NovelToon NovelToon
Engkau Milikku

Engkau Milikku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Roman-Angst Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:38.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vebi Gusriyeni

"Hanya aku yang boleh menyiksa dan membuatmu menderita. Hanya aku yang boleh mencintai dan memilikimu."_Sean Aznand.

Sonia Elliezza, rumah tangga yang dia idam-idamkan selama ini menjadi mimpi buruk untuknya, walaupun Sonia menikah dengan pria yang sangat dia cintai dan juga mencintainya.

Hanya karena kesalahan di masa lalu, membuat rumah tangga Sonia bersama dengan Sean Aznand menjadi sangat dingin dan menegangkan serta penuh dendam dan amarah yang tak terbantahkan.

Sean memberikan pilihan pahit pada Sonia di awal pernikahan mereka. Pilihan untuk terus bertahan atau pergi, akankah Sonia bisa meluluhkan hati suaminya? Pilihan apa yang akan Sonia ambil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vebi Gusriyeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Kegiatan Panas Yang Terganggu

Sonia kembali mengingat bagaimana dia kehilangan cincin pemberian Sean.

"Setelah kamu memberikan cincin itu padaku, Bu Nila selalu saja bersikeras untuk memintanya, dia tidak ingin aku menerima apapun darimu, dia juga bilang kalau Gladis adalah gadis pilihannya untukmu. Aku tidak mau memberikan apa yang dia minta, empat bulan setelah kamu memberikan cincin itu padaku, rumahku kemalingan, namun anehnya, yang hilang hanya cincin saja sedangkan di rumah ada laptop, komputer, satu set perhiasan peninggalan ayah serta uang tabungan, perhiasan dan uang tabungan itu aku simpan di tempat yang sama dengan cincin pemberianmu, semua barang itu aman. Bukan aku tidak mau memakainya, masa iya make cincin berlian kemana-mana, yang ada aku malah di rampok orang nanti." Sean tersenyum mendengarkan perkataan Sonia, benar apa yang Sonia katakan jika cincin itu tidak bisa dipakai selalu.

"Lalu? Kamu tau siapa yang nyuri?"

"Tau, yang nyuri itu Bu Nila, aku bukan nuduh asal tapi ada buktinya, Bu Nila meminta bantuan pada Fian dan teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah lalu menggeledah kamarku, Fian yang cerita, dia terpaksa karena di ancam sama Bu Nila. Aku panik, cemas dan juga takut sama kamu, aku takut kamu marah waktu itu. Aku terus berusaha mencari kemana-mana itu cincin tapi hasilnya nihil, sampai akhirnya Fian mengatakan padaku kalau dialah yang menggeledah kamarku dan Bu Nila lah yang mengambil cincin itu. Aku menemui Bu Nila dan malah dapat pukulan dari dia, dia marah besar sama aku, sampai rambut aku digunting asal sama dia, aku benar-benar kalut, dia nggak mau kasih cincinnya.

Keesokan harinya, aku coba untuk meminta tolong sama Fian, Fian bilang, Bu Nila bakalan kasih cincin itu sama Gladis di cafe, aku ke sana dan aku sama Fian merebut cincin ini." Sambil menunjukkan cincin itu pada Sean.

"Kamu dapetin gitu aja cincinnya?"

"Enggak, ya ada adegan kekerasan sedikit hehe."

"Kekerasan gimana?"

"Saat Gladis ingin menyematkan cincin itu di jarinya, aku berhasil nih rebut cincin itu, Gladis sama Bu Nila kaget dan marah-marah sama aku. Fian berkali-kali diancam sama Bu Nila, dia takut dan cuma bisa diam aja. Aku nggak nyalahin dia sih, aku bawa itu cincin lari, dia teriakin aku maling, bayangin aja aku sampai dicegat sama satpam, sampe mau dibawa ke polisi malahan," jelas Sonia panjang lebar.

"Kenapa kamu nggak telfon aku? Kalo kamu kasih tau, aku bakalan kasih pelajaran sama mereka," kata Sean yang ikut geram mendengar cerita istrinya.

"Aku nggak mau jadi tukang ngadu, nanti hubungan kamu sama ibu kamu malah rusak."

"Dari awal aku juga nggak pernah nganggap dia ibu kok. Terus gimana?"

"Yaudah aku dibawa ke kantor polisi nih, di sana aku ditanya dan aku bisa kasih bukti kalau itu memang milikku, kan ada surat serta foto-foto saat kamu kasih ke aku. Akhirnya aku dapetin deh ini cincin." Sean memeluk erat Sonia, dia tidak menyangka kalau istrinya akan berjuang seperti demikian hanya untuk mempertahankan pemberiannya.

"Mereka nggak nyakitin kamu saat kamu lari bawa cincinnya? Jawab jujur," tanya Sean memastikan.

"Pas udah dicegat sama satpam, Gladis ini nampar aku, dia teriakin aku maling, dia dorong aku sampe aku jatuh, habis tu Bu Nila jambak rambut aku dan Gladis nginjek tangan aku yang lagi genggam cincin dari kamu." Sean berusaha tenang mendengar cerita Sonia, dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran pada dua manusia terkutuk itu.

