NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertunangan/pemaksaan

Aleta membeku di tempat. Ia merasa seolah darahnya berhenti mengalir. Dalam remang-remang lampu tidur, ia bisa melihat Alden sudah bangkit dari posisi tidurnya. Pria itu menyandarkan satu lengan di bantal, menatap Aleta dengan tatapan yang sangat intens—bukan lagi tatapan mengantuk, melainkan tatapan tajam seorang pemburu yang mendapati mangsanya mencoba meloloskan diri.

Alden tidak langsung berdiri. Ia justru membiarkan keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik, menikmati betapa rapuhnya posisi Aleta sekarang.

"Aku rasa aku sudah bilang, Aleta..." suara Alden rendah, dingin, dan bergetar karena emosi yang tertahan. Ia perlahan bangkit dari tempat tidur, berdiri dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap, membuat Aleta merasa semakin kecil dan tidak berdaya.

"Di rumah ini, pintu tidak pernah terbuka untuk orang yang mencoba pergi tanpa izin," lanjut Alden sembari mulai melangkah mendekat. Langkah kakinya berat, penuh tekanan.

Aleta mundur selangkah, namun punggungnya segera membentur dinding dingin di dekat jendela. Tidak ada lagi jalan untuk melangkah mundur.

"Apa yang ada di pikiranmu?" Alden kini berdiri tepat di depan Aleta, memojokkannya dengan tangan yang ia tumpukan di dinding, mengurung Aleta di antara tubuhnya dan dinding kamar.

"Kamu pikir kamu bisa keluar begitu saja dari sini? Ke mana kamu akan pergi? Ke dunia luar yang tidak akan bisa melindungimu dari aku?"

Alden memiringkan kepalanya, menatap mata Aleta yang berkaca-kaca karena ketakutan. Ibu jarinya mengusap pipi Aleta dengan gerakan yang sangat pelan, namun tekanannya terasa seperti peringatan keras.

"Setiap langkah yang kamu ambil malam ini, setiap usahamu untuk kabur, hanya akan membuatku semakin yakin bahwa aku tidak bisa melepaskanmu sedetik pun dari pengawasanku," bisik Alden dengan nada yang mematikan.

"Katakan padaku, Aleta. Seberapa jauh kamu berpikir kamu bisa melangkah sebelum aku menangkapmu kembali?"

🌍🌍🌍

Aleta menggelengkan kepalanya dengan panik, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong dada Alden, berusaha melepaskan diri dari kurungan lengan pria itu.

Alden seperti gunung yang kokoh; ia tidak bergeming sedikit pun, justru mempersempit ruang gerak Aleta hingga gadis itu terhimpit sepenuhnya.

"Lepasin aku, ka Alden! Tolong..." isak Aleta, suaranya parau dan terputus-putus. Ia memukul bahu Alden dengan kepalan tangannya yang gemetar, mencoba segala cara untuk membebaskan diri dari dekapan posesif itu.

Alden tertawa kecil—suara tawa yang terdengar hampa dan tanpa kehangatan. Alih-alih marah, ia justru tampak terhibur dengan perlawanan Aleta. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Aleta dengan satu tangannya yang besar dan kuat, lalu menyematkannya ke atas kepala gadis itu, menahannya di dinding.

Aleta tersentak, napasnya memburu karena rasa takut yang kini berubah menjadi kepanikan hebat. Ia tidak bisa bergerak.

"Berontak lah," bisik Alden tepat di depan wajah Aleta, napasnya terasa panas di kulit gadis itu.

"Aku suka melihatmu berusaha. Itu membuktikan bahwa kamu punya semangat untuk hidup, dan itulah alasan kenapa aku memilih kamu."

Alden menatap Aleta dengan sorot mata yang menggelap, intensitasnya membuat Aleta merasa seolah sedang dicabik-cabik oleh tatapan itu.

"Tapi perlu kamu tahu, Aleta... semakin kamu berontak, semakin aku harus mengikatmu lebih kencang. Kamu pikir kamu bisa lari dari takdir yang sudah aku tulis buat kamu?"

Alden mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Suaranya merendah, menjadi sebuah bisikan yang mematikan.

"Satu lagi langkah kecilmu ke arah pintu itu, dan aku tidak akan segan-segan untuk memastikan kamu tidak akan pernah bisa melangkah ke mana pun lagi. Pilihan ada di tanganmu sekarang: mau menurut dan hidup dengan nyaman, atau aku harus menggunakan cara yang jauh lebih kasar untuk membuatmu tetap di sini?"

