Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Goreng Seafood
"Perfect banget!" cetus Celine begitu menata bekal makanan yang dia buat. Nasi goreng seafood, tampak menggugah selera. Herry menelan ludahnya bersiap untuk mengambil satu suap, tapi Celine dengan cepat menepis sendok anak itu.
Dia melotot, tapi ujung bibirnya terangkat . "Jangan sentuh ini kakak buat khusus untuk seseorang, kamu makan yang udah ada di meja aja. Itu juga enak!"
"Maunya itu!" kata Herry merengek, pipinya menggembung lucu. Kepalanya digerakkan ke kanan dan ke kiri, ketika Celine menunjukkan raut protes.
"Nanti deh siang kakak buat, tadi sempatnya cuman satu porsi. Nih jajan, sebagai gantinya!" Celine memilih mengalah, ia sodorkan dua lembar uang sepuluh ribu.
"Oke, nanti siang! Janji, ya."
Celine mengangguk, ia masukkan bekal itu ke dalam tas. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Membayangkan bagaimana ekspresi Ares jika mendapati hadiah darinya di loker pria itu.
"Aku mau tes doang," katanya. Ia teringat chat Ares semalam. "aku nyaman sama kamu, itu kata dia, kan? Yaudah!"
Langkah Celine menggebu ketika melewati pintu rumah. Walaupun masih tersisa kekesalan di dalam dirinya mengenai Ares, gadis itu mencoba menepisnya. Membuang egonya.
***
Ares melangkah menuju loker, berniat untuk mengambil sepatunya. Hari ini ada pelajaran olahraga di jam kedua. Gerakan tangannya berhenti, ketika membuka loker. Di samping sepatunya ada bekal cantik yang dihiasi pita merah besar, sama seperti hadiah yang dia terima sebelumnya.
Ia menipiskan bibirnya, meraih bekal itu lambat. Harum bawang yang ditumis menguar memenuhi udara.
"Kebetulan banget ya," katanya, ia memegangi perutnya. Tampaknya dia tahu siapa yang memberikannya bekal ini.
Pria itu membawa langkahnya menyusuri koridor, menuju ruang kelas. Pandangannya lurus ke depan, sama sekali tak memperhatikan Jasmine yang hendak menyapanya. Gadis itu merengut sembari memainkan bibirnya, ada rasa kesal yang tersisip di hatinya.
"Kapan sih Kak Ares lihat aku, waktu itu di kolam ikan dia juga ninggalin aku ..."
Jasmine memperhatikan langkah Ares yang sedikit terburu, apa yang dibawa laki-laki itu membuatnya mengepalkan tangan erat. Dari yang dia tahu, ada banyak orang yang menyukai laki-laki itu.
Ares membuka pintu kelas. Langkahnya terhenti sesaat, pemandangan di depannya membuat laki-laki itu menautkan alisnya. Ia menatap lurus ke arah Celine yang tampak jengkel, karena keberadaan Gabriel yang mengusiknya.
"Balikin tasku!" pekik Celine, ia berkacak pinggang.
"Ambil sendiri kalau bisa, dasar pendek!" cetus Gabriel. Laki-laki itu mengangkat tas Celine tinggi-tinggi.
Tanpa diduga gadis di depannya melayangkan tinju ke perut Gabriel. Tas di genggamannya terjatuh.
"Aduh sakit, ngeri banget kamu!" Gabriel memegangi perutnya, menatap tajam Celine. Ia hendak mengambil tas itu kembali, sayangnya kalah cepat dari si pemilik.
"Banci!" pungkas Celine. "malas banget deh."
"Celine!"
Celine menjulurkan lidahnya, mengejek.
"Pagi semuanya!" Teriakan dari arah pintu memecah situasi panas, dari dua orang yang saling melemparkan tatapan permusuhan. Celine menoleh terlebih dahulu, bibirnya kelu saat itu juga, karena Ares berjalan ke arahnya.
Dia hendak menyapa, tangannya sudah melambai, tapi laki-laki itu malah melewatinya begitu saja.
Celine tidak percaya, ia tatap Ares dalam. Laki-laki itu meletakkan bekal di sudut meja.
Dia tidak bertanya atau sekadar ingin tahu?
Mata Celine berkaca-kaca dan Gabriel menyadari itu, ia berdecak kesal begitu mengetahui arah pandang perempuan itu. Tangannya melambai memecah lamunan Celine.
