Sinopsis
Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerajaan Yu di wilayah selatan 5
"Nyonya, anda tidak apa-apa kan?" tanya Ruyi yang sudah masuk ke dalam dan mengkhawatirkanku.
"Tidak apa-apa, Ruyi," jawabku dengan senyum tipisku.
"Apakah pangeran Yu Tian punya rencana lain dengan kita?"
"Iya. Dia menyetujui pernikahan adik perempuannya dengan Yang Mulia. Mungkin akan di beritakan nanti malam."
"Jadi... Nyonya...setuju?" tanyanya pelan.
"Walaupun aku tidak setuju, aku bisa apa? Aku mengutamakan keselamatan Yang Mulia. Kita harus melindunginya dan tidak boleh percaya pada siapapun di sini."
"Iya, nyonya. Anda benar."
"Aku akan coba bertukar pendapat dengan temanku nanti malam."
Menjelang petang tiba....
Aku sudah siap dengan pakaian merah jambuku dan Ruyi juga sudah membantuku menyiapkan pakaian Mo Yan dengan warna senada denganku. Aku sedang di tepi danau saat ini mencari udara segar dan ketenangan sambil membuang rasa jenuhku. Sedangkan Ruyi sedang berjaga-jaga di depan kamarku, karena aku menyuruhnya untuk membantu mengurus keperluan Mo Yan saat bangun dari tidurnya.
"Nona Yi!" sapa Jing Che dari kejauhan yang baru saja datang.
"Ya, tuan Jing Che!" jawabku.
"Panggil saja aku Jing Che," katanya yang sudah hampir dekat denganku.
"Apa kau kesini juga ingin mencari angin?"
"Kebetulan aku hanya ingin lewat saja dan memastikan apakah kita akan bertemu lagi," katanya sambil tersenyum manis. "Ternyata benar dugaanku kalau kita pasti bertemu lagi," ucapnya senang.
"Oh ya kebetulan anda ada di sini, ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu. Kiranya tuan Jing Che dapat membantuku tentang pendapatmu."
"Ada masalah apa, nona Yi?"
"Apakah kau punya informasi tentang cara memusnahkan jampi-jampi yang di alami oleh suamiku?"
"Mmmm...." katanya sambil berpikir. Dia melamun sesaat dan berjalan mondar mandir di depanku. "Sebenarnya jampi-jampi itu bisa di hilangkan lewat alunan musik dari sebuah seruling. Tapi tidak semua orang bisa memainkan irama musik tersebut. Aku pun tidak bisa," jawabnya.
"Hanya itu saja? Tidak ada cara lain lagi, seperti jimat atau doa khusus?" tanyaku tanpa putus asa.
"Tidak ada, nona Yi. Hanya itu saja."
"Hhmm..." kataku sambil menghela nafas.
Jing Che menghampiriku dan menepuk pelan pundak kiriku. "Nona Yi, kau harus sabar! Aku yakin, suamimu akan kembali normal," ujarnya sambil tersenyum manis padaku.
"Iya!"
"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanyanya sambil menatapku.
"Tidak ada lagi. Terima kasih atas informasinya," jawabku sambil tersenyum manis padanya.
"Kalau begitu, sampai ketemu di pesta malam ini," ujarnya sambil berlalu pergi.
Aku hanya mengangguk saja sambil melihat kepergiannya. Ada perasaan kecewa karena tidak menemukan jalan keluar yang lain untuk kesembuhan Mo Yan. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan lagi ke arena halaman lain di istana ini. Aku menemukan sebuah pohon plum yang sangat rindang. Karena pohonnya tidak terlalu tinggi, aku langsung memanjatnya. Kebetulan saat itu, suasana sedang tidak ada orang sama sekali.
Diatas dahan pohon yang kekar, aku duduk manis sambil mencoba masuk ke alam dimensi. Aku akan meminta bantuan dari Tuan Mimpi.
"Tuan Mimpi!" panggilku dengan suara lantang.
"Xiao Yi!" jawab si Tuan Mimpi.
"Tuan Mimpi, apakah kau sudah tahu kalau Mo Yan kena jampi-jampi?"
"Iya, aku tahu. Tapi maaf, aku tidak bisa membantumu."
"Bukankah kau bisa segalanya?" tanyaku penasaran dengan statusnya.
"Xiao Yi, tidak semua hal bisa berjalan dengan lancar dan tidak semua masalah juga aku bisa membantumu. Itu semua adalah takdir kalian. Aku hanya bisa memberimu ilmu untuk menjaga dirimu sendiri agar tidak mati sia-sia, karena aku tahu kalau kamu di sini hanya sementara. Kecuali kamu sendiri yang memutuskan akan tetap di era sini atau kembali ke keluargamu yang sebelumnya," jawabnya panjang lebar.
"Kenapa jadi ribet begini sih?" kataku sambil mengacak-acak poniku.
