NovelToon NovelToon
SANG NAGA PURBA

SANG NAGA PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)

​Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.

​Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.

​Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.

​Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS DARAH TINGKAT 4

Gelombang aura yang memenuhi aula perlahan mereda.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi tekanan kini kembali sunyi. Hanya cahaya redup dari pilar-pilar kuno yang masih menerangi ruangan, menjadi saksi keberhasilan dua pewaris muda menerima warisan para leluhur.

Perlahan, noda darah yang memenuhi tubuh Tian Xue dan Lu Shi mulai menghilang. Bukan mengering. Melainkan lenyap begitu saja.

Kilauan lembut memancar dari pakaian artefak yang mereka kenakan. Cahaya hitam keemasan menyelimuti jubah Tian Xue, sementara pakaian Lu Shi diselimuti cahaya merah keperakan.

Dalam beberapa tarikan napas, pakaian yang semula dipenuhi bercak darah kembali bersih tanpa meninggalkan sedikit pun noda.

Melihat perubahan itu, Lu Shi berkedip beberapa kali.

"Eh?"

Ia menepuk-nepuk lengannya sendiri.

"Noda darahnya hilang."

Tatapannya beralih ke pakaian Tian Xue yang juga telah kembali seperti semula.

"Artefak ini bahkan bisa membersihkan dirinya sendiri."

Tian Xue hanya melirik sekilas sebelum mengepalkan tangan kanannya.

Krek...

Jari-jarinya mengepal erat. Ia dapat merasakan kekuatan yang jauh lebih besar mengalir di dalam tubuhnya. Setiap tetes darah seolah dipenuhi kehidupan baru.

Di dalam benaknya, satu pikiran perlahan muncul.

Peringkat Empat Garis Darah...

Belum genap satu bulan sejak dirinya berpisah dengan sang ibu. Namun kehidupannya telah berubah sepenuhnya.

Dari seorang pemuda yang dipandang rendah...

Kini ia berhasil menembus Tingkat Empat Garis Darah.

Perjalanan itu terasa begitu singkat. Namun setiap langkah dipenuhi pertaruhan hidup dan mati.

Senyum lebar tiba-tiba menghiasi wajah Lu Shi.

"Waaaah!"

Ia mengepalkan kedua tangannya sambil melompat kecil.

"Aku benar-benar berhasil mencapai Garis Darah Tingkat Empat!"

"Kalau Ayah melihatku sekarang pasti akan terkejut."

Melihat kegembiraan gadis itu, Tian Xue hanya menganggukkan kepala pelan.

"Warisan yang kita terima mempercepat evolusi garis darah kita."

"Kalau bukan karena tempat ini..."

"...mustahil kita berkembang secepat ini."

Lu Shi mengangguk berulang kali. Matanya masih sulit melepaskan rasa kagum terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Tian Xue kemudian menatap ke arah pintu keluar istana.

"Lebih baik kita segera menemui senior."

"Masih banyak hal yang ingin kutanyakan."

Lu Shi langsung menyetujui.

"Ayo."

Tanpa menunda lagi, keduanya menggenggam senjata warisan masing-masing sebelum berjalan meninggalkan aula. Langkah mereka terdengar jauh lebih ringan dibandingkan saat pertama kali memasuki tempat itu.

Sepanjang perjalanan, Tian Xue tiba-tiba teringat sesuatu.

"Kompetisi Empat Klan..."

"...tinggal dua bulan lagi."

Mendengar kalimat itu, Lu Shi langsung menghentikan langkah. Ia berbalik dengan mata berbinar.

"Benarkah?"

"Apa aku juga bisa ikut?"

Tian Xue mengangguk.

"Bisa."

"Tetapi bukan langsung menghadapi para jenius Empat Klan."

Lu Shi memiringkan kepala.

"Maksudmu?"

"Sebelum memasuki kompetisi utama."

"Kau harus melewati babak penyisihan."

Tatapan Tian Xue tetap tenang.

"Pesertanya bukan hanya Half Dragon."

