"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
WUUUSSH!
Tepat saat serangan Jono dan Kicon hendak mendarat telak, Repan menyunggingkan senyuman miring di bibirnya.
"Kena kalian..." gumamnya dingin.
Seketika itu juga, tubuh Repan bergerak sangat lincah.
Ia melesat menerobos ke depan, meloloskan diri dari jebakan serangan kedua petinggi geng tersebut lewat kelenturan tubuh yang luar biasa.
TAK! TAK!
WUUSSH! WUUSSH!
Repan membendung dan menangkis sabetan lawan seraya bergerak secepat kilat.
Pergerakan tubuhnya seolah-olah menjadi bayangan semu yang teramat sulit ditangkap oleh sepasang mata biasa.
"Sialan! Kita terpancing!" pekik Jono terkejut bukan main.
"Kita ditipu!" tambah Kicon dengan sepasang mata membelalak lebar.
Repan menyunggingkan seringai tipis. "Kalian berdua udah nggak bakalan bisa mundur lagi, Bangsat."
Ia langsung mengunci posisi dalam kaitan kuda-kuda kokoh Wing Chun. Kedua tangannya berayun secepat kilat, meliuk fleksibel lalu melepaskan rentetan hantaman presisi.
TAK! TAK! BUAK! DHUA!
Dalam tempo dua detik saja, Kicon menerima enam pukulan berturut-turut di area dada, perut, dan rahangnya.
BUAK! DUAK! BUK!
Tiga detik berikutnya, giliran Jono yang menjadi sasaran empuk. Sembilan pukulan beruntun mendarat telak mengincar wajah, tulang rusuk, dan area bahunya.
"Gue nggak bakal membiarkan kalian berdua tumbang terlalu cepat," pukas Repan dingin.
Ayunan tangan dan pergerakan kakinya terus mendarat bagaikan badai. Serangannya sangat cepat, bertenaga, dan berakurasi tinggi.
BUK! BUK! BUK! BUK!
Total lima puluh pukulan beruntun berhasil dilayangkan Repan hanya dalam tempo delapan detik saja.
Setiap benturan keras bergemuruh nyaring, menggetarkan hawa udara di sekitar area pertarungan.
BRUK! BRUK!
Tubuh Kicon dan Jono terpelanting hebat ke atas tanah. Mereka berdua terkapar tak berdaya dengan raut wajah babak belur, cairan darah menetes deras dari celah bibir dan hidung mereka.
Napas keduanya terengah-engah berat dengan tatapan mata kosong tak berdaya.
Para anggota Geng GBA lainnya mendadak bungkam seribu bahasa. Wajah-wajah mereka berubah pucat pasi menyaksikan dua petinggi elit terkuat mereka dihajar habis-habisan tanpa ampun.
Sementara itu di sudut timur lapangan, Jhonson masih terus mengamuk.
Wajahnya penuh memar lebam, peluh keringat mengucur deras membasahi seragamnya, dan pola napasnya mulai tersengal-sengal.
Meski begitu, senyuman gila masih menghiasi raut wajahnya.
BRAK! BUUK! DUAK!
"HAHAHA! Ini baru namanya pertarungan! Ini yang dari dulu gue cari-cari!!" teriak Jhonson bagaikan orang kesetanan.
"Gila... ini anak beneran kagak normal," gumam Bastian seraya bersusah payah menahan gempuran brutal Jhonson.
"Dia bener-bener monster..." tambah Roni dengan raut wajah sangat serius.
Kondisi tubuh Bastian dan Roni pun tak kalah mengenaskan. Walau status mereka adalah petinggi elit, Jhonson sukses membuat mereka kewalahan setengah mati. Bahkan untuk sekadar menjaga posisi berdiri saja, kaki mereka sudah tampak gemetaran kaku.
Pertarungan terus membara. Lima menit berselang, hamparan lapangan luas itu bertransformasi menjadi medan pembantaian yang dipenuhi tubuh-tubuh tergeletak.
