NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb33

Meimei dan Vick tanpa sengaja bertemu di klub paradise saat sedang menikmati minuman masing-masing. Vick Kala itu membantu Meimei dari godaan pria nakal yang mengganggu. Seiring berjalannya waktu keduanya menjadi cocok dan memutuskan menjalin hubungan kekasih satu tahun terakhir.

Meimei masih merahasiakan status pacaran dari sang kakak, sedangkan Vick setiap bercerita pada Ryn tak pernah sekalipun menyebutkan nama.

"Ryn?" Meimei baru menyadari kehadiran wanita yang kakaknya cintai bersama Vick. Ada seorang ayi juga, anak kecil?

"Hai Meimei. Apa kabar?" Sapa Ryn, senyumnya bahkan tak sampai ke sudut mata.

"Kalian kenapa bisa bersama?" Meimei menunjukkan ekspresi tidak suka melihat Ryn dan Vick sedang makan malam meski mereka berempat.

"Aku pernah cerita memiliki adik sambung, dan itu Ryn. Kau mengenalnya sayang?" Vick mencoba menjelaskan berharap Meimei mengerti dan tidak salah paham.

"Kukira kau sudah pergi jauh Ryn, kenapa malah kembali setelah menyakiti perasaan keke? Kau benar-benar wanita egois." Usai mengatakan isi hatinya Meimei berniat pergi namun Vick menahan lengannya.

"Apa maksudmu? Jadi kau adik Lee Sian? Sialan..."

"Vick hentikan!" Ryn langsung menenangkan Vick agar dia bisa meredam emosi mengetahui fakta yang mungkin memang baru mereka ketahui hari ini.

"Kau mengumpatku Vick?" Meimei membentaknya, sedangkan Ryn memberi isyarat pada Yifan untuk segera ke mobil dan pulang lebih dulu.

"Tidak, kekemu yang sialan. Kau tidak tahu apapun soal Ryn Amei, jadi jangan memarahinya." Ryn menarik Vick mundur, ia menatap Meimei penuh rasa sesal.

"Mei, aku minta maaf soal itu. Tapi hubungan kalian tidak boleh terpengaruh karena masa laluku dan Sian. Vick, sebaiknya kalian mengobrol aku pergi dulu." Ryn secepat kilat menyusul Jian keluar menyisakan Meimei dan Vick, keduanya masih shock berat tentunya.

Ketika berada di luar Ryn yang terburu-buru tanpa sengaja bertabrakan dengan Sian. Pria itu memang janji makan malam bersama Meimei.

"Ryn kau disini?" Mendapat pertanyaan dari Sian malah membuat Ryn memutar otak. Jangan dulu Sian mengetahui Vick pacaran dengan Meimei, bisa-bisa mereka diminta putus.

"Sian, ada hal yang harus aku bicarakan." Kata Ryn mengulur waktu.

"Dengan senang hati. Ayo kita ke mobilku." Ajak Sian menuntun jalan.

Belum sempat Sian maupun Ryn masuk ke mobil, sorot lampu mobil dari arah berlawanan menghentikan langkah keduanya. Sian yang hafal plat nomornya segera mendekati Ryn, memintanya menunggu sejenak sementara ia menghampiri mereka.

"Sian kenapa masih di luar? Adikmu sudah menunggu di dalam." Ujar Sansan yang datang bersama Lusi.

Ia sengaja mengatur acara makan malam keluarga demi mendekatkan Sian dan pengasuhnya. Meski Sansan tahu wanita yang cucunya cintai telah kembali ke Jasata. Ia merasa masa depan keduanya belum pasti jadi masih ada kesempatan untuk Lusi. Sansan hanya ingin berterima kasih sebagai balas budi pada Lusi dengan menjodohkan keduanya. Karena ia bisa melihat Lusi menyukai Sian siapapun pasti menyukai Sian bukan?

"Nenek masuk lebih dulu, aku ada urusan sebentar." Tak ingin neneknya tahu Ryn ia pun segera menuntun Sansan masuk diikuti Lusi.

Sansan sempat menoleh ke arah mobil Sian dimana Ryn tetap menunggu, sayangnya Sansan tidak sempat melihat wajahnya.

"Maaf mebuatmu menunggu..." Ryn tak sengaja menangkap keluarnya Vick tanpa Sian sadari bernafas lega, dia tidak perlu berlama-lama lagi.

"Sian kau sibuk saja. Aku harus pulang bye." Ryn bergegas menyetop taksi yang sangat kebetulan lewat sehingga Sian ditinggalkan begitu saja. Sian menganggap Ryn pasti kurang nyaman dengan keluarganya.

"Setidaknya kau di sini Zhao Ryn. Terima kasih sudah kembali." Gumam Sian.

***

Satu minggu Ryn lalui bersama Jian dan Yifan akhirnya ia bisa bernafas lega karena Bass sudah tiba. Setidaknya Ryn memiliki alasan jika Sian membahas soal hubungan mereka atau mungkin status Jian.

"Kau ingin pergi kemana lagi Ryn? Biar ku antar." Tanya Bass memastikan, mereka berempat baru selesai berbelanja kebutuhan di supermarket terbesar di pusat kota. Jian pasti selalu menempel pada Bass.

Seolah tahu jika pria itu yang selalu ada semenjak dirinya dalam kandungan hingga sekarang. Bass tulus melakukannya bukan karena ingin di pilih Ryn. Apa lagi Jian anak pintar dan mudah di asuh. Bass menyukainya.

"Tidak ada, kita pulang saja. Jian pasti sudah lelah melewatkan jam tidur siang." Keduanya tersenyum tatkala menyadari Jian benar-benar tertidur dalam gendongan Bass.

"Mari nona." Yifan mengajak Ryn masuk ke mobil lebih dulu, dia menggantikan Bass mengemudi.

Belum sempat Ryn naik seseorang tiba-tiba mencekal lengannya erat hingga tertarik menjauhi mobil.

"Kenapa kau kembali anak haram? Belum puas kau membuat anakku memenjarakan ayahnya sendiri hah?" Serang Lee Tak tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Dia baru saja keluar kemarin dan hendak berbelanja kebutuhan pribadi di rumah sewaan miliknya mendapati Ryn di depan mata membuat Lee Tak mengamuk.

"Lepaskan aku!" Bentak Ryn mencoba melepaskan tangannya meski sulit. Ia menangis seketika, teringat setiap ucapan dan tindakan Lee Tak yang menghina dirinya.

"Tidak! Aku keluar khusus untuk membalasmu anak gundik." Ryn menjerit setelah Lee Tak sengaja menggores lengannya menggunakan pisau cukur tajam bekas dirinya merapikan janggut.

"Kau keterlaluan." Pekik Ryn, Bass mendegar suara Ryn namun ia perlu membuat Jian nyaman lebih dulu sebelum melihat keluar.

"Lepaskan dia badjingan!" Bass menarik paksa Lee Tak lalu menghantam wajahnya dengan sangat keras tanpa ampun.

Bos yang dulu dia segani berubah menjadi lebih buruk dari kasus sebelumnya, berani menyerang seorang wanita. Lee Tak menyeka sudut bibirnya yang berdarah seolah tak takut sekalipun.

"Jangan harap kau bisa lolos lagi, kau pikir disini tidak ada CCTV hah?" Sial. Lee Tak lupa dia malah menarik Ryn ke belakang mobil jadi perbuatan jahatnya terekam oleh kamera mobil Bass. Takut tertangkap polisi lagi Lee Tak akhirnya lari kabur.

"Pasti perih sekali." Bass sampai meringis melihat luka gores di lengan putih Ryn.

"Ryn? Hei, rileks. Bernafas! Lihat aku!" Menyadari tubuh Ryn gemetar hebat Bass berusaha menenangkan seperti yang Yifan sering lakukan.

"Jian, dia dimana Bass? Jangan sampai Lee Tak mengetahuinya. Aku dan Jian harus pergi dari sini, Bass aku takut dia melukai Jian." Ryn histeris mengingat dirinya telah memiliki anak dari Sian. Lee Tak pasti menggila mengetahui keberadaan Jian.

"Tenang Ryn, tenang. Jian pasti akan baik-baik saja. Kau tidak harus kabur lagi, kalian berhak hidup damai." Bass langsung menarik Ryn kedalam pelukannya.

'Ya Tuhan, kenapa kau melakukan hal ini pada Jian? Aku berharap hanya aku yang menjadi korban keegoisan orang tua.' Ryn membatin dengan masih terisak.

Ryn bahkan enggan turun untuk makan malam, mereka telah pindah dari rumah dinas yang Sian siapkan ke kediaman Vick. Selain itu Bass juga memutuskan tinggal demi menjaga Jian juga Ryn.

"Sialan Lee Tak. Benar-benar konyol!" Vick menggebrak meja meluapkan segala emosi tertahan.

Jika dia membalasnya mungkin hal itu bisa melukai Meimei meski Vick tahu Meimei juga tidak dekat dengan sang ayah. Semenjak ibunya meninggal saat ia berusia tiga tahun Sansanlah yang membesarkan Meimei. Lee Tak hanya sibuk memajukan perusahaan tanpa perduli anak-anaknya membutuhkan perhatian seorang ayah.

"Ini salahku karena lengah. Seharusnya aku lebih waspada. Maafkan aku Vick." Sesal Bass mengingat bagaimana Ryn ketakutan tadi.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Vick melihat Yifan turun dari lantai atas.

"Setelah dua tahun berhenti, dia harus kembali meminum anti depresan. PTSD tidak akan kambuh jika tanpa pemicu." Yifan menghela nafas mengingat Ryn sempat mengunci diri di kamar setibanya mereka dari supermarket. Ryn membuka pintu ketika Jian menangis mencari keberadaannya.

"Sebelum bajingan itu muncul Ryn masih baik-baik saja meskipun bekerja di tempat Sian. Dia pasti menyesal memutuskan kembali." Kata Vick memberitahu Bass.

"Kita kecolongan tidak teliti memeriksa rumah sakit tempat Ryn berkerja. Meski begitu Lee Taklah pengacaunya." Balas Bass menanggapi Vick.

"Sebarkan video penyerangan Lee Tak agar Sian sendiri yang bertindak. Ingat blur wajah Ryn." Perintah Vick pada sang asisten yang langsung mendapatkan anggukan kepala kemudian pamit.

"Tuan gawat, papa anda menyerang nona Ryn." Junior bahkan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, bukan itu yang langsung membuat darah Sian mendidih melainkan kabar yang Jun teriakan.

Brak..

Sian menggebrak meja kerja kuat sekali sampai kacanya memiliki retakan menyilang di tengah-tengah.

"Kau tahu Junior? Sekarang aku paham bagaimana perasaan Ryn yang memiliki titik lemah. Lee Tak seperti kekuranganku untuk bisa mendapatkan Ryn lagi." Mata Sian merah menatap Junior.

"Anda yakin ingin aku melakukannya tuan? Bagaimana nanti jika nona Meimei tahu?" Kembali Jun memastikan keputusan Sian yang telah mereka rencanakan jika hal itu terjadi. Lee Tak menyakiti Ryn secara langsung.

"Sementara biarkan dia tidak bisa melihat dunia luar. Kurung di tempat biasa!" Perintah Sian mutlak. Jun hanya bisa menurut.

"Mama, aku ingin cepat tinggi agar bisa melindungi mama dari orang jahat." Ucap Jian penuh harap setelah meniup-niup luka gores di lengan kanan Ryn sebelum ditutup menggunakan plester anti air oleh Yifan.

"Terima kasih Jian, kau sudah sangat hebat menjadi anak mama. Jadi biarkan tugas itu mama yang lakukan." Ryn mencium hangat kepala Jian, wangi shampo coklat kesukaan keduanya semerbak.

"Mama, bisakah aku bertemu papa? Kata mama papa bekerja di kota ini... "

Dan Ryn tidak tahu harus menjawab apa. Cepat atau lambat Jian maupun Sian berhak saling mengenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!