan itu. Baginya, Aulia hanyalah istri rumahan yang tidak berdaya, yang tidak akan berani mengambil langkah ekstrem karena ketergantungan finansial padanya.
"Ah, istrimu lagi? Sudahlah, nggak usah dipikirin. Yang penting hari ini kamu milikku seharian, kan? Kita jadi kan beli tas yang kemarin aku tunjukin?" tanya Belinda dengan mata berbinar penuh harap.
Galang menepuk dadanya dengan bangga.
"Tentu saja jadi. Apa sih yang enggak untuk kamu?"
Galang merasa berada di puncak dunia. Dia merasa berhasil mengendalikan semuanya: mempertahankan citra suami berwibawa di depan ibunya dengan memberikan uang tambahan. Sehungga mereka kembali diam dan tak berkoar-koar karena Galang sudah menambal mulut keluarganya dengan uang. Lalu dia tinggal menundukkan Aulia dengan gertakan, dan tetap bisa memanjakan selingkuhannya. Dia tidak pernah tahu bahwa di balik keheningan yang dia tinggalkan di rumah, sebuah sekoci penyelamat telah dilepaskan oleh Aulia, siap membiarkannya tenggelam sendirian bersama kapal yang karam.
Sementara itu, di rumah Aulia, suasana jauh lebih hangat. Beberapa saat setelah mobil Galang melesat menjauh, pagar rumah mereka diketuk. Aulia membuka pintu dan mendapati Farrel dan ayahnya datang bertamu.
"Siang, Tante Aulia," sapa Farrel dengan senyumnya yang sopan dan ramah.
"Siang Farrel... Aish kok tumben datang ke sini?"
"Iya tante, Farrel mau ajak Cantika main lagi, iya kan Papa?" Jawab Farrel namun meminta persetujuan papanya. Ghani mengangguk.
"Maaf Bu Aulia kalau kedatangan kami meganggu hari minggu anda dan keluarga, tapi Farrel dari tadi meminta datang kesini mengajak Cantika bermain. Saya tadi coba telepon dan kirim pesan ke Bu Aulia tabi belum ada jawaban..." Ujar Ghani sedikit tak enak karena khawatir menganggu kelaurga Aulia.
"Aeeeeelllll.." teriak Cantika sebelum Aulia menjawab pertanyaan Ghani.
"Princeeeesssss..." Teriak Farrel.