Ratusan personel Geng GBA terkapar tak berdaya di atas tanah berdebu.
Ada yang meringis kesakitan memegangi rusuknya, ada yang tak sadarkan diri, bahkan tidak sedikit anggota yang memilih pura-pura pingsan agar tidak lagi menjadi sasaran amukan Repan maupun Jhonson.
Namun di tengah luasnya arena pertempuran, hanya tersisa tiga orang yang masih sanggup berdiri.
Repan—meskipun dahi dan pipinya mulai dibasahi keringat serta kedua lengannya memperlihatkan bekas memar akibat terlalu sering menahan benturan senjata—masih berdiri tegap penuh wibawa.
Sepasang matanya memancarkan ketajaman dan fokus absolut. Sampai detik ini, belum ada satu pun serangan musuh yang sanggup mendarat bersih menembus pertahanannya.
Jhonson, di sisi lain, kondisinya nyaris ambruk total. Wajahnya dihiasi lebam, deru napasnya terdengar sangat berat.
Namun ia tetap memaksa badannya untuk berdiri tegap. Ia menyunggingkan senyuman miring—tanda kepuasan luar biasa meskipun ketahanan fisiknya sudah berada di ambang batas.
Dan sosok ketiga...
Angga.
Ketua Utama Geng GBA itu berdiri tegap di batas tepi lapangan. Posturnya kokoh, raut wajahnya dingin membeku.
Ia sama sekali belum mengayunkan langkah sejak awal pertarungan dimulai. Namun sorot matanya kini telah berubah drastis. Ketegangan hebat mulai terpatri di raut wajahnya.
Kerumunan siswa SMA 09 Cimanggu yang menonton dari kejauhan makin berjubel. Mereka menyaksikan pemandangan itu dengan sepasang mata membelalak tak percaya.
"Gila... GILA BANGET!! Mereka berdua melawan 120 orang dan masih sanggup berdiri tegap?!"
"Kalau Jhonson... oke lah, kita semua tahu dia gila pertarungan. Tapi si Repan?! Dia... dia jauh lebih mengerikan dari dugaan siapa pun!"
"Berarti rumor soal dia waktu itu... beneran nyata, kagak ada bohong-bohongnya..."
"Ini fix bakal jadi legenda sekolah! Kagak ada yang bakal bisa melupakan kejadian hari ini!"
Para siswa sibuk merekam adegan bersejarah itu memakai kamera ponsel mereka.
Nama Repan dan Jhonson kini terukir sangat dalam di benak seluruh warga sekolah. Dua nama pemuda yang baru saja mengubah lanskap reputasi SMA 09 Cimanggu untuk selamanya.
Namun, drama sore ini belum sepenuhnya usai.
Selama sang Ketua Utama masih berdiri tegap, itu artinya Geng GBA belum resmi menderita kekalahan mutlak.
Ratusan tubuh tergeletak melintang di atas hamparan lapangan berdebu, menyajikan pemandangan kacau yang dipenuhi penderitaan dan darah.
Wajah-wajah personel Geng GBA tampak lebam, berdarah, dan mayoritas kehilangan kesadaran.
Hawa udara terasa sangat pekat, dipenuhi deru napas tersengal serta erangan lemas dari sisa-sisa anggota yang masih sadar.
Repan berdiri tegap di tengah pusat kekacauan tersebut.
Deru napasnya teratur dan stabil walau bulir keringat menetes dari dahinya. Ia melirik sekilas ke arah Jhonson yang masih berjuang keras menyeimbangkan posisinya, walau tubuhnya tampak limbung.
"Lo masih sanggup buat lanjut bertarung?" tanya Repan dengan nada vokal yang tenang, datar, dan lempeng tanpa emosi.
Jhonson menghembuskan napas panjang, lalu membiarkan tubuhnya ambruk menjatuhkan diri ke atas tanah dengan kondisi dipenuhi luka dan memar.
