NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13.Bayangan pemburu.

“Kau benar-benar menepati janjimu...” bisik Raisa pelan, matanya tak lepas menatap perubahan besar yang terjadi di sekelilingnya saat ia melangkah keluar dari kamar menuju lantai dua pagi itu.

Jendela-jendela besar yang sejak dulu tertutup rapat dengan gorden tebal dan debu tebal kini terbuka lebar sepenuhnya, membiarkan cahaya matahari pagi yang hangat dan keemasan menyelinap masuk menerangi setiap sudut lorong yang dulu selalu remang dan mencekam. Udara segar beraroma tanah basah, rumput hijau, dan bunga liar dari tepian hutan di belakang rumah perlahan menggantikan bau apek, lembap, dan kapur barus tua yang selama ratusan tahun terasa kental di sana. Lantai marmer yang kusam dan kusut kini berkilau indah memantulkan cahaya mentari, dan tirai kain tipis berwarna krem yang baru digantung berkibar lembut ditiup angin pagi yang sejuk. Namun di tengah keindahan suasana yang baru itu, ada satu hal yang membuatnya merasa kosong—Arya tak terlihat sama sekali. Tak ada bayangan gelap yang biasa berdiri di sudut ruangan, tak ada hawa panas yang menyengat kulit, seolah sosok itu lenyap begitu saja dari tempat yang menjadi kediamannya selama berabad-abad.

“Apakah Nona sedang mencari Tuan Arya?” suara lembut dan sopan Jatmika terdengar pelan dari ujung lorong yang kini terang benderang. Ia berdiri tegak dengan sikap hormat yang tak pernah berubah sedikit pun, rambut putihnya berkilau halus terkena pantulan sinar matahari pagi.

Raisa menoleh perlahan, menatap wajah pemuda itu dengan rasa bingung yang mendalam. “Dia ke mana? Bukankah kemarin kita sudah sepakat untuk mulai saling mengenal dan tidak lagi saling menghindar?”

“Tuan Arya sedang mengurus sesuatu yang sangat penting, mendesak, Nona,” jawab Jatmika dengan nada tenang namun tegas yang tak bisa dibantah. “Beliau berpesan agar Nona tidak keluar rumah hari ini. Ada gangguan kekuatan yang belum stabil di luar sana, dan demi keselamatan nyawa Nona, sebaiknya tetap berada di dalam lingkungan rumah ini yang dilindungi sihir pelindung kuno.”

Raisa mengerutkan kening dalam, rasa tidak setuju langsung meluap di hatinya. “Mengapa dia masih bertindak seolah dia pemilik mutlak atas hidupku? Bukankah kemarin sudah jelas kita bicarakan bahwa kita adalah rekan yang setara, bukan tuan dan budak? Aku bebas pergi kemana pun tanpa izin tuanmu itu.”

“Tuan hanya bermaksud melindungi Nona dari orang berniat jahat, bukan bermaksud mengatur atau mengurung,” coba Jatmika menjelaskan dengan sabar, meski terlihat jelas ia berada dalam posisi yang sulit.

“Melindungi dengan cara mengurungku seperti burung dalam sangkar? Itu bukan perlindungan, tapi penjara untuk ku,” potong Raisa mantap dengan suara yang sedikit meninggi. “Bilang pada tuanmu aku pergi.”

Tak lama kemudian Sekar datang bergegas menghampiri dengan wajah sedikit cemas namun tetap setia menuruti setiap permintaan tuannya. “Siap, Nona Raisa. Saya sudah menyiapkan tas dan kendaraannya.”

Meski Jatmika sempat berusaha membujuk sekali lagi dengan alasan yang lebih mendesak, Raisa tetap berdiri teguh pada pendiriannya. Dengan langkah yang mantap dan kepala yang tegak, ia melangkah keluar rumah bersama Sekar, menuju pasar desa yang biasanya selalu ramai, penuh warna, dan riuh oleh tawa serta obrolan hangat warga setempat.

Namun hari itu, suasana terasa begitu berbeda dan ganjil. Saat mereka berjalan di antara kerumunan orang yang sedang berdagang atau sekadar berjalan santai, udara yang tadinya hangat dan nyaman tiba-tiba berubah drastis menjadi dingin menusuk hingga ke sumsum tulang, padahal matahari masih bersinar sangat terik di langit biru yang bersih tanpa awan sedikit pun. Orang-orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing tiba-tiba tampak gelisah tanpa alasan yang masuk akal; ada yang tiba-tiba memeluk tubuh sendiri dengan erat, ada yang terus menoleh ke kiri dan kanan seolah merasa diawasi oleh mata-mata tak kasat mata, namun tak satu pun dari mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi atau mengapa hati mereka tiba-tiba merasa begitu gelisah dan tak tenang.

