⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Disty sampai di rumah dengan aman dan selamat tanpa gangguan lagi. Tapi tetap ada yang membuatnya tidak tenang.
Sekarang, ia bergerak gelisah di dalam kamar, tanpa mengganti seragam sekolahnya. Hanya mondar-mandir gelisah setelah melempar tas nya dengan asal.
Disty menarik rambutnya ke belakang frustasi dengan air mata.
"Enggak. Gue nggak salah, kenapa Jav harus hukum gue? Gue cuma membela diri, gue berusaha jauh dan berontak dari Zaffar. Iya gue nggak salah," racaunya terus mengatakan kalau dia tidak bersalah.
Disty mulai mengingat masalalu. Kejadian satu tahun lalu yang di mana dirinya akan di jual dan di buang oleh orang tuanya sendiri, sampai Javeno datang sebagai penyelamat di hidupnya.
Javeno menolong, membawanya datang ke mansion pemuda itu dan mereka tinggal bersama.
Javeno memintanya untuk menjadi milik pemuda itu dan Disty setuju, karena Javeno orang yang mampu melindungi dirinya dari orang tuanya yang ingin menjual dirinya bahkan sering menyiksanya.
Disty mencari perlindungan di balik kata menjadi milik Javeno.
"Ini sekolah kamu?" tanya Javeno menatap gerbang sekolah bertuliskan SMA Ardamana.
Disty tersenyum dan mengangguk, ia hendak keluar dari mobil tapi Javeno menahannya.
"Jangan berinteraksi sama cowok. Siapa pun itu jangan," ucap Javeno tegas.
Disty mengernyit tapi ia tetap mengangguk. Disty berpikir itu hanya peringatan biasa, jadi ia mengabaikan itu.
Disty itu orangnya ramah walau ia suka ketenangan. Tapi siapapun yang menyapa, ia akan membalasnya juga.
Disty tidak tau kalau Javeno mengetahui semua interaksi yang dia lakukan. Sampai Javeno nekat datang dan menerobos masuk ke SMA Ardamana dan membuat pelajaran pada semua pemuda yang pernah berinteraksi dengan Disty. Miliknya.
"Javeno stop!" teriak Disty menghentikan dan mendorong kuat tubuh Javeno yang memukul teman sekelas nya yang sudah babak belur lemah tidak berdaya.
Disty iba, lalu menatap Javeno tidak percaya. Tidak menyangka kalau Javeno bisa sekejam ini.
"Kamu bela dia?" tanya Javeno dingin.
"Dia hampir mati," kata Disty marah. "Dia salah apa sampai kamu pukul dia kayak orang kesetanan kayak gitu?" lanjutnya bertanya, ingin penjelasan.
Javeno tersenyum tipis lalu maju selangkah. "Aku udah bilang dan peringatin ke kamu untuk jangan berinteraksi lebih sama cowok 'kan? Siapa pun itu," katanya.
Disty melongo tidak percaya. "Tapi apa harus kamu pukul dia sampe kayak gitu? Kami cuma saling sapa...."
"Walaupun," potong Javeno mencengkram kuat pipi Disty.
Hanya sebentar. Sebelum Javeno menarik kasar tangan Disty, membawanya pulang secara paksa. Dan saat sampai di rumah, Javeno langsung membungkam bibir Disty dengan bibirnya secara kasar di dalam kamar.
Sampai Disty kesulitan bernapas baru lah Javeno berhenti.
"Kalau kamu masih terus bicara sama lawan jenis, aku bakal hukum kamu kayak gitu," ucap Javeno dingin.
Disty diam, ia syok. Ia merasa di lecehkan, tapi juga tidak bisa melawan selain menangis pasrah.
"Mulai besok, kamu bakal sekolah di sekolah yang sama sama aku. Kamu di larang interaksi sama siapa pun termasuk cewek!"
Disty benar-benar di pindahkan menjadi satu sekolah dengan Javeno. Disty menjauh dari semua cowok, menghindari dan mengingat semua ancaman Javeno.
Tapi Disty tidak benar-benar mengabaikan cewek, ia masih bisa tersenyum ramah walau tidak bersuara. Tapi itu juga membuat Javeno marah bahkan membuat salah satu gadis yang menyapa berakhir di rumah sakit.
