NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Ucapan itu terdengar setengah bercanda, namun berhasil membuat Kael tersentak.

Matanya membelalak sesaat.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, pertanyaan sederhana dari Raka terasa menghantam pikirannya lebih keras daripada semua penjelasan medis yang baru saja ia dengar.

Ruangan kembali hening.

Kael tidak segera menjawab.

Di balik wajah dinginnya, satu nama perlahan muncul dalam benaknya—nama yang selama ini berusaha ia kubur sedalam mungkin. Namun ia buru-buru menepis pikiran itu, menolak mempercayai kemungkinan yang mulai terbentuk di dalam kepalanya.

Raka terkekeh pelan, lalu menggeleng saat melihat keterkejutan yang terpancar jelas di sorot mata tajam Kael.

"Ah, benar juga. Aku hampir lupa kalau kau bisa berganti pasangan sesuka hati." Sudut bibirnya terangkat semakin lebar. "Kalau menurutku, sudah saatnya kau menikah. Sampai kapan mau hidup seperti itu? Kau juga butuh penerus keluarga. Lagipula..." ia berhenti sejenak, lalu melirik Kael dengan tatapan jahil. "Aku kasihan pada pewarismu yang sepertinya tak pernah diberi kesempatan karena selalu terhalang pengaman."

Kael tidak tampak terusik. Ia justru menyandarkan tubuhnya dengan lebih santai sebelum menjawab singkat.

"Aku tidak pernah memakai pengaman."

Kalimat itu membuat senyum Raka perlahan memudar. Dahinya berkerut, seolah baru menyadari sesuatu.

"Serius?" gumamnya pelan. "Kau benar-benar ceroboh. Bagaimana kalau salah satu perempuan yang pernah bersamamu ternyata..."

Ucapan itu menggantung di udara. Mata Raka membulat, lalu ia menatap Kael penuh selidik.

"Jangan-jangan..." katanya perlahan. "Di luar sana sudah ada wanita yang sedang mengandung anakmu?"

Kael menghela napas pelan, lalu menggeleng dengan wajah tanpa beban.

"Tenang saja. Aku mandul."

Jawaban itu meluncur begitu datar, seolah ia hanya sedang membicarakan hal yang paling biasa di dunia, sementara Raka hanya bisa terpaku menatapnya, mencoba mencerna pengakuan yang sama sekali tidak ia duga.

Raka menggeleng pelan, masih sulit menerima pengakuan yang baru saja keluar dari mulut Kael. Tatapannya penuh keraguan, seolah mencari tanda bahwa pria di hadapannya sedang bercanda.

"Mandul?" ulangnya pelan. "Entah kenapa aku sulit mempercayainya. Keluargamu terkenal memiliki garis keturunan yang subur. Bahkan Raya..." Raka mengembuskan napas pelan saat mengingat sang istri. "Dia sudah lima kali mengandung, meski tiga di antaranya harus berakhir dengan keguguran."

Ucapan itu membuat ruangan sejenak diliputi keheningan. Raka benar-benar tidak memahami bagaimana Kael bisa mengalami kondisi yang bertolak belakang dengan keluarganya.

Kael hanya tersenyum tipis, tanpa sedikit pun merasa tersinggung.

"Dalam dunia medis, riwayat keluarga bukan jaminan," ujarnya tenang. "Aku sudah menjalani pemeriksaan berkali-kali. Hasilnya tetap sama. Dokter menyatakan aku memang tidak memiliki kemampuan untuk memiliki keturunan."

Raka mengusap dagunya pelan. Ia masih belum puas dengan jawaban itu.

"Aku tetap merasa ada yang tidak beres." Nada bicaranya berubah lebih serius. "Lain kali ikut denganku. Aku akan membawamu menemui spesialis terbaik. Kalau memang masih ada peluang, kita cari jalan keluarnya."

Kael tidak langsung menanggapi. Ia hanya melirik arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam terus bergerak, mengingatkannya pada jadwal yang sudah tersusun rapi hari itu.

Setelah beberapa saat, ia mengangkat pandangan ke arah Raka.

"Ngomong-ngomong, apa sebenarnya yang membawamu datang kemari?" tanyanya. "Rasanya bukan hanya untuk membahas urusan pribadiku."

Nada suaranya tetap tenang, tetapi penuh makna.

Hari itu Kael masih memiliki agenda penting. Sebuah pertemuan bisnis dengan tamu istimewa telah menantinya. Karena itulah ia ingin segera mengetahui tujuan kedatangan Raka sebelum kembali mempersiapkan diri.

Raka menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah tujuan kedatangannya hanyalah urusan sederhana.

"Aku datang untuk meminta izin," ucapnya santai. "Boleh aku meminjam jet pribadimu? Aku ingin membawa keluargaku menikmati liburan singkat di luar kota."

Ia berhenti sejenak sebelum terkekeh pelan.

"Meski sebenarnya, sekalipun kau menolak, kemungkinan besar aku tetap akan meminjamnya."

Kael hanya menghela napas pendek, seolah sudah bisa menebak maksud kedatangan sahabatnya sejak awal. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah menjauh beberapa langkah, sengaja menjaga jarak dari Raka yang menurutnya terlalu berisik pagi itu.

"Aku sudah menduganya." gumam Kael datar.

Raka mengangkat kedua bahunya tanpa merasa bersalah.

"Raya yang memaksaku meminta izin langsung kepadamu." Senyumnya semakin lebar saat menyebut nama sang istri. "Kau tahu sendiri, aku tak pernah bisa menolak apa pun yang diminta istriku. Ah... istriku memang wanita paling sempurna."

Kael memasang wajah datar, lalu melirik Raka dengan tatapan jijik.

"Cukup. Aku benar-benar muak mendengar rayuanmu."

