Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Sarapan Pertama
Eve bangun dengan kepala seperti dihantam palu.
Langit-langit di atasnya putih bersih. Terlalu tinggi untuk kamar kosnya. Seprai di bawah tubuhnya juga terlalu halus, wangi sabun mahal yang tidak ia kenal. Ia menahan napas, lalu perlahan menoleh.
Kamar asing.
Jendela besar.
Jakarta terbentang di luar, gedung-gedung tinggi berkilau di bawah matahari pagi. Dari sudut tertentu, ia bahkan bisa melihat Monas berdiri jauh di antara kabut tipis kota.
Eve duduk terlalu cepat.
"Aduh..."
Kepalanya berdenyut. Ia meraba tubuhnya. Ia memakai kaus putih besar yang jelas bukan miliknya. Gaun putih semalam terlipat rapi di kursi, tasnya ada di meja kecil, dan cincin di jari manisnya masih terpasang.
Ingatan datang seperti pecahan kaca.
Velvet Lounge. Pintu salah. Edric. Air mata. Dan yang marah. Mobil hitam.
Eve menutup wajah.
"Mati aku."
Aroma telur, bawang putih, dan kopi masuk dari celah pintu. Perutnya yang kosong langsung bereaksi. Ia turun dari ranjang, menemukan sandal rumah di samping tempat tidur, lalu keluar dengan langkah pelan.
Apartemen itu luas, terlalu luas untuk satu orang. Ruang tamu bergaya minimalis dengan rak buku penuh, sofa abu-abu, gitar akustik di sudut, dan balkon dengan dua kursi lipat seperti perlengkapan orang yang suka memandangi langit.
Di dapur terbuka, Edric berdiri di depan kompor.
Ia memakai celana olahraga abu-abu dan kaus putih tanpa lengan. Bukan seragam, bukan kemeja resmi. Bahunya lebar, lengannya kuat, dan rambutnya sedikit berantakan. Untuk beberapa detik, Eve lupa bahwa ia sedang panik.
Edric menoleh. "Sudah bangun? Duduk dulu. Sarapan hampir siap."
Nada itu terlalu biasa. Seolah membawa pulang istri mabuk yang baru dikenalnya dua hari adalah kegiatan akhir pekan normal.
Eve memegang ujung kaus. "Ini baju siapa?"
"Saya."
"Kamu yang ganti?"
Edric mematikan kompor, menoleh penuh. "Fajar membeli kaus baru dari minimarket bawah. Saya taruh di kamar. Kamu ganti sendiri setengah sadar sambil memaki Rangga."
Wajah Eve terbakar. "Aku memaki apa?"
"Cukup kreatif."
"Edric."
"Saya tidak akan mengulang. Reputasimu sebagai perempuan sopan masih aman."
Ia menaruh sepiring nasi goreng di meja, lalu segelas air hangat. Di sampingnya ada telur mata sapi dan irisan timun. Sarapan sederhana, tetapi aromanya membuat dada Eve anehnya hangat.
"Aku semalam..." Eve duduk. "Aku melakukan hal memalukan?"
"Kamu mabuk, nangis, terus tidur. Itu saja."
"Itu saja?"
"Kamu juga mengancam gelas karena isinya habis."
Eve menutup mata. "Aku tidak mau hidup lagi."
Edric duduk di seberangnya. "Makan dulu. Mati butuh tenaga."
Ia tertawa sebelum sempat menahan diri. Tawa kecil, serak karena sisa alkohol dan tangis. Edric melihatnya sebentar, lalu menunduk pada kopinya.
Suapan pertama nasi goreng membuat Eve berhenti. Rasanya enak. Tidak berlebihan, tidak seperti makanan restoran, tetapi hangat.
"Kamu masak?"
"Tidak terlihat?"
"Aku kira tentara cuma bisa makan ransum."
"Kami juga manusia."
Eve hampir tersenyum lagi. Lalu matanya bergerak ke sekeliling apartemen. Lantai kayu, perangkat kopi mahal, buku-buku impor, speaker kecil di rak, pemandangan pusat kota. Semua terlalu rapi, terlalu mahal.
"Apartemen ini punya siapa?"
"Teman saya."
"Temanmu meminjamkan apartemen sebagus ini?"
"Dia sedang di luar negeri."
"Baik sekali."
"Lumayan."
Eve menatapnya curiga. Edric makan dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan retak sedikit pun. Kalau ia berbohong, ia melakukannya dengan kemampuan yang menakutkan.
Setelah sarapan, Eve ingin mandi. Edric menunjuk kamar mandi tamu dan berkata handuk baru ada di rak. Di dalam, semuanya memang baru. Sampo, sabun, sikat gigi, bahkan skincare dasar masih tersegel.
Eve berdiri lama di depan wastafel.
Entah pria ini terlalu siap menghadapi apa pun, atau hidupnya memang menyimpan banyak hal yang tidak Eve pahami.
