~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
****
Fajar menyingsing tanpa kehangatan di atas bukit joglo. Kabut pegunungan yang tebal merayap masuk melalui celah-celah kisi jendela, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di dalam kamar utama, lampu minyak telah lama mati, hanya menyisakan bau gosong kain katun dan kertas yang menyengat, berserakan sebagai abu kelabu di atas lantai jati yang kusam.
Larasati masih berada di posisi yang sama sejak semalam. Ia terkapar miring di atas lantai tegel dekat ranjang, memeluk lututnya sendiri. Kain jarik yang dipakainya sudah berantakan, dan rambut panjangnya tergerai kusut menutupi sebagian wajahnya yang seputih porselen pecah. Matanya terbuka lambat, menatap sisa-sisa abu selendang hijau milik Bagus dengan pandangan kosong. Tidak ada lagi air mata; bendungan di matanya telah mengering, digantikan oleh rasa hampa yang membekukan seluruh sendi tubuhnya.
Ketika ia mencoba menggerakkan lengannya untuk bangkit, kepalanya mendadak berputar hebat. Pandangannya menggelap selama beberapa detik. Seluruh persendian tubuhnya terasa linu dan panas membara, kontras dengan kulitnya yang sedingin es. Tubuh belia tujuh belas tahun itu akhirnya tumbang, tak kuasa menahan hantaman badai batin, kurang tidur, serta penolakan mutlak perutnya terhadap makanan sejak dua hari lalu. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Larasati merangkak naik ke atas kasur kapuk, lalu meringkuk di sudut ranjang yang paling jauh, membenamkan wajahnya di balik selimut tebal sembari menggigil hebat.
Di luar kamar, ketukan cemas terdengar berulang kali pada daun pintu jati yang tebal.
Tok... Tok... Tok...
"Gusti Nyai? Nyuwun sewu, Gusti... Hari sudah tinggi," suara Mbok Sum memanggil lamat-lamat dari selasar luar. "Hamba sudah menyiapkan air membasuh dan wedang sereh hangat di depan."
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.
Perasaan Mbok Sum mulai tidak enak. Biasanya, sekaku apa pun Larasati menghadapi status barunya, gadis itu tidak pernah mengabaikan panggilan pelayan. Perlahan dan penuh rasa takut, Mbok Sum mendorong pintu kamar yang ternyata tidak selarikan kunci.
Krieeek...
Bau gosong langsung menyergap hidung tua Mbok Sum. Matanya terbelalak melihat abu hitam yang mengotori lantai jati, namun perhatiannya segera teralih pada ranjang besar di tengah ruangan. Di sana, Larasati tampak meringkuk sekecil mungkin di balik kain jarik tebal, tubuhnya bergetar konstan bagai daun tertiup angin kencang.
Mbok Sum bergegas melangkah mendekat, melupakan sejenak aturan adat untuk tidak lancang mendekati ranjang majikan. "Gusti Nyai? Gusti Larasati?"
Tangan keriput Mbok Sum menyentuh kening Larasati, dan wanita tua itu langsung menarik tangannya kembali karena terkejut. Kening gadis itu terasa panas seperti bara anglo dapur.
"Ya Gusti Allah... panas sekali," bisik Mbok Sum panik.
Larasati tidak membuka matanya. Bibirnya yang pecah-pecah bergerak-gerak tanpa sadar, meracik igauan lirih yang menyayat hati. "Ibu... sakit, Bu... Laras mau pulang ke gubuk... Laras takut di sini, Bu..."
"Mbok Sum! Apa yang terjadi di dalam sini?!"
Sebuah suara bariton yang berat dan menggelegar dari ambang pintu membuat Mbok Sum berjengit hebat. Raden Mas Baskoro berdiri di sana, sudah mengenakan pakaian resminya—beskap lurik cokelat tua lengkap dengan jarik wibawa dan selop. Di belakangnya, dua pengawal setia menanti perintah untuk berangkat melakukan sidak sengketa tanah di perkebunan tebu seberang distrik.
Mbok Sum langsung menjatuhkan diri ke lantai, bersujud dengan tubuh gemetar. "N-nyuwun sewu, Raden Mas! Gusti Nyai... Gusti Nyai sakit keras. Badannya panas mengepul dan terus mengigau."