Aleta memejamkan mata erat-erat, tubuhnya gemetar hebat di bawah cengkeraman Alden. Ia merasa benar-benar terisolasi, terjebak di tengah malam yang gelap, di bawah kendali seorang pria yang tidak memiliki belas kasihan.

"aku udah jalanin sisa hukuman, dan semuanya berhasil, harusnya sekarang kaka lepasin aku" cicit Aleta

Mendengar ucapan Aleta, gerakan Alden terhenti. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Aleta perlahan mengendur, namun ia tidak mundur satu inci pun. Alih-alih marah, pria itu justru menatap Aleta dengan tatapan iba yang dipalsukan—tatapan manipulatif yang jauh lebih menyiksa daripada sebuah bentakan.,

Alden melepaskan tangan Aleta sepenuhnya, membiarkan kedua tangan gadis itu jatuh lemas di sisi tubuhnya. tangan besar Alden kini berpindah, menangkup wajah Aleta dengan kedua belah tangannya. Ia memaksa Aleta untuk mendongak, menahan rahang gadis itu agar tidak bisa memalingkan pandangan dari mata gelapnya.

"Dilepaskan?" ulang Alden pelan, seolah sedang mengeja kata asing. Ia mengukir senyum miring, seakan baru saja mendengar lelucon yang sangat menyedihkan.

"Siapa yang bilang kamu akan dilepaskan setelah acara malam ini selesai, hm?"

Ibu jarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi Aleta dengan kelembutan yang terasa mematikan.

"Kamu memang sudah menjalankan perintahku dengan sangat baik di depan para tamu tadi. Aku sangat bangga padamu," bisik Alden, suaranya mengalun tenang seperti racun yang membius.

"Tapi sayang, kamu salah paham, Mematuhi perintahku malam ini bukan berarti tugasmu sudah selesai. Itu justru... upacara peresmianmu."

Alden menunduk sedikit, menempelkan keningnya di kening Aleta yang masih gemetar. Jarak mereka begitu dekat hingga Aleta bisa menghirup aroma musk dan alkohol dari napas pria itu.

"Cincin yang ada di jarimu sekarang... pengumuman di depan semua petinggi kota tadi... kamu pikir itu sekadar sandiwara satu malam untuk membuat Felicia hancur?" desis Alden, nadanya kini diwarnai obsesi yang murni dan gelap.

"Itu adalah proklamasi. Perjanjian lama kita sudah hangus tepat di detik aku menyematkan cincin itu di jarimu. Mulai malam ini, kamu masuk ke dalam perjanjian baru."

Alden mengusap bibir Aleta yang gemetar dengan ibu jarinya, mengabaikan tubuh gadis itu yang kaku membeku karena teror.

"Dan dalam perjanjian baru ini," lanjut Alden dengan seringai kemenangannya,

"tidak ada kata 'pulang' atau 'dilepaskan'. Kamu akan tetap di sini, di rumahku, di kamarku. Sebagai tunanganku, sebagai milikku, sampai aku sendiri yang bosan. Dan tebak, Aleta? Aku merasa tidak akan pernah bosan denganmu."

Alden menjauhkan wajahnya sedikit untuk melihat keputusasaan yang kini kembali menelan sorot mata Aleta.

"Jadi, berhentilah menangis dan merengek soal kebebasan," ucap Alden dingin. Ia meraih tubuh Aleta yang nyaris ambruk, mengangkatnya dengan mudah seolah Aleta tidak memiliki berat sama sekali, lalu membawanya kembali ke arah tempat tidur.

"Malam ini sudah terlalu panjang, dan aku tidak menerima penolakan lagi." ucap Alden sembari menindih tubuh Aleta

"Kakak nggak sadar?!" teriak Aleta di sela isak tangisnya, suaranya pecah dan melengking.

"Kakak gila!, ini penyekapan! Kakak sakit... Kakak benar-benar sakit!"

Alden tetap berdiri bagaikan tembok karang. Ia membiarkan Aleta memukulnya, bahkan ketika salah satu pukulan Aleta cukup keras mendarat di bahunya. Matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah Aleta yang kacau oleh air mata. Alih-alih merasa sakit atau marah, Alden justru menatap gadis itu dengan tatapan yang semakin gelap, menempel kan tubuhnya tanpa jarak, seolah perlawanan Aleta justru menjadi bahan bakar bagi obsesinya.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan tegas, Alden menangkap kedua pergelangan tangan Aleta dan kali ini ia menguncinya dengan jauh lebih kuat di depan dada gadis itu, membuat Aleta terhimpit sepenuhnya ke tubuhnya.

