Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##1
Udara panas khas pertengahan musim panas di Los Angeles menyengat kulit, namun di dalam ruangan steril klinik kawasan Beverly Hills ini, suhu ruangan terasa sedingin es.
Bau antiseptik yang tajam Menusuk hidung, bercampur dengan dentang detik jarum jam dinding yang seolah berdetak dua kali lebih lambat dari biasanya.
Lux Victoria duduk kaku di atas kursi periksa berbahan kulit sintetis. Tangannya yang gemetar meremas ujung gaun floral musim panasnya. Di depannya, seorang dokter spesialis berpakaian jas putih rapi tengah meneliti selembar kertas hasil laboratorium.
Dokter itu menghela napas pelan, menggeser kacamata di pangkal hidungnya, lalu menatap Lux dengan senyum profesional yang berusaha bersahabat.
Tangannya mengulurkan lembaran kertas tersebut.
"Selamat, Nona Lux. Anda hamil. Kadar hormon hCG dalam sampel urine Anda sangat tinggi. Untuk kepastian usia kandungan dan kondisinya secara lebih detail, Anda bisa langsung melakukan pemeriksaan USG di ruang obgyn di lorong sebelah."
Deg.
Jantung Lux seakan berhenti berdetak saat itu juga. Tenggorokannya mendadak kering, dan seluruh isi dadanya serasa dijatuhkan dari puncak gedung pencakar langit Downtown LA.
"Sialan... Hamil?" kata Lux spontan.
Kata itu lolos begitu saja dari bibirnya tanpa bisa ditahan. Suaranya serak, penuh penolakan yang membuncah.
Sang dokter tidak terkejut—ia sudah terlalu sering melihat reaksi penolakan dari pasien muda. Dokter itu hanya mengangguk pelan, memberikan gestur empati yang terasa sangat formal.
Di samping Lux, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun mendadak mematung.
Eleanor Victoria, ibu dari Lux, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua matanya yang berwarna abu-abu jernih mendadak berkaca-kaca, memantulkan rasa syok yang teramat sangat. Air mata menggenang di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja.
Eleanor berusaha menegakkan punggungnya, mencoba menguasai diri meski bahunya bergetar hebat. Ia menatap sang dokter dengan wajah sepucat kertas.
"Maafkan putri saya, Dokter... Terima kasih atas informasinya," bisik Eleanor dengan suara bergetar.
"Kami... kami permisi dulu."
Hancur dan kecewa. Dua kata itu seolah terpatri jelas di setiap lekuk wajah Eleanor.
Kabar ini seperti petir di siang bolong. Putrinya baru berusia sembilan belas tahun.
Hanya tinggal menghitung hari sebelum Lux resmi melangkahkan kaki sebagai mahasiswi baru di salah satu universitas bergengsi.
Masa depan yang sudah dirancang begitu indah kini hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Lux terdiam kaku. Kakinya terasa seberat timah saat berdiri. Tangannya secara refleks bergerak turun, menyentuh permukaan perutnya yang masih datar di balik gaun.
Hamil? Dokter brengsek itu bagaimana mungkin mengatakan diriku hamil? lirihnya dalam hati.
Matanya mulai berkaca-kaca saat rasa hangat air mata menumpuk di sudut matanya. Pandangannya kabur.
Ia berjalan gontai mengekor di belakang ibunya yang melangkah cepat menelusuri koridor rumah sakit.
Di area parkir luar yang disiram cahaya matahari terik, sebuah sedan mewah hitam sudah menanti.
Di dalam mobil itu, sang ayah—Marcus Victoria—sedang duduk santai sambil menyesap kopinya, tidak tahu-menahu tentang badai yang baru saja meledak di dalam klinik.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Lux menyejajari langkah ibunya. "Mom... Ini tidak benar. Aku tidak pernah—"
"Kau mengecewakan Mommy, Lux!" potong Eleanor dengan nada suara yang tertahan namun penuh penekanan. Ia berbalik sebentar, menatap Lux dengan tatapan hancur. "Dan bagaimana cara Mommy akan mengatakan hal ini pada Daddy-mu, Lux? Katakan sendiri padanya! Dengan siapa kamu melakukannya?!"