"Masih ada berbagai ras lain yang ingin memperebutkan kesempatan itu."

"Hanya mereka yang mampu bertahan dalam babak penyisihan yang berhak menantang para jenius Empat Klan."

Lu Shi mengusap dagunya pelan.

"Hmmm..."

"Jadi peraturannya seperti itu."

"Dengan kata lain..."

"...orang-orang biasa harus saling bertarung terlebih dahulu sebelum bisa melawan para jenius Empat Klan."

Tian Xue mengangguk.

"Itulah kenyataannya."

Lu Shi justru tersenyum lebar.

"Bagus."

"Aku jadi semakin tidak sabar."

Keduanya kembali melanjutkan langkah. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan gerbang utama istana.

Begitu keduanya melewati ambang pintu—

Kreeeek...

Gerbang batu raksasa perlahan bergerak menutup dengan sendirinya. Suara benturannya menggema ke seluruh ruang bawah tanah.

Boom...

Seolah menandakan bahwa perjalanan mereka di dalam Istana Leluhur telah berakhir.

Di depan gerbang, lelaki tua berambut putih telah menunggu dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya. Tatapannya langsung tertuju kepada Tian Xue dan Lu Shi.

Beberapa saat ia terdiam. Kemudian senyum tipis muncul di wajah tuanya.

"Sepertinya..."

"...kekuatan kalian masih belum cukup untuk mewarisi seluruh sejarah."

Tian Xue melangkah maju. Ia menggenggam kedua tangannya memberi hormat.

"Terima kasih atas bimbingan Senior."

Di sampingnya, Lu Shi buru-buru meniru gerakan yang sama.

"Terima kasih, Senior."

Lelaki tua itu mengangguk pelan. Tian Xue kembali mengangkat kepalanya.

"Senior benar."

"Kami memang belum cukup kuat."

"Namun sekarang aku mengerti."

Ia menatap kembali ke arah gerbang istana yang telah tertutup rapat.

"Jika seluruh sejarah itu diperlihatkan kepada kami sekarang..."

"...mungkin para leluhur justru khawatir kami kehilangan tujuan untuk menjadi lebih kuat."

"Karena itulah mereka hanya memperlihatkan sebagian kecil dari masa lalu."

Mendengar jawaban itu, lelaki tua tersebut membelai janggut putihnya perlahan. Ia mengangguk berulang kali.

"Kau jauh lebih dewasa daripada usiamu, Anak Muda."

Tatapan penuh penghargaan tampak di matanya. Kemudian...

Ia mengangkat tangan kanannya. Dua kilatan cahaya muncul di telapak tangannya.

Perlahan cahaya itu memudar, memperlihatkan dua cincin berwarna hitam keperakan dengan ukiran naga kuno yang sangat halus.

"Ini..."

"...hadiah dariku."

"Ambillah."

Seketika perhatian Tian Xue dan Lu Shi tertuju pada dua cincin tersebut. Ukurannya tidak besar. Permukaannya berwarna hitam keperakan dengan ukiran naga yang melingkar mengelilingi seluruh cincin.

Meski terlihat sederhana, keduanya memancarkan aura yang jauh lebih dalam dibandingkan artefak biasa.

Lelaki tua itu mengayunkan tangannya perlahan. Dua cincin itu segera melayang ke hadapan Tian Xue dan Lu Shi.

"Ini adalah hadiah pribadiku."

"Cincin Ruang."

"Tidak seperti Kantung Semesta yang hanya memiliki ruang terbatas."

"Di dalam Cincin Ruang terdapat dimensi penyimpanan yang nyaris tidak memiliki batas."

"Kalian dapat menyimpan apa pun di dalamnya."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Kecuali makhluk hidup."

Mata Lu Shi langsung berbinar.

"Benarkah?"

"Kalau begitu nanti aku bisa menyimpan banyak makanan!"

Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung meraih cincin itu dengan kedua tangan seolah takut berubah pikiran.

"Terima kasih, Senior!"