Ia mandi cepat, lalu baru sadar gaunnya tertinggal di kamar. Karena panik, ia membungkus tubuh dengan handuk besar dan membuka pintu sedikit. Ruang tamu tampak kosong.
Ia berlari kecil menuju kamar.
Pada saat yang sama, Edric masuk dari balkon sambil membawa cangkir kopi.
Mereka bertemu di tengah ruang.
Eve menjerit.
Edric langsung berbalik, begitu cepat sampai kopinya hampir tumpah. "Pakai baju dulu."
Suaranya rendah. Sedikit serak.
"Jangan lihat!"
"Saya sudah tidak lihat."
"Kamu tadi lihat!"
"Refleks mata manusia tidak bisa dinegosiasi."
"Edric!"
"Saya menghadap tembok, Eve."
Ia memang menghadap tembok. Bahunya kaku, dan Eve melihat telinganya merah. Pemandangan itu entah kenapa membuat kepanikannya berubah menjadi malu yang lebih sulit dihadapi.
Ia kabur ke kamar dan menutup pintu.
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan gaun semalam. Suasana sudah berubah. Ada sesuatu yang canggung di udara, tipis tetapi nyata, seperti garis baru yang tidak sengaja mereka lewati.
Eve duduk di sofa, menjaga jarak.
"Jadi," katanya, mencoba terdengar dewasa, "kita sudah menikah."
"Benar."
"Kamu tinggal di mana?"
"Belum tetap. Saya sering di barak atau tugas."
"Barak bisa untuk orang menikah?"
"Tidak ideal."
Eve memandang apartemen itu lagi. Dalam kepalanya, angka-angka mulai bergerak. Kosnya kecil, jauh dari pusat kota, dan ia harus bolak-balik untuk kerja. Apartemen ini luas. Kalau benar dipinjam teman, mungkin mereka hanya perlu membayar biaya perawatan.
"Kalau kamu mau," katanya hati-hati, "kita bisa tinggal di sini bareng. Bagi dua biayanya."
Edric berhenti meminum kopi. "Bagi dua?"
"Iya. Aku kerja. Kamu juga kerja. Kita sama-sama cari makan."
"Gaji tentara tidak besar."
"Nggak apa-apa. Aku bisa bantu lebih banyak di awal. Tapi nanti kalau kamu ada rezeki, gantian."
Edric menatapnya lama.
"Kenapa?" Eve tersinggung. "Kamu pikir aku tidak bisa bayar?"
"Saya hanya berpikir kamu sangat serius."
"Tentu saja. Aku tidak mau jadi beban. Kita memang menikah mendadak, tapi bukan berarti aku mau hidup dari kamu."
Ada sesuatu di mata Edric yang melunak. "Baik. Kita bagi dua."
"Urusan rumah juga bagi dua. Aku bisa masak, tapi tidak tiap hari. Kamu tadi bisa masak, jadi jadwal masak bisa bergantian. Belanja juga patungan. Kalau ada yang keluar malam, kabari. Kalau mau cerai..."
Kata itu membuat Edric mengangkat mata.
Eve berhenti.
"Maksudku, kalau suatu hari kita merasa ini tidak masuk akal..."
"Kita bicarakan nanti," kata Edric.
Nada suaranya tetap tenang, tetapi ada batas keras di sana. Eve tidak tahu kenapa satu kalimat itu membuat dadanya berdebar.
Malam sebelumnya, ketika Eve tidur di kamar, Edric tidak tidur.
Ia duduk di ruang tamu dengan lampu redup. Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia mendengar Eve beberapa kali mengigau. Sekali ia menyebut Rangga dengan suara penuh marah. Sekali lagi ia memanggil Mama dengan suara yang membuat ruangan terasa lebih dingin.
Pukul empat pagi, Edric mengirim pesan kepada Jerry Oei.
Evelina Lim. Semua informasi. Pagi ini.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Pak, ini jam empat pagi.
Edric mengetik dua kata.
Pagi ini.
Laporan itu tiba sebelum matahari penuh naik. Pendidikan Eve, pekerjaan di Linguara, hubungan dengan Rangga, keluarga Lim, kematian Lilian Ong yang tercatat sebagai bunuh diri karena depresi.
Edric membaca bagian terakhir lebih lama.
Sekarang, ketika Eve duduk di sofanya sambil serius membahas jadwal belanja dan patungan listrik, Edric menyimpan semua informasi itu di belakang matanya.
Ia bisa memberi tahu siapa dirinya.
Ia bisa berkata apartemen ini miliknya, bukan pinjaman. Ia bisa berkata uang bukan masalah. Ia bisa menyingkirkan semua ketakutan praktis Eve dalam satu kalimat.
Tetapi Eve sedang tersenyum kecil karena merasa berhasil menyusun hidup baru dengan aturan yang adil.
Untuk hari ini, Edric membiarkan senyum itu tetap ada.
"Baik," katanya. "Mulai hari ini, kita sama-sama cari makan."