Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 32
Ayunda kenal suara terakhir itu, seseorang yang diam-diam sering membicarakan dan menjelekkan namanya. Namun tidak bernyali berkata langsung didepan, hanya menyerang lewat ketikan jari, menyebar cerita kebanyakan karangan.
“Kalau dilihat-lihat, dan dibandingkan dengan Ayunda yang sekarang, sepertinya itu foto dan video pendek udah lama deh, soalnya masih seperti remaja beranjak dewasa gitu,” temannya kembali menanggapi, dia juga menyimpan iri teruntuk wanita memiliki paras lebih cantik darinya.
“Kan apa aku bilang. Dia tu kelihatan cupu aslinya suhu bejatnya. Makanya pinter nutupi kaya orang lugu, ternyata sedari muda udah berkecimpung didunia kupu-kupu, pantaslah pro,” sangat tajam lidahnya menghina.
Wanita mengenakan celana jeans panjang, kemeja satin menambahi warna lipstiknya seraya bercermin. “Berarti bener ya gosip yang sempet santer kalau dia ada affair sama pak Iyan? Makanya baru satu tahun masuk sini udah diangkat jadi asisten sekretaris?”
“Gosip itu adalah fakta yang tertunda. Pinter banget dia manjatnya, sampai ke ranjang asisten pribadinya Dirut. Jangan-jangan pernah goda tuan Daksa, tapi gak laku makanya jatuh ke pelukan pak Iyan,” tuduh wanita memakai rok span selutut, kemeja putih.
“Selevel tuan Daksa mana mempan trik murahan wanita macam Ayunda. Cuma modal cantik, seksi, di luaran sana bertebaran, gak perlu diberi jabatan, cukup lempar uang udah pada rebutan. Kalau kali ini dia gak kena teguran bagian HRD, fiks … beneran ada bekingan orang berkuasa.” Ia menutup lipstiknya lalu memasukan ke dalam pouch kecil.
Binar, sang resepsionis menambahi menghina wanita yang diam-diam diidolakan karyawan pria Wangsa group. “Ya paling ujung-ujungnya ditiduri satu persatu para orang berkuasa biar dia tetap dipertahankan. Udah kebaca trik recehan seperti itu.”
Mereka berdua terkikik, lalu sama-sama terkesiap melihat cermin yang memantulkan seseorang tengah digosipkan panas berdiri bersedekap tangan.
“Kenapa diam? Saya tepat di depan kalian, atau kurang jelas, maka berbaliklah biar kita berhadapan. Kan lebih puas membicarakan sesuatu tepat ada orangnya,” sarkas Ayunda, ekspresinya setenang gesture tubuh, namun tidak dengan hatinya yang menyimpan kobaran amarah.
Sesaat rona wajah Binar seperti kekurangan darah, lalu dia teringat video pendek, foto viral, mimik mencemooh dilemparnya ke Ayunda. “Bagus deh lu denger, siapa tahu sadar jadinya tobat. Tapi sulit ya, kalau mau meninggalkan profesi yang udah jadi hobi?”
Sang rekan kerja di divisi customer bagian pelayanan pelanggan langsung, tidak seberani Binar. Dia diam tapi lewat sorot matanya ikut menghakimi.
Ayunda melangkah teratur, maju mengikis jarak sampai tersisa setengah meter. Bola mata yang biasanya hangat bila memandang seseorang, sekarang terlihat dingin tanpa adanya keramahan. “Satu hal perlu kalian ingat, dan semua orang yang suka menjudge aku. Jika beneran diriku dilindungi orang berkuasa, maka siapapun sudah menghina, akan kuadukan kepadanya. Hasilnya … tebak sendiri.”
Binar berbalik, bokongnya menempel di meja wastafel cuci tangan. “Lu ngancam kita?”
“Kamu merasa terancam?” tanya balik Ayunda, suaranya terjaga, tidak terprovokasi.
“Tentu gak lah. Kalaupun kami kena tegur, berarti ulahmu yang pastinya berhasil ngasih kepuasan ke salah satu pimpinan HRD sampai jadi dungu, menuruti kemauan jalang kayak elu!” Bibirnya menyuguhkan senyum jijik, tak lagi ditutupi rasa tidak sukanya.
“Binar, nama yang bagus, tapi sayang hatimu suram, penuh iri dengki. Gak bisa menyaingi secara sportif, larinya jadi tukang penyebar gosip. Menggelikan.” Ayunda mendengus, menilai terang-terangan dari atas sampai bawah penampilan wanita tengah terkesiap.