"Mom, aku—"
"Kau tidak pernah membawa kekasih ke rumah! Lalu bagaimana mungkin... ah, tidak!" Eleanor menggelengkan kepalanya panik, memegang pelipisnya yang mulai berdenyut. "Bagaimana cara Mommy menjelaskan hal ini pada semua orang di mansion? Kau tahu betapa sulitnya posisi kita selama ini, Lux. Kau benar-benar mematahkan hati Mommy..."
"Mom! Tolong percaya padaku, aku tidak pernah melakukannya! Mommy tahu itu!" Lux memohon, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Kutolong percaya padaku... Ayo kita lakukan USG sekarang di tempat lain agar lebih akurat! Hasil tes urine itu pasti salah!"
Namun, Eleanor hanya diam. Pandangannya lurus ke depan, enggan menatap putrinya lagi. Sikap dingin itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.
Sejak kecil, Eleanor selalu memberikan kebebasan penuh pada Lux. Ia bukan tipe orang tua yang mengekang.
Ketika Lux memutuskan untuk membuat tato kecil berukir artistik di lengan dan bahunya, Eleanor menerimanya. Ia hanya menasihati dengan lembut, ‘Mana yang baik dan buruk, hanya dirimu yang tahu.’
Bahkan ketika Lux memilih gaya berpakaian yang berani khas anak muda Los Angeles, Eleanor tidak pernah membatasinya. Ia menaruh kepercayaan penuh pada putri tunggalnya itu.
Dan kini, Eleanor merasa kepercayaan yang dibebaskannya itu justru memicu petaka. Kebebasan itu dianggapnya telah membuat sang putri melangkah terlalu jauh hingga mengandung anak yang tidak jelas siapa ayahnya.
Tampak dari jauh, Marcus menyadari kehadiran anak dan istrinya. Dari balik kaca mobil, sang ayah menyambut mereka dengan senyum hangat. Ia keluar sebentar, membukakan pintu mobil dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana pemeriksaannya, Sayang?" tanya Marcus ceria, tanpa menyadari beban teramat berat yang dibawa oleh istri dan anaknya.
Eleanor hanya tersenyum tipis—sebuah senyum palsu yang dipaksakan—lalu melangkah masuk ke kursi penumpang depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lux menyusul masuk ke kursi belakang, menundukkan kepala dalam-dalam.
Marcus menghidupkan mesin mobil. Sedan hitam itu menyusuri jalanan kota Los Angeles yang padat. Garis-garis pohon palem di sepanjang jalan melintas cepat di luar jendela, berbanding terbalik dengan kecemasan yang membeku di dalam kabin mobil.
Sepanjang 20 menit perjalanan menuju kawasan permukiman elite di Bel-Air, tidak ada satu pun suara yang terdengar selain suara radio yang sengaja dipelankan.
Lux memeluk dirinya sendiri di kursi belakang. Pikirannya berputar hebat. Niat awalnya mendatangi klinik sederhana itu sebenarnya sangat sepele.
Beberapa minggu terakhir, tubuhnya sering terasa sangat lelah tanpa alasan. Wajahnya sering terlihat pucat di depan cermin, dan yang paling mengganggu, ia selalu merasakan nyeri seperti terbakar setiap kali buang air kecil. Ia mengira itu hanya infeksi saluran kemih biasa atau efek dari kurang minum air putih.
Dokter memang menyuruhnya melakukan tes urine untuk mengecek infeksi tersebut. Namun, bagaimana mungkin hasil tes urine itu justru menyatakan ada hormon kehamilan di dalamnya?
Hasil tes tadi benar-benar ada yang salah. Ada yang tidak beres, batin Lux menahan geram dan kebingungan.
