Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pembuktian
Dadanya naik turun tak beraturan. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, apalagi semalam ia sama sekali tak bisa memejamkan mata—pikirannya terus dipenuhi cara agar bisa kembali dekat dengan Laila.
FLASHBACK ON
Pukul dua belas malam, Arjuna baru sampai di rumah setelah diantar Gibran. Ia berjalan mengendap-endap menaiki tangga, berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun agar Ayah dan Bundanya tidak bangun.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia segera masuk dan menutup pintu pelan-pelan. “Huh… akhirnya sampai juga di tempat singgasana gue,” gumamnya sambil terhempas ke kasur.
Sambil menatap langit-langit kamar, bayangan kejadian di gudang kembali terlintas. “Anjir, ternyata first kiss gue mahal juga ya. Harus ada drama jatuh dari gudang dulu baru kejadian,” ia terkekeh sendiri.
“Gara-gara itu gue jadi nggak sadar kalau bibir gue udah ketempelan sama dia. Ah… jadi kangen sama cewek Batman gue,” galau Arjuna. Ia meraih ponsel dari saku celana, lalu iseng menekan tombol panggilan video ke ketiga sahabatnya.
Bowo yang pertama kali mengangkat. “Halo Bos? Tumben banget VC bareng-bareng jam segini?”
“Lagi di bengkel lu? Nginep lagi?” tanya Arjuna.
“Iya Bos, orang tua gue belum pulang dari luar kota. Gue nggak betah kalau sendirian di rumah,” jawab Bowo sambil garuk kepala.
Tak lama kemudian Gibran dan Rian ikut masuk ke panggilan.
“Ya halo…” sapa Rian dengan suara masih berat karena kantuk.
“Ian, jauhin layar HP lu! Jijik gue liat kotoran kuping lu,” ledek Bowo.
“Udah tidur aja baru juga jam segini” sela Arjuna.
Rian langsung melotot kaget. “Eh sorry kirain telpon biasa. Eh jancok kuping gue bersih ya! Sembarangan lu ngomong!”
“Mau apa lagi Jun… kurang puas ganggu gue?” tanya Gibran malas.
“Santai dong bro. Gue cuma mau minta saran, gimana caranya biar gue bisa deket sama Laila lagi.”
“Anjay… baru kali ini Arjuna yang dikenal playboy minta saran sama kita yang alim begini,” seru Rian tak percaya.
“Bacot lu nyet!” ketus Arjuna kesal.
Bowo dan Rian cekikikan menahan tawa.
“Ya tinggal lu deketin aja kayak biasanya,” usul Gibran santai.
“Kalau bisa gitu, gue nggak bakal minta saran ke lu nyet. Masalahnya Laila beda dari semua cewek yang pernah gue kenal… makanya gue… suka,” ucapnya pelan di akhir kalimat, telinganya memerah padam karena malu.
Seketika Gibran, Bowo, dan Rian tertawa terbahak-bahak.
“Ck! Diem nggak lu pada?!” kesal Arjuna.
“Oke oke, gini aja Bos. Kita cari pembuktian aja,” potong Bowo saat sudah agak tenang.
“Maksud lu?”
“Kayaknya sih… Laila sebenernya juga suka sama lu, cuma dia belum sadar aja,” kata Bowo yakin.
“Anjir sok tau banget lu. Nggak usah bikin gue geer deh,” bantah Arjuna meski hatinya berharap itu benar.
“Terserah lu mau percaya atau enggak. Makanya gue saranin buat tes aja.”
“Langsung ke intinya aja Wo, jangan berbelit-belit. ngga bakal masuk di otak anak monyet,” timpal Gibran.
“Anjing emang si Gibran!” gerutu Arjuna.
“Oke begini. Tadi gue baru dapat kabar, malam ini Geng Elang mulai beraksi lagi di wilayah A,” kata Bowo serius.
Arjuna hendak protes tapi Gibran cepat memotong. “Diem nyet! Dengerin sampai habis dulu, jangan main protes aja.”
“ck...yaudah lanjut Wo,” pasrah Arjuna.
“Nah, suruh anggota lain buat gagalin rencana mereka. Kalau kita berhasil, pasti besok mereka balas dendam, ya itung itung bales perbuatan mereka yang ngerusak wilayah kita. Nah Bos, besok pulang sekolah lu harus bareng sama Laila. Pasti mereka nyerang lu. Kalau mereka bawa rombongan, tenang aja kita standby di belakang tanpa Laila tahu—kita bakal bantu. Tapi kalau cuma inti mereka, lu hadepin dulu. Nanti pas lu diserang, lu pura-pura sekarat aja. Kalau Laila nangis dan peluk lu… fix dia suka sama lu.”
“Anjir lu… jadi gue dijadiin tumbal gitu?”
“Bisa dibilang iya. Tapi ini cara paling cepet buat tahu isi hati dia,” tambah Gibran.
Arjuna menghela napas panjang. “Iya… iya. Tapi awas aja kalau rencana lu bikin Laila bahaya. Kalau ada apa-apa sama dia, habis lu di tangan gue!”
“Selow Bos. eh Btw kok Rian nggak bersuara ya?”
“ANJIR… MALAH TIDUR !” seru mereka bertiga serempak.
FLASHBACK OFF
Kembali ke masa kini, tubuh Arjuna terasa sangat lelah—gabungan rasa sakit akibat perkelahian tadi dan kurang tidur semalam. Matanya mulai terasa berat, namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan yang memecah kesunyian.
“JUUNAAAAA!!!”
Itu suara Laila.