“Jangan fitnah! Gak cukup memuaskan apa profesi lontai, mau nambah jadi tukang fitnah juga biar paket komplit, iya?” ia kehilangan sedikit kepercayaan diri. Suaranya juga terdengar bergetar samar.
“Kenapa kamu resah? Padahal aku yang dikatain masih bisa setenang ini loh?” Ayunda menurunkan kedua tangan dengan gerakan anggun.
“Gak heran sih, namanya juga perempuan ahli jual diri, sudah pasti pintar memainkan ekspresi, peran, sama seperti sewaktu melayani pelanggan pria hidung belang.” Binar menyeringai, gayanya mengintimidasi.
“Yunda, Ayunda … elu gak jijik apa digerayangi, melayani bapak-bapak yang di video itu? Gua yang cuma lihat tampangnya di foto aja udah mau muntah. Gimana ngebayangin harus mendesah demi sedikit rupiah, atau lu jual gratisan kali ya kepunyaanmu itu saking birahinya?” hinanya tanpa ampun.
Ketenangan Ayunda terjun bebas, dia mengikis habis jarak, dan langsung melayangkan sebuah tamparan terdengar renyah pada pipi kiri.
Plak!
Tak cukup satu pukulan. Rambut disanggul rapi dijambaknya. Badan Binar diputar sampai menghadap cermin. Ayunda hantukan wajah wanita yang berteriak minta tolong.
Ayunda seolah tuli, mulutnya terkatup rapat, tapi tangan menekan kepala Binar sampai masuk ke wastafel. Disentuhnya keran air otomatis, seketika rambut si wanita basah.
Masih kurang puas, Ayunda menambah cengkraman dengan satu tangan. Sedangkan tangan kirinya mengunci anggota gerak Binar yang melakukan perlawanan.
“Nikmatilah! Biar bersih otakmu dari trik murahan, kotor!” ia seperti seorang psikopat. Mimik wajah sangat tenang, tanpa ada raut cemas apalagi bersalah.
“Tolong! Tolong!” Rekan Binar berlari keluar sambil membanting pintu menimbulkan bunyi keras. Lupa kalau membawa ponsel dikarenakan terlanjur ketakutan setelah tersadar dari rasa shock nya.
Binar terbatuk-batuk, hidungnya terantuk tombol penutup wastafel, kulit kepala terasa pedas, panas, wajahnya kesakitan, dan dia kesulitan melawan. Tendangan kaki selalu gagal, kedua tangan terkunci dibelakang punggung.
Ayunda masih belum mau melepaskan, terlebih terbayang-bayang sosok menjijikan yang dulu mencoba melecehkannya di area basement hotel kelas menengah – pria pertama yang disodorkan oleh Guntara disaat dia belum genap berumur 20 tahun.
Beruntung Ayunda bisa melarikan diri, keluar dari dalam mobil dengan penampilan sudah acak-acakan. Kancing kemeja berhamburan sehingga tak cukup menutupi baju dalaman. Sewaktu hendak kabur, dirinya sempat tertangkap. Dipeluk dari belakang.
Perlawanannya melepaskan diri, diam-diam difoto, direkam, oleh seseorang yang selama bertahun-tahun berhasil memanfaatkannya, membuat ia tunduk.
Heuh heuh heuh ….
Napas Binar pendek-pendek. Dia kesulitan menghirup oksigen. Sementara air keran jika berhenti langsung dinyalakan lagi, membuat bagian kepala sampai kemeja putih basah.
“Mana tenagamu? Masa kalah telak sama wanita yang kau anggap hina, di cap murahan. Apa jangan-jangan dirimu yang suka jual diri? Secara cuma pintar bergoyang di atas perut laki-laki, hanya menomorsatukan penampilan, enggan membekali diri dengan sedikit gerakan pertahanan demi perlindungan. Benarkah?” Ayunda menarik kuat jambakan nya.
Hahaha …. “Lihatlah! Sangat mirip Tikus got bukan?”
Binar meraung menatap cermin. Berusaha sekuat tenaga membebaskan diri. “Psikopat _ arghhh!”
Tubuh yang sudah kesakitan, kembali dihajar tanpa ampun. Keningnya dihantukan pada cermin sampai berbunyi.
Ayunda menyeringai keji, sorot matanya sedingin es beku. Tak peduli pada erangan kesakitan, badan menggigil, pakaian basah.
“Lepaskan dia Ayunda!”
.
.
Bersambung.