Hatinya begitu terluka mendengar Sonia diperlakukan seperti itu oleh mereka berdua, Sonia hanya tersenyum mengingat kenangan itu, senyuman Sonia malah membuat Sean semakin terenyuh karena istrinya bisa sesabar itu menghadapi semua ini sedangkan dia sudah kepalang emosi mendengarnya.

"Kenapa kamu nggak bilang kalau cincinnya sudah ketemu?"

"Karena waktu itu papa kamu nyuruh aku buat ninggalin kamu, makanya aku nggak bilang sama kamu, aku takut kalau Om Endro nyakitin kamu Sean." Sonia kaget dengan jawabannya sendiri, dia keceplosan mengatakan hal itu pada Sean, hal yang seharusnya dia tutupi rapat-rapat.

Sonia memejamkan mata dan merutuki dirinya sendiri, Sean tersenyum karena akhirnya rasa penasaran selama ini mulai terungkap walaupun sedikit.

"Lalu kamu nemuin aku dan bilang, kalau kamu mau pergi dariku dan aku tidak boleh mencari kamu lagi, begitu kan?" sambung Sean yang ingat juga saat itu Sonia meninggalkan dirinya.

"Bukan, bukan gitu, hm bukan gitu sih." Sonia gelagapan saat ini, dia bingung harus menutupi hal ini bagaimana lagi. Sean menyadari kebingungan Sonia lalu membawa Sonia ke dalam pelukannya.

"Kalau kamu memang nggak mau cerita sekarang ya nggak apa-apa, aku nggak akan maksa kok."

"Maafin aku ya."

"Dimaafin." Sonia membalas pelukan Sean, dia sangat nyaman jika dipeluk begini oleh suaminya.

Sean yang awalnya hanya memeluk Sonia, sekarang mulai meraba punggung istrinya itu, Sean mengangkat dagu Sonia dan melumat lembut bibir Sonia yang sudah menjadi candu baginya.

Sean terpancing dengan ciuman itu, dia merebahkan tubuh Sonia yang masih mengenakan handuk lalu kembali meraup bibir ranum sang istri, suami tampan Sonia tersebut melepaskan baju kaos yang menempel di tubuhnya, dia mendekap Sonia tanpa melepas pagutannya.

Ciuman Sean turun ke leher jenjang Sonia, terdengar suara lenguhan halus dari bibir Sonia yang membuat gairah Sean semakin membuncah.

"Ngghhh Sean," lenguhan lolos dari bibirnya.

Sean meninggalkan tanda kepemilikan di leher Sonia, dia terus mencium hingga turun ke dada Sonia dan meninggalkan bekas juga di sana.

Tangan Sean tak tinggal diam, tangan itu menarik handuk yang digunakan Sonia hingga handuk terlepas dan membuat tubuh Sonia terekspos dengan bebas di depan Sean. Sean meneguk saliva karena merasa kagum melihat tubuh mulus tanpa cacat yang ada di bawahnya saat ini.

Sean memainkan buah dada Sonia dengan telapak tangan dan sebelahnya lagi bersarang di dalam mulut, lidah hangat dan basah Sean menyapu permukaan bongkahan ranum yang menggoda itu.

"Sshh aahh." Hanya desahan yang terdengar di kamar itu, dada Sonia membusung tinggi menikmati lidah Sean di salah satu buah dadanya.

Puas dengan dada Sonia, ciuman Sean turun ke bagian perut dan meninggalkan bekas kecupan juga.

"Hhmm aahh." Sonia semakin bergerak gelisah, baru kali ini dia disentuh dengan intens oleh seorang pria, karena selama ini dia selalu menjaga sesuatu yang berharga itu.

Suasana kamar menjadi panas, handuk yang membungkus rambut Sonia sekarang sudah terlepas, Sean kembali melancarkan ciumannya di bibir Sonia, mereka berdua begitu menikmati permainan ini.

Tangan Sean sudah travelling kemana-mana bahkan hal itu membuat Sonia juga terpancing dan menginginkan Sean untuk melakukan hal lebih, selama menikah, mereka tidak pernah juga melakukan hubungan suami istri.

Sean kembali melumat bibir Sonia dengan rakus hingga tiba-tiba pintu kamar di buka, dengan terpaksa mereka menghentikan kegiatan panas itu dan Sonia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Sean tampak sangat kesal saat ini.

"Bisa nggak sih mosi, kalau mau masuk ketuk pintu dulu," tegur Sean pada Khadijah.

"Maaf tuan, saya biasanya masuk kamar ini ya masuk aja, saya nggak tau kalau kalian lagi bermesraan," jawab Khadijah sambil tersenyum, wajah Sonia sudah memerah, dia sangat malu kepergok oleh Khadijah begini, berbeda dengan Sean yang terlihat sangat kesal karena hasratnya tidak kesampaian.

"Lain kali mau masuk kamar manapun ya ketuk pintu dulu, ganggu aja sih mosi," gerutu Sean sambil duduk di tepi kasur dengan tatapan kesal.

