Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 - Hari Ini, Besok, Seterusnya
Meskipun operasi sudah selesai dilaksanakan, Adena dan Arion belum bisa bernapas lega jika Sheril belum sadar. Luka tusuk yang berada di perut Sheril untungnya tidak terlalu dalam, meskipun akan meninggalkan bekas luka tapi tak ada organ penting yang terkena ujung pisau lipat.
Adena dan Arion sama-sama bungkam melihat Sheril yang sedang terbaring dengan damai melalui kaca ICU. Adena juga sudah meminta tolong kepada Rayhan jika Dewi sudah pulang ke rumah tolong temani Dewi pergi ke rumah sakit.
Dengan adanya kejadian ini, polisi sudah ramai di rumah Sheril bersama Gara yang sedang memberikan pernyataan saksi dan memberikan informasi asli mengenai latar belakang keluarganya.
Karena latar belakang keluarganya, Gara menjadi lebih mudah dipercayai oleh aparat kepolisian. Untuk kali ini Gara merasa bersyukur bahwa ia telah terlahir di keluarga terpandang meskipun kenyataan itu terkadang perlu Gara sembunyikan.
Garaze Andriano Sanjaya, anak sulung dari bapak Wijaya Sanjaya seorang politikus sekaligus investor ternama di Indonesia dan ibu Dara yang dikenal sebagai desainer ternama.
Gara juga perlu mengeluarkan uang jutaan untuk melaporkan kejadian ini kepada polisi, mengurus tersangka secepat mungkin dan membersihkan TKP hingga tak meninggalkan jejak sedikitpun.
Di sisi lain, perasaan Gara jadi tidak enak mengingat apa yang ia katakan kepada Arion melalui telepon. Padahal niatnya adalah membohongi Arion, tapi kenyataannya Sheril berada di kondisi darurat dan benar-benar membutuhkan bantuan.
Semoga Sheril cepat sadar supaya Gara bisa meminta maaf. Karena Gara juga jadi teringat kepada perkataan guru agamanya jika kata-kata adalah doa, Gara semakin merasa tidak tenang.
"Arion *******! Gue kasih kunci mobil ke dia tapi dia gak kasih kunci motornya ke gue!" Gerutu Gara seraya memakai helm berwarna hijau. Selama Gara hidup, ini adalah pertama kalinya Gara menaiki ojek.
Gara baru bisa menyusul ke rumah sakit 4 jam setelah kejadian perkara. Rumah Sheril sudah kembali bersih seperti sedia kala tanpa ada percikan darah sedikitpun. Gara membayar banyak orang agar bisa membersihkan rumah Sheril secepat mungkin.
"Nih bang uangnya,"Gara memberikan dua lembar uang merah kepada ojek setibanya di rumah sakit.
Ojek tersebut tidak langsung menerima uang pemberian Gara. "Mas gak salah? Ini uangnya kebanyakan. Cuma lima puluh ribu doang mas,"
Gara menggeleng, ia menarik telapak tangan abang ojek dan meletakkan uang dua ratus ribu diatasnya. "Ambil aja, tadi'kan saya mampir dulu beli burger,"
"Serius mas?" Tanya ojek tersebut untuk meyakinkan Gara.
"Iye. Udah ah, saya duluan, masa depan saya udah nunggu di dalam," Gara mengedikkan bahunya tak acuh lalu segera masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan sekeresek putih berisi burger, kentang goreng dan soda di dalamnya.
Selama bermain di dunia gelap, Gara sudah tidak ngeri lagi melihat orang terluka ditusuk atau sampai dibunuh. Tapi kali ini berbeda, Sheril yang selalu ceria dan bawel bisa-bisanya ditusuk oleh ayah kandungnya sendiri.
Gara tak habis pikir, Sheril terlalu baik hingga tak pantas mendapatkan luka tusuk diperutnya. Sheril bukanlah teman-teman brandal Gara yang pantas mendapatkannya.
"Adena!" Gara menarik Adena ke dalam pelukan, mengusap puncak kepala Adena. Karena Gara tahu seandal apapun Adena menangani kejadian ini tetap saja gadis itu terpukul atas kejadian ini.
"Sheril, Gar," gumam Adena.
"Iya gue tau. Dia bakal baik-baik aja, percaya sama gue. Sheril kuat kok. Jangan terus nyalahin diri elo, harusnya kita bersyukur karena datang tepat waktu." Gara selalu seperti itu, memandang dari sisi positif di setiap kejadian.
Ketika Gara mengajak Adena duduk di kursi tunggu, bertepatan dengan munculnya Arion dari ujung koridor rumah sakit, jalannya santai namun tegap, meskipun keadaan Arion terlihat berantakan tapi tak menghilangkan pesonanya.
"Dari mana aja lo baru muncul?" Tanya Gara penasaran.
"Administration," balas Arion singkat sebelum mendaratkan bokong di kursi tunggu sebrang Gara.
"Bayar operasi? Bayar ruang inap? Atau bayar-"
"All of them," jawab Arion cepat sebelum Gara menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.
Mendengar jawaban Arion, sontak Adena dan Gara saling melemparkan tatapan secara serempak. Yang ada di benak merekapun sama, tak menyangka Arion akan melakukan sejauh ini hanya karena Sheril.
"Arion, what do you feel right now?" Adena berusaha memancing Arion agar mengatakan yang sebenarnya tanpa
Arion mendengus. "What do you mean?" Balasnya cuek.
"Do you love her? I mean Sheril," tanya Gara dengan tatapan berbinar.
Sontak Adena langsung memukul bibir Gara saking gemasnya karena telah merusak rencana Adena.
"Apa sih? Belum juga pacaran udah KDRT!" Semprot Gara.
Lagi, Adena mengulang hal yang sama kepada Gara.
"Gue jahit juga mulut lo lama-lama!"
"Biarin, ntar gue gak bisa nyi-"
Adena kembali memukul bibir Gara.
"Bodo amat Gar, bodo amat!" Adena segera berdiri dan pergi meninggalkan Gara.
"ADENA! HEH, MAIMUNAH! SINI LO! URUSAN RUMAH TANGGA KITA BELUM SELESAI!" Meskipun Gara sudah meneriaki Adena, tetap saja Adena lebih memilih untuk mengabaikannya.
"Mas, ini rumah sakit, bukan hutan. Jangan berisik!" Tegur salah seorang suster yang kebetulan sedang lewat di koridor itu.
Bukannya merasa bersalah, Gara malah terkekeh ringan.
"Udah sore Gar. Lo sama Adena pulang aja, biar gue yang jaga di sini," usir Arion tanpa basa-basi.
Gara menaikkan kedua alisnya. "Napa lo? Gak suka sama gue? Sini duel!" Detik berikutnya Gara terkekeh sendiri, dasar aneh.
Arion tersenyum tipis. "Lo punya adik, kasian Adena udah nunggu dari tadi," lanjutnya.
Gara mengangguk-anggukkan kepala, awalnya ia tidak berniat untuk pulang malam ini namun karena Arion mengingati bahwa Gara masih memiliki 'Grazia' adik tercintanya maka Gara memutuskan untuk pulang sore ini.
"Oh iya gue masih punya Zia di rumah. Lo beneran gak apa-apa di sini? Gue bakal balik lagi besok pagi," tanya Gara memastikan sebelum benar-benar pulang ke rumah.
Arion mengangguk, tak merasa keberatan sedikitpun. "It's okay. Lo tau'kan gue hanya sendirian di Indonesia."
Gara kembali tergelak. "Cuma Yon, bukan hanya," koreksi Gara agar Arion tidak sepenuhnya berbicara formal, telinga Gara merasa aneh mendengar teman sebaya yang sama nakalnya berbicara formal.
"Udah ah, gue balik ya. Sebentar lagi nyokapnya Sheril datang kok," Gara menepuk bahu Arion sebelum melenggang pergi meninggalkan Arion seorang diri.
Benar saja, sepuluh menit setelah Gara pergi, Dewi datang bersama Rayhan.
"Arion! Sheril dimana? Sekarang gimana? Kalian gak bohong'kan kalau Rio yang bikin Sheril masuk rumah sakit?" Dewi langsung menyerbu Arion dengan berbagai pertanyaan.
Arion mengajak Dewi duduk terlebih dahulu agar lebih tenang. Jika tadi Adena sibuk menenangkan Arion, kini giliran Arion yang menenangkan Dewi.
"Masalah om Rio udah di urus tante, tadi mama Rey yang lihat sendiri kalau om Rio di bawa sama polisi. Pokoknya tante gak usah pikirin om Rio mulai sekarang. Sheril juga pasti bakal baik-baik aja, Sheril bakal sadar, tante'kan tau kalau Sheril anaknya kuat." Bukan Arion yang menjawab melainkan Rayhan.
Meskipun Rayhan tidak tahu motif apa sehingga Rio melakukan hal sekeji itu, dan Rayhan hanya mendapatkan penjelasan dari Gara, tapi Rayhan cukup mengerti apa yang harus ia lakukan saat ini.
Dewi terduduk lemas di kursi tunggu, pikirannya sedang berkelana kemana-mana. Sementara Rayhan menghela napas, tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan berdoa supaya Sheril cepat siuman.
Cukup lama mereka bertiga saling terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya nada dering ponsel Rayhan memecahkan keheningan.
"Tante, maaf banget, mama minta Rey pulang sekarang, besok Rey jenguk Sheril bareng mama." Izin Rayhan tak enak."
"Gak apa-apa, kamu pulang aja sekarang sebelum makin malam. Makasih ya udah nemenin tante," tentu saja Dewi tak akan membiarkan Rayhan pulang lebih larut malam karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 15.
Berikutnya, Rayhan memicingkan mata kepada Arion. "Eh Yon, jagain Sheril ya. Awas aja sampe anak itu kenapa-kenapa gue gorok lo. Jagain juga Tante Dewi ya."
Arion menaikkan kedua alisnya, hanya anggukan kepala sebagai balasan tanpa ada ekspresi apapun
"Gue gorok juga lo lama-lama!" Rayhan menggraup wajah Arion saking gemasnya sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.
"Arion, kamu gak pulang?" Tanya Dewi dengan tatapan kosong.
"Enggak tante, di rumah juga gak ada orang," balas Arion seadanya.
"Oh iya, Sheril pernah cerita kalau kamu tinggal sendiri selama di Indonesia." Gumam Dewi namun Arion dapat mendengarnya dengan jelas.
"Arion, maaf, kalau ini ngeganggu privasi kamu. Tapi, bisa kamu ceritain latar belakang hidup kamu? Saya perlu tau dengan siapa anak saya bergaul dan gimana orang yang anak saya sukai, kamu ngerti'kan maksud saya?" Pinta Dewi hati-hati, tidak ingin mengusik ketenangan Arion. Lagipula dirinya perlu sesuatu untuk mengalihkan pikiran dari Sheril dan Rio yang terus menghantui benaknya.
Arion terdiam sesaat, sedang memutuskan apakah ia harus memberitahu rahasianya selama tinggal di Indonesia yang selama ini berusaha di sembunyikan atau tidak. Sebab rahasia ini akan mengubah hubungannya dengan Sheril cepat atau lambat.
"Kalau kamu belum siap, kamu bisa cerita nanti," tawar Dewi karena Arion tak kunjung memberikannya jawaban.
Arion menggenggam tangan Dewi dan tersenyum tipis, membuat alis Dewi saling tertaut.
"Nama saya Martinez Arion Williams. Saya lahir di Los Angeles. Nama ayah saya, Jonathan Williams. Nama ibu kandung saya Isabella dan ibu sambung saya Katherine." Arion mulai memperkenalkan diri secara formal dan mengucapkannya secara pelan-pelan.
"Jonathan, I mean, keluarga saya sedang ada skandal perusahaan dan skandal keluarga. Jadi, saya di asingkan ke Indonesia."
Kemudian Arion menceritakan dengan detail latar belakang keluarganya, beserta alasan-alasan kenapa ia bisa berada di Indonesia seorang diri saat ini dan juga tentang semua yang ada di hidupnya tanpa di tutup-tutupi. Ini adalah pertama kalinya Arion berbicara secara terang-terangan.
"And, do you love her? Do you love my daughter? Do you love Sheril?"
Tanpa menghilangkan senyuman tipisnya, Arion mengangguk tegas sebagai jawaban.
Meskipun telah di pikirkan ribuan kali, jawaban Arion tetap sama. Meskipun Arion sudah menyangkal perasaannya sendiri terhadap Sheril sesering apapun, hanya Sheril yang ada di hati Arion. Meskipun Arion sudah menjauhi Sheril, namun Arion tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengkhawatirkan Sheril.
"I love her. I love Sheril Patricia Eudora. I love her more than myself."
Arion sudah memutuskan jika dirinya akan mencintai Sheril mulai hari ini, besok, dan seterusnya.
udh nunggu lama bgt 😭