"Mau sampai kapan melamun, mulutnya ditutup dulu, entar masuk lalat!" peringatnya.
Apa sih, Ares mulu perasaan!
Celine mundur, ia memilih berbalik menuju bangkunya sendiri. Duduk di sana dengan suasana hati yang kacau. Padahal semalam laki-laki itu tampak tulus memintanya untuk jangan salah paham.
"Kayak dikasih harapan aja, dari chatnya dia suka aku, gak sih? Kok sekarang pura-pura gak ada apa-apa. Seolah semalam, dia gak tiba-tiba telpon buat ngejelasin kejadian di kolam," batin Celine nelangsa.
Namun yang tidak Celine ketahui, sejak Ares masuk ke dalam kelas, arah pandangnya tak pernah berpaling dari gadis itu.
Harusnya aku bertanya, bukan malah mengabaikannya.
Bel pelajaran berikutnya berbunyi nyaring. Berlian menghampiri Celine dengan teh botol di tangannya. "Mau nggak?" tawanya begitu duduk. Namun Celine menggeleng, senyuman di bibirnya canggung membuat Berlian mengerutkan alis.
Berlian meletakkan telapak tangannya di dahi Celine, ia berkata, "Nggak panas, kok tiba-tiba manyun gitu. Kenapa? Cerita sini."
"Nggak ada, agak kesal aja tadi habis digangguin Gabriel," alibinya, tapi Berlian tidak percaya.
"Biasanya juga gak gini ekspresinya kalau berurusan dengan itu cowok. Celine mah meledak-ledak!"
Celine tersenyum tipis, tidak tahu harus menjawab apa. Ia memalingkan muka kala Berlian ingin bertanya lebih jauh, hatinya masih sakit.
"Yaudah deh," Berlian merotasikan kedua bola matanya, arah pandangnya menemukan sesuatu yang menarik. Ketua kelas berdiri di depan kelas, mengumumkan jam pelajaran kali ini kosong.
Sorakan langsung terdengar memenuhi kelas, tapi kericuhan itu tak berlangsung lama, karena seorang gadis yang muncul dari balik pintu, rambutnya yang dikepang dua jatuh bebas ke bahunya.
Jasmine membawa langkahnya menuju meja Ares, pria itu tidak menoleh tapi tak menolak kehadiran Jasmine. Suara berisik sahut menyahut membuat Celine mendongak untuk melihat.
"Cewek itu lagi," Celine reflek mengatakannya.
"Iya yah, jadi rajin banget datang."
"Aresnya juga nyebelin, masih aja mau nerima dia," komentar Celine, mendadak gadis itu duduk tegak. Sorot matanya yang semula layu, menjadi membara, dia kesal.
Baru aja tadi ngabaikan aku, sekarang malah study date sama adik kelas. Bulshit banget sama omongannya lewat chat semalam.
Mata Celine melotot, Berlian yang melihatnya menganga, pasalnya kayak habis nonton film horor. "Awas matanya keluar, biasa aja!" katanya tertawa pendek.
"Jasmine kasih bekal juga sama Ares, trus diambil juga?!"
"Ya terserah dia, selagi gratis siapa yang gak mau coba?" Berlian mengangkat kedua tangannya, bibirnya melengkung ke bawah sarat ejekan.
Ekor mata Ares menangkap ekspresi konyol yang baru saja Celine perlihatkan. Bibirnya melengkung sedikit, ia meletakkan bekal yang diberikan Jasmine sejajar dengan hadiah dari lokernya.
Jasmine tersenyum manis. "Kakak gak mau nyoba dulu?" tanyanya.
"Udah makan dari rumah,"
"Tapi ..." Celine memilin ujung kemejanya, matanya berkaca-kaca. Bian yang melihat itu jadi tidak tega, ditepuknya pundak Ares.
"Udah lah Bro makan aja dikit, nanti kalau lebih bisa kasih samaku," katanya dengan cengiran khas.
Ares menghela napas panjang, sekali lagi sudut matanya melihat ke arah Celine yang masih setia memperhatikannya. Satu kali ini dia ingin jahat, ada satu pertanyaan besar di kepalanya yang harus dibuktikan sendiri.
Kira-kira kalau kumakan, bagaimana reaksinya?
Ares membuka bekal kemudian mengambil satu suapan. Tepat saat itu, terdengar bunyi keras dari arah meja Celine, gadis itu pergi begitu saja.
Salut banget sih author lucu gemes