Melihat tingkah gadis itu, lelaki tua hanya tersenyum tipis. Sementara itu, Tian Xue tidak langsung mengambil cincin yang berada di hadapannya. Tatapannya tetap tenang.

"Senior..."

"Lalu mengapa memberikan benda seberharga ini kepada kami?"

Lelaki tua itu tidak menjawab. Tian Xue kembali melanjutkan.

"Senior sendiri mengatakan bahwa Cincin Ruang sangat langka."

"Kalau benar hanya ada lima di seluruh Benua Canglan..."

"...bukankah hadiah ini terlalu berharga?"

"Aku tidak bisa menerimanya begitu saja."

Lu Shi yang sedang memandangi cincinnya langsung membelalak. Ia buru-buru menoleh.

"Lelaki bodoh!"

"Kalau sudah dikasih ya diterima saja!"

Namun Tian Xue tetap menggeleng pelan. Ia tidak ingin menerima sesuatu yang nilainya terlalu besar tanpa alasan.

Lelaki tua itu tertawa kecil.

"Hahaha..."

"Kau memang berbeda."

Ia membelai janggut putihnya perlahan.

"Bagi orang lain, benda ini mungkin adalah harta yang diperebutkan dengan nyawa."

"Tetapi bagiku..."

"...cincin ini sudah tidak memiliki arti."

Tatapannya perlahan beralih ke gerbang Istana Leluhur yang telah tertutup rapat.

"Sisa hidupku akan kuhabiskan menjaga tempat ini."

"Aku tidak akan pernah meninggalkan Istana Naga."

"Lalu untuk apa aku membawa benda seperti itu?"

"Tidak ada seorang pun yang lebih pantas memilikinya selain pewaris yang telah diakui para leluhur."

Mendengar penjelasan itu, Tian Xue terdiam. Beberapa saat kemudian ia memberi hormat dengan kedua tangan.

"Kalau begitu..."

"...aku menerimanya."

Ia akhirnya mengambil cincin tersebut. Senyum tipis muncul di wajah lelaki tua itu.

"Itu baru benar."

"Mulai sekarang, benda-benda warisan kalian tidak perlu dibawa ke mana-mana."

Tatapannya kemudian tertuju pada tombak di tangan Tian Xue dan pedang di tangan Lu Shi.

"Masukkan sedikit Cap Jiwa ke dalam cincin."

"Setelah ikatan terbentuk..."

"...kalian hanya perlu menggunakan pikiran."

"Benda yang berada di dalamnya akan keluar ataupun masuk sesuai kehendak kalian."

Tian Xue dan Lu Shi saling berpandangan. Tanpa ragu, keduanya segera mengikuti petunjuk tersebut.

Mereka menutup mata. Perlahan, seutas energi jiwa mengalir menuju cincin di tangan masing-masing.

Bzzz...

Sesaat kemudian, keduanya merasakan hubungan yang sangat aneh. Seolah di dalam cincin itu benar-benar terdapat sebuah ruang tersendiri. Ruang yang luas. Sunyi. Dan sama sekali tidak memiliki batas yang dapat mereka rasakan.

Tian Xue mencoba mengangkat Tombak Tulang Naga menggunakan pikirannya.

Wussh!

Dalam sekejap, tombak itu lenyap dari tangannya. Namun ia masih dapat merasakan keberadaannya di dalam ruang cincin.

Tanpa membuang waktu, ia kembali menggerakkan pikirannya.

Wussh!

Tombak itu muncul kembali di hadapannya. Lu Shi yang melihatnya langsung ikut mencoba.

Pedang Sembilan Nyawa menghilang. Lalu muncul kembali beberapa saat kemudian.

"Hahaha!"

"Menarik sekali!"

Ia terus mengulanginya beberapa kali seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Bahkan kitab teknik pedangnya juga segera ia simpan ke dalam cincin.

Melihat itu, Tian Xue ikut memindahkan Kitab Teknik Tombak Naga Pemecah Langit beserta Tombak Tulang Naga ke dalam ruang penyimpanan. Kini seluruh barang berharga mereka telah tersimpan dengan aman.

