NovelToon NovelToon
AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengkhianatan / Drama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Umma Khummaira

Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.

Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.

Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.

Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mendung tipis menggelayut di langit pinggiran kota Jakarta pada Rabu senja. Di dalam rumah, ruangan tengah terlihat begitu bersih dan rapi. Lantai ubinnya mengilap setelah dipel berkali-kali. Kaca jendela tidak dibiarkan buram, Selly mengelap hingga bersih. Beberapa kain gorden usang pun sudah dicuci wangi menggunakan detergen seadanya. Selly melakukan semua itu sendirian, ditengah perut yang terus dirundung rasa mual hebat akibat morning sickness yang datang terlambat. Wajahnya tampak pucat, dan sesekali ia harus memegangi pinggangnya yang terasa linu. Namun, setiap kali rasa lelah itu datang, Selly selalu memejamkan mata dan mengingat janjinya pada Tuhan serta wejangan ibunya di kampung. Ia tidak ingin menyerah pada rasa sakit demi menebus dosa masa lalunya.

Di atas meja kayu ruang tamu yang sudah bersih, Arjuna duduk dengan kemeja kantor yang lengannya digulung. Di sekelilingnya berserakan lembaran draf pemasaran proyek Dirgantara Media Group. Arjuna sedang fokus mencoret-coret ide baru dengan kening berkerut dalam. Ia hanya punya sisa waktu dua hari sebelum hari Jumat untuk merombak total draf tersebut di hadapan Larasati dan Dewa Dirgantara.

"Mas... ini kopi hitamnya. Sengaja tidak aku pakai gula banyak agar Mas tidak mengantuk saat membaca data." ucap Selly dengan sangat lembut, meletakkan secangkir kopi hangat di samping laptop Arjuna.

Arjuna mendongak. Sorot matanya tidak lagi sedingin kemarin, melainkan menyiratkan rasa lelah yang amat sangat.

"Terima kasih, Selly. Kamu sudah istirahat? Wajahmu pucat sekali."

Selly tersenyum tulus dan menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya mual biasa. Draf bagian analisis kompetitor yang tadi Mas suruh pilah, sudah aku rapikan datanya di folder ini. Aku ketik ulang agar Mas lebih mudah membacanya."

Arjuna tertegun menatap lembaran draf yang diketik rapi oleh Selly. Di tengah stres yang menghimpitnya, kehadiran Selly yang mengesampingkan rasa sakit pada kandungannya demi membantunya bekerja benar-benar memercikkan rasa haru di sudut hati Arjuna yang paling dalam.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan yang tegas memecah keheningan rumah. Arjuna dan Selly saling berpandangan dengan cemas. Siapa yang bertamu ke tempat pengasingan mereka sore-sore begini?

Selly dengan cepat berjalan membukakan pintu. Begitu pintu itu terbuka, jantung Selly seolah berhenti berdetak seketika. Di ambang pintu, berdiri sosok Hendra dan istrinya. Kedua orang tua Arjuna itu datang dengan pakaian kasual namun tetap berkelas. Di tangan sang ibu, terdapat dua kantong besar berisi kotak makanan hangat serta buah-buahan segar premium.

"Ibu... Ayah..." bisik Selly terbata-bata, tubuhnya mendadak gemetar karena takut akan diusir atau dimarahi lagi seperti di rumah utama malam itu.

Hendra menatap Selly, lalu pandangannya beralih menyusuri seluruh penjuru rumah kecil ini. Pria paruh baya itu tertegun. Ia mengira akan mendapati tempat ini berantakan seperti kapal pecah, namun nyatanya, rumah kecil ini tampak begitu rapi, terawat, dan memancarkan aura rumah tangga yang bersih. Rasa kagum dan bersalah seketika berkecamuk di dalam dada Hendra dan istrinya.

Dewi melangkah maju, menatap wajah pucat Selly dengan binar mata yang mendadak melembut.

"Selly... wajahmu pucat sekali, Nak. Kamu sedang sakit?" tanya Ibu Arjuna, sebuah sapaan hangat yang selama ini belum pernah Selly dapatkan.

Air mata Selly langsung mengambang di pelupuk matanya mendengar panggilan yang begitu tulus.

"Selly... Selly tidak apa-apa, Bu. Hanya mual biasa. Mari, Ibu, Ayah, silahkan masuk ke dalam."

Arjuna yang mendengar suara orang tuanya langsung bangkit berdiri dari meja kerja dengan wajah pias. "Ayah? Ibu? Kenapa bisa ada di sini?"

Hendra melangkah masuk, meletakkan kantong makanannya di atas meja makan kecil. Ia berjalan mendekati putra tunggalnya, lalu menepuk bahu Arjuna dengan perlahan. "Ibu sama Ayah datang untuk menengok kalian. Ibumu sengaja memasak makanan kesukaanmu dan membawakan buah segar untuk istrimu."