"Bersabarlah!" pesannya dengan suara yang makin menghilang.
"Tunggu! Jangan pergi dulu!" seruku lantang yang tanpa sadar aku seperti terjatuh dari pohon tapi sudah dalam dekapan seseorang yang kukenal.
'Mo Yan!' sapaku dalam hati.
ini ilustrasinya
Mo Yan menatapku dengan tatapan sendu dari matanya. "Yiyi, kau baik-baik saja?" tanyanya yang sudah menangkapku dengan ilmu ringan tubuhnya saat aku terjatuh dan kami sudah sampai di tanah.
"Hah? Maaf!" kataku sambil turun dari gendongannya. "Kenapa kau bisa ada di sini?" tanyaku penasaran dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Aku baru saja dari kamar dan mau berangkat ke pesta. Lalu aku melihat ada yang bergerak di atas pohon, jadi aku memastikannya. Tidak tahunya, kau yang di atas pohon. Kau sempat memanggilku dengan minta tolong dan jangan meninggalkanmu," jawabnya polos.
"Ooohh... itu? Aku hanya mimpi saja," kataku dengan gaya cuekku. "Tapi terima kasih atas pertolonganmu," lanjutku.
"Yiyi, kamu istriku?" tanyanya dengan wajah polos.
"Iya! Aku istrimu, tapi pangkatku seorang selir," jawabku sambil membetulkan pakaianku dan menyeka sisa bunga yang menempel di pakaianku.
"Aaarrgghhh..." teriaknya saat sakit kepalanya datang kembali. Seketika raut wajah menyeramkan itu datang kembali. "Kau bukan istriku. Istriku cuma satu yakni Liu Shi," katanya yang masih memegangi kepalanya.
"Baiklah! Istrimu cuma dia. Kalau begitu aku tidak mau mengganggumu lagi. Sekali lagi terima kasih," ucapku yang sudah emosi sambil berpamitan.
"Nona Yi!" sapa Jing Che yang tiba-tiba lewat dari seberang.
"Jing Che!" sapaku balik.
"Nona Yi, pestanya sudah mau dimulai. Ingin pergi bersamaku?" tawarnya.
"Baiklah! Aku pergi denganmu saja," jawabku mengiyakan dan berjalan ke arahnya.
Mo Yan langsung menghadangku dengan cepat. "Kau hanya boleh pergi denganku, bukan dengannya," ucapnya dengan tegas.
"Kau bukan suamiku kan? kenapa aku harus pergi denganmu?"
Dia menatapku tajam lagi. "Yiyi, ini aku, Mo Yan," jawabnya sambil melawan rasa sakitnya. "Jangan tinggalkan aku, Yiyi! Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Kau harus menolongku!" Dia langsung terlihat lemah di depanku dan seperti tidak sanggup berdiri lagi. Aku langsung merangkulnya dan Jing Che membantuku memegang tangannya agar tidak jatuh ke lantai.
"Pangeran, anda tidak apa-apa?" tanya Jing Che khawatir akan keadaannya.
"Kepalaku sangat sakit sekali. Apa yang sebenarnya terjadi denganku?"
"Anda kena efek ilmu hitam, pangeran," jawab Jing Che.
"Aarrggghhh...." erangnya kuat. Kemudian dia sembuh seketika dan menjadi orang yang berbeda lagi. "Ada apa dengan kalian? Jangan menyentuhku!" ucapnya angkuh dan berlalu pergi meninggalkan aku dan Jing Che.
Kami berdua saling menatap kebingungan dengan sikapnya.
"Nona Yi, aku baru pertama kali melihat hal seperti ini. Pangeran berubah-ubah terus menerus setiap beberapa detik. Aneh sekali!" ujar Jing Che sambil mengernyitkan alisnya.
"Kau saja merasa aneh, apalagi aku? Bukankah kemarin kau bilang kalau setengah roh menetap dan setengah roh hilang?" tanyaku yang mengingat perkataannya waktu itu tentang penyakit Mo Yan.
"Iya, tapi yang saya lihat tampak berbeda dengan pangeran."
"Berbeda, bagaimana?"
"Walaupun setengah rohnya hilang, mereka akan sadar dalam beberapa hari dan tidak sadar dalam beberapa hari juga. Bukan seperti tadi yang setiap beberapa detik terlihat sadar dan terlihat berbeda. Aku rasa, ini sangat bahaya jika tidak segera di obati."
"Bahaya? Kenapa bisa bahaya?"
"Takutnya kalau lebih dari tiga hari belum diobati, maka akan mempengaruhi syaraf otaknya. Jika itu terjadi, maka dia bukan menjadi milikmu dan kerajaan Lim lagi. Dia akan nurut dengan tuannya," jelasnya yang semakin membuatku khawatir tidak karuan.
'Aku harus tenang! Aku harus tenang pokoknya!' seruku dalam hati.
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