NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 23

PANGERAN JASINGA

Sore hari datang seorang pria dekat warung Bu Minah.

Pria tersebut turun dari kudanya dan menanyakan tentang keberadaan perguruan Naga Langit.

"Bu, apa benar yang di depan sana itu perguruan Naga Langit?" ucap orang yang baru datang dengan nada yang sopan.

Pemilik warung membenarkan dan mempersilakan agar orang tersebut masuk jika ada keperluan.

"Ya, benar. Itu adalah perguruan Naga Langit. Silakan masuk jika Anda memiliki keperluan," kata Bu Minah dengan senyum.

Orang itu adalah Pangeran Jasinga yang datang dari Kerajaan Jasinga untuk membalas kematian Bupati Jordan.

Dia tersenyum sinis ketika memikirkan tentang dendamnya.

"Akhirnya, setelah perjalanan 6 hari berkuda, akhirnya saya temukan perguruan sialan ini," gumam Pangeran Jasinga dalam hati.

Pangeran Jasinga memasuki perguruan Naga Langit dengan langkah yang mantap.

Dia melihat 2 pria yang sedang berlatih bela diri di lapangan perguruan.

Pangeran Jasinga mendekati pendopo perguruan, tempat Guru Naga Langit berada.

Guru Naga Langit yang berada di pendopo mendekati Pangeran Jasinga dengan senyum.

"Selamat sore, anak muda. Kamu siapa dan ada keperluan apa?" ucap Guru Naga Langit dengan nada yang ramah.

Oval dan Apis, dua murid perguruan, menghentikan latihan dan menghampiri Guru Naga Langit.

Mereka penasaran dengan kedatangan orang asing ini. "Guru, siapa orang ini?" tanya Oval dengan rasa ingin tahu.

Guru Naga Langit membalas, "Tunggu dulu, anak-anak. Mari kita dengar apa yang dikatakan oleh tamu ini." Guru Naga Langit menatap Pangeran Jasinga dengan penuh perhatian.

"Hahahaha... Saya Pangeran Jasinga dari Kerajaan Jasinga ingin berduel dengan Pendekar Naga Hijau," ucap Pangeran Jasinga dengan nada yang sombong dan penuh dendam.

"Yang mana pendekar tersebut telah membunuh sepupu saya yang bernama Bupati Jordan," tambahnya dengan mata yang menyala-nyala.

Guru Naga Langit sudah menduga bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah orang dari Kerajaan Jasinga, karena aksesoris kalung dan gelang yang dipakai merupakan ciri khas yang digunakan oleh orang-orang Kerajaan Jasinga.

Guru Naga Langit memandang Pangeran Jasinga dengan tatapan yang tajam, mencoba membaca niat dan kekuatan lawannya.

"Apa kamu yakin ingin berduel dengan Pendekar Naga Hijau?" tanya Guru Naga Langit dengan nada yang tenang.

"Dia bukanlah lawan yang mudah, apalagi jika kamu datang dengan niat untuk membalas dendam."

Pangeran Jasinga tersenyum sinis. "Saya tidak peduli tentang kekuatan Pendekar Naga Hijau. Yang penting adalah membalas kematian sepupu saya dan menghancurkan musuh Kerajaan Jasinga," kata Pangeran Jasinga dengan tekad yang kuat.

"Siapa di antara kalian yang Pendekar Naga Hijau?" ucap Pangeran Jasinga dengan nada yang menantang.

"Bang, dapat lawan bang... Datang sendiri ke sini," ucap Apis dengan senyum percaya diri.

"Biar saya bereskan dia, pis," tambahnya dengan nada yang sombong.

"Apa kamu tahu resiko berduel di sini?" tanya Guru Naga Langit ke Pangeran Jasinga dengan nada yang serius.

"Kau tak perlu banyak bicara, pak tua. Cukup tunjukkan yang mana Pendekar Naga Hijau," ucap Pangeran Jasinga dengan nada yang tidak sopan.

Apis yang mendengar ucapan tak sopan terhadap gurunya mulai emosi dan hendak menyerang, namun ditahan oleh Guru Naga Langit.

"Tahan emosi, pis. Yang ini bagian saya," ucap Oval melarang Apis.

Oval maju ke depan dan mengatakan, "Saya Pendekar Naga Hijau. Saya yang menghabisi Bupati jahat tersebut, dan karena Kerajaan Jasinga pun tak peduli dengan nasib rakyatnya yang tertindas," ucap Oval dengan nada yang tegas.

"Mari kita pindah ke bagian sana, tempat lebih luas untuk sebuah pertarungan," ucap Oval sambil menunjuk ke lapangan yang lebih luas di luar perguruan.

Pangeran Jasinga tersenyum sinis dan mengikuti Oval ke lapangan yang ditunjuk.

"Baiklah, mari kita akhiri pertarungan ini dengan cepat," kata Pangeran Jasinga dengan nada yang menantang.

Pertarungan antara Pendekar Naga Hijau dan Pangeran Jasinga dimulai dengan kedua belah pihak saling menghadap dan memandang dengan tajam.

Pangeran Jasinga mengeluarkan aura kebencian yang kuat, sementara Pendekar Naga Hijau memancarkan aura yang tenang dan percaya diri.

