Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Ngidam Pizza Keju Berlimpah
Kehamilan Sarah memasuki bulan ketiga. Rasa mual yang dulu sering menyerang kini mulai berkurang. Namun, sebagai gantinya, muncul ngidam yang kadang membuat Sarah sendiri geli. Ia jadi suka makan, apalagi jika melihat makanan-makanan yang menggiurkan di media sosial.
Suatu sore, saat Sarah sedang bersantai di ruang tamu mansion, ia membuka ponselnya dan membuka Instagram. Jari-jarinya bergulir melihat video-video pendek tentang makanan. Tiba-tiba, matanya tertumbuk pada sebuah video yang membuat air liurnya hampir menetes.
Di layar ponsel, tampak sebuah restoran di pusat kota Milan yang sedang mempromosikan pizza spesial mereka. Pizzanya sangat besar, dengan pinggiran yang tebal, dan di atasnya terdapat lapisan keju mozzarella yang meleleh sangat berlimpah, hampir menutupi seluruh permukaan pizza. Ada tambahan pepperoni, jamur, dan saus tomat yang menggoda. Video itu menampilkan adegan saat seseorang menarik sepotong pizza, dan kejunya meleleh panjang hingga hampir menyentuh meja.
Sarah menatap video itu, matanya berbinar-binar. Lidahnya menjilat bibirnya tanpa sadar.
"Astaga... aku ingin itu," bisiknya.
Ia menonton video itu berulang-ulang. Rasa laparnya tiba-tiba muncul begitu kuat. Ia tidak bisa berpikir tentang hal lain selain pizza keju berlimpah itu.
Sarah berdiri dari sofa, mengenakan sandalnya, dan berjalan menuju pintu utama. Namun, saat ia akan membuka pintu, sebuah suara menghentikannya.
"Sarah, kamu mau ke mana?"
Sarah menoleh. Samudra sedang berdiri di dekat tangga, mengenakan kemeja putih tanpa dasi, dan memegang segelas air mineral. Matanya menatap Sarah dengan tatapan bertanya.
Sarah tersenyum canggung. "Pak... saya mau keluar sebentar."
"Keluar? Ke mana?" tanya Samudra, berjalan mendekat.
Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya... saya mau beli pizza."
Samudra mengerutkan kening. "Pizza?"
"Iya, Pak. Saya lihat di Instagram tadi. Ada pizza dengan keju yang sangat banyak. Kelihatannya enak banget. Saya jadi ngidam," jawab Sarah jujur.
Samudra menatap Sarah. Ia melihat mata Sarah yang berbinar-binar saat menyebutkan pizza. Ia tidak bisa menahan senyum tipis.
"Kamu ngidam pizza?" tanya Samudra, nadanya sedikit geli.
"Iya, Pak. Aneh ya, hamil jadi suka ngidam aneh-aneh," jawab Sarah, merasa sedikit malu.
Samudra menghela napas. "Kalau kamu mau makan pizza, aku bisa memesankan koki untuk membuatkannya."
"Tapi Pak, yang di Instagram itu restoran spesial. Mungkin rasanya beda. Saya ingin mencoba yang asli dari tempat itu," jawab Sarah.
Samudra menatap Sarah. Ia melihat keinginan yang sangat kuat di mata Sarah. Dan sebagai pria yang sudah mulai peduli, ia tidak tega menolak.
"Baik. Aku antar kamu," ujar Samudra.
Sarah membelalak. "Pak, Bapak tidak perlu—"
"Aku antar kamu," potong Samudra tegas. "Kamu tidak bisa pergi sendiri. Apalagi menjelang malam."
Sarah ingin membantah, tapi melihat tatapan Samudra yang tidak bisa ditawar, ia akhirnya mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih."
Mereka berdua keluar dari mansion, masuk ke dalam mobil Samudra. Samudra memutar setir, meninggalkan mansion, menuju pusat kota Milan. Sarah membuka ponselnya, menunjukkan alamat restoran itu pada Samudra.
"Di sini, Pak. Jalan Via Roma," ujar Sarah.