Raisa merasakan sesuatu yang asing dan mencekam perlahan merayap di sekujur tubuhnya. Perlahan namun pasti, bisikan-bisikan samar mulai terdengar jelas di telinganya—bukan suara orang yang berdiri di dekatnya, melainkan suara-suara yang terdengar jauh, melayang, berat, dan seolah berasal dari kegelapan masa lalu yang terlupakan.

“Wadah Inti Sakti telah muncul...”

“Dia akhirnya muncul kembali...”

“Kekuatan agung itu kini berada di tangan yang belum sempurna...”

“Kita harus memilikinya sebelum ikatan itu sempurna...”

Jantungnya berdegup kencang tak menentu, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Tanpa ia sadari sama sekali, dari balik pepohonan rindang, sudut bangunan tua, dan sela-sela kerumunan orang, beberapa sosok berjubah hitam panjang berdiri diam mematung mengawasinya dengan tatapan tajam yang penuh niat jahat. Wajah mereka tertutup rapat oleh topeng kayu kuno yang berukiran pola melengkung menyeramkan dan berwarna hitam pekat, menyembunyikan sepenuhnya siapa mereka sebenarnya dan wajah seperti apa yang tersembunyi di balik topeng itu. Mereka bukan manusia biasa yang hanya datang berbelanja atau sekadar lewat. Mereka adalah para pemburu yang telah menelusuri jejak keluarga Margono selama ratusan tahun yang lalu, menunggu dengan sabar momen paling tepat saat penerus baru muncul dan ikatan perjanjian dengan pelindungnya belum sempat sempurna dan tak tergoyahkan.

Salah satu dari mereka yang berdiri paling depan dan memancarkan aura paling kuat perlahan mengangkat tangan kanannya. Di genggamannya terdapat sebuah lonceng kecil berwarna hitam pekat yang tampak menyerap segala cahaya yang menyentuhnya. Saat ia mengayunkannya perlahan, terdengar suara denting yang nyaris tak terdengar oleh telinga manusia biasa—namun bagi Raisa, suara itu terasa seperti palu besar yang menghantam langsung ke ulu hatinya berkali-kali lipat.

Seketika tubuh Raisa terasa lemas tak berdaya seolah seluruh tenaga dalam dirinya disedot keluar secara paksa. Kakinya gemetar hebat tak mampu menopang berat tubuhnya lagi, dadanya terasa sesak luar biasa seolah ada beban batu yang sangat berat menindihnya, dan pandangannya perlahan mulai kabur berbayang gelap pekat. Ia mencoba meraih lengan Sekar untuk berpegangan, namun sisa tenaganya sudah hilang tak bersisa. Dengan perlahan, ia merosot jatuh berlutut tepat di tengah jalan pasar yang ramai itu.

“Nona Raisa! Apa yang terjadi? Tolong! Ada yang bisa bantu!” jerit Sekar histeris dan panik, segera berlutut di sampingnya dan mencoba menopang tubuh tuannya agar tidak jatuh sepenuhnya ke tanah berdebu. Namun hal yang paling aneh dan mengerikan terjadi,orang-orang yang berjalan lewat tepat di samping mereka seolah tak melihat apa yang sedang terjadi. Mereka terus melangkah santai, sibuk dengan urusan masing-masing, seakan Raisa dan Sekar berada di dunia yang berbeda, terpisah oleh dinding tak kasat mata yang diciptakan oleh kekuatan gelap para pemburu itu.

Pemimpin kelompok berjubah hitam itu melangkah perlahan mendekat, setiap langkahnya terasa berat namun memancarkan kekuatan yang mengintimidasi. Di balik topeng kayunya, terselip senyum licik dan penuh kemenangan yang tak terlihat siapa pun. “Benar... benar sekali,” bisiknya dengan suara berat yang terdengar terdistorsi dan mengerikan. “Inti Sakti akhirnya memilihmu sebagai wadah yang baru. Dan sayang sekali... sebelum Ba nas pati sempat menyempurnakan ikatan perjanjiannya denganmu, kau harus lenyap dari muka bumi ini selamanya.”

Ia perlahan mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah belati hitam yang terbuat dari bahan yang tak dikenal, permukaannya penuh dengan ukiran kuno yang berkilau samar berwarna ungu gelap yang mengerikan. “Kematianmu akan memutus rantai perjanjian itu dan mengembalikan kekuatan itu kepada kami.”

