Reysha, gadis SMA yang menyelinap ke sekolah lain dengan menyamar sebagai instruktur cheerleader karena kecintaanya pada cheerleader. Disana dia justru bertemu Lukar, cowok yang pernah mempermainkannya lewat sebuah taruhan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan
"Aku juga pesan sama seperti mereka," ujar Diko yang muncul tiba-tiba di sebelah Lukar berdiri. Lukar yang menduga kalau makhluk ini bakal segera menemukannya hanya tersenyum geli. Reysha hanya melihat tidak berkomentar.
"Kau sengaja menghilang?"
"Tidak," jawab Lukar tersenyum dengan gaya santai yang menurut Diko sangat menyebalkan karena seperti sedang mengerjainya.
"Kau ingin memonopoli Reysha sendiri?" Diko mendekat ke lukar dan berbisik, "Tak akan ku biarkan kau berduaan dengannya lagi." Lukar terkekeh lalu megelayutkan lengan ke bahu Diko sembari mengajaknya duduk di lesehan. Lukar menerima sinyal 'perang' terbuka dari Diko dengan senang hati. Ini pertama kalinya Diko menunjukkan kalau dia juga sedang memperebutkan hati Reysha lagi.
"Mbak, minta sendok sama garpu satu ya..." ujar Reysha setelah mereka pergi. Lalu Reysha menyusul. Karena mereka duduk berjejer, Reysha bisa duduk sendiri di depan mereka. Saat Reysha datang, mereka menghentikan obrolan.
Dari yang awalnya ingin mereka segera pergi sekarang malah terjebak di sini bersama mereka berdua.
Tring! Ada pesan datang dari Yuki,
"Kak, besok latihan kan?"
"Ya." balas Reysha.
"Salam buat Rega." Dan ada emoticon nyengir disana. Reysha tersenyum. Dua cowok itu sama-sama memperhatikan cewek di depan mereka yang sedang tersenyum sendiri. Penasaran sedang chat dengan siapa.
"Oke." selesai membalas chat Yuki, Reysha mendongak. Dua cowok itu langsung spontan lihat ke arah lain. Kalian berdua memang sama.
Pesanan datang.
"Kenapa di kasih sendok dan garpu? Bukannya ini lebih enak makan pake tangan aja." Lukar berkomentar soal sendok dan garpu yang muncul dengan aneh di tengah makanan yang di pesan. Diko menatap Reysha tertegun. Gadis itu diam tak bereaksi.
Kamu masih ingat kebiasaan ku, Diko merasa takjub. Dia yakin itu Reysha yang meminta di bawakan untuknya. Karena Diko enggak pernah bisa makan pake tangan langsung. Harus pake sendok walaupun itu makanan semacam lalapan.
"Itu buat aku."
Diko tersenyum. Lalu mengambil sendok. Dan Lukar menatap heran orang di sebelahnya tersenyum seperti itu. Kemudian menatap Reysha yang sudah mulai makan. Dia yakin ini ada hubungan sama gadis ini. Bukannya merasa kesal ataupun cemburu dan sebagainya. Lukar sangat memahami itu.
Makanya dia bisa tersenyum tenang. Karena bagaimanapun mereka berdua pernah punya cerita berbagi bersama. Kalau Reysha masih ingat kebiasaan Diko, itu wajar. Hanya sekedar ingat. Begitu menurut Lukar.
Akhirnya Lukar tak ambil pusing. Dia juga merasa sangat lapar. Karena memang belum makan seperti Reysha tadi. Nasi yang tersedia di dalam piring sepertinya cukup sedikit untuk ukuran cowok. Makanya Lukar dan Diko bisa segera menghabiskan makannya. Lalu Lukar mencuci tangan di dalam mangkok kecil yang berisikan air bersih dan jerus nipis. Sehingga tangan menjadi harum oleh jeruk nipis. Lalu di susul Reysha yang juga sudah menghabiskan makannya.
Hape Diko berdering. Tanpa melihat siapa yang menelepon, tangannya menerima panggilan itu.
"Halo."
"Kamu dimana?" mendengar suara lembut itu bukannya senang, Diko seperti kesambar petir. Lalu menjauhkan hape dari telinga. Memastikan siapa yang bersuara di sana.
