Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi Pengkhianatan
Keesokan harinya, matahari naik dengan membawa resolusi baru di kediaman Arseto. Sifat lambat dan terstruktur dari alur kehidupan di rumah mewah ini kembali berjalan, namun ada sebuah agenda penting yang harus diselesaikan di area bawah tanah sayap timur pagi itu.
Mawar duduk di sebuah kursi kayu di tengah ruangan interogasi bawah tanah yang dingin. Tangannya terikat longgar di belakang kursi, dan wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata yang mengering serta ketakutan yang luar biasa. Di depannya, Hendra berdiri dengan tatapan mata militer yang tidak memiliki belas kasihan.
Ibu Maya berdiri di sudut ruangan, sementara Kirana diminta hadir untuk memberikan kesaksian langsung mengenai bukti video yang ia rekam kemarin.
"Ponselmu sudah diperiksa oleh tim IT kami, Mawar," suara Hendra memecah keheningan ruangan dengan nada yang datar namun mematikan. "Kamu mengirimkan foto dokumen jalur logistik pelabuhan kepada seorang perantara yang bekerja untuk kelompok siberia hitam. Tindakanmu ini... hampir membuat Tuan Muda kita kehilangan nyawanya di pelabuhan kemarin."
"M-Mohon ampun, Pak Hendra! Ibu Maya... Kirana... saya bersumpah saya tidak tahu kalau dampaknya akan semengerikan ini!" jerit Mawar histeris, tubuhnya bergetar hebat hingga kursi kayunya berderit keras di atas lantai beton. "Saya hanya butuh uang untuk membayar utang kakak saya! Saya mohon jangan bunuh saya!"
Ibu Maya menggelengkan kepalanya dengan raut kekecewaan yang mendalam. "Aku menerimamu bekerja di sini karena mengira kamu adalah gadis kota yang jujur, Mawar. Tapi pengkhianatan di rumah ini tidak memiliki toleransi."
Hendra menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Adrian melangkah masuk dengan perlahan. Ia mengenakan kemeja sutra hitam longgar untuk menutupi balutan perbannya, jalannya masih sedikit kaku namun aura otoritas dan kekejamannya telah kembali sepenuhnya. Di belakangnya, dua orang anak buah bersenjata lengkap menjaga pintu.
Saat Adrian masuk, suasana ruangan seketika turun hingga ke titik beku. Mawar bahkan tidak berani lagi menangis, ia menahan napasnya dengan ketakutan yang mutlak.
Adrian tidak menatap Mawar. Pandangan matanya justru beralih sesaat ke arah Kirana yang berdiri di dekat Ibu Maya. Melihat Kirana dalam keadaan aman dan tetap memancarkan aura riang yang tenang memberikan setitik ketenangan di dalam diri Adrian yang sedang dipenuhi amarah.
Adrian berjalan mendekati meja interogasi, lalu menatap Mawar dengan sorot mata dingin yang sanggup menguliti keberanian siapa pun.
"Siapa nama perantara yang menghubungimu?" tanya Adrian, suaranya begitu tenang namun justru ketenangan itulah yang menjadikannya sangat mengerikan.
"N-Namanya Tony, Tuan Muda... dia biasa berada di bar malam di distrik selatan..." jawab Mawar dengan suara yang hampir habis karena ketakutan.
Adrian mengangguk kecil, memberikan isyarat kepada Hendra. "Urus perantara itu malam ini juga. Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa di distrik selatan."
"Baik, Tuan Muda," sahut Hendra tegas.
Adrian kemudian kembali menatap Mawar yang sedang menunggu vonis hidup atau matinya. "Tindakanmu seharusnya membuatmu berakhir di dasar sungai, Mawar. Tapi... karena Kirana yang menemukan pengkhianatanmu sebelum terlambat, dan karena kamu telah memberikan nama perantara itu dengan cepat... aku akan memberikanmu belas kasihan."
Adrian membalikkan badannya, bersiap untuk keluar dari ruangan pengap itu. "Hendra, bawa dia keluar dari kota ini hari ini juga. Sita seluruh aset keluarganya untuk menutupi kerugian logistik, dan pastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kakinya lagi di wilayah barat seumur hidupnya. Jika aku melihat wajahnya lagi... rantai itu akan benar-benar terpasang di kakinya."
"Dimengerti, Tuan Muda!"
Mawar menangis sejadi-jadinya, campuran antara rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup dan penyesalan mendalam karena telah kehilangan segalanya akibat keserakahan buta.
Kirana memperhatikan jalannya keadilan dunia bawah itu dengan ketajaman otaknya. Ia tahu, keputusan Adrian untuk tidak membunuh Mawar hari ini adalah sebuah kelonggaran besar yang jarang terjadi—sebuah kelonggaran yang secara tidak langsung diberikan Adrian karena menghargai keterlibatan Kirana dalam kasus ini.
Saat Kirana berjalan mengekor di belakang Adrian yang sedang menuju lift untuk kembali ke lantai atas, ia sengaja mempercepat langkahnya sedikit hingga berjalan bersisian dengan sang penguasa. Sifat nakal dan suka menggodanya pada sang majikan yang sempat tertahan karena situasi serius kini kembali meletup.
"Tuan Muda Adrian," panggil Kirana dengan nada manja yang renyah, membuat beberapa pengawal di belakang mereka refleks menahan senyum.
Adrian menghentikan langkahnya di depan lift, menoleh ke arah Kirana dengan alis yang terangkat sebelah. "Ada apa lagi, Kirana?"
Kirana sedikit memiringkan kepalanya, menatap Adrian dengan binar mata bulatnya yang cerdas dan penuh kemenangan. "Keputusan Anda hari ini sangat bijaksana dan... terlihat sangat keren di mata saya. Menghukum pengkhianat tanpa harus mengotori tangan Anda yang baru saja diperban adalah tanda seorang pemimpin yang cerdas. Saya rasa... saya semakin jatuh cinta pada majikan saya ini dari hari ke hari."