Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keringat Pertama dan Pelindung Bayangan
Dua minggu di Sukaasih rasanya berjalan lebih lambat daripada dua tahun di Solaria.
Bagi Ghea, uang sembilan ratus ribu yang tersisa setelah membeli modul kuliah ternyata tidak ada apa-apanya. Biaya makan sehari-hari, sabun cuci, air galon, hingga tisu basah yang wajib dia beli demi menjaga kebersihan kulitnya, membuat isi dompetnya menipis dengan kecepatan yang mengerikan. Kini, uangnya hanya tersisa seratus lima puluh ribu rupiah.
Sementara itu, keadaan Arkan jauh lebih mengenaskan. Setelah dipotong untuk membeli kipas angin baru Ghea, uangnya kini benar-benar tinggal beberapa puluh ribu saja. Dia bahkan sudah mulai terbiasa makan mi instan dibagi dua untuk pagi dan malam.
Akhirnya, ego mereka harus mengalah pada rasa lapar. Keduanya mulai mencari pekerjaan paruh waktu di sekitar kampus.
Ghea beruntung—atau setidaknya begitu pikirnya. Berbekal wajahnya yang cantik, dia langsung diterima bekerja sebagai kasir paruh waktu di "Kafe Amarta", sebuah kafe estetik yang cukup ramai di dekat kampus. Tugasnya terlihat mudah: berdiri di balik meja kasir, mencatat pesanan, dan tersenyum ramah kepada pelanggan.
Namun, realitas dunia kerja tidak seindah bayangan Ghea.
"Mbak, ini gimana sih? Saya pesannya iced Americano less sugar, kenapa yang dateng malah manis banget kayak sirop?!" semprot seorang mahasiswi berpenampilan modis sore itu.
Ghea menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya yang hampir meledak. Di rumahnya dulu, dialah yang biasa menyemprot pelayan. Sekarang, roda kehidupan berputar drastis.
"Maaf, Kak. Saya buatkan ulang ya," jawab Ghea dengan senyum yang dipaksakan, meski tangannya yang memegang nampan sudah gemetar karena lelah setelah berdiri selama empat jam tanpa henti.
Di saat yang sama, tepat di sebelah kafe tersebut, terdapat sebuah ruko fotokopi bernama "Jaya Grafika". Ruko itu sangat sibuk karena mahasiswa selalu mengantre untuk mencetak tugas. Di sana, di dekat mesin cetak yang panas dan berisik, Arkan sedang bekerja keras.
Tugas Arkan jauh lebih berat secara fisik. Dia harus memotong kertas, mengangkat tumpukan buku tebal, hingga mengantar dus-dus kertas HVS ke gudang. Kaus hitamnya sudah basah oleh keringat, dan telapak tangannya yang biasa halus kini mulai terasa kasar dan memerah.
Dari balik kaca ruko fotokopi, mata tajam Arkan sesekali melirik ke arah kafe sebelah. Dia bisa melihat Ghea melalui jendela kaca besar "Kafe Amarta". Dia melihat bagaimana cewek yang biasanya sangat sombong dan manja itu kini harus membungkuk meminta maaf berkali-kali kepada pelanggan yang rewel.
Dada Arkan terasa berdenyut aneh. Ada rasa kesal, kasihan, dan tidak tega yang bercampur menjadi satu.
Puncaknya terjadi pada pukul tujuh malam. Kafe sedang sangat ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kelas malam. Ghea yang sudah sangat kelelahan mulai kehilangan fokus.
Saat mengantarkan nampan berisi beberapa gelas minuman ke meja pelanggan di area luar kafe, kaki Ghea yang dibalut sepatu flat murah mendadak goyah. Tubuhnya limbung.
PRANK!
Gelas-gelas kaca itu jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai semen. Sialnya, sebagian dari cairan kopi susu yang manis dan lengket itu terpercik ke arah sepatu bot kulit berwarna putih milik seorang pelanggan pria yang sedang duduk di sana.
"Woy! Jalan pakai mata dong! Lihat nih, sepatu mahal gue jadi kotor!" teriak pria itu, langsung berdiri dengan wajah merah padam. Dia adalah salah satu anak gaul kampus sebelah yang terkenal suka pamer kekayaan.
Ghea mematung. Wajahnya langsung pucat pasi. "Ma-maaf, Kak. Saya bener-bener gak sengaja..."
"Gak sengaja kepala lo! Ini sepatu harganya jutaan, tahu gak?! Lo mau ganti?!" bentak pria itu kasar, menarik perhatian semua orang di kafe, termasuk beberapa mahasiswa Jayasakti yang langsung berbisik-bisik.
Manager kafe, seorang pria paruh baya berwajah galak bernama Pak Toni, langsung keluar mendengar keributan itu. "Ada apa ini?"
"Ini karyawan lo! Teledor banget! Gue gak mau tahu, sepatu gue harus dibersihin sekarang juga, atau gue tuntut kafe ini!" ancam pria itu.
Ghea menggigit bibir bawahnya erat-erang. Setetes air mata yang sudah dia tahan sejak siang akhirnya luruh juga di pipinya. Dia merasa sangat malu, tidak berdaya, dan rindu dengan rumahnya di mana uang bisa menyelesaikan segala masalah dengan mudah.
"Minta maaf, Ghea! Bersihin sepatu pelanggannya!" perintah Pak Toni dengan suara tegas, tidak mau kafenya mendapat ulasan buruk.