"Sialan." maki Diko tanpa sadar. Lukar melirik. Melihat ekspresi Diko yang kesal, Lukar bisa menebak siapa yang sedang meneleponnya. Ternyata benar memang Fista sedang meneleponnya.
"Ada apa?" tanya Diko enggak sabar.
"Kamu sama siapa?"
"Teman. Kenapa?"
"Bisa gak sih jawab pertanyaanku lebih santai." Fista sudah berada di depan mereka bertiga. Semua kepala mendongak melihat kedatangan cewek ini. Lukar menyikut lengan Diko sambil tersenyum sangat senang. Sinar mata jahil tercipta. Karena dengan begitu Diko bakal di sibukkan sama pacarnya dan Lukar bisa memonopoli Reysha sendiri.
"Ayo duduk Fis. Gabung sini," ajak Lukar sangaaaaaatt ramah. Fista duduk di tengah. Antara Diko dan Reysha. Diko berdecih sambil menggerutu. Reysha hanya menyaksikan sebagai penonton. Dia ikut bahagia seperti Lukar, itu tidak mungkin. Dia ikut sebal seperti Diko juga, buat apa.
"Aku yakin tadi aku memang melihatmu." tuding Fista langsung ke Reysha.
"Kamu datang ke sini hanya untuk mengganggu Reysha?" Diko tidak terima.
"Aku tidak mengganggu. Hanya bertanya. Beneran kamu kan yang ada di mobil Diko tadi?" Fista enggak sabar.
"Memang dia yang ada di dalam mobil Diko," jawab Lukar mewakili. Selayaknya seorang jubir. Fista mengalihkan pandangan ke Lukar. Diko menatap kaget ke arah Lukar yang membocorkan soal Reysha. Seperti sengaja memancing amarah Fista. Reysha sendiri sepertinya enggak peduli dan membiarkan Lukar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
"Jadi kamu sedang menyembunyikan dia di dalam mobilmu?" tanya Fista menatap tajam ke Diko dengan marah. Seperti adegan sinetron dimana seorang isteri yang sedang menangkap basah suaminya berselingkuh.
"Dia berdua denganku," terang Lukar. Reysha meminum jusnya mencoba mengusir rasa kaget karena pengakuan Lukar.
"Berdua denganmu? Di dalam mobil?" Fista tidak mudah percaya. Dia lebih mempercayai insting kecemburuannya yang sudah terlatih daripada mempercayai Lukar. Karena mereka berdua adalah sahabat. Reysha mencoba fokus makan.
"Kenapa kau bisa berdua dengannya di dalam mobil Diko?"
"Karena aku memang lagi ingin berdua dengannya." gamblang sekali Lukar menuturkan kata kata seperti itu. Fista melihat Lukar agak lama. Pikirannya pasti tetap tertuju pada Diko. Reysha meminum jusnya lagi.
"Bukankah aneh kalau kamu juga akan mempertanyakan soal apa yang aku lakukan di dalam mobil berdua dengan Reysha." Ini membuat daun telinga Reysha memerah. Senyum tengil Lukar mencuat dari bibirnya. Fista tidak sebodoh itu membuat pertanyaan seperti yang Lukar tuduhkan.
"Memangnya apa yang kamu lakukan dengan Reysha di dalam mobil?" Fista beneran bertanya soal itu.
Pertanyaan kali ini terlontar dengan nada yang tenang. Tidak dengan nada marah dan tidak sabar seperti tadi. Sepertinya Fista menangkap sorot mata cemburu dari cowok di sebelah kirinya. Makanya dia sengaja bertanya seperti itu.
Lukar sedikit syok tapi juga senang mendengar Fista bertanya. Senyum Lukar mengembang sambil menatap gadis di depannya yang sedang mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan mulut Lukar bicara macam-macam.
Karena ingatan tentang kegugupan saat itu kembali menyelinap di memori pikiran.
Diko mendengar pembicaran mereka berdua dengan hati tidak tenang.
Sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan saat aku sedang berusaha membuat Fista tidak menyoroti isi dalam mobilku, ( Diko )
#Terima kasih buat yang menyempatkan baca. 💗💗💗💗
gamu thor pokoknya reysa hrs sm lukar
sedih smpe trauma liat judul ni gmw baca gy uda kadung baper😩