Lelaki tua itu mengangguk puas.

"Kalian belajar dengan cepat."

Suasana kembali hening. Angin pelan berembus melewati lorong kuno. Tatapan lelaki tua itu perlahan berubah lebih dalam.

Ia memandang Tian Xue dan Lu Shi beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

"Kalau begitu..."

"...pergilah."

"Teruslah menjadi lebih kuat."

"Suatu hari nanti..."

"...datanglah kembali ke tempat ini."

Tatapannya tertuju lurus kepada Tian Xue.

"Bila saat itu kalian benar-benar memiliki kekuatan yang cukup..."

"...maka seluruh sejarah yang terkubur selama ribuan tahun akan terbuka di hadapan kalian."

Ia menghela napas panjang.

"Dan mungkin..."

"...kalianlah yang akan memikul beban sejarah seribu tahun yang lalu."

Tian Xue mengepalkan tangan perlahan. Ia tidak menjawab. Namun di dalam hatinya, tekad itu telah tertanam.

Suatu hari nanti...

Ia akan kembali.

Bukan hanya untuk mengetahui asal-usul Klan Xue.

Tetapi juga untuk mengungkap seluruh kebenaran yang telah hilang dari sejarah Benua Canglan.

Tian Xue dan Lu Shi kemudian membungkukkan badan memberi hormat untuk terakhir kalinya.

"Terima kasih, Senior."

Tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya berbalik dan melangkah meninggalkan Istana Leluhur.

Sementara lelaki tua itu tetap berdiri di tempatnya. Memandang dua sosok muda yang perlahan menghilang dari pandangan.

Di wajah tuanya, tersungging senyum penuh harapan.

Akhirnya...

Harapan para leluhur tidak lagi berjalan sendirian.

1
Arni Arlinawati pratiwi
waas eusi na ngaburial peujit hungkul.. /Sweat/
Arni Arlinawati pratiwi: mangga leb ok! 🤣🤣🤣
total 6 replies
Jumadil
jangan lupa mcnya ambil itu hartanya
Kausafiksi.id: 😁 tentu pasti
total 1 replies
Day Chuk
visual gambar nya coooy
Kausafiksi.id: 😁 selanjut setiap bab kedepan di usahain ada 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
hahaha mending l3nyap kan sajah dapat harta nya juga
Kausafiksi.id: tian xue seperti itu memang
total 1 replies
Day Chuk
tian xue mengerikan🫢
Kausafiksi.id: sangat dingin iya kan
total 1 replies
Day Chuk
wih sekarang ada visual gambar nya thor😁
Day Chuk
aku suka karakter lu shi, tetap bar bar
Kausafiksi.id: bayangin cantik anggun tapi bar bar😁
total 1 replies
Day Chuk
semoga menarik😁
helena
?? pasangan kh Thor?
helena: ilang deh image CEO ganteng.. 🤣 jadi CEO Kekar💪
total 7 replies
Anonim
seperti nya tian xue adalah keturuan naga agung
Kausafiksi.id: Mungkin iya mungkin tidak
total 1 replies
Anonim
apa kah mereka akan menjadi pasangan thor
Kausafiksi.id: bisa iya bisa tidak 😁
total 1 replies
Anonim
keputusan uang tepan tian xue, masa bawa bawa ibu kan repot juga kalau ada musuh 🫢
Kausafiksi.id: 😁 benar sekali kaka
total 1 replies
Anonim
Saya menyuka
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
siap thor 🙏👍 otw
Firmahadi
izin mampir bg😄
Day Chuk
sangat seru, di tunggu updete selanjut nya 🙏
Kausafiksi.id: terimakasih, di tunggu ya 🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
karya luarbiasa
Day Chuk
Gokil thor, menantikan bab selanjutnya
Kausafiksi.id: sip bang👍
total 1 replies
Day Chuk
buset 🤣
Day Chuk
hahahaha mau mati malah halusinasi
Day Chuk: ia emang barbar banget😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!