Samudra mengangguk, dan melajukan mobil menuju alamat tersebut. Sesampainya di sana, mereka turun dan berjalan menuju restoran. Restoran itu bernama Pizzeria Da Luciano, dengan suasana yang hangat dan ramai. Aroma pizza yang baru dipanggang langsung tercium begitu mereka masuk.
Sarah menatap ke menu. Matanya tertumbuk pada pizza Quattro Formaggi dengan tambahan extra mozzarella. Ia langsung memesannya.
Samudra memesan segelas air mineral untuk Sarah, dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Mereka duduk di meja yang menghadap ke jalanan, menikmati suasana malam Milan yang mulai hidup.
Tak lama kemudian, pizza yang Sarah pesan tiba. Pizzanya sangat besar. Lapisan keju di atasnya sangat tebal, meleleh dengan sempurna, dan aroma keju yang dipanggang langsung memenuhi ruangan.
Sarah mengambil sepotong pizza. Saat ia menariknya, keju itu meleleh panjang seperti di video Instagram. Sarah tersenyum sangat lebar, matanya berbinar-binar.
"Ini dia, Pak! Ini yang saya mau!" seru Sarah, lupa diri.
Samudra menatap Sarah yang sedang menikmati potongan pizza pertamanya. Mata wanita itu bersinar, dan senyumnya sangat cerah. Samudra tidak bisa berpaling.
"Bagaimana rasanya?" tanya Samudra.
Sarah mengunyah dengan lahap, lalu menjawab, "Sangat enak, Pak! Kejunya terasa di lidah. Ini yang saya idam-idamkan."
Samudra tersenyum tipis. "Bagus. Makanlah yang banyak. Kamu butuh energi."
Sarah menghabiskan dua potong pizza, dan ia masih ingin lebih. Tapi perutnya sudah mulai terasa penuh. Ia menatap sisa pizza di piring dengan tatapan sayu.
"Kenapa?" tanya Samudra.
"Saya masih ingin makan, tapi perut saya sudah penuh, Pak," jawab Sarah.
Samudra tersenyum. "Kamu bisa membungkus sisanya. Makan lagi besok."
Sarah mengangguk. Ia memanggil pelayan dan meminta untuk membungkus sisa pizza. Samudra membayar tagihan tanpa banyak bicara.
Mereka kembali ke mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Sarah masih tersenyum lebar memegang kotak pizza di pangkuannya. Ia merasa sangat bahagia hanya karena bisa makan pizza yang diidamkannya.
"Terima kasih, Pak," ujar Sarah.
"Untuk apa?" tanya Samudra.
"Untuk membawa saya ke sini. Bapak tidak perlu melakukan ini. Tapi Bapak melakukannya," jawab Sarah.
Samudra menatap Sarah sekilas, lalu kembali fokus pada jalan. "Aku hanya tidak ingin kamu menangis karena tidak bisa pizza, Sarah."
Sarah tertawa kecil. "Saya tidak akan menangis, Pak."
"Kamu belum tahu. Wanita hamil itu emosinya tidak terduga," jawab Samudra, sedikit bercanda.
Sarah tersenyum. Ada rasa hangat di dadanya. Di balik sifatnya yang dingin dan tegas, Samudra ternyata bisa menjadi sangat baik. Dan Sarah mulai merasakan bahwa batas antara kontrak dan perasaan semakin kabur.
Saat mereka tiba di mansion, Sarah turun dengan hati-hati sambil membawa kotak pizza. Samudra juga turun dan berjalan di sampingnya.
"Pak, terima kasih untuk malam ini. Saya benar-benar bahagia," ujar Sarah.
Samudra menatap Sarah. "Kalau kamu ngidam makanan lagi, bilang saja. Aku akan mengantarmu."
Sarah mengangguk. "Baik, Pak."
Malam itu, Sarah tidur dengan perasaan sangat senang. Dan di dalam hatinya, ia berdoa semoga kehamilannya selalu sehat, dan semoga ia bisa terus merasakan kebahagiaan seperti ini.