...*****...
Ketika mobil melaju memasuki gerbang besi tempa yang megah dan berhenti di pelataran mansion keluarga Victoria, Eleanor langsung keluar dari mobil tanpa menunggu siapa pun. Ia berjalan cepat memasuki rumah besar itu, mengabaikan sapaan dari para pelayan.
Marcus yang menyadari perubahan sikap istrinya tampak bingung, namun ia mencoba mengalihkan perhatian pada Lux yang baru keluar dari pintu belakang.
"Kau baik-baik saja, Lux?" tanya Marcus lembut seraya mendekati putrinya. Ia mengamati wajah Lux yang pucat. "Apa hasilnya? Sudah Daddy katakan, jangan terlalu lelah mempersiapkan kebutuhan kuliahmu."
Lux menelan ludah yang terasa pahit. Ia tidak sanggup menatap mata ayahnya yang penuh kasih sayang. "Dad... A-aku harus beristirahat."
Marcus mengusap rambut Lux pelan. "Ya, istirahatlah, Sayang. Nanti Daddy minta pelayan antar makanan ke kamarmu."
"Terima kasih, Dad."
Lux melangkah cepat melintasi tangga melingkar menuju lantai dua. Begitu sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu rapat-rapat dan memutar kunci.
Tubuhnya merosot di balik pintu kayu yang tebal.
Isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Lux membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Jika benar aku hamil... bagaimana bisa? pikirannya terus berputar liar.
Apa aku diperkosa? Tapi oleh siapa? Dan kapan?! Wah, sialan... Aku bahkan tidak pernah minum alkohol sampai mabuk berat! Aku selalu sadar dengan siapa aku pergi! Lalu... bagaimana mungkin aku diperkosa tanpa pernah menyadarinya?
Pertanyaan-pertanyaan membingungkan itu terus menghantuinya, menggerogoti logikanya.
Rasa takut, marah, dan bingung bercampur menjadi satu. Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Cahaya matahari musim panas Los Angeles yang terang perlahan tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam yang dipenuhi gemerlap lampu kota di kejauhan.
Lux mengabaikan ketukan pintu dari pelayan yang memanggilnya untuk makan malam bersama. Ia menyendiri di dalam kamar yang gelap, bergelut dengan frustrasi yang kian memuncak.
Sekitar pukul sepuluh malam, Lux bangkit dari tempat tidurnya. Ia mematikan lampu kamar, berjalan cepat ke kamar mandi, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin bertubi-tubi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—matanya sembap dan merah, namun ada kilat ketegasan yang mulai muncul di sana.
"Ini salah. Hasil tes itu pasti salah seratus persen!" tegasnya pada diri sendiri.
Ia tidak pernah menyerahkan tubuhnya pada pria manapun. Ia masih suci, dan ia yakin betul akan hal itu. Satu-satunya cara untuk membungkam tuduhan ini dan mengembalikan kepercayaan ibunya adalah dengan membuktikannya sendiri secara mandiri.
Lux memoleskan sedikit lipbalm di bibirnya, menyambar jaket kulit hitam dan kunci mobilnya. Ia berlari kecil keluar kamar, menuruni tangga dengan senyap agar tidak memicu kegaduhan di dalam rumah, lalu menuju garasi. Ia akan pergi ke apotek 24 jam untuk membeli alat tes kehamilan. Ia harus mengujinya sendiri malam ini juga.
...****...
Mobil hatchback milik Lux melaju membelah jalanan Los Angeles yang mulai senggang. Deretan lampu jalan menyinari aspal kelam. Targetnya adalah sebuah apotek 24 jam yang terletak di pinggir jalan utama dekat kawasan Sunset Boulevard.
Jarum jam di dasbor mobil sudah menunjukkan pukul 10.15 malam ketika Lux memarkirkan mobilnya. Ia turun tanpa ragu.
Lux tidak merasa malu sedikit pun, apalagi berusaha menyembunyikan wajahnya dengan topi atau masker.
