NovelToon NovelToon
Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:227.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Dalam menghadapi ancaman serangan Negeri Tanduk dari seberang lautan, Prabu Dira Raja Kerajaan Sanggana Kecil, memerlukan benteng di wilayah pesisir dan angkatan laut. Karena kerajaannya berada di tengah daratan, Prabu Dira tidak memiliki angkatan laut dan wilayah kekuasan di pesisir.

Kerajaan Sanggana Kecil merencanakan kerja sama dengan Kerajaan Pasir Langit dan Kerajaan Werang. Langkah pertama Prabu Dira jalankan adalah menjalin kerja sama dengan Kerajaan Pasir Langit.

Namun, raja Kerajaan Pasir Langit menolak proposal kerja sama Prabu Dira mentah-mentah. Raja Kerajaan Pasir Langit merasa sebagai kerajaan yang kuat dengan angkatan laut yang besar, jadi tidak membutuhkan bantuan kerajaan lain.

Prabu Dira pun mencari cara bagaimana supaya bisa memiliki angkatan laut dan membangun benteng pertahanan di sepanjang wilayah pesisir.

Mampukah Prabu Dira menaklukkan Kerajaan Pasir Langit yang merasa hebat? Hanya di novel “Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit” jawabannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemuji 4: Lima Pendekar Utusan

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*

 

Lima orang berperawakan pendekar sudah tiba di Pantai Segadis. Mereka menghentikan kuda-kuda tunggangannya di tanah tinggi yang jenis tanahnya sudah termasuk pasir pantai.

Dari atas itu mereka bisa melihat suasana pantai dan keramaiannya. Selain tempat para nelayan menurunkan hasil tangkapan lautnya di beberapa dermaga kayu atau langsung di pasir yang dibelai ombak, pantai itu juga menjadi pusat kuliner laut berhawa sejuk. Agak jauh lebih ke darat, ada sejumlah kedai makanan yang memang bertujuan sebagai tempat makan.

Pantai Segadis memang spot wisata yang paling ternama di wilayah Kerajaan Pasir Langit, terkenal keindahannya dengan hamparan pantai pasir yang memanjang jauh. Selain itu, ada banyak pendekar yang datang karena keberadaan Arena Tarung Pantai, yaitu arena tarung bagi para pendekar yang mau pamer kesaktian atau memang mau cari uang dari pertarungan itu.

Kembali kepada kelima pendekar yang datang dari jauh, yaitu dari Kerajaan Sanggana Kecil. Mereka diutus langsung oleh Prabu Dira Pratakarsa Diwana ke wilayah pantai tersebut.

Orang pertama adalah seorang lelaki gagah dan tampan, seusia Prabu Dira, yakni kepala tiga lebih satu tahun. Kulitnya sawo matang ditutup oleh pakaian biru gelap berlapis jubah hitam tanpa lengan. Pinggang jubanya masuk dalam sabuk hitamnya yang lebar. Rambut gondrongnya diikat sederhana di belakang kepala. Wajahnya dingin dengan sorot mata yang tajam. Dia bernama Reksa Dipa yang berjuluk Pendekar Serat Darah.

Reksa Dipa sebenarnya menjabat sebagai Ketua Pendekar Pengawal Dewi Bunga dan merupakan Pengawal Dewi Bunga Satu, yaitu Ratu Tirana. Dia ditugaskan memimpin keempat rekannya dalam sebuah misi. Adapun tugasnya sebagai Ketua Pendekar Pengawal Dewi Bunga di Kerajaan dilaksanakan oleh wakilnya.

Orang kedua adalah lelaki besar berkulit hitam. Nyaris senada dengan gelap malam warna kulitnya. Jelas dia gampang menarik perhatian, baik sesama jenis atau lawan jenis. Dia berbekal senjata sebuah celurit di punggung dan toya pendek melintang di pinggang kiri. Dia adalah Legam Pora, salah satu Pengawal Bunga dari Permaisuri Kerling Sukma.

Orang ketiga seorang perempuan. Dia satu-satunya perempuan. Pendekar wanita berpakaian kuning itu memiliki tubuh yang sekal dan langsing, meski dia sudah beranak tiga. Sepertinya dia memerhatikan perawatan raganya setelah melahirkan. Ia berkulit hitam manis, semanis parasnya yang dihiasi tahi lalat kecil di atas sudut kiri bibirnya. Gaya rambutnya sudah seperti emak-emak. Ia menyandang sebuah kail bagus. Dia bernama Garis Merak, Komandan Pasukan Penjaga Telaga di Kerajaan Sanggana Kecil. Dia juga berstatus sebagai istri Reksa Dipa.

