JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023
Prequel dari Rumah di tengah Sawah.
Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.
Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Songolikur
Dalam pekatnya kegelapan malam, Pono berjalan tanpa alas kaki. Menyusuri jalan terjal tepian sungai dengan aliran air yang kecil. Langkah kaki Pono terhenti kala mencapai area tempuran yang nampak kering. Menyisakan pasir kali berwarna cokelat beraroma lumut.
"Wira itu benar-benar mengajarkan warga untuk berbuat serakah. Alam dirusak seperti ini demi memuaskan keinginan manusia dengan alasan kesejahteraan dan ketersediaan pangan. Ciih. Lebih baik aku yang jadi Bayan," gerutu Pono sendirian.
Pono terus melangkah melewati tempuran untuk menuju ke bagian atas. Udara dingin sesekali membuat tengkuknya meremang. Apalagi saat melihat ceruk di ujung tempuran yang kering. Terlihat gelap pekat, seolah siap menelan apapun yang mendekat.
Dengan nafas tersengal, Pono sampai di bagian hulu sungai. Tidak terlalu jauh dengan sumber mata air. Pono menjatuhkan linggisnya ke tanah. Dia kelelahan karena harus menempuh perjalanan dengan kondisi jalan yang menanjak. Pono duduk di atas batu hitam mengkilap.
Pono sengaja mencari bagian pangkal parit irigasi yang jauh dari pemukiman warga. Agar tidak ada yang memergoki ulahnya nanti. Tapi karena jarang menggerakkan tubuh, Pono mudah merasa lelah. Dia memang terlalu dimanjakan oleh mendiang Bapaknya.
Dari tempatnya duduk, Pono dapat melihat pemukiman warga. Cahaya obor yang berpendar di kejauhan nampak indah seperti kunang-kunang. Dalam suasana yang hening, Pono teringat dengan sosok Bapaknya.
Dulu Mbah Bayan meminta Pono untuk sekolah, mengikuti Wira. Pono anak yang diunggulkan, dipandang cerdas waktu masih anak-anak. Mbah Bayan siap memenuhi segala kebutuhan untuk sekolah Pono. Namun nyatanya Pono menolak, lebih memilih berada di bawah ketiak Mbah Bayan.
"Untuk apa sekolah? Pendidikan dari Bapak sudah lebih dari cukup untuk membuatku sukses," kilah Pono kala itu. Dan Mbah Bayan tidak pernah bisa memaksa anaknya.
Kini Pono menyesali keputusannya. Jika saja dulu dia sekolah, bukan tidak mungkin dirinya lebih pintar dan matang dibandingkan Wira. Apalagi Pono memiliki keunggulan, mudah mempengaruhi orang lain dengan kata-katanya. Pono pintar berbicara meski selama ini apa yang disampaikan tidak lebih dari sekedar bualan semata.
"Hoalah Pak, maafkan anakmu ya Pak ndak manut ndak nurut. Tanah peninggalanmu terjual sepetak untuk makan. Aku kalah dan gagal di pemilihan Bayan Pak," ratap Pono. Sudut matanya berair.
Pono mengambil sebatang rokok di saku celana kemudian menyulutnya. Ketika rokok menyala, Pono pun menyambar linggis yang tergeletak di tanah.
"Tapi tenang Pak. Lihat dari atas sana, anakmu pasti bisa merebut gelar Bayan."
Pono mengayunkan linggis sekuat tenaga ke arah parit yang dibentuk dari tumpukan batu bercampur lumpur dan jerami. Bunyi besi beradu dengan bebatuan blondos terdengar nyaring memecah kesunyian. Setelah sekali mengayunkan linggisnya, Pono beristirahat sebentar menyesap asap rokok dalam-dalam.
Hidung Pono kemudian mengendus aroma asing. Bukan bau tembakau ataupun cengkeh. Melainkan bau menyengat singkong yang dibakar. Leher Pono langsung terasa membesar. Bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri.
Beberapa saat lamanya Pono terdiam, mengedarkan pandangan. Sebuah hal yang bod*h. Seharusnya dia menutup mata saja, bukannya malah mencari darimana sumber bau berasal. Tapi ternyata Pono tidak menemukan apapun di sekelilingnya. Hanya ada bebatuan, dengan suara gemericik air sungai yang mengalir ke parit.
Pono kembali mengayunkan linggisnya. Dia tentu tak ingin berlama-lama di tempat itu. Apalagi hatinya sudah mulai rindu dengan pelukan hangat Darmini. Pono semakin bersemangat, linggisnya terus dihantamkan pada bebatuan penahan parit.
Dengan bermandikan keringat, usaha Pono mulai membuahkan hasil. Beberapa batu terlepas dari dinding parit. Dan kini, di ujung linggisnya terasa bongkahan batu besar nan lebar tersangkut. Pono menghela nafas, dan mencongkel bongkahan batu tersebut sekuat tenaga hingga semua otot dan urat tangannya nampak menonjol.
Terdengar bunyi benda jatuh berdebum. Pono terduduk kelelahan. Bongkahan benda asing yang berhasil dicongkel Pono nampak menggelinding di bawah kakinya.
Kondisi sekitar yang minim pencahayaan, membuat Pono sulit melihat. Dia mengerjap-ngerjap. Memastikan jika dia berhasil menjatuhkan batu pondasi. Tentu setelahnya akan sangat mudah menjebol parit, begitu pikir Pono. Namun ternyata dugaan Pono keliru.
Aroma singkong bakar semakin kuat menyeruak di udara. Di hadapan Pono, tergeletak sesuatu yang dibungkus kain lusuh penuh lumpur. Bukan batu, bukan juga tanah atau jerami.
Tenggorokan Pono tercekat. Matanya membulat. Nampak jelas wajah pucat dan rusak terbungkus kain. Bola matanya melotot ke arah Pono. Mulutnya menganga dengan beberapa belatung bergerak perlahan di akar gigi yang rumpang.
Tiba-tiba saja, bola mata di hadapan Pono bergerak. Mengarah, memperhatikan Pono yang sudah buang air kecil di dalam celana.
"Minggat atau ikut aku Lee?" Suara serak muncul dari bibir berwarna hitam itu.
Pono menjejakkan kakinya di tanah. Dia melompat dan segera berlari. Linggisnya dibiarkan tertinggal bersandar pada bebatuan parit. Saat berlari itulah, Pono baru menyadari ada puluhan sosok berwajah pucat pasi yang berdiri mematung di bagian tempuran yang mengering.
"Ampuuunnnn!" teriak Pono.
Saking takutnya, Pono menghiraukan rasa sakit di telapak kaki. Dia melompat dari bebatuan terjal satu ke yang lainnya. Bahkan terpeleset dan jatuh terperosok ke saluran parit. Pono basah kuyup tapi dia tetap berlari.
Pono sampai di halaman depan rumahnya. Namun tempat tinggalnya itu terlihat gelap gulita. Lampu minyak yang biasanya menyala di ruang depan pun kini padam. Apa Darmini sudah tidur?
Pono mengetuk pintu depan sambil berteriak memanggil Darmini. Dia masih ketakutan, ingin secepatnya masuk ke dalam rumah. Tidak ada jawaban dari Darmini, malah terdengar suara seperti orang berlari dari halaman belakang.
Beberapa saat berikutnya lampu minyak di ruang depan dinyalakan. Darmini membuka pintu dengan tergesa-gesa. Entah kenapa perempuan itu nampak panik. Begitu pintu terbuka, Pono melompat masuk ke dalam rumah.
"Tutup pintunya Dar!" perintah Pono langsung duduk menggigil di kursi ruang tamu.
"Memangnya kenapa Mas? Kamu ketahuan merusak parit? Dikejar warga?" Darmini penasaran.
"Sudah, manuto! Tutup pintunya cepeett!" perintah Pono sekali lagi.
Darmini pun menurut. Tapi sebelum menutup pintu, karena dikuasai rasa penasaran, Darmini melongok keluar. Dia mengedarkan pandangan beberapa saat dan melihat sosok-sosok asing yang berdiri berjajar di luar halaman rumahnya. Sosok berwajah pucat yang hanya berdiri mematung menatap lurus ke rumah Pono.
Darmini membanting pintu dan segera menguncinya. Dia merasa ngeri.
"Kamu diikuti Mas. Tapi bukan manusia!" Pekik Darmini gusar.
"Tenanglah, kalau dalam rumah aman," sahut Pono mengatur nafas.
Darmini duduk mendekati Pono. Dia ketakutan, dan butuh sosok Pono untuk membuatnya merasa aman.
"Apa yang terjadi Mas? Apa yang sudah kamu lakukan hingga diikuti begituan sebanyak itu sampai rumah," protes Darmini berbisik.
"Jangan banyak tanya. Kupikir aku bakalan mati tadi," sahut Pono mengatur mafas.
"Sekarang buatkan aku kopi," perintah Pono lagi.
"Aku takuut ke dapur sendirian Mas. Anterin," pinta Darmini manja. Pono mendengus kesal, tapi dia tidak mampu menolak permintaan istri cantiknya itu.
Bersambung___