Untuk apa malu? Dia tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan itu.
Pembelian ini hanyalah sebuah prosedur verifikasi untuk membersihkan namanya di hadapan sang ibu. Ia tidak ingin ketidakadilan ini merusak hubungannya dengan kedua orang tuanya.
Lonceng di atas pintu apotek berdentang pelan saat Lux melangkah masuk. Suasana di dalam apotek cukup tenang dengan pencahayaan lampu neon yang terang benderang.
Lux berjalan lurus menuju kasir. "Berikan aku beberapa merek testpack yang berbeda. Aku mau empat jenis yang paling akurat," mintanya langsung tanpa ragu pada petugas kasir wanita paruh baya di balik konter.
Kasir itu menatap Lux sejenak dengan alis terangkat, namun segera berbalik untuk mengambilkan pesanan tersebut. Beberapa kotak alat tes kehamilan dari berbagai merek ternama diletakkan di atas meja konter.
"Totalnya jadi—"
Belum sempat sang kasir menyelesaikan kalimatnya, seorang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di samping Lux. Langkahnya sempoyongan dan napasnya terdengar berat.
"Tolong... bisa berikan saya kasa dan alkohol steril?" ucap pria itu dengan suara lemah.
Wajahnya terlihat sangat pucat, dan ada noda darah segar yang merembes di balik jaket jeans yang ia kenakan. Pria itu menyodorkan beberapa lembar uang kertas ratusan dolar ke atas konter.
Lux menoleh ke samping. Melihat kondisi pria itu yang tampak membutuhkan pertolongan medis darurat, Lux menggeser posisinya sedikit ke samping, membiarkan pria itu dilayani terlebih dahulu.
"Dahulukan dia saja," ujar Lux pelan pada kasir.
Pria itu menyambar bungkusan kasa dan alkohol yang diserahkan kasir tanpa banyak bicara, lalu berjalan cepat keluar dari apotek, meninggalkan bau anyir darah yang samar di udara.
Lux menggelengkan kepala pelan—Los Angeles memang penuh dengan hal-hal aneh di malam hari. Ia kembali menatap kasir. "Jadi, berapa total belanjaan saya?"
Namun, sebelum kasir sempat menjawab, sebuah suara raungan mesin mobil sport mewah berkapasitas silinder besar mendadak memecah kesunyian malam di luar apotek.
Suara raungannya begitu keras, membakar ban di atas aspal hingga berdecit nyaring sebelum berhenti tepat di depan pintu kaca apotek.
Lux sempat menoleh ke belakang melalui dinding kaca.
Beberapa pemuda berpenampilan ala anak jalanan kaya—berandal dengan pakaian high-street fashion—terlihat berteriak-teriak dari atas mobil konvertibel tersebut sambil tertawa-tawa.
Belum sempat Lux kembali fokus pada kasir, tubuhnya mendadak terdorong ke samping secara kasar.
Seorang pria lain bertubuh tinggi besar menyorongkan tubuhnya ke depan konter tanpa permisi, memotong antrean Lux begitu saja.
"Berikan aku satu kotak pengaman terbaik. Cepat!" suruh pria itu dengan nada memerintah yang sangat tidak sopan.
Lux meringis memegangi lengannya yang tersenggol. Kekesalannya yang sudah menumpuk sejak siang akhirnya mencapai puncak.
"Kau bisa mengantri, Tuan!" tegur Lux dengan nada suara yang diusahakan tetap sopan namun penuh penekanan tajam.
Pria kasar itu mengabaikannya, menaruh uang di konter dan merebut kotak kontrasepsi yang diletakkan kasir.
Pada saat yang sama, kasir selesai membungkus empat kotak testpack milik Lux ke dalam kantong plastik bening dan menyebutkan total harganya.
Bungkusan plastik bening berisi alat tes kehamilan itu terlihat sangat jelas di atas konter.
