Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Apa?" Suaranya hampir tak terdengar. "Kamu bilang apa?"
Salsa menelan ludah. Tangannya terasa dingin namun ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak.
"Aku bilang kalau Aku sudah menemukan perempuan yang akan menjadi istri keduamu."
Keheningan kembali memenuhi ruang tamu keluarga Adhitama. Dan untuk pertama kalinya Ammar merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada pertengkarannya dengan sang ayah. Perempuan yang paling ia cintai, baru saja meminta laki-laki yang dicintainya untuk menikahi perempuan lain.
Keheningan menyelimuti ruang tamu keluarga Adhitama. Tak ada suara, tak ada yang bergerak. Kalimat yang baru saja diucapkan Salsa seolah merenggut seluruh udara di dalam ruangan.
"Aku sudah menemukan perempuan yang akan menjadi istri keduamu."
Ammar masih berdiri tepat di hadapan istrinya. Tatapannya terpaku pada wajah Salsa, seolah berharap perempuan itu akan mengatakan bahwa semua yang baru saja didengarnya hanyalah sebuah lelucon, Namun tidak. Salsa tidak tersenyum, tidak pula mengalihkan pandangan. Matanya justru mulai dipenuhi air mata.
"Apa," Suara Ammar terdengar pelan dan hampir seperti bisikan. "Kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan?"
Salsa menggigit bibir bawahnya. Perlahan ia mengangguk.
"Iya mas, Aku sadar."
Ammar menggeleng pelan. Tidak, Ia sama sekali tidak percaya. Perempuan yang selama tiga tahun terakhir selalu menangis setiap kali mendengar kata poligami, kini justru mengucapkannya sendiri. Tanpa sadar kedua tangan Ammar berpindah menggenggam kedua bahu Salsa. Tidak kasar namun cukup kuat. Sorot matanya dipenuhi kecemasan.
"Kamu kenapa? Tolong lihat aku."
Salsa perlahan mengangkat wajahnya dan membuat tatapan mereka bertemu. Ammar semakin terkejut melihat mata istrinya yang sembab.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi. Kamu nggak mungkin bicara seperti ini. Kamu pergi ke mana sebenarnya? Apa yang mereka katakan kepadamu?" Tanya Ammar yang membuat Salsa menggeleng pelan.
"Tidak ada apa apa."
"Jangan bohong. Mas kenal kamu dengan sangat baik. Mas tahu kapan kamu sedang memaksakan diri." Suara Ammar berubah semakin lembut. Ia mengusap pelan pipi Salsa yang masih basah. "Jawab aku, Kamu pergi ke mana?"
Salsa menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang masih ia miliki.
"Aku pergi ke rumah Ayah, mas."
Ammar mengangguk pelan.
"Itu sudah kamu bilang. Lalu?"
"Aku menemui Ayah dan Aisyah."
Nama itu membuat Ammar sedikit mengernyit.
"Aisyah?"
"Untuk apa?"
Salsa memejamkan matanya sesaat lalu dengan suara lirih ia berkata,
"Aku meminta Aisyah menikah denganmu."
Deg, Kalimat itu menghantam Ammar jauh lebih keras daripada apa pun yang dikatakan ayahnya beberapa menit lalu. Tangannya yang semula masih menggenggam bahu Salsa perlahan terlepas. Ia mundur selangkah dan menatap istrinya dengan wajah yang benar-benar tidak percaya.
"Kamu... Apa?"
"Aku meminta Aisyah untuk menjadi istri keduamu." Salsa mengulanginya dan setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti mengiris hatinya sendiri. "Aisyah sudah menyetujuinya."
Suasana terasa sunyi. Ammar membeku, sementara pikirannya mendadak kosong. Nama Aisyah selama ini hanya ia kenal sebagai adik iparnya. Gadis berhati lembut yang selalu menjaga adab ketika berbicara, yang setiap bertemu selalu menundukkan pandangan sambil mengucapkan,
"Assalamu'alaikum, Mas Ammar."
Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari nama perempuan itu akan dikaitkan dengan dirinya sebagai seorang istri.
"Tidak mungkin." gumam Ammar pelan dan membuat Salsa menundukkan wajahnya.
"Aisyah sudah menerimanya. Dia mau menikah denganmu."