"Kamu jahat Jav! Kamu nggak punya hati! Kamu pukul seorang cewek?" tanya Disty bersuara. Semakin tidak menyangka tindakan gila Javeno.
"Kamu yang langgar larangan aku, Disty," kata Javeno dingin dengan wajah datar dan tatapan tajam.
"Aku cuma senyum...."
"Aku nggak kasih izin!" tegas Javeno.
Dan sejak hari itu, memang tidak ada yang mendekati Disty lagi. Baik laki-laki atau perempuan, mereka lebih memilih menjauh dari Disty dan beberapa akan mengatai Disty bisu karena tidak pernah bersuara.
Sampai di mana Zaffar dan Zayna datang. Terus mengganggu dirinya.
Dan sampai sekarang, hanya Zaffar yang tidak kapok dengan semua tindakan Javeno sebagai peringatan. Zaffar sudah pernah masuk rumah sakit dengan tangan yang patah karena ulah Javeno, tapi itu tidak membuatnya berhenti untuk berusaha mencuri Disty dari Javeno.
Zayna? Gadis itu masih aman karena Disty tidak pernah bicara bahkan tersenyum pada Zayna.
Disty menggeleng mengingat kejadian itu semua. "Enggak, aku nggak salah," lirihnya pelan.
Ceklek
Tubuh Disty menegang saat pintu kamar terbuka. Ia segera berbalik dan menatap Javeno yang baru pulang dari latihan basket.
"Oh. Kamu bahkan belum ganti baju? Masih menghirup wangi dari Zaffar yang peluk kamu tadi?" tanya Javeno dingin sambil mengunci pintu kamar.
Disty segera menggeleng dan membuka seragam nya dengan cepat, menyisakan dirinya yang sekarang menggunakan tanktop tanpa merasa malu di depan Javeno.
Javeno sudah sering melihatnya seperti ini, bahkan lebih dari itu.
"Jav.. aku nggak salah," cicit nya pelan setelah melempar seragam sekolahnya ke sembarang arah.
Javeno mengambil seragam yang terbuang itu dan membuangnya dengan benar ke dalam tong sampah yang ada di kamar. Biar pembantu yang akan membakar itu nanti.
Tidak akan Javeno biarkan Disty yang akan memakai seragam itu lagi walau sudah di cuci. Lebih baik membelikan gadis itu seragam baru.
"Aku.. aku udah nolak," cicit Disty sambil melangkah mundur saat Javeno berjalan mendekat.
Disty jatuh terduduk di atas kasur empuk ini. Dari matanya jelas terlihat kalau dirinya takut, tapi Javeno tidak peduli.
Javeno mengukung tubuhnya, mencium kening Disty sebentar.
"Ayo mandi," ajak Javeno tersenyum dan nadanya juga berubah lembut.
Ajakan itu membuat tubuh Disty menegang dan merinding. Ia hendak menggeleng tapi juga tidak berani. Jadi hanya menatap Javeno pakai tatapan memelas berkaca-kaca dengan muka pucat.
"Hanya mandi," kata Javeno meyakinkan. "Setelah itu kita tidur, aku ngantuk. Capek," lanjutnya lembut dan manja.
Disty mengalungkan tangannya di leher Javeno saat pemuda itu mulai menggendong tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.
Di bawah guyuran air shower, tubuh keduanya basah tanpa busana. Javeno menyentuh lembut pundak mulus Disty.
"Kamu masih malu? Padahal aku udah sering lihat kamu kayak gini. kita sering melakukannya dan mandi bareng," kata Javeno tersenyum miring karena Disty menutupi bagian dada dan bawah miliknya dengan tangan.
"Karena aku.. pelacur untuk kamu," batin Disty tanpa berani mengeluarkan itu secara langsung.
"Aku hanya ingin mandi," kata Javeno dingin dan segera menyelesaikan ritual mandi nya bersama Disty juga.
Selesai itu, keduanya berbaring di ranjang lembut dan luas ini dengan piyama yang serasi. Javeno memeluk tubuh Disty dari belakang dan mulai memejamkan matanya.
Sedangkan Disty menangis tanpa suara.