Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Pertemuan Pertama Setelah Tujuh Tahun
#
Malem itu, pas jam champagne cocktail dimulai, Rendra lagi berdiri sendirian deket meja hidangan, kayak lagi pilih pilih makanan, padahal sebenarnya dia cuma ngatur napas, nyoba normalin jantung yang masih berdetak terlalu cepet setelah liat Sasha tadi.
Tiba tiba ada suara, suara perempuan, yang nyapanya, "Maaf, permisi, Pak Rendra kan?"
Rendra noleh, dan di situ, berdiri Sasha, sendirian, suaminya entah lagi di mana, dan dia keliatan... berbeda. Lebih berani dari yang Rendra liat dari jauh tadi, matanya penuh tanya, tapi juga ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang keliatan kayak orang yang lagi ngetest sesuatu.
"Iya," Rendra jawab, coba jaga suaranya tetep flat, "Sasha, kan?"
"Iya," Sasha senyum kecil, tapi senyumnya nggak sampai ke mata, "saya heran kenapa nama Bapak agak familiar. Rendra Alief, yah? Itu nama yang... unik."
Rendra ngerasa bahaya, soalnya ada sesuatu di cara Sasha ngomong itu, cara dia emphasize kata "unik", kayak dia lagi nyoba nangkap sesuatu yang nggak bisa dia jelasin dengan baik.
"Nama yang cukup umum, sih," Rendra jawab, sambil nyipin champagne-nya, gerakan yang dikalkukasi buat kasih waktu buat dia mikir, "banyak orang di Asia Tenggara pake nama kayak gini."
"Iya sih," Sasha bilang, terus ngamatin Rendra dengan teliti, kayak lagi scan lagi, lagi nyari sesuatu, "tapi ada hal yang... Bapak tahu tentang kasus ledakan pabrik Hartono tujuh tahun lalu, kan?"
Rendra ngerasa tubuhnya instantly kaku, tapi dia coba jaga muka tetep tenang, "sedikit. Itu kasus yang... cukup terkenal waktu itu."
"Terkenal karena tersangkanya," Sasha ngelanjutin, suaranya berubah jadi lebih pelan, lebih serius, "seorang anak muda bernama Damar Aditya Wijaya. Dia dituduh sabotase, dinyatakan bunuh diri di jembatan, dan sampai sekarang, tubuhnya nggak pernah ketemu. Yang orang orang tau cuma... dia hilang. Kayak dia emang sengaja ngilangin diri."
Rendra ngerasain keringat dingin mulai ngucur di belakang lehernya, tapi dia tetap keep face-nya cool, hanya sedikit terbang mata, "itu tragedi yang sedih, memang."
"Sangat tragedi," Sasha bilang, matanya ketat banget natap ke mata Rendra, "dan yang lebih tragedi lagi, saya... saya adalah orang yang bersaksi melawan dia, dulu. Kesaksian saya, yang sebenarnya atas paksaan, yang sebenarnya... bohong."
Ada jeda panjang. Rendra berdiri diem, terus ngeliatin Sasha, dan dia bisa liat, jelas banget, perempuan ini udah lama nyimpen rasa bersalah itu, rasa bersalah yang udah menggnawy hidupnya dari dalam.
"Itu kehidupan Anda dulu," Rendra bilang, akhirnya, suaranya coba tetep cool tapi ada nuansa tajam yang kesamar, "kenapa Anda cerita ini ke saya?"
"Karena," Sasha bilang, dan suaranya mulai bergetar, "setiap hari dalam tujuh tahun terakhir, saya... saya nyangka, entah dia di mana, apakah dia masih hidup, apakah dia masih berdoa di saat yang sama dengan saya yang juga berdoa buat dia. Dan ketika saya liat Anda tadi, Pak Rendra, dari jauh... ada sesuatu yang..."
"Familiar?" Rendra potong, dan dia langsung regret, soalnya kalimat itu terlalu personal, terlalu intimate untuk situasi yang sebenernya harus dia jaga jarak.
Sasha mata melebar sedikit, "iya. Familiar. Cara Anda berdiri, cara Anda ambil gelas, cara Anda... ada sesuatu yang ngasih saya feeling yang aneh. Seperti... seperti aku kenal Anda dari sebelumnya."