Pria kasar tadi, beserta seorang pria lain yang baru saja menyusul dari mobil sport di luar, langsung menangkap keberadaan bungkusan tersebut.
Pria kedua yang baru masuk memiliki postur tubuh yang sangat atletis, mengenakan jaket bomber mahal dengan gaya yang terkesan amat santai namun memancarkan aura dominan yang kuat. Wajahnya kelewat tampan, dengan garis rahang yang tegas dan tatapan mata yang tajam sekaligus jahil.
Pria itu menyandarkan bahunya di konter, memindai bungkusan testpack milik Lux, lalu menatap wajah Lux dari atas ke bawah.
Sebuah senyum miring nan provokatif terukir di bibirnya.
"Gadis kecil yang ceroboh..." ujar pria itu dengan suara berat yang santai. "Makanya gunakan pengaman agar kau tidak hamil."
Bukan pria kasar tadi yang mengatakannya, melainkan pria berjaket bomber yang baru datang ini.
Lux meremas kantong plastiknya tajam. Matanya menyipit penuh amarah saat berbalik menatap langsung ke sumber suara. "Aku tidak mengenalmu, Brengsek! Kau tidak tahu apa-apa!" bisik Lux tajam, matanya berkilat menahan murka.
Pria itu bukannya merasa bersalah atau tersinggung, malah terkekeh pelan.
Pandangannya tidak beralih sedikit pun dari wajah Lux, berhentinya persis di area bibir gadis itu.
"Bibirmu cantik," ucap pria itu santai, seolah baru saja mengomentari cuaca malam.
Lux menghembuskan napas keras, menganggap pria di depannya ini hanyalah salah satu berandal kaya yang terlalu banyak mengonsumsi alkohol malam ini.
"Ya, aku tahu aku memang cantik!" ketus Lux sambil menyambar kantong plastiknya dan berbalik berjalan menuju pintu keluar, berniat menuju mobilnya.
Namun, baru dua langkah Lux melangkah, suara berat yang sama kembali terdengar dari belakang punggungnya.
"Mau ciuman?" tanya pria itu lagi.
Lux menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. Ia menatap pria itu dengan pandangan tak percaya. "Kau gila?!" serunya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Pria itu melangkah maju mendekati Lux dengan ketenangan yang mengintimidasi.
Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai apotek. "Bibirmu... aku ingin menciumnya. Apa boleh?"
"Dalam mimpimu, Bre—"
Belum sempat Lux menyelesaikan kalimat makiannya, pria itu sudah memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Lux sempat melayangkan tamparan atau mundur menghindar, tangan kekar pria itu sudah mencengkeram tengkuk Lux dengan lembut namun mengunci.
Detik berikutnya, pria itu menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Lux.
Sebuah ciuman yang menuntut, sedikit brutal, dan penuh dominasi. Sensasi dingin bercampur hangat menyerbu indra perasa Lux seketika, membuat gadis itu membeku di tempat karena kejutan yang tidak pernah ia sangka-sangka.
Pria itu adalah Braxton Valerio Desmon.
Seorang pemuda kaya raya, narsis, dan selalu yakin bahwa pesona serta ketampanannya tidak akan pernah sanggup ditolak oleh wanita manapun di kota Los Angeles ini.
Malam ini, Braxton yang tinggal di asrama kampus bersama teman-temannya baru saja terlibat dalam sebuah permainan taruhan konyol yang memacu adrenalin.
Tantangannya sangat sederhana: ia harus mencium wanita berwajah cantik pertama yang ia temui di depan apotek malam ini.
Dan ciuman brutal di bawah pendar lampu neon apotek 24 jam itulah yang sedang ia lakukan sekarang—tanpa menyadari bahwa gadis yang baru saja diciumnya akan mengubah jalan hidup mereka berdua selamanya.
...----------------...
Happy reading kak 🌷 Selamat Datang dicerita Braxton Valerio Desmon putra AJ, Sequel novel "Not Our Time".
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux