Adeline Brisena adalah anak perempuan dari Raja ke lima kerajaan Elston yang tidak bisa hidup bebas layaknya manusia pada umumnya termasuk penentuan pasangan hidupnya yang dipasangkan dengan putra dari Raja Hilmar. Walaupun berulang kali memohon, Raja dan Ratu atau orang tua Adeline tidak menggubris permintaanya untuk membatalkan perjodohan itu. Hingga Adeline teringat satu cara terkejam yang digunakan Raja untuk menghukum rakyat nya yang berkhianat, yaitu mengirimkan mereka ke dunia lain dengan menyisakan raga yang tidak bernyawa di dekat pintu ajaib. Tidak ada cara lain yang bisa digunakan untuk bisa terlepas dari peraturan dalam hidupnya, dengan berat hati Adeline meninggalkan raganya di depan pintu ajaib untuk pergi ke dunia lain.
Bagaimana kehidupan Adeline di dunia lain? Akan kah Adeline akan bebas sesuai dengan apa yang diharapkan atau malah nasib nya sama saja seperti di kehidupan sebelumnya?
Semua akan diceritakan di cerita ADELINE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clreani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru Suasana Baru
Pagi ini matahari muncul tidak terlalu terik karena terhalang oleh awan yang terus bergerak membuat suasana di sekitar jalan Himalaya sangat sejuk dari biasanya. Air hujan yang turun sedikit demi sedikit sejak jam 6 pagi membuat aspal jalan Himalaya kini masih basah. Pohon-pohon yang ada di sekitar jalanan itu juga bergoyang tertiup angin membuat pengendara yang melintas di jalan itu merasakan kesejukannya.
Mobil berwarna hitam milik Kalandra yang dikendarai oleh Agra kini ikut melintas di jalan itu. Lalu tidak lama mobil itu berbelok ke arah kedai yang menjadi tempat favorit Kalandra sejak kedai itu berdiri satu tahun pertama.
Mobil itu diberhentikan oleh Agra tepat di lahan parkiran kedai yang cukup luas. Agra langsung mengambil payung yang berada di belakang kursi nya. Lalu Agra keluar dari mobil dengan payung yang melindunginya untuk membukakan pintu bagian Kalandra. "Mari tuan," ucapnya.
Setelah memasukkan handphone nya ke dalam saku celana, Kalandra pun langsung turun dari mobil membuat jarak antaranya dan pengawal pribadinya itu berdekatan untuk bersama-sama berlindung di bawah payung. Agra dan Kalandra pun langsung berbarengan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk kedai setelah Agra mengunci semua pintu mobil melalui kunci yang dipegangnya.
Bisa langsung dilihat senyum merekah di wajah Daryata yang berdiri di dekat pintu masuk saat melihat kedatangan Kalandra dan Agra. Kedatangan dua orang yang selalu dinanti oleh Daryata membuat Daryata sangat bahagia menyambutnya. "Selamat datang," sapanya dengan ramah sembari membukakan pintu kedai.
Kalandra tersenyum. "Terimakasih, pak Daryata," balasnya.
Sementara Agra lebih dulu untuk menutup payung yang digunakannya tadi setelah kini dapat berlindung dari atap kedai yang menutupi sebagian luar kedai.
Kalandra langsung melangkahkan kakinya menuju Rebyano yang setia berjaga di kasir kini berkutik dengan struk pesanan pembeli. Namun langkah Kalandra tiba-tiba terhenti ketika seorang perempuan yang tiba-tiba mundur menabrak Kalandra.
Perempuan itu buru-buru berbalik badan. "Eh maaf."
"Agatha?" Ternyata perempuan yang menabrak Kalandra adalah Agatha yang penampilannya jauh lebih rapi daripada penampilan yang Kalandra liat kemarin saat berkunjung kerumah Ayline. "Gue kira lo siapa," lanjut Kalandra.
"Ya ampun ternyata lo," ucap Agatha sembari menyelipkan rambut depannya ke belakang telinga. Lalu telapak tangan kanan Agatha langsung mengepal dan disodorkan ke depan Kalandra.
Kalandra membalas sodoran kepalan tangan Agatha dengan tangan kanannya yang juga mengepal sebagai tos tangan pertemanan. "Lo mau kemana?" tanya Kalandra sembari memasukkan tangan kanannya ke saku celana lagi.
"Gue mau kerja dong," ucap Agatha sembari memeriksa jam pada handphonenya. "Sorry ya gue harus buru-buru, toko kue tempat gue kerja udah mau buka," lanjut Agatha sembari memasukkan handphone nya ke dalam tas selempangnya.
"Lo berangkat naik apa?" tanya Kalandra dengan cepat sebelum Agatha beranjak pergi.
Agatha menunjuk sandal cantik yang digunakannya. "Gue jalan kaki. Tempat kerja gue lumayan deket dari sini."
Agra yang baru masuk ke dalam kedai setelah menyimpan payung di tempat payung yang disediakan Daryata di depan kedai pun langsung menjadi sasaran utama Kalandra.
"Dianter sama pak Agra aja. Di luar masih hujan," ucap Kalandra. Lalu Agra yang menghampiri mereka kembali ditatap oleh Kalandra. "Pak Agra, bisa tolong anter Agatha ke tempat kerja nya kan? Di luar masih hujan, gak enak kalo berangkat kerjanya jalan," lanjut Kalandra kepada Agra.
"Engga, gak perlu kok, Kalandra. Tempatnya deket dari sini, gak perlu dianter. Ngerepotin juga soalnya kalo dianter harus macet dulu." tolak Agatha langsung karena mengetahui kalau Agra yang diperintahkan untuk mengantarnya.
Agra tersenyum kepada Kalandra dan juga Agatha. "Saya bisa nganterin Agatha ke tempat kerjanya, tuan. Kebetulan jalan gak semacet biasanya, jadi gak ngerepotin," ucap Agra membuat Agatha menampakkan raut wajah yang jengkel mendengarnya.
"Tuh, gapapa kok, Agatha. Kamu dianter sama pak Agra aja ya," ucap Kalandra yang terdengar memaksa karena memang niat Kalandra ingin mendekatkan kambali dua orang yang masih sering berperang dingin itu. Saat pertemuan kembali antara Agra dan Agatha beberapa hari lalu, Kalandra mendengar semua ucapan mereka walaupun tangannya berkutik pada handphonenya.
Mau tidak mau, Agatha pun mengangguk. "Yaudah gue dianter sama pak Agra ya, Kalandra," ucapnya dengan nada ragu karena sebenarnya hatinya ingin menolak keras. "Duluan ya, Kalandra," lanjut Agatha berpamitan.
Kalandra tersenyum. "Silahkan," ucapnya dengan tangannya yang terayun mengarah ke pintu kedai mempersilahkan Agatha pergi bersama pengawal pribadi Kalandra.
Setelah Agatha dan Agra sudah benar-benar keluar dari kedai itu, Kalandra pun langsung melanjutkan langkahnya ke arah kasir.
"Selamat datang, bro," sapa Rebyano dengan ramah. Struk pesanan pembeli pun langsung dipindahkan ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya langsung mengepal dan disodorkan kepada Kalandra.
Kalandra membalas tos tangan pertemanan lagi untuk Rebyano. "Semangat banget nih kayaknya gue liat-liat," ucap Kalandra yang melihat aura bahagia pada raut wajah Rebyano.
"Oh iya dong harus semangat, demi mendapatkan cuan masa harus malas-malasan," balas Rebyano dengan tawa di akhir ucapannya.
Kalandra juga tertawa kecil membalasnya. Selembar menu yang ada di atas meja kasir langsung diambil olehnya untuk melihat lebih jelas nama-nama makanan yang tersedia di kedai itu. Sudah menemukan apa yang akan dipesan, namun Kalandra lebih dulu menoleh ke kanan ke arah Adeline yang mendekat ke arahnya untuk mengambil lembaran menu lainnya yang berada di dekat tanaman hias kecil yang ada di meja kasir itu.
"Hai, Kalandra. Selamat datang," sapa Adeline dengan ramah dalam sekejap karena Adeline harus kembali ke kursi pembeli yang meminta selembar menu tadi.
Kalandra terus memandang Adeline yang beranjak ke kursi pembeli. Adeline yang melayani pembeli dengan sebegitu ramahnya membuat Kalandra tersenyum gemas. "Bagus banget kerjanya," ucapnya dengan raut wajah yang kembali datar ke arah Rebyano.
Rebyano yang setia menunggu Kalandra menjebutkan pesanannya pun lantas tersenyum kecil. "Emang gesit banget kerjanya. Membantu banget buat kedai ini," balas Rebyano yang tidak kalah kagum dengan kinerja Adeline.
Kepala Kalandra mengangguk-angguk kecil menyetujui ucapan Rebyano. "Gue pesan lontong sayur satu, kentang goreng satu, sama es jeruk satu. Nanti pak Agra pesan sendiri," ucapnya menyebutkan makanan dan minuman untuk sarapan pagi ini.
"Siap gue catat dulu," kata Rebyano yang langsung berkutik dengan tablet android di depannya. Lalu Rebyano menunggu struk pembayaran dari pesanan Kalandra keluar dari mesin print yang ada di samping tablet android. "Ini totalnya," ucap Rebyano sembari menyerahkan struk pembayaran yang sudah muncul.
Kalandra pun langsung mengeluarkan dompetnya dari saku yang ada di jas yang dikenakannya. Selembar uang berwarna merah diserahkan kepada Rebyano. "Lebihnya buat lo," ucap Kalandra sembari menyimpan struk pembayaran di selipan dompetnya.
"Wah kebanyakan ini mah, ndra," ucap Rebyano sembari memeriksa kembali total uang yang seharusnya dikembalikan kepada Kalandra.
"Gapapa ambil aja. Buat beli rokok," ucapnya dengan suara yang pelan sembari menaikkan sebelah alisnya.
Rebyano pun mengacungkan ibu jarinya. "Lo emang paling terbaik dah."
Kalandra tertawa kecil membalasnya. Kemudian Kalandra kembali menoleh lagi ke arah Adeline yang kembali mendekat membawa selembar menu tadi dan juga nampan kosong. Senyum Kalandra kembali terukir untuk Adeline.
Adeline membalas senyum Kalandra, namun Adeline tetap melangkahkan kakinya ke arah Rebyano. "Ibu itu pesan roti bakar lagi dua. Ini uang nya," ucapnya sembari menyerahkan beberapa lembar uang kepada Rebyano yang langsung mengangguk dan langsung mencatat pesanan orang tadi.
Kemudian Adeline menoleh kepada Kalandra yang masih berdiri di depan meja kasir itu. "Kamu udah pesan?" tanya Adeline dengan suara yang terdengar ragu kepada Kalandra.
Kalandra berdeham lalu mengangguk. "Sudah saya sudah pesan. Nanti kamu yang antarkan pesanan saya ya."
"Kamu duduk di dalam sini kan?" tanya Adeline sembari melihat ke arah luar kedai yang sudah tidak lagi hujan. Kalandra pun mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Adeline barusan. "Oke aman. Saya bertugas mengantarkan pesanan pembeli di dalam kedai ini kok."
"Ya sudah saya tunggu di sana," ucap Kalandra sembari menunjuk salah satu tempat yang masih kosong. Lalu Kalandra menoleh kembali ke arah Adeline yang juga mengganti pandangannya dari tempat kosong tadi ke arah Kalandra yang tersenyum ke arahnya. "Semangat," ucapnya. Kemudian Kalandra beranjak ke tempat kosong yang ditunjuknya tadi dengan perasaan yang sedikit tersipu.
Adeline pun jadi ikut tersipu hanya karena mendengar kata semangat dari laki-laki yang sudah menjadi teman dekatnya sekarang. Kemudian Adeline pun langsung memfokuskan kembali dirinya untuk beranjak ke meja pesanan jadi ketika Gita telah meletakkan pesanan pembeli yang lain.
salut jg sm gaya bahasa, n bnr2 rapih pih ga ada typonya
lanjut thor