Kalimat itu membuat Ammar langsung menggeleng kuat.
"Tidak. Ini tidak benar." Tatapannya berubah tajam. "Apa kamu memaksanya untuk menikah denganku?"
Salsa langsung mengangkat wajah.
"Tidak."
"Aku tidak—"
"Kamu menangis di depannya?"
Salsa terdiam. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Ammar memejamkan matanya. Dadanya mulai dipenuhi rasa kecewa.
"Salsa," Suara Ammar terdengar jauh lebih berat. "Siapa... Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?" Salsa tak mampu menjawab. Ia hanya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ammar kembali bertanya. "Katakan. Siapa yang menyuruhmu datang ke rumah Ayah? Siapa yang menyuruhmu meminta Aisyah menikah denganku?"
Salsa menelan ludah.
"Tidak ada yang menyuruhku, mas. Aku sendiri yang memutuskan kesana dan menemui ayah dan Aisyah."
Ammar kembali menggeleng.
"Tidak. Mas tahu kamu. Kamu bukan perempuan seperti itu. Jadi siapa yang menyuruhmu? Papa? Mama? Apa Papa menekan mu lagi?"
Salsa buru-buru menggeleng.
"Tidak. Aku melakukannya karena aku mau. Karena aku takut kehilanganmu."
Kalimat terakhir itu membuat Ammar terdiam.
Salsa menggenggam kedua tangan suaminya.
Tangannya bergetar hebat.
"Aku dengar semuanya. Aku dengar Papa mengancam akan menghancurkan rumah tangga kita. Aku tidak sanggup, Mas. Aku benar-benar tidak sanggup kalau harus kehilangan kamu." Air matanya kembali mengalir. "Aku juga tidak sanggup melihat perempuan asing masuk ke rumah ini. Aku tidak tahu seperti apa sifatnya. Aku tidak tahu apakah dia akan menghormati ku atau justru mengusirku perlahan. Tapi kalau Aisyah..."
Salsa tersenyum pahit. "Aku percaya dia tidak akan pernah menyakitiku."
Ammar langsung menggenggam kedua tangan istrinya lebih erat. Tatapannya penuh dengan ketegasan.
"Dengarkan aku baik-baik." Salsa menatapnya.
"Mas tidak peduli siapa yang Papa inginkan. Mas juga tidak peduli seberapa besar tekanan keluarga ini. Mas memilih kamu." Kalimat itu membuat Salsa kembali menangis dan membuat Ammar mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya. "Mas tidak akan menikah lagi. Tidak dengan siapa pun, termasuk dengan Aisyah. Jadi, Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kita akan menghadapi semuanya. Berdua pun tidak masalah."
Mendengar itu, hati Salsa justru semakin hancur karena semakin Ammar membelanya, semakin besar rasa bersalah yang ia rasakan.
Belum sempat Salsa menjawab, terdengar suara tepukan tangan pelan dari arah belakang. Pak Wira berdiri dari tempat duduknya. Sorot matanya bergantian menatap Ammar dan Salsa.
"Luar biasa." Sindiran itu terdengar jelas. "Kalian benar-benar pasangan yang kompak."
Ammar langsung berbalik.
"Papa."
Namun Pak Wira mengangkat tangannya, menghentikan putranya berbicara. Tatapannya kini tertuju kepada Salsa.
"Nak, Kamu sudah mengambil keputusan yang benar. Kamu jauh lebih bijaksana daripada suamimu." Salsa hanya menundukkan kepala. Ia tidak sanggup menjawab dan membuat Pak Wira kembali melangkah mendekat. "Kalau Aisyah memang sudah bersedia, tugasmu sekarang hanya satu." Salsa perlahan mengangkat wajahnya.
"Membujuk Ammar." Pak Wira menatap menantunya lekat-lekat. "Buat dia menerima pernikahan itu. Karena cepat atau lambat, dia harus menikahi Aisyah."
Kalimat itu membuat Ammar kembali mengepalkan kedua tangannya sementara Salsa mematung di tempatnya. Ia baru saja menyelamatkan rumah tangganya dari satu ancaman. Namun kini ia sadar, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Suasana ruang tamu keluarga Adhitama berubah mencekam. Tak ada lagi yang berani bersuara. Perkataan yang barusan dikatakan oleh Pak Wira masih menggantung di udara.