Tanpa peringatan, belati itu melesat secepat kilat menuju dada Raisa yang tak berdaya. Sekar berteriak sekuat tenaga mencoba menangkisnya namun tubuhnya terpental mundur tanpa daya di hadapan kekuatan makhluk jahat itu.

Namun di detik yang sama...

BRAAAK!!!

Sebuah ledakan api raksasa tiba-tiba membelah jalan pasar itu, memancarkan cahaya merah menyala yang menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Belati hitam itu terpental jauh ke udara hingga menghilang di balik pepohonan sebelum sempat menyentuh sehelai benang pun pakaian Raisa. Para pemburu berjubah hitam terpental mundur beberapa langkah sekaligus karena gelombang panas yang dahsyat itu, hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.

Di tengah kobaran api yang perlahan meredup, sebuah suara dingin, berat, dan penuh amarah yang tertahan selama berabad-abad menggema membelah udara hingga terasa bergetar hingga ke tulang sumsum.

“Berani sekali kalian menyentuh milikku.”

Api perlahan padam menyisakan asap tipis yang berbau belerang dan panas, dan di sana berdiri sosok Arya. Namun Arya yang ada di hadapan mereka saat ini bukanlah sosok yang tenang dan terkendali seperti kemarin. Aura yang terpancar dari tubuhnya begitu mengerikan, menekan jiwa siapa pun yang merasakannya seolah ingin meremukkan keberadaan mereka. Matanya yang biasanya hitam pekat kini menyala terang dengan cahaya merah keemasan yang tajam dan mengancam. Di belakang punggungnya, samar-samar namun nyata terlihat bayangan raksasa menyerupai sosok manusia raksasa yang seluruh tubuhnya terbuat dari api abadi yang tak pernah padam, menjulang tinggi seolah menyentuh langit biru—wujud asli kekuatan Ba nas pati yang selama ini tersembunyi dan hanya bisa dilihat oleh Raisa dan para pemburu itu saja.

Para pemburu yang tadi begitu percaya diri, tenang, dan penuh niat jahat kini langsung gemetar hebat ketakutan. Bahu mereka merosot tak berdaya, dan langkah kaki mereka mundur tak sadar secara serentak.

“Ba nas pati...” bisik salah satu dari mereka dengan suara bergetar penuh ketakutan yang luar biasa. “Mustahil... kekuatannya masih sebesar ini setelah ratusan tahun berlalu...”

Arya bahkan tak bergerak maju sedetik pun. Ia hanya berdiri diam menatap tajam ke arah mereka seolah satu tatapan saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh keberadaan mereka seketika. Seketika tanah di sekitar tempat para pemburu berdiri mulai retak-retak panjang, dan dari celah-celah tanah itu muncullah lidah api berwarna hitam pekat yang melahap segala sesuatu yang disentuhnya dengan cepat. Tanpa sempat berpikir dua kali atau membalas serangan, mereka segera berbalik dan melarikan diri dengan tergesa-gesa, berusaha menyelamatkan nyawa mereka sambil menggendong pemimpin mereka yang terluka parah akibat benturan kekuatan Arya tadi.

Setelah bayangan mereka benar-benar lenyap di balik kerumunan orang yang masih tak sadar akan apa yang baru saja terjadi, aura mengerikan Arya perlahan meredup dan menghilang seolah tak pernah ada. Ia kembali menjadi sosok yang dikenali Raisa, namun napasnya masih sedikit memburu dan sorot matanya masih memancarkan kekhawatiran yang begitu dalam.

Raisa yang masih terbaring lemah dalam pelukan Sekar menatapnya dengan napas tersengal-sengal, bingung, takut, namun juga penuh rasa ingin tahu yang tak bisa ia tahan lagi. “Apa... sebenarnya mereka? Siapa mereka yang menginginkan nyawa ku?”

Arya membelakanginya sejenak, seolah enggan menatapnya saat emosi dan kekuatannya masih begitu kuat meluap tak terkendali. “Itu bukan pertanyaan yang akan kujawab hari ini,” ucapnya singkat namun nada bicaranya tak lagi sekeras dan setajam biasanya.

Tanpa menambah sepatah kata pun, ia berjalan mendekat perlahan, mengangkat tubuh Raisa dengan sangat lembut namun mantap ke dalam gendongannya. “Kita pulang sekarang. Segera! ”

 ​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!