Bhima Bramantya, seorang artis yang tengah naik daun karena sebuah film layar lebar yang dibintanginya membuat namanya langsung melejit.
Wajah rupawan, sikap ramah, sopan dan penuh perhatian membuatnya memiliki banyak fans garis keras.
namun mendadak berubah karena sebuah malam dimana dia dijebak oleh seseorang sehingga mengakibatkan Bhima merenggut kesucian seorang gadis secara paksa. Gadis yang berprofesi sebagai DJ di Club malam.
Gadis itu adalah Flower, dia cinta pertama sekaligus mantan kekasih adik kembarnya Bhumi Bramantya. Ya, Bhumi dan Flower masih saling mencintai.
Takdir tidak berpihak pada Bhumi dan Flower, karena Bhima diminta mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Siapa yang sangka, ternyata Flower juga cinta pertama Bhima hingga saat ini karena dulu Bhima mengalah dari sang adik.
Hingga suatu ketika jati diri Flower terungkap,
Lalu apa yang terjadi dengan hubungan mereka?
Flower masih mencintai Bhumi, akankah Bhima mampu merebut hati Flower.
Dan bagaimana dengan komentar para netizen yang merupakan fans garis kerasnya Bhima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kanjeng_galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabarnya Bhima~
Dikamar mandi
Bhima tidak bisa menahan emosinya lagi.
PYAR!
Sebuah cermin pecah. Kacanya bertebaran dimana-mana karena tonjokan Bhima yang penuh emosi dibawah guyuran shower.
Darah mengalir cukup deras di buku buku tangan Bhima.
Kamar yang begitu luas, jarak ranjang dan kamar mandi yang cukup jauh tidak membuat seorang Flower dapat mendengar apa yang terjadi di dalam kamar mandi.
Flower menunggu Bhima keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang berkecamuk.
Kesalahan yang benar-benar fatal. Bagaimana bisa dia yang sedang disentuh oleh suaminya sendiri justru menyebut nama lelaki lain yang merupakan mantan kekasihnya sekaligus adik iparnya?
Flower emang raja tega~
Setahu Flower, cinta Bhima hanya untuk wanita yang bernama Alona. Dari SMA juga itu terus yang terdengar di telinga Flower ketika sahabat-sahabatnya meledek Bhima.
Bhima yang mencintai Alona, namun sikap Bhima padanya benar-benar mencerminkan suami yang penyabar dan bertanggung jawab. Menurut Flower, Bhima mampu mengesampingkan perasaannya sendiri pada Alona.
Air mata Flower terus tumpah. Flower tidak mengerti apa itu rasa bersalah pada Bhima atau bahkan dirinya yang mengingat dan merindukan Bhumi. Entahlah~
"Maafin aku Bhim." Ucap Flower lirih bersandar di sofa.
30 lebih Bhima belum keluar kamar mandi, Flower mengingat kondisi kesehatan Bhima sedang tidak baik-baik saja.
Flower segera berlari menuju kamar mandi dan mengetuk pintu yang sudah dibenahi oleh tukang kebun selepas di dobrak Papi Gema beberapa jam lalu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Bhim.. buka.." Kata Flower.
"Aku mohon buka Bhima.. maafin aku Bhim." Kata Flower lagi.
Flower terus memanggil nama Bhima tanpa menyerah meskipun tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Untuk kedua kalinya, Flower tidak berani membuat masalah lagi. Jangan sampai orang rumah datang dan mendobrak pintunya lagi. Flower belum siap mendapat makian dari Oma Rani lagi.
"Maafin aku Bhim.. hiks.. hiks.. hiks.." Flower duduk didepan pintu kamar mandi. Suara tangis Flower terdengar jelas oleh telinga Bhima karena Bhima juga sedang terduduk dibalik pintu meredakan amarahnya dan kekecewaannya.
Cukup lama Bhima mendengar Flower menangis dan terus mengucapkan maaf seraya mengkhawatirkan, akhirnya pertahanan Bhima goyah. Dia segera beranjak dan membuka pintu kamar mandi.
Ceklek.
Mata Bhima bertemu dengan mata Flower. Dengan segera Bhima mengalihkan pandangannya, dia tidak tega melihat Flower yang penuh air mata begitu. Bhima berlalu melewati Flower begitu saja. Bhima terlihat enggan menatap Flower.
"Bhim.."Dengan sigap, Flower langsung bediri.
"Bhim.. maafkan aku.." Flower meraih tangan Bhima, merasakan sebuah cairan yang menempel ditangannya.
"Astaga Bhim..." Pekik Flower melihat banyak darah di tangan Bhima.
Bhima tidak peduli. Dia segera menuju ke walk in closet untuk mengambil baju ganti karena dia saat ini keluar hanya dengan handuk yang melingkar di perut bagian bawahnya.
Flower terus mengikuti Bhima.
"Bhim.. maafin aku.. biar aku obati luka kamu.." Ucap Flower.
Bhima menghela nafas nya dan menatap Flower dengan tajam,
"Aku gak apa-apa, aku mohon keluarlah dari sini aku mau ganti baju." Kata Bhima lembut namun terdengar penuh dengan penekanan.
"Bhim."
"Keluar aku mohon Flo." Bhima benar-benar menekan ego dan emosi nya supaya tidak meledak dan menyakiti wanita cantik itu.
Jika tadi Flower menolak karena belum siap, Bhima tidak marah, dia mengerti posisi Flower yang mungkin trauma. Namun yang terjadi adalah Flower tidak menolak setiap sentuhan Bhima, bahkan Flower terlihat sangat menikmati, dan justru merancau menyebut nama Bhumi.