"Maaf tuan."

"Ada apa ke sini?" tanya Sean lagi.

"Ada pria yang menanyakan tuan dan nyonya di bawah, namanya Vanno."

"Vanno? Ngapain dia ke sini?"

"Katanya mau ketemu tuan dan nyonya."

"Ya udah bilang tunggu, nanti saya turun."

"Baik tuan, silahkan dilanjutkan bermesraannya, saya permisi." Khadijah tersenyum geli mengingat saat dia melihat adegan mesra antara Sonia dan Sean tadi, ditambah Sonia tak memakai apapun.

Sonia bergegas mengenakan pakaiannya begitu juga dengan Sean yang mood nya dibuat hancur oleh Khadijah tadi, dia mengenakan baju dan berjalan keluar kamar.

"Vanno lagi, dia selalu saja merusak suasana hatiku." Sean menggerutu, membuat Sonia tersenyum.

"Bareng dong, jangan tinggalin aku," pinta ata Sonia yang masih mengenakan pakaiannya. Sean dengan iseng menggendong Sonia dan merebahkan istrinya kembali di kasur.

"Sean jangan mulai, itu ada yang nungguin di bawah," tolak Sonia sambil menghindarkan wajahnya dari wajah Sean yang hendak menciumnya lagi.

"Biarin aja, siapa suruh datang ke rumah orang nggak kasih kabar."

"Ya mana tau ada yang penting." Sean melepaskan Sonia dan membiarkan istrinya mengenakan pakaian dengan baik, setelah selesai Sonia melirik bakso miliknya, "yah udah dingin baksonya." kata Sonia dengan nada kecewa.

"Nanti minta mosi buat panasin lagi." Mereka bergandengan tangan menuju lantai bawah, Sonia menutupi bekas kissmark di lehernya dengan make up, di ruang tamu, tampak Vanno duduk menanti mereka berdua.

Sean duduk di sofa yang di dampingi oleh Sonia, Vanno mengutarakan niatnya datang ke rumah mereka.

"Aku ke sini ingin memberikan undangan untuk kalian berdua, bulan depan aku akan menikah dengan Laura, aku berharap kalian bisa hadir." Vanno memberikan undangan itu pada Sean, Sean mengambilnya dengan senang hati, karena Vanno tidak akan mengganggu Sonia lagi.

"Kau menikah di Spanyol?" tanya Sean.

"Iya."

"Selamat Vanno, semoga kalian berdua selalu dilimpahi kebahagiaan," ucap Sonia yang turut bahagia.

"Makasih Son, aku sangat berharap kalian datang."

"Kami akan datang," jawab Sean.

"Aku juga berterima kasih padamu, pribadi kita mungkin tidak akur namun untuk kerja sama perusahaan kau sangat profesional, kau tidak menyangkut pautkan urusan pribadi dengan kerjaan, aku salut padamu."

"Ya itu dua hal yang berbeda, kenapa harus dikaitkan. Selamat untuk pernikahanmu, sekarang aku tidak khawatir lagi kalau Sonia akan dibawa kabur olehmu." ujar Sean, Vanno hanya tersenyum menanggapinya.

Setelah berbincang hangat akhirnya Vanno memutuskan untuk pergi dari sana.

Sean yang saat ini hanya tinggal berdua dengan Sonia kembali mengajak Sonia ke kamar, dia ingin melanjutkan kegiatan mereka tadi yang sempat terganggu oleh kehadiran Khadijah.

"Lanjutin yang tadi yuk." ajak Sean.

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

1
Dyah Rahmawati
kasihan 😭😭😭
niktut ugis
lah si Sean kok jadi pecundang gitu
niktut ugis
lah emak yg gila si nila nech
Lina ciello
gustii kembarr 3 gaess 😁
GuGuGaGa_90
first time aku baca novel, awal cerita aku dh naik angin.. /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Lina ciello
oalahh
GuGuGaGa_90
Luar biasa
Vebi Gusriyeni: Terima kasih atas dukungannya 😊
total 1 replies
GuGuGaGa_90
jgn berubah Sean... teruskan dgn demam gilamu itu.
GuGuGaGa_90
aku harap, bila baca part last cerita ni Sonia meninggal...
GuGuGaGa_90
benar2 pasangan gila... mafia saja x seksa isteri mcm tu walaupun benci...
GuGuGaGa_90
mati je la sonia
GuGuGaGa_90
cinta itu gila
GuGuGaGa_90
Nikmati saja lah Sonia...
Sorry aku langsung emo... geram perangai perempuan mcm nie.
GuGuGaGa_90
ya nikmati saja lah
GuGuGaGa_90
padan muka
GuGuGaGa_90
pilihan yg "BODOH" ko dh disakiti knp nk bertahan.. smpi Sean dh angkat tangan kat muka ko.. pergi mampus la dgn cinta pertama... tolol
Lina ciello
yawes harus legowo krn kamu pernah nyiksa Sonia tanpa ampun 😒
Lina ciello
edannn 🤬😡
Lina ciello
iki Endro pedofil yakno
Lina ciello
sokorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!