"Iya, mungkin aku memang gila," bisik Alden, suaranya bukan lagi dingin, melainkan berat dan serak karena emosi yang mulai tersulut.

"Gila karena kamu. Gila karena setiap detik aku melihatmu, aku hanya ingin memastikan nggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyentuhmu, melihatmu, atau bahkan memilikimu selain aku."

Alden mendorong tubuh Aleta mundur hingga punggung gadis itu kembali membentur kasur, membuat mereka jatuh ke atas tempat tidur dalam posisi yang mengunci. Alden menindih Aleta, memastikan gadis itu benar-benar tidak memiliki ruang untuk bernapas, apalagi untuk kembali memukulnya.

"Kamu bilang aku nggak sadar?" Alden tertawa, tawa yang terdengar sangat terganggu dan obsesif. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aleta, napasnya yang hangat terasa menusuk kulit gadis itu.

"Aku sadar sepenuhnya, Aleta. Aku tahu persis apa yang aku lakukan. Dan aku tahu persis bahwa besok pagi, saat kamu bangun dan melihat dunia di sekitarmu sudah berubah, kamu akan sadar kalau satu-satunya tempat yang aman untukmu... adalah di sini, di bawah perlindunganku."

Alden menahan pergerakan Aleta dengan seluruh berat tubuhnya, mematikan sisa-sisa perlawanan gadis itu.

Ia menatap mata Aleta yang berkilat karena ketakutan, menantang gadis itu untuk terus melawan sementara ia sendiri semakin tidak berniat untuk melepaskan cengkeramannya sedikit pun.

🌍🌍🌍

Suasana di dalam kamar itu mendadak berubah mencekam. Suara embusan napas Alden yang memburu memenuhi ruangan, beradu dengan isak tangis Aleta yang tertahan. Begitu tubuh Aleta terempas di atas kasur, ia sempat mencoba untuk merangkak mundur, namun gerakannya terhenti saat melihat Alden yang kini berdiri tegak di tepi ranjang.

Alden tidak lagi menyembunyikan kemarahannya. Urat-urat di lehernya menonjol, dan tatapan matanya—yang semula hanya posesif—kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan mengancam.

Dengan gerakan kasar, Alden mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Suara gesekan kain dan bunyi klik dari kancing yang terlepas terdengar begitu nyaring di telinga Aleta, seolah-olah setiap kancing yang terbuka adalah hitung mundur menuju mimpi buruk yang tidak bisa lagi ia hindari.

"Kamu mau aku bertindak kasar, Aleta?" suara Alden terdengar rendah, bergetar karena emosi yang sudah berada di ambang batas. Ia melemparkan kemejanya ke lantai, membiarkan tubuhnya terbuka di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.

"Kamu sendiri yang memancing ini. Kamu pikir dengan berontak dan memukulku, kamu bisa mengubah posisimu?"

Ia merangkak naik ke atas ranjang, merayap perlahan ke arah Aleta dengan tatapan yang tidak pernah berpaling sedetik pun. Setiap pergerakannya lambat, namun penuh dengan dominasi yang mematikan.

"Sejak awal, aku sudah berusaha untuk bersikap sabar. Aku memberimu kenyamanan, aku memberikanmu status, aku menjamin keamanan keluargamu," Alden berhenti tepat di depan Aleta, tangannya yang kuat mencengkeram sprei di samping tubuh gadis itu, mengurung Aleta sepenuhnya.

"Tapi kamu malah memilih untuk menjadi keras kepala. Kamu memaksaku untuk menunjukkan sisi yang sebenarnya tidak ingin aku tunjukkan di depanmu."

Alden menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aleta yang kini pucat pasi dan gemetar hebat. Ia menatap Aleta dengan sorot mata yang menuntut sekaligus menyalahkan.

"Lihat dirimu sekarang," bisik Alden, suaranya kini terdengar lebih dingin dari es.

"Kamu yang menginginkan ini. Kamu yang membuatku kehilangan kendali atas kesabaranku sendiri. Jadi sekarang, jangan berharap aku akan berhenti hanya karena kamu menangis atau memohon."

Alden mengulurkan tangannya, jemarinya yang dingin mulai menyentuh tengkuk Aleta, memaksanya untuk tetap diam di tempat. Ia seolah ingin menegaskan bahwa dari titik ini, tidak ada lagi ruang untuk perlawanan, hanya ada kepasrahan mutlak di bawah kendalinya.

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!