Lelaki berkuda keempat adalah seorang pemuda berusia kepala empat. Disebut pemuda karena dia masih lajang alias jomblo. Ia terbilang tampan berhidung mancung, meski kulitnya hitam dan tidak semanis Garis Merak. Rambut pendeknya keriting. Pemuda berpakaian merah gelap itu menyandang dua besi panjang berbentuk pengait di punggungnya. Dia adalah Kurna Sagepa, Wakil Komanda Pasukan Penguasa Telaga.

Anggota berkuda yang terakhir seorang lelaki berperut gendut dan berwajah bulat hitam. Rambutnya gondrong berwarna merah. Usianya baru setengah abad minus lima tahun. Ia mengenakan baju cokelat yang cukup longgar. Pada kedua pergelangan tangannya ada melilit senar tebal yang nyaris memenuhi batang tangannya. Pada ujung senar itu, masing-masing ada besi kecil yang menggantung berbentuk kerucut kecil. Itu adalah senjatanya. Dia bernama Swara Sesat, seorang pendekar yang memiliki pendengaran tidak normal. Ia menjabat sebagai Wakil Komandan Pasukan Penguasa Telaga, sama dengan Kurna Sagepa.

Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat tersenyum lebar sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya, seolah-olah sedang menikmati angin sejuk yang mengibarkan rambut, pakaian dan ekor kuda mereka.

“Seperti pulang ke rumah,” kata Garis Merak.

“Ayo kita mandi air asin, Sesat!” ajak Kurna Sagepa sambil menoleh kepada rekan gendutnya itu.

“Tidak, aku tidak bersin,” sangkal Swara Sesat sambil menggeleng kepala.

“Hahaha!” tawa Legam Pora dengan suara yang nge-bass.

Bagi Garis Merak dan Kurna Sagepa tidak heran lagi mendengar Swara Sesat salah menjawab atau membalas perkataan orang, karena mereka tahu bahwa sahabat mereka telinganya memang tersesat.

Reksa Dipa juga sudah terbiasa, terlebih dia jarang berbicara. Berbeda dengan Legam Pora yang jarang bergabung dengan mereka.

Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat adalah seorang anggota bajak laut sebelum bergabung dan mengabdi kepada Prabu Dira. Selama satu dasawarsa di Kerajaan Sanggana menjadi prajurit penjaga telaga, mereka belum pernah ke laut lagi. Maka wajarlah jika ketiganya begitu menikmati suasana pantai dan aroma laut yang kembali mereka rasakan.

Reksa Dipa juga sebenarnya anak laut, tepatnya anak pantai, tapi dia bukan mantan anggota bajak laut. Jika istri dan dua rekannya rindu suasana laut sejak lama, Reksa Dipa rindunya muncul setelah merasakan lagi suasana pantai.

“Legam Pora, kau bisa berenang?” tanya Swara Sesat kepad lelaki hitam.

Mendelik Legam Pora ditanya tentang itu.

“Sembarangan! Kau pikir hanya Penjaga Telaga yang bisa berenang?” sentak Legam Pora sewot.

“Hahaha!” tawa Swara Sesat tiba-tiba. Dia benar-benar tertawa tanpa dibuat-buat atau diadon. “Benar dugaanku. Pantas saja kau tidak pernah aku lihat pergi ke telaga. Buang kue basah pun tidak pernah aku lihat. Hahaha!”

“Hahaha...!” tawa kencang Garis Merak dan Kurna Sagepa mendengar perkataan Swara Sesat. Sementara Reksa Dipa hanya tersenyum.

Menghitam wajah Legam Pora yang memang hitam. Panas hati dan telinganya mendengar perkataan dan tawaan Swara Sesat. Satu tangannya bahkan pergi menggenggam gagang celuritnya, seolah-olah ingin mencabutnya.

“Tenang, Sahabat. Jangan marah seperti itu. Justru aku mau menawarkan mengajarimu berenang di sana,” kata Swara Sesat lalu menunjuk laut.

“Hei! Dengarkan aku, Tuli! Aku bisa berenang. Aku bisa berenang!” teriak Legam Pora kepada Swara Sesat.