Baskoro tertegun. Matanya langsung beralih ke atas ranjang, menatap siluet tubuh kecil istrinya yang sedang merana. Tatapan matanya yang semula sekeras batu karang mendadak goyah. Rasa bersalah yang amat sangat yang ia tekan sejak semalam tiba-tiba mencuat, memukul dadanya dengan telak. Ia tahu persis, ialah penyebab tumbangnya tubuh belia itu.
Baskoro melangkah lebar mendekati ranjang, mengabaikan Mbok Sum yang masih bersujud. Ia membungkuk, menempelkan telapak tangannya yang besar ke dahi Larasati. Panasnya langsung merambat ke kulitnya, membuat jantung juragan paruh baya itu berdenyut nyeri.
"Larasati..." panggil Baskoro rendah, namun tidak ada sahutan selain erangan lirih bernada ketakutan dari bibir istrinya.
Baskoro membalikkan badan, menatap tajam ke arah dua pengawalnya di ambang pintu. "Kalian berdua, pergi ke balai desa sekarang. Katakan pada Lurah dan perwakilan distrik, sidak perkebunan dibatalkan hari ini. Aku ada urusan darurat yang tidak bisa ditinggalkan."
"Tapi Raden Mas, perwakilan dari kabupaten sudah menunggu di—"
"Batalkan!" bentak Baskoro, suaranya naik satu nada tanpa bantahan. "Pergi sekarang!"
Kedua pengawal itu membungkuk dalam-dalam lalu bergegas mundur dengan cepat. Baskoro kemudian menoleh kembali ke arah Mbok Sum. "Mbok, ambilkan sebaskom air hangat, kain kompresan bersih, dan buatkan bubur beras halus yang diberi kecap sedikit. Cepat."
"Inggih, Raden Mas. Sendika dawuh," Mbok Sum buru-buru bangkit dengan laku dodok yang tergesa-gesa, meninggalkan kamar itu.
Kini, ruangan luas itu kembali sunyi. Baskoro melepas kuluk di kepalanya dan meletakkannya sembarangan di meja sudut. Ia duduk di pinggir kasur, tepat di samping tubuh Larasati yang masih menggigil. Dipandangnya wajah pucat gadis tujuh belas tahun itu yang kini dipenuhi bintik-bintik keringat dingin.
“...tubuhku mungkin bisa Anda miliki... tapi hatiku? Sampai mati pun, hatiku tetap tertinggal di sungai desa bersama Kang Bagus!”
Kata-kata Larasati semalam kembali terngiang di telinga Baskoro, terasa seperti sembilu yang mengiris harga dirinya. Namun, melihat kerapuhan di depannya, ego seorang penguasa berumur empat puluh tahun itu runtuh perlahan.
Mbok Sum kembali dengan tergesa-gesa, meletakkan baskom kuningan berisi air hangat dan kain di atas meja kecil dekat ranjang. "Ini airnya, Raden Mas. Buburnya sedang dimasak oleh orang dapur."
"Tinggalkan kain itu. Biar aku yang mengurusnya. Kamu keluar, jaga selasar depan dan jangan biarkan siapa pun mengganggu," perintah Baskoro datar.
Mbok Sum sempat tertegun mendengar seorang juragan besar—pria feodal yang pantang menyentuh pekerjaan pelayan—ingin merawat istrinya sendiri. Namun, melihat sorot mata Baskoro yang tidak ingin dibantah, ia hanya membungkuk takzim dan mundur teratur, menutup pintu jati rapat-rapat.
Baskoro meraih kain putih, mencelupkannya ke dalam air hangat, lalu memerasnya dengan satu tangan yang kuat. Dengan gerakan yang diusahakannya selembut mungkin—sebuah gerakan yang sangat asing bagi tangan yang biasa memegang cemeti dan keris itu—ia menempelkan kain kompresan ke dahi Larasati.
Begitu kain hangat itu menyentuh kulitnya, Larasati berjengit. Matanya terbuka sedikit, sayu dan dilapisi kabut demam. Ketika melihat siluet wajah Baskoro yang berada dekat di atasnya, ketakutan yang mendalam langsung terpancar dari bola matanya. Tubuhnya refleks mencoba bergeser mundur ke sudut ranjang.