"Sialan... fisik gue udah menyentuh ambang batas. Gue kagak bisa lanjut bertarung lagi," ucap Jhonson dengan nada berat bercampur frustrasi.
Repan menyunggingkan senyuman tipis. "Jadi... artinya gimana sekarang? Gue yang menang taruhan?"
Jhonson memukul tanah berdebu di sampingnya dengan jengkel.
"Bangsat... kayaknya emang begitu! Lo yang menang taruhan hari ini, Repan! Dan sialnya, ini rasanya ngeselin banget!" gumam Jhonson keras-keras.
Meskipun ia benci menderita kekalahan, Jhonson cukup jantan dan sportif untuk mengakui keunggulan lawannya.
Dari sudut lapangan, derak langkah kaki yang tenang mulai terdengar mendekat.
Angga, pimpinan tertinggi Geng GBA, melangkah di antara hamparan kekalahan total pasukannya. Wajahnya dingin, dipenuhi timbunan amarah serta aura tekanan mental yang pekat.
"Kalian berdua bener-bener di luar nalar... Gue sama sekali nggak menyangka seluruh anak buah gue bisa dilibas habis kayak gini," pukas Angga, sepasang matanya menatap tajam mengunci sosok Repan.
Repan menjawab lempeng, "Lain kali kalau mau merekrut anggota, jangan pilih orang-orang bodoh. Jumlah mereka memang masif, tapi isi otak sama nyalinya nol besar."
Angga mendengus sinis.
"Omongan lo ada benarnya. Ini memang kesalahan gue karena terlalu mempercayai sampah-sampah nggak berguna kayak mereka."
Aura dingin dan tekanan intimidasi menguar dari tubuhnya. Atmosfer di sekeliling lapangan mendadak berubah menjadi kian berat.
Para siswa yang menonton dari kejauhan refleks menahan napas mereka.
"Tapi urusan ini belum selesai," lanjut Angga seraya menegakkan dadanya.
"Gue masih berdiri tegap di sini. Dan selama gue belum tumbang menghantam tanah... Geng GBA belum dinyatakan kalah!"
Repan menatapnya lekat, lalu menghembuskan napas pendek.
"Sepertinya gue kagak punya pilihan lain. Gue juga harus menumbangkan lo sekalian."
"Coba aja kalau lo sanggup, Bajingan!" bentak Angga seraya mengepalkan kedua tinju tangannya rapat-rapat. "Hari ini gue sendiri yang bakal meratakan lo!"
Keduanya kini berdiri berhadapan langsung dalam jarak rapat.
Tatap mata mereka saling mengunci, membara dipenuhi gelora permusuhan yang pekat. Tak ada ragu sedikit pun. Ini bakal jadi duel penentu puncak pertumpahan darah sore ini.
Sementara itu di kejauhan, di balik rindangnya bayang-bayang pohon besar di pinggir luar area lapangan, seorang pria dewasa muda memperhatikan interaksi mereka dengan ukiran senyuman tipis penuh kalkulasi bisnis.
'Menarik... Anak itu punya kekuatan fisik masif, kecepatan luar biasa, dan ketenangan mental yang stabil. Kalau data informasi ini valid, dia bisa dipoles jadi aset raksasa... atau malah ancaman besar buat kelompok kami,' batin pria itu seraya menyunggingkan miring senyuman dingin.
Dialah Edwan. Salah satu petinggi elit Geng RJP—geng penguasa jalanan paling elit dan ditakuti di seluruh wilayah Bogor.
'Gue harus secepatnya melaporkan temuan ini ke Ketua. Anak SMA bernama Repan ini... dia terlalu berbahaya untuk dibiarkan bergerak bebas begitu saja.'
Seringai dingin tak pernah lepas dari wajah Edwan.
Dan di tengah hamparan lapangan berdebu, dua sosok terkuat bersiap meledakkan bentrokan terakhir dalam duel yang tak hanya menentukan reputasi sekolah... namun juga membuka gerbang menuju arena pertempuran bawah tanah yang jauh lebih gelap dan berbahaya.