Saat merasa urusannya telah selesai, Raka berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas yang dikenakannya sebelum menepuk bahu Kael pelan.

"Aku pergi dulu. Jangan sampai istriku di rumah merindukanku."

Kael hanya menatapnya datar sambil berdecih sinis.

"Hati-hati di jalan."

Raka mengangguk lalu meninggalkan kediaman megah itu.

...----------------...

Kael kini berada di teras depan mansionnya. Tatapannya sesekali mengarah ke gerbang utama, menunggu seseorang yang belum juga datang.

Waktu terus bergulir. Hampir empat puluh menit berlalu sebelum sebuah mobil hitam akhirnya memasuki halaman. Seorang pria berjas rapi turun sambil membawa map berwarna biru di tangannya.

Dia adalah Cassian.

Pria itu segera menghampiri Kael dan menundukkan kepala dengan hormat.

"Selamat siang, Tuan."

"Hm." balas Kael singkat.

Cassian menyerahkan map tersebut ke tangan atasannya.

"Ada satu kabar penting. Adrian telah resmi mengajukan pengunduran diri." Suaranya tenang, tetapi cukup untuk membuat suasana mendadak terasa lebih berat. "Ini surat pengunduran dirinya."

Kael hanya memandangi map biru yang masih terulur di hadapannya tanpa berniat mengambilnya. Tatapannya dingin, tetapi ada kilatan rasa tidak sabar yang sulit disembunyikan.

"Kenapa Adrian tiba-tiba mengundurkan diri?" tanyanya datar.

Cassian menelan ludah sebelum menjawab dengan hati-hati. "Adrian mengatakan ia ingin sepenuhnya menjaga adiknya. Selain itu..." Ia berhenti sejenak, seolah ragu melanjutkan kalimat berikutnya.

Kael mengangkat sebelah alis. "Ada apa?"

"Besok Adrian akan menikahkan adiknya."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Sorot mata Kael yang semula tenang berubah tajam dalam sekejap. "Apa yang baru saja kau katakan?"

Cassian menundukkan kepala semakin dalam. "Nona Aurora akan melangsungkan pernikahan besok pagi, Tuan."

Nama itu membuat rahang Kael mengeras. Jemarinya mengepal perlahan hingga buku-buku jarinya memutih. Entah mengapa, dadanya terasa sesak mendengar kabar tersebut.

"Dengan siapa?" suaranya rendah, namun mengandung tekanan yang membuat udara seolah membeku.

"Itu belum kami ketahui secara pasti, Tuan."

Kael menarik napas panjang, berusaha meredam gejolak yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.

"Di mana acara itu akan berlangsung?"

"Di rumah Adrian," jawab Cassian. "Ia hanya mengundang keluarga inti dan beberapa saksi beserta petugas pencatat pernikahan. Pernikahan itu akan dilangsungkan secara resmi dan langsung dicatat negara, bukan pernikahan di bawah tangan."

Setelah menyampaikan seluruh informasi yang dimilikinya, Cassian kembali terdiam. Ia bisa merasakan perubahan suasana hati atasannya, meski Kael sama sekali tidak memperlihatkannya lewat ekspresi. Yang terdengar hanya keheningan panjang, sementara tatapan pria itu semakin dalam, seolah sedang menyusun sesuatu di balik pikirannya.

Kael menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menyunggingkan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.

"Adrian bergerak cepat juga," gumamnya pelan. "Belum lama berlalu, dia sudah menemukan calon suami untuk gadis kecil itu."

Tanpa minat sedikit pun, ia akhirnya mengambil map biru yang masih berada di atas meja. Namun alih-alih membuka surat pengunduran diri di dalamnya, jemarinya justru meremas map itu kuat-kuat hingga lembaran kertas di dalamnya kusut. Sesaat kemudian, ia melemparkannya begitu saja ke sudut ruangan.

Cassian hanya memandangi atasannya dengan hati-hati.

"Nona Aurora memang memiliki paras yang luar biasa, Tuan," ucapnya hati-hati. "Dengan kecantikan dan kepribadiannya, tentu tidak akan sulit baginya menemukan pria yang bersedia menjadi pendamping hidupnya."

Kael tidak membantah.

Dalam benaknya, wajah Aurora kembali terlintas dengan jelas. Gadis itu memang masih sangat muda, tetapi pesonanya mampu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Wajah cantik, mata yang hidup, serta keberanian yang jarang dimiliki wanita seusianya membuatnya sulit dilupakan.

Keheningan menyelimuti ruangan beberapa saat.

Lalu Kael mendecakkan lidah pelan sebelum bertanya dengan nada datar yang terdengar hampir sinis.

"Siapa pria malang yang akhirnya akan menikahi gadis keras kepala itu?"

Cassian membuka tablet di tangannya, lalu menyampaikan hasil penyelidikan dengan nada tenang.

"Pria yang akan menikahi Nona Aurora bernama Brema. Ia adalah teman baik Adrian saat kuliah dan sekarang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan kecil."

Setelah selesai berbicara, Cassian mengangkat pandangan, menunggu reaksi atasannya.

Kael terdiam beberapa saat. Tatapannya berubah samar, seolah sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit ditebak maknanya.

Senyuman itu sama sekali tidak menunjukkan rasa senang. Justru ada ketenangan yang terasa ganjil, seakan ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

"Hm... jadi itu pria yang dipilih Adrian." gumamnya lirih.

Jari telunjuknya mengetuk pelan sandaran sofa dengan ritme teratur, sementara senyum misterius itu masih bertahan di wajahnya. Entah apa yang sedang direncanakan Kael, tetapi sorot matanya memberi isyarat bahwa ia tidak berniat membiarkan semuanya berjalan semudah yang dibayangkan orang lain.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!