Ghea memejamkan mata, bersiap untuk membungkuk dan membersihkan sepatu pria kasar itu dengan tisu, merelakan seluruh harga dirinya yang tersisa hancur di lantai kafe ini.
Namun, sebelum lutut Ghea sempat menekuk, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram bahunya, menahannya agar tetap berdiri tegak.
Ghea mendongak dengan terkejut.
Arkan sudah berdiri di sampingnya. Cowok itu masih memakai celemek biru dari ruko fotokopi sebelah yang kotor terkena tinta. Wajah Arkan terlihat sangat dingin, dan tatapan matanya tertuju lurus pada pelanggan pria yang sedang marah-marah itu.
"Dia udah minta maaf. Gak usah berlebihan sampai nyuruh dia bersihin sepatu lo," kata Arkan dengan suara rendah yang terdengar sangat mengintimidasi.
Pria sombong itu mendengus sinis. "Siapa lo? Pahlawan kesiangan? Lo cuma tukang fotokopi dekil di sebelah kan? Gak usah ikut campur ya!"
Arkan tidak membalas hinaan itu. Dia meraba saku celananya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang puluh ribuan yang lecek—satu-satunya sisa upah hariannya bekerja di ruko fotokopi yang baru saja dia terima sore ini.
Arkan meletakkan uang itu dengan kasar ke atas meja di depan si pria sombong.
"Itu lima puluh ribu buat biaya cuci sepatu lo di laundry terbaik. Ambil, terus pergi dari sini sebelum gue yang bersihin muka lo pakai air bekas pelan," ucap Arkan, nadanya sangat lempeng tapi memancarkan aura berbahaya yang membuat pria sombong itu mendadak ciut.
Melihat Arkan yang tampak serius dan berbadan jauh lebih tinggi darinya, pria itu akhirnya mendengus kesal, menyambar uang tersebut, lalu pergi dari kafe sambil mengumpat pelan.
Keadaan kafe kembali tenang, namun ketegangan belum berakhir. Pak Toni, manager kafe, menatap Ghea dengan tatapan kecewa.
"Ghea, kamu tahu kan aturan di sini? Kejadian ini bikin kafe kita kelihatan buruk. Ganti rugi gelas yang pecah akan dipotong dari gaji kamu, dan saya rasa..." Pak Toni menggantung kalimatnya, bersiap untuk mengucapkan kata pemecatan.
Ghea menunduk, meremas celemek kerjanya. Dia tahu dia akan dipecat di hari pertamanya bekerja.
"Pak Toni," potong Arkan tiba-tiba. Dia melangkah maju, menghalangi Ghea dari pandangan sang manager. "Saya yang akan ganti rugi sisa kerusakan gelasnya. Dan kalau Bapak khawatir tentang kebersihan kafe malam ini, saya bersedia bersihin seluruh area kafe ini setelah jam tutup secara gratis. Tapi tolong, jangan pecat dia."
Ghea refleks mendongak, menatap punggung tegap Arkan dengan mata membelalak. Arkan... ngelindungin gue? batinnya tidak percaya.
Pak Toni menatap Arkan dengan ragu, lalu melihat ke arah Ghea yang masih tampak gemetar. Setelah menimang beberapa saat, Pak Toni akhirnya menghela napas. "Oke. Hanya untuk kali ini saja. Besok kamu harus kerja lebih fokus, Ghea. Dan kamu..." Pak Toni di denda, "...pel lantai ini sekarang sampai bersih."
"Siap, Pak," jawab Arkan patuh.
Setelah Pak Toni kembali ke dalam, keheningan canggung tercipta di antara Ghea dan Arkan. Ghea menatap Arkan yang langsung mengambil sapu dan kain pel di sudut kafe tanpa mengeluh sedikit pun.
"Lo... ngapain sih ikut campur?" gumam Ghea dengan suara serak karena habis menangis. Gengsinya masih mencoba bertahan, meski di dalam hati dia merasa sangat tersentuh. "Gue gak minta lo buat jadi pahlawan ya, tiang listrik."
Arkan menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Ghea dengan seringai menyebalkan andalannya. "Geer banget lo. Gue cuma gak mau repot aja kalau lo dipecat terus nangis-nangis di kosan sampai suaranya kedengeran ke kamar atas. Bikin tidur gue gak nyenyak."
Ghea mendengus, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang hampir saja lolos dari bibirnya. "Dasar menyebalkan."
"Udah sana balik ke kasir. Muka lo jelek banget kalau habis nangis kayak gitu," ejek Arkan lagi sebelum kembali fokus mengepel lantai kafe dengan sisa tenaga yang dia miliki.
Malam itu, saat jam kerja berakhir, Ghea berjalan pulang ke kosan terlebih dahulu atas perintah Arkan yang masih harus menyelesaikan pembersihan kafe.
Sesampainya di kamar kosnya yang sejuk berkat kipas angin baru, Ghea duduk di tepi kasur. Dia menatap tangannya yang lelah, lalu beralih menatap pintu kamarnya. Pikirannya melayang pada sosok Arkan yang rela memberikan upah kerjanya yang pas-pasan demi melindunginya dari kehancuran harga diri.
"Sok pahlawan banget sih lo, Kan," gumam Ghea pelan, namun kali ini suaranya tidak lagi terdengar sinis. Ada kehangatan aneh yang perlahan mulai mengikis rasa benci di hatinya di bawah kesunyian malam Sukaasih.