Jadi Flower menganggap yang menyentuhnya adalah Bhumi?
Mengapa Bhumi? apa jangan-jangan Bhumi pernah melakukan hal itu pada Flower? Itulah yang ada dipikiran Bhima saat ini.
Adik kembarnya yang begitu pendiam dan tertutup, apa mungkin melakukan hal seperti itu delapan tahun lalu saat masih SMA?
"Argh....!" Teriak Bhima menggebrak pintu almari. Untungnya yang tidak terbuat dari kaca, coba kalau kaca lagi. Tanganmu jadi tambah sakit Bhim~
Bhima meringis, lukanya saja masih terbuka dan belum kering, sudah dibuat menonjok Almari.
Sedangkan Flower diluar terlihat sangat cemas menunggu suaminya keluar. Dia tidak ingin membuat Bhima semakin emosi. Dia bingung harus melakukan apa.
Tak berselang lama, Bhima keluar dari walk in closet dengan menggunakan kaos polos juga celana kain pendek yang nyaman untuk tidur.
Bhima segera merebahkan dirinya, tanpa mempedulikan Flower yang terus menatapnya dengan rasa bersalah.
Tanpa di duga, Flower mendekat dan langsung menarik tangannya untuk di obati.
Bhima hendak menolak tapi suara Flower membuat nya tertahan,
"Biarkan aku mengerjakan tugas ku sebagai istri kamu! Demi Bhumi!" Ucap Flower.
Dalam hati Bhima, sungguh ini sangat menyakitkan. 10 tahun lebih menyimpan perasaannya pada Flower dengan sangat rapat tanpa ada yang mengetahui nya. Kini takdir berpihak padanya memiliki Flower, namun hati Flower bukan untuknya.
Sedangkan Flower menyebut nama Bhumi hanya supaya Bhima tidak menolak dia mengobati tangannya karena mengingat kesepakatan mereka yang berperan sebagai suami istri yang baik demi Bhumi.
Tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka berdua. Setelah selesai mengobati luka Bhima, Flower segera merebahkan dirinya di samping Bhima dengan posisi yang sama-sama membelakangi.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Pagi menjelang, cuaca di kamar pengantin baru itu terasa sangat dingin, Flower terbangun lebih dulu dan mendapati Bhima yang tidur menghadap dirinya dengan begitu nyenyak.
Ditatapnya wajah Bhima yang begitu tenang,
"Maafin aku Bhim... mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan Bhumi." Kata Flower lirih membelai pipi suaminya dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bhima membuka matanya setelah mendengar suara pintu kamar mandi tertutup.
"Kita lihat Flo... siapa yang akan menang disini." Ucap Bhima dengan senyum penuh misterinya.
Entah apa yang ada di benak Bhima saat ini, setelah kejadian semalam Bhima semakin tertantang untuk menaklukkan wanita bernama Flower.
Dan dalam hati kecil Bhima masih berharap apa yang dia lakukan kemarin di apartemennya semoga berhasil membuat Flower hamil. Bukankah kejadian itu terjadi belum genap 2 pekan? Masih ada peluang.
"Bhim.. kamu udah bangun?" Tanya Flower keluar dari kamar mandi.
"Hmm." Jawabnya sambil tersenyum lalu beranjak dari tempat tidur.
"Bhim maaf." Kata Flower lirih kala Bhima melewatinya.
"Lupakan saja." Jawabnya lalu memberi kecupan pada kening Flower dan segera menuju kamar mandi. Flower dibuat bengong akan hal itu.
Sebegitu mudahnya kah Bhima memaafkannya?.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Sepasang pengantin baru menuruni tangga dengan tangan yang bertautan dan dengan senyum yang merekah. Senyum merekah itu hanya ditunjukkan oleh Bhima, sedangkan Flower hanya menunduk malu.
Semua orang yang menatap pengantin baru itu terlihat bingung. Bukankah mereka menikah karena keadaan, bukan cinta?
"Pagi Mami.. Papi.. Caca.. Om Arsa dan Tante Rachel." Sapa Bhima.
"Pagi semua." Sapa Flower.
"Bahagia banget sih kak Bhima.." Kata Bianca.
"Iya.. semalam berapa ronde sih?" Goda Om Arsa.
"Kepo..!" Kata Bhima sambil memundurkan kursi di meja makan untuk Flower.
"what? ganas banget sih Bhim sampe kayak drakula." Goda Tante Rachel.
"Maksudnya?" Tanya Bhima.
"Tuh leher Flower, pake conceller." Flower langsung menunduk malu saat seluruh keluarga tertawa.
"Oh ya.. kedua Oma gaulku ke mana mam?" Tanya Bhima mengalihkan pembicaraan.
"Udah pulang semalam, katanya disini darah tinggi." Jawab Mami Naya.
"Terus tumben Tante Rachel dan Om Arsa kesini pagi-pagi?" Tanya Bhima saat Flower sedang mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.
"Iya dong.. kita mau bahas pernikahan. Kan bentar lagi kita mau besanan.. ya kan Nay." Jawab Tante Rachel.
"Kalian jodohin Bianca sama Deon?" Pekik Bhima.
uhuk.. uhuk...
Bianca tersedak mendengar kalimat kakaknya, dan matanya melotot.
"Biasa aja deh Ca, bukan kamu yang mau mami nikahin. Tapi Bhumi dan Geva."
"What?" Teriak Bianca, Flower dan Bhima bersama.
BERSAMBUNG..
alex cm nyuruh doang