Hendra menatap tumpukan berkas kerja di sekeliling Arjuna, lalu beralih menatap Selly yang sedang sibuk mengambilkan air minum untuk mereka dengan tangan yang masih gemetar karena canggung.

"Arjuna, Selly... duduklah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan sebagai keluarga." ucap Hendra dengan suara yang sangat tenang, jauh dari kesan meledak-ledak seperti biasanya.

Mereka berempat akhirnya duduk melingkar di ruang tamu itu. Keheningan sempat tercipta sejenak sebelum Hendra berdehem pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Arjuna.

"Arjuna... Ayah mau minta maaf." ucap Hendra dengan suara yang mendadak bergetar lirih.

Arjuna tersentak, matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut ayahnya yang terkenal super keras kepala.

"Ayah... maksud Ayah apa? Arjuna yang salah, Yah. Arjuna yang bikin malu keluarga kita."

"Tidak, Jun. Ayahmu dan Ibumu lah yang salah selama ini." Dewi menyela sambil menggenggam tangan Selly yang duduk di sampingnya, membuat Selly terisak pelan karena terharu.

"Kami terlalu menuntutmu menjadi sempurna demi gengsi bisnis. Kami menekanmu di luar tanpa pernah peduli dengan beban mentalmu. Kami yang membuatmu rapuh dan mencari pelarian yang salah."

Hendra mengangguk, membenarkan ucapan istrinya. "Papa sudah menelepon Baskoro semalam untuk meminta maaf secara jantan, dan dia sudah menerima dengan baik. Sekarang, giliran Papa yang harus membenahi internal kita. Pasti Selly yang mengurus rumah ini dalam kondisi hamil demi membantumu bekerja, benar Jun? Itu membuktikan bahwa istrimu ini memiliki ketulusan yang besar." Hendra menatap penuh kasih pada putra tunggalnya.

"Jadilah pria yang bertanggung jawab, Arjuna. Jangan limpahkan amarahmu pada Selly atau anak di dalam kandungannya. Arjuna, Ayah juga tahu proyek pemasaran dengan Dirgantara Media yang sedang kamu pegang saat ini sedang kamu perjuangkan. Ayah tidak akan membantumu secara materi, tapi Ayah minta selesaikan tanggung jawab pekerjaanmu itu dengan baik. Berdoa dan mintalah kemurahan Tuhan, agar apapun hasilnya bisa kamu terima dengan ikhlas. Ibu dan Ayah akan selalu memberikan dukungan moral penuh di belakangmu agar kamu bisa bangkit menjadi pria yang sejati."

Mendengar rentetan dukungan, kebesaran hati orang tuanya yang mau mengalah, serta wejangan hidup yang begitu menyentuh, pertahanan Arjuna runtuh total. Air mata seorang pria dewasa akhirnya luruh di hadapan ayahnya. Arjuna merosot dari sofa, berlutut di depan kedua orang tuanya sambil menangis tersedu-sedu, sebuah tangis penyesalan yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya.

"Ayah... Ibu... Arjuna minta maaf. Arjuna janji akan berubah dan menjadi lebih baik lagi. Arjuna tidak akan mengecewakan Ayah, Ibu, dan Selly lagi." ratap Arjuna dengan suara serak, meremas ujung celana ayahnya.

Selly yang melihat itu ikut menangis sejadi-jadinya, mengucap syukur di dalam hati karena Tuhan begitu cepat mendengar doanya. Kehangatan yang sempat hilang dari keluarga itu kini perlahan kembali, menyinari sudut-sudut rumah yang mulai terasa seperti sebuah rumah yang sesungguhnya.

1
Melda Andriyani
jempol untuk mu Larasati 😍😍🤗
Siti M Akil
lanjut thor
sunaryati jarum
Dikhianati tunangan dicintai bos besar
sunaryati jarum
Kena mental kan kamu , Arjuna
sunaryati jarum
Kapook
sunaryati jarum
Ibumu orang baik,demi smbisimu hidup enak dan kebiasaan hidup liarmu membawamu menjadi pelakor.
Ibu Anak Dua
Sebagai pemula ya novel ini bisa dibilang lumayan ya. Semoga author semakin semangat menerbitkan karyanya
Ibu Anak Dua
laki-laki alasannya dijebak, tapi sampai hamidun gede gitu. Ya ampun Junnnn,,,sing eling toh Jun
partini
silakan di nikmati jun penyesalan mu
Ibu Anak Dua
syalan kalian emang🤭🤭🤭
Ibu Anak Dua
munahfiq banget si Jun, dasar buaya🤣🤣
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
partini
aihhh kata cinta tapi selingkuh itu ga cinta namanya jun
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!