NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Langkahnya cepat dan marah, meninggalkan Nadira sendirian di meja panjang yang

dingin. Pelayan-pelayan yang berada di sudut ruangan segera pergi setelah melihat Arga

pergi, tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Nadira lebih lama lagi.

Nadira terdiam, merasakan beban dari tubuh yang tidak ia miliki ini semakin berat untuk dipikul. Ia meletakkan pisau dan garfunya perlahan. Nafsu makannya hilang seketika karena stres dan ketegangan emosional yang baru saja terjadi.

Nadira menyadari bahwa mendapatkan

warisan dua ratus triliun itu bukan hanya soal memiliki tubuh Clarissa, tapi juga harus bisa

bertahan hidup dari amarah orang-orang yang telah disakiti Clarissa.

Ia harus mengubah cara mereka memandangnya, perlahan tapi pasti, meski itu terasa hampir mustahil.

Nadira berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang.

Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari wajahnya, memberikan sedikit kehangatan di

tengah suasana ruangan yang dingin. Ia menutup matanya sejenak, mencoba mengatur napasnya agar tidak panik. Ia harus berpikir jernih tentang siapa yang bisa ia ajak bicaradan siapa yang harus ia jauhi untuk sementara waktu di rumah besar ini.

Ia teringat akan kata-katanya sendiri sebelum masuk ke ruangan ini, ia harus

mengumpulkan sekutu. Jika Arga sudah memusuhi Clarissa secara terbuka, pasti ada

orang lain di rumah ini yang memiliki perasaan yang sama.

Nadira menatap ke arah dapur

yang terlihat dari jendela, memikirkan pelayan-pelayan yang tadi terlihat sangat takut. Mungkin salah satu dari mereka adalah kunci untuk memulai segalanya, asalkan ia bisa menunjukkan bahwa ia bukan Clarissa yang mereka kenal selama ini.

Suasana ruang makan yang kosong itu mulai terasa menyesakkan. Nadira memutuskan

untuk pergi dari sana sebelum pemikirannya menjadi terlalu negatif. Ia berjalan melewati

kursi-kursi yang tertata rapi, merasakan kesepian yang luar biasa meskipun rumah ini

penuh dengan orang-orang.

Menjadi orang kaya dengan harta warisan yang sangat besar tidak akan ada artinya jika ia harus hidup dalam pengucilan dan ketakutan orang lain setiap hari.

Ia melangkah keluar ke koridor yang sepi, mendengarkan suara langkah kakinya sendiri

yang bergema. Nadira meraba dinding yang dingin dengan tangannya, mencoba mencari

koneksi dengan realitas yang sebenarnya. Ini semua hanyalah sementara, pikirnya. Ia

harus bertahan dan memainkan perannya dengan sangat hati-hati agar tidak tertangkap

dan kehilangan kesempatan untuk mengubah nasibnya.

Keheningan di rumah itu hanya terputus oleh suara napasnya sendiri yang mulai melambat. Ketika ia berjalan menuju area tengah rumah, ia melihat bayangan seseorang di ujung sana.

Nadira mempercepat langkahnya sedikit, penasaran apakah itu Arga yang kembali

untuk melanjutkan pertengkaran atau mungkin pelayan yang bersedia berbicara

dengannya. Namun, saat ia mendekat, orang itu ternyata adalah Dinda, salah satu saudara

tiri Clarissa nya yang jarang ia temui di ruang utama.

Dinda sedang menatap ponselnya dengan

ekspresi yang sangat serius.

Nadira hampir memanggil nama Dinda, tapi sesuatu dalam instingnya menyuruhnya untuk berhenti dan mengamati dari kejauhan terlebih dahulu.

Ia perlu mempelajari dinamika keluarga ini tanpa harus langsung terlibat dalam konfrontasi baru. Namun, sebelum ia bisa

memutuskan untuk pergi atau menyapa, suara dering ponsel yang sangat keras

menggema di koridor yang sepi itu. Dinda mengangkat wajahnya, menatap layar ponsel

yang tiba-tiba menyala dan bergetar di tangannya.

Ponsel itu bergetar di atas taplak meja yang kaku. Sebuah nada dering tajam membelah

udara ruang makan pagi itu, mengusik ketenangan yang terasa palsu. Nadira menatap layar perangkat tersebut, melihat nama Dinda berkedip di sana.

Foto kontak yang dipasang Dinda terlihat sangat sengaja dipilih untuk menunjukkan arogansi--rahang terangkat, mata menantang. Nadira menghela napas perlahan, jari telunjuknya hinggap di ikon hijau menerima. Ia tahu ini bukan sekadar sapaan pagi.

"Apa kamu sudah memastikan surat wasiat itu di tangan kamu?" suara Dinda mengalir dari speaker ponsel, dingin dan menusuk.

Tidak ada basa-basi, tidak ada tanya kabar.

Pertanyaan itu langsung menempatkan Nadira di sudut ruangan yang gelap. Nadira

merasakan tenggorokannya mengeras, lidahnya serasa menempel di langit-langit mulut yang kering. Ia menatap ke arah jendela, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berpacu liar.

Ia sadar, ini adalah jebakan yang dibuat dengan sangat teliti. Dinda ingin mendengarnya mengakui sesuatu, ingin menangkapnya dalam kesalahan bicara.

Nadira menegakkan punggung, mencoba meniru postur angkuh Clarissa, perempuan jahat yang tubuhnya sedang ia pakai sekarang.

"Aku sedang mengurusnya, Dinda," jawab Nadira, berusaha menguatkan suara agar tidak bergetar. Ia harus terdengar terkendali, atau Dinda akan mencium kebohongannya.

Di ujung sana, Dinda mengeluarkan suara tawa kecil yang kering. Tawa yang tidak

menyentuh mata, hanya sekadar alat untuk merendahkan.

"Jangan berlagak seperti orang suci, Clarissa. aku tahu siapa dirimu, jadi jangan buang waktu dengan sandiwara itu." nada suara Dinda berubah dari tajam menjadi mengancam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!