Rendra ngerasain This Is It. Moment ini, bisa jadi semuanya terbongkar, atau dia bisa sukses nuduh Sasha malah. Dan keputusannya, keputusannya di detik ini, bakal determine semuanya.
Dia put down gelas-nya, kasih Sasha senyum yang cukup genuine tapi dengan cold edge, "mungkin Anda hanya ngeliatin berita waktu itu, dan sekarang, otak Anda coba sambungin dots yang sebenernya nggak ada sambungnya. Ini yang biasanya terjadi, Bu Sasha, ketika orang nyimpen rasa bersalah terlalu dalem."
Sasha tersentuh banget sama kalimat itu, Rendra bisa liat, rasa bersalahnya jadi lebih dalam lagi, dan dia step back sedikit, "mungkin Anda benar. Maaf, saya... saya nggak seharusnya..."
"Nggak apa," Rendra bilang, dan sekarang, tone-nya lebih gentle, "semua orang punya rasa bersalah yang mereka tarik. Yang penting adalah bagaimana Anda ngelakuin redemption. Kalau Anda beneran percaya kesaksian Anda dulu salah, maka yang bisa Anda lakuin sekarang adalah coba benerin sesuatu, walaupun sedikit."
Sasha ngeliatin Rendra lama, dan ada air mata yang mulai keliatan di mata-nya, "terima kasih sudah bilang itu. Saya... saya memang lagi usaha buat benerin sesuatu."
Dia berbalik, jalan pergi, dan Rendra berdiri sendirian lagi, jantungnya masih berdebar kenceng banget, tangan-nya masih agak gemeteran.
Begitu dia pastiin Sasha udah jauh, Rendra lanjut ngeliatin ke arah perempuan itu, dan dalem hatinya, dia bicara, monolog yang berat, "dia curiga. Bagus. Berarti dia masih punya nurani yang bisa dipakai. Dan nurani itu, nurani yang masih bisa merasa bersalah, itu sesuatu yang bisa saya gunakan. Kalo dia benar benar mau benerin sesuatu, mungkin, di akhir semua ini, dia bakal jadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah."
Dia ambil gelas champagne lagi, sambil terus merhatiin Sasha dari jauh, dan pikiran-nya mulai ngatur ulang strategi, because ada yang berubah sekarang, ada pemain baru yang, tanpa dia sadari, ternyata udah lama nyimpen kegelisahan yang sama dengan yang Rendra simpen, hanya dengan cara yang berbeda, dan dari arah yang berbeda.
Malem itu, begitu party selesai, Rendra langsung manggil Kirana, ngasih tau dia soal pertemuan dengan Sasha, dan Kirana ngeliatin dia dengan matanya yang selalu alert itu.
"Dia curiga," Kirana bilang, bukan tanya, kayak dia udah bisa baca dari wajah Rendra.
"Iya," Rendra ngakuin, "tapi dia nggak confident dengan kecurigaannya. Dia masih confused, masih ragu ragu. Dia butuh lebih banyak bukti sebelum dia bisa confident."
"Itu yang bikin dia bahaya," Kirana jawab, "orang yang curiga tapi nggak confident, itu orang yang paling banyak nanya nanya, paling banyak coba cari tau, dan yang paling banyak make mistakes kalo dia nemu sesuatu yang dia pikirin sebagai bukti."
Rendra ngangguk, "makanya kita perlu monitor dia lebih ketat. Dan... kalo dia emang mau redemption kayak yang dia bilang, mungkin kita bisa nggunain itu. Tapi hati hati, soalnya ini bisa jadi jebakan juga."
Malam itu, Rendra tidur dengan mimpi yang berantakan, mimpi soal Sasha yang tiba tiba noleh ke arah dia, dan di detik itu, wajah Sasha berubah jadi wajah Ariel Wijaya, ayahnya, yang nanya dengan mata yang sedih, "kenapa kamu ninggalin saya, Nak?" dan dia teriak, teriak sampai dia bangun, peluh membanjiri seluruh tubuhnya, dan dia sadar, sebenarnya, kelicikan tanpa hati yang dia rencanain ini, perlahan perlahan, udah mulai eat him from inside.