NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Menit berganti jam, jam berganti hari, hingga tanpa terasa waktu sudah satu bulan berlalu.

Selama satu bulan penuh itu pula, Daniel Narendra memindahkan sebagian besar aktivitas pekerjaannya ke dalam paviliun belakang.

Ia sengaja menaruh sebuah meja kerja di sudut ruang ICU mini tersebut, sibuk memeriksa berkas-berkas perusahaan di samping ranjang tempat Amira terbaring koma.

Daniel enggan beranjak jauh, berjaga-jaga jikalau wanita misterius itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Siang itu, hawa hangat matahari menyusup di sela gorden.

Daniel tampak berjalan keluar menuju ruangan lain di paviliun untuk menerima panggilan telepon bisnis yang mendesak.

Melihat situasi luar yang lengang karena dokter pribadi dan perawat yang berjaga sedang pergi ke kantin belakang untuk makan siang, sesosok tubuh mungil tampak muncul di ambang pintu. Felia.

Dengan langkah kecil yang mengendap-endap sembari mendekap erat boneka beruangnya, balita dua tahun itu menyelinap masuk ke dalam kamar bernuansa putih tersebut.

Felia berjalan mendekati ranjang, menatap wajah wanita yang selama satu bulan ini selalu disebut sebagai mamanya.

Tepat pada detik itu, sebuah keajaiban medis terjadi. Di atas seprai putih, jemari Amira Zoe yang semula kaku perlahan-lahan bergerak.

Sinyal-sinyal kesadaran mulai kembali ke tubuhnya.

Kelopak mata Amira bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan-lahan, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan yang terasa menyilaukan.

Pandangan Amira masih kabur dan buram. Namun, hal pertama yang berhasil ditangkap oleh indra penglihatannya adalah bayangan seorang anak kecil yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang berbinar.

"M-ama... Mama...!"

Suara cicit nyaring Felia seketika memecah keheningan ruangan.

Balita itu melompat kecil kegirangan melihat mata sang "ibu" akhirnya terbuka.

Merasa tidak sabar membagikan kebahagiaan ini, Felia berbalik dan berteriak sekuat tenaganya ke arah luar pintu.

"Papa! Papaaa!"

Di ruang sebelah, Daniel yang sedang berbicara di telepon seketika tersentak mendengar teriakan histeris putrinya.

Ponsel di tangannya hampir saja terjatuh. Firasatnya bergejolak hebat.

Tanpa membuang waktu, ia langsung mematikan sambungan telepon dan berlari cepat masuk ke dalam ruang perawatan.

Langkah kaki Daniel mendadak terkunci di lantai. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit.

Di atas ranjang, wanita yang selama sebulan ini tertidur layaknya orang mati, kini sedang menatap ke arahnya dengan pandangan yang kosong, bingung, dan lemah. Amira sudah benar-benar membuka matanya.

Kesadaran Daniel tersentak kembali. Rasa panik dan haru berbaur menjadi satu di dalam kepalanya.

"Dokter!!" teriak Daniel dengan suara menggelegar, memanggil tim medis ke dalam ruangan.

"Dokter, cepat ke sini! Dia sudah sadar!"

Dokter yang baru saja berlari masuk segera mengambil tindakan cepat.

Dengan senter medis kecil di tangannya, ia memeriksa refleks pupil mata Amira, lalu memeriksa indikator pada layar monitor vital yang mulai berbunyi lebih cepat.

"Nona, apakah Anda bisa mendengar suara saya?" tanya dokter dengan nada tenang namun tegas, memastikan kesadaran pasiennya.

Amira mengerjapkan matanya beberapa kali, tenggorokannya terasa sangat kering dan perih.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menganggukkan kepalanya perlahan.

"A-aku, di mana? Kenapa aku di sini?" bisik Amira, suaranya parau, hampir habis.

Pandangannya beralih dari langit-langit kamar yang asing ke arah Daniel yang berdiri tegang di samping ranjang.

Daniel melangkah mendekat, memasang ekspresi selembut mungkin untuk menutupi gemuruh kepanikan di dadanya.

"Kamu mengalami kecelakaan di jalur Puncak, dan aku yang menyelamatkanmu," ucap Daniel, berbohong dengan lancar demi menyembunyikan fakta bahwa dialah sang pelaku utama.

Dokter kemudian menimpali dengan hati-hati, "Anda sudah satu bulan berada dalam kondisi koma, Nona."

"A-apa? Koma?!" Amira tersentak, mencoba bergerak namun seluruh sendinya terasa kaku dan kesemutan. Ingatan terakhirnya adalah hujan deras, lampu sorot mobil yang menyilaukan, dan rasa hampa.

"Satu bulan? Dimana ponselku? Aku harus memberitahukan Mama kalau aku di sini. Di mana ponselku?!"

Amira mulai panik. Bayangan wajah mamanya yang pasti sedang menangis histeris mencari keberadaannya membuat napas Amira memburu.

"Ponselku, aku harus telepon Mama..."

"Tenang, Nona. Tarik napas dalam-dalam. Kondisi Anda baru saja stabil, Anda tidak boleh syok," ujar dokter mencoba menenangkan Amira, sementara perawat dengan sigap merapikan selang oksigennya.

Setelah Amira mulai sedikit lebih tenang meski dadanya masih naik-turun, Daniel mengambil posisi duduk di kursi samping ranjang.

Mata tajamnya menatap lekat-lekat manik mata wanita di hadapannya.

"Siapa namamu?" tanya Daniel langsung, mengabaikan fakta bahwa ia sudah mencantumkan nama Selena pada berkas rumah sakit.

Wanita itu menatap Daniel dengan tatapan memohon.

"Aku Amira. Amira Zoe. Tuan, aku mohon, antarkan aku pulang ke Yogyakarta. Mama pasti sangat khawatir mencari aku..."

"M-ama...?" Cicitan suara kecil dari bawah ranjang menginterupsi.

Felia, yang sejak tadi terabaikan, meremas ujung seprai dan menatap Amira dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.

"Mama bukan Mama Selena?"

Amira menundukkan wajahnya, menatap sosok balita dua tahun yang begitu menggemaskan namun tampak kebingungan itu. Kalimat anak itu terdengar asing di telinganya.

"Siapa, Selena?" tanya Amira dengan kening berkerut, menatap bergantian antara balita itu dan Daniel.

Melihat situasi yang mulai tidak terkendali dan membutuhkan pembicaraan serius yang tidak boleh didengar oleh siapa pun, Daniel langsung berdiri. Aura kepemimpinannya yang intimidatif kembali keluar.

"Dokter, Suster, tolong bawa Felia keluar sekarang. Biarkan saya berbicara berdua saja dengan Nona Amira," perintah Daniel dingin namun mutlak.

Dokter dan perawat itu mengangguk paham. Sang suster segera menggendong Felia yang sempat meronta kecil ingin tetap bersama "mamanya".

Begitu pintu paviliun tertutup rapat dan menyisakan keheningan, Daniel membalikkan tubuhnya, menatap Amira dengan tatapan yang sulit diartikan—siap memulai sandiwara gila yang telah ia rancang selama sebulan ini.

Pintu paviliun tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di antara mereka berdua.

Daniel menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekati ranjang.

Matanya menatap Amira dengan tatapan lurus, tajam, namun sarat akan keputusasaan yang disembunyikan dengan rapi.

"Dengar," suara Daniel mengalun rendah, memecah kesunyian.

"Wanita yang wajahnya sangat mirip denganmu, namanya Selena. Dia adalah istriku, ibu kandung dari anak kecil yang baru saja memanggilmu 'Mama'. Selena sudah meninggal dunia setahun yang lalu."

Amira tertegun, matanya membelalak tak percaya mendengarnya.

"Putriku, Felia, mengalami guncangan psikologis yang sangat berat sejak ibunya pergi. Dia terus mengigau dan mencari mamanya setiap malam," lanjut Daniel, menjeda kalimatnya sejenak sebelum mencondongkan tubuh ke arah Amira.

"Karena itu, aku memohon padamu, tinggallah di sini. Pakailah 'topeng' Selena dan berpura-puralah menjadi istriku demi kesembuhan psikologis putriku."

Mendengar permintaan gila itu, Amira seketika menggelengkan kepalanya dengan histeris.

Air mata kepanikan mulai menetes di pipinya. "Tidak! Aku tidak mau!" serunya dengan suara parau yang bergetar.

"Aku menolak menjadi bayang-bayang orang mati! Aku punya hidupku sendiri, Tuan! Aku harus pulang ke Yogyakarta. Mamaku pasti sedang menangis mencari aku selama sebulan ini!"

Napas Amira memburu, dadanya naik-turun menahan rasa sesak yang tiba-tiba mendera. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mendongak dan menantang tatapan mata Daniel yang mengintimidasi.

"Anda tidak bisa menahanku di sini! Ini namanya penculikan! Aku bisa melaporkan Anda ke polisi!"

Alih-alih marah atau panik karena diancam, Daniel justru menanggapi luapan emosi itu dengan ketenangan yang mutlak.

Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.

Ia memundurkan langkahnya, memberi Amira ruang untuk bernapas.

"Tenang, Amira. Tarik napasmu perlahan," ujar Daniel dengan nada suara yang melembut, mencoba menenangkan wanita di hadapannya.

"Aku tidak sedang menahanmu, dan aku sama sekali tidak berniat menculikmu. Nanti sore, setelah seluruh rangkaian pemeriksaan medismu selesai dan dokter memastikan kondisimu benar-benar aman, kamu akan aku antar pulang ke Yogyakarta."

Amira menghentikan isak tangisnya sejenak. Matanya yang sembap menatap Daniel dengan penuh keraguan.

"Janji...?" bisiknya lirih, memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.

Daniel menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Ya, aku janji."

Kemudian ia berbalik, mengambil segelas air putih dari atas nakas, lalu membantunya minum dengan hati-hati.

Setelah Amira meneguk air itu hingga tandas dan tampak sedikit lebih tenang, Daniel meletakkan kembali gelas tersebut.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruang ICU mini itu.

Begitu pintu paviliun menutup di belakangnya, ketenangan di wajah Daniel seketika runtuh.

Di luar koridor, ia mendapati Felia sedang menangis sesenggukan di pelukan suster pengasuhnya. Isakan kecil putrinya langsung menyayat hati Daniel.

Daniel segera mengambil alih tubuh mungil itu, menggendong Felia erat-erat ke dalam dekapannya.

Ia mengecup puncak kepala putrinya sembari menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong.

Ada rasa sesak yang teramat sangat di dada Daniel. Dengan berat hati, ia tahu ia harus menepati ucapannya.

Nanti sore, ia sendiri yang akan mengantarkan Amira pulang ke Yogyakarta, mengembalikan wanita yang menjadi satu-satunya harapan bagi kesembuhan Felia kembali ke kehidupannya yang semula.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!