“Di sana tidak ada karang. Lihat hamparan pantainya, nyaris tidak ada karang. Jika kau belajar berenang di sana, akan aman. Ini selagi kau bersamaku, perenang handal di tiga air. Air telaga, air sungai, dan air lautan,” cerocos Swara Sesat.

“Ditambah air hujan, air mata dan air kencing,” celetuk Kurna Sagepa.

“Hahaha!” tawa mereka semua, kecuali Swara Sesat.

“Apanya yang lucu? Kalian meragukan aku bisa mengajar memancing?” tanya Swara Sesat. Lalu katanya kepada Legam Pora, “Ayo, Legam, kita ke laut!”

Legam Pora tidak menyahut, dia justru menjalankan kudanya agak kencang.

“Nah seperti itu, harus semangat belajar berenang! Hiah!” pekik Swara Sesat senang, lalu menggebah kencang kudanya menyusul Legam Pora yang kesal.

Baru saja Swara Sesat berlari kencang ke arah laut, tiba-tiba kuda Legam Pora berbelok meninggalkan kuda si gendut.

“Eh, kok belok?” pekik Swara Sesat terkejut, sambil mengerem laju kudanya. “Katanya mau belajar berenang?”

“Hahaha!” tawa Garis Merak dan Kurna Sagepa melihat kesalahpahaman itu. Mereka menggebah kudanya menyusul Legam Pora. Demikian halnya Reksa Dipa.

Setelah geleng-geleng kepala tanda prihatin, mau tidak mau, Swara Sesat berbelok arah menyusul rekan-rekannya. (RH)

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Sambil menunggu Si Joko up, silakan baca novel Author yang lain:

Alma3 Ratu Siluman.

Rugi1 Perampok Budiman.

Rugi2 Darah Pengantin Pendekar.

1
Idrus Salam
Kekaguman seorang raja atas wanita menimbulkan rasa yang baru di hatinya akankah berdampak pada kebijakannya. Sementara pada ujung yang lain ada pembatasan yang diminta oleh salah satu permaisurinya.

Bukannya pada beberapa episode yang telah lalu Ratu Tirana sebagai lalu lintas perjalanan cinta sang prabu...
Idrus Salam
Kelancangan memang tidak baik untuk dibiarkan karena akibat lainnya akan datang jika kurang mendapat suatu tindakan yang membuat jera pelakunya. Siapa sangka hal ihwal kurang ajar sering berlalu dalam sendi penyelewengan buat akibat yang mungkin terabaikan.

lam
Idrus Salam: Hehe
terlalu yah Om
"paralun" Gusti
total 2 replies
Idrus Salam
Sungguh tindakan terlalu berani meminta istri seseorang yang memiliki segalanya, tapi bukankah yang terlalu itu tidak dianjurkan, bahkan sebaiknya layak untuk dihindari...
Idrus Salam: lebih baik pertengahan, iya kan Om
total 2 replies
Bimo
Luar biasa
asta guna
pinjam dulu seratus
asta guna
anjay ... sama emak2 usia seabad jg Ayuk aja nih si perempuan berjakun
Om Rudi: tergantung kebutuhan Kakak/Smile/
total 1 replies
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌
aku pingin mendekati tapi tak berdaya
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌: wkwkwk🤣🤣🤣
total 2 replies
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Kak Dewi Bunga? wah wahh pasti cantik e😍😍😍
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
bukan KW dong ya, bersertifikat halal dan BPPom juga gak Om?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini prabu yang bini nya buanyak kmrn ya Om?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
nah leluhur saya pula itu, emak2 Ghibah Generation 🤣🤣🤣
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
welah sangar dari LN ceritanya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
hadehh tanggal lahir gimana mau janjian , kecuali caecar om pas hari brojolnya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
nah kan kalkulator beraksi
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
yang dibersihkan memang yg ter penting itu wajah+ketiak, anggap aja udah mandi
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
btw sering ditemukan jubah berwarna ungu, ini khas banget loh
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Assalamualaikum hadir Om
❀∂я🤎Anita🅟M⃟3💋 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
selamat ya sangka Buana akhirnya km dpt menikahi salah satu permaisuri dari delapan Dewi bunga ya 🤭
Tabah P
kecewa berat bg....🙏🙏🙏😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!