Pangeran Jasinga menyerang terlebih dahulu dengan tendangan yang cepat dan kuat, namun Pendekar Naga Hijau berhasil mengelak dengan mudah.

Pendekar Naga Hijau membalas dengan pukulan yang cepat dan akurat, mengenai wajah Pangeran Jasinga dengan keras.

Pangeran Jasinga terhuyung ke belakang, namun segera bangkit kembali dengan semangat yang tidak pernah padam.

"Kamu berani memukul saya?" teriak Pangeran Jasinga dengan mata yang menyala-nyala.

Pendekar Naga Hijau tidak menjawab, namun malah menyerang kembali dengan pukulan yang lebih kuat.

Pangeran Jasinga mencoba untuk mengelak, namun pukulan Pendekar Naga Hijau terlalu cepat dan mengenai tubuh Pangeran Jasinga dengan keras.

Pangeran Jasinga terjatuh ke tanah, namun segera bangkit kembali dengan semangat yang lebih besar.

"Saya akan membunuh kamu!" teriak Pangeran Jasinga dengan aura kebencian yang semakin kuat.

Pendekar Naga Hijau tetap tenang dan percaya diri, menunggu Pangeran Jasinga untuk menyerang kembali.

Pangeran Jasinga tidak menunggu lama, dia menyerang dengan tendangan dan pukulan yang kuat, namun Pendekar Naga Hijau siap untuk menghadapinya.

Pangeran Jasinga memasang kuda-kuda, hendak mengeluarkan jurus andalannya, yaitu Pukulan Halilintar.

Pendekar Naga Hijau pun siap, dia hendak menahan pukulan tersebut dengan jurus sakti Tameng Naga Hijau.

Cahaya putih terpancar di tangan kanan Pangeran Jasinga, sementara tubuh Pendekar Naga Hijau diselimuti cahaya hijau yang bagian depannya berbentuk cahaya tameng besar.

Di depan pintu gerbang masuk, Pendekar Halilintar yang ditugaskan untuk menjemput Pangeran Jasinga melihat pertarungan itu dan tampak khawatir jika pukulan sakti tersebut mencelakai Pendekar Naga Hijau.

Pendekar Halilintar tidak ingin berurusan lebih dalam dengan Guru Naga Langit.

"Hiaaatttt...!!! Jurus Pukulan Halilintar!!!" Seketika cahaya putih yang berada di tangan Pangeran Jasinga melesat ke arah Pendekar Naga Hijau.

Wuzzzz... DUAAARRRR!!!!

Terjadi ledakan keras ketika cahaya tersebut menabrak Tameng Naga Sakti.

Setelah ledakan dan asap hilang, Pendekar Naga Hijau masih berdiri kokoh, tak kurang apa pun.

Hal itu membuat terkejut Pangeran Jasinga. Selama ini, tak ada yang mampu menahan pukulan sakti tersebut.

Di pintu gerbang, Pendekar Halilintar pun terkejut melihat hal itu.

Pendekar Halilintar bisa memprediksi jika pertarungan dibiarkan, maka Pangeran Jasinga akan menjadi korban.

"Haha, hanya segitu saja kemampuanmu..." ucap Pendekar Naga Hijau terhadap Pangeran Jasinga dengan nada yang mengejek.

Pangeran Jasinga semakin marah dan kesal, dia tidak percaya bahwa jurus andalannya dapat ditahan oleh Pendekar Naga Hijau.

"Kamu... kamu tidak mungkin bisa menahan pukulan saya!" teriak Pangeran Jasinga dengan mata yang menyala-nyala.

Pangeran Jasinga pun bersiap hendak mengeluarkan Pukulan Halilintar yang kedua. Tangan kanan Pangeran Jasinga bercahaya putih.

Pendekar Naga Hijau pun telah bersiap dengan jurus andalannya, yaitu Pukulan Sakti Naga Hijau. Tangan kanan Pendekar Naga Hijau bercahaya hijau menyala.

Rupanya Pendekar Naga Hijau hendak mengadu pukulan tersebut.

Melihat keduanya telah bersiap mengadu pukulan sakti, Pendekar Halilintar segera loncat dan memakai jurus meringankan tubuh, sehingga dia dapat sampai di samping Pangeran Jasinga dalam sekejap.

"Hentikan... Cukup!!" ucap Pendekar Halilintar seraya memegang pergelangan tangan Pangeran Jasinga, sehingga cahaya putih redup hilang seketika.

"Paman!! Sedang apa di sini..." ucap Pangeran Jasinga terkejut dengan kehadiran Pendekar Halilintar.

"Jangan larang saya, Paman. Biarkan saya bertarung," ucap Pangeran Jasinga dengan nada yang marah.

"Kamu menyusahkan saya saja, diam kamu!!" ucap Pendekar Halilintar dengan nada yang tegas.

Karena kesal, akhirnya Pendekar Halilintar menampar Pangeran Jasinga.

PLAAAKK!

Tamparan keras mendarat di wajah Pangeran Jasinga.

Pangeran Jasinga pun terdiam, melihat pamannya marah.

Pendekar Naga Hijau melihat lawan membatalkan serangannya, dan Pendekar Naga Hijau pun melakukan hal yang  sama, membatalkan serangannya.

"Baiklah, sepertinya pertarungan ini tidak perlu dilanjutkan," ucap Pendekar Naga Hijau dengan nada yang tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!