"R-Raden Mas... nyuwun sewu... kulo... kulo mboten sengaja..." bisik Larasati dengan suara yang sangat parau, nyaris habis. Ia mengira suaminya datang untuk memarahinya lagi karena sisa abu di lantai. "Tolong... jangan bakar lagi..."
Melihat reaksi ketakutan yang begitu hebat dari istri kecilnya, dada Baskoro serasa diremas. Topeng ketegasan dan kedinginan yang selama puluhan tahun ia bangun di depan seluruh penduduk desa runtuh sepenuhnya di dalam kamar yang terkunci ini.
Baskoro menahan bahu Larasati dengan lembut, mencegahnya untuk terus bergerak menjauh. "Diamlah, Larasati. Jangan bergerak. Kainnya bisa jatuh."
Larasati menatap suaminya dengan tatapan nanar, napasnya tersengal-sengal panas. "Raden Mas... marah? Kenapa tidak... kenapa tidak hukum kulo saja? Kenapa harus... kain itu..."
Baskoro menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban batin yang teramat berat. Ia membenarkan letak kompresan di dahi Larasati, lalu duduk lebih dekat, membiarkan jemari tangannya yang besar dengan ragu-ragu mengusap untaian rambut basah yang menempel di pipi istrinya.
"Aku tidak marah hari ini," ucap Baskoro, suaranya berubah menjadi sangat rendah, lembut, dan bergetar oleh emosi tersembunyi yang baru pertama kali ia perlihatkan pada wanita mana pun. "Tidurlah. Tenangkan pikiranmu."
"Kulo... kulo benci di sini," lirih Larasati lagi, air mata demam merembes dari sudut matanya yang kembali terpejam. "Rumah ini... terlalu besar. Dingin. Kulo mau pulang ke Ibu..."
Baskoro terdiam membisu mendengarnya. Dipandanginya tangan kecil Larasati yang terkulai lemas di atas kasur. Dengan perlahan, ia meraih tangan dingin itu, menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya yang hangat dan kasar, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya pada gadis yang sedang sekarat karena kesedihan itu.
"Aku tahu..." bisik Baskoro lirih, matanya menatap lantai tegel, enggan memperlihatkan kerapuhan matanya pada dinding-dinding jati. "Aku tahu kamu membenci rumah ini. Aku tahu kamu membenciku."
Larasati tidak menyahut, igauannya mulai mereda digantikan oleh napas yang berat akibat pengaruh demam yang kian memuncak.
Baskoro mendekatkan wajahnya ke telinga Larasati, berbisik dengan suara yang nyaris menyerupai hembusan angin malam. "Tindakan kejamku semalam... membakar kain itu... bukan karena aku membencimu, Larasati. Tapi karena ego kelaki-lakianku tidak sanggup menerima kenyataan bahwa istriku... wanita yang sudah sah terikat nama denganku, terus-menerus memikirkan keselamatan pria lain di depanku."
Pria paruh baya itu berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, ia mengakui kelemahannya sendiri.
"Aku takut, Nduk..." lanjut Baskoro dengan suara parau yang bergetar hebat. "Aku takut jika aku membiarkanmu tetap menggenggam masa lalumu, suatu hari nanti fisikmu mungkin ada di rumah joglo ini, tetapi jiwamu akan benar-benar pergi meninggalkanku sendirian di dalam kegersangan rumah besar ini. Aku tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi milikku... terutama dirimu."
Larasati tidak mendengar pengakuan jujur itu; jiwanya sudah terlanjur tenggelam jauh ke dalam ketidaksadaran akibat demam yang membakar tubuhnya. Namun, genggaman tangan Baskoro yang erat dan hangat tetap tidak terlepas sepanjang hari itu. Pria kaku yang ditakuti seluruh desa itu memilih menetap di sisi ranjang, terus memeras kain kompresan dengan takzim, menjaga raga sang istri kecil yang dunianya baru saja ia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Di luar kamar, matahari merangkak naik menuju ufuk barat, menyinari joglo besar yang menjadi saksi bisu retaknya sebuah topeng besi seorang penguasa demi serpihan hati gadis berusia tujuh belas tahun.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat