NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

Satu bulan telah berlalu sejak tangisan pertama bayi Doni menggema di rumah bidan. Kehidupan di rumah tua pinggiran kota itu berjalan dengan ritme yang tampak sangat normal dan membahagiakan. Ferdi sudah kembali aktif bekerja ke kantor, sementara Selfi sepenuhnya menikmati perannya sebagai seorang ibu baru.

​Setiap pagi, suasana rumah selalu dihangatkan oleh suara celoteh kecil Ferdi yang menggoda anaknya sebelum berangkat kerja, atau suara senandung lembut Selfi saat memandikan Doni di kamar mandi bawah. Doni tumbuh menjadi bayi yang sangat menggemaskan. Pipinya gembul, kulitnya bersih, dan dia jarang sekali rewel, bahkan di tengah malam sekalipun.

​Siska yang melihat perkembangan keponakannya itu lambat laun mulai merasa tenang. Ketakutan besar yang sempat mencengkeram hatinya sebelum persalinan Mbak Selfi kini dirasa sudah benar-benar hilang. Dia menganggap semua bayangan menyeramkan tentang bayi berkaki bengkok dan bermata merah itu murni karena efek stres akibat kelelahan dan tekanan kuliah yang menumpuk.

​"Sis, tolong pegang Doni sebentar, ya? Mbak mau angkat jemuran di luar, mumpung mataharinya lagi bagus," kata Selfi suatu sore, berjalan menghampiri Siska di ruang tengah sambil menggendong Doni yang baru saja disusui.

​"Sini, Mbak, biar Siska yang gendong," jawab Siska dengan senyum lebar. Dia meletakkan buku kuliahnya lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut bayi mungil itu.

​Saat perpindahan gendongan itu terjadi, mata Siska tanpa sengaja memperhatikan pergelangan tangan kanan Selfi. Karena cuaca sore itu cukup gerah, Selfi menggulung daster lengan panjangnya hingga ke siku.

​Siska tertegun selama beberapa detik. Cincin kuno dengan permata merah darah itu masih ada di sana, melingkar di jari manis Selfi. Namun, ada perubahan fisik yang sangat nyata pada tangan kakak iparnya itu. Kulit di sekitar jari manis Selfi tidak lagi membengkak kemerahan, melainkan sudah berubah warna menjadi abu-abu pucat, sangat kontras dengan warna kulit tangannya yang lain. Cincin itu terlihat menancap begitu dalam, seolah-olah kulit jarinya tumbuh menutupi pinggiran logam emas tua tersebut.

​Siska menelan ludah. "Mbak... cincinnya masih belum bisa lepas juga?" tanya Siska dengan suara pelan, takut menyinggung perasaan Selfi.

​Selfi menghentikan langkahnya di dekat pintu depan. Dia menoleh ke arah Siska, lalu melihat ke arah tangan kanannya sendiri. Anehnya, ekspresi wajah Selfi sama sekali tidak menunjukkan rasa cemas atau kesakitan. Dia justru mengelus permata merah pada cincin itu dengan jari tangan kirinya, sambil memberikan senyuman datar yang terasa agak dingin.

​"Oh, ini? Nggak apa-apa, Sis. Mbak sudah terbiasa. Malah rasanya aneh kalau cincin ini dilepas. Sudahlah, nggak usah dipikirkan," jawab Selfi dengan nada suara yang monoton, lalu berjalan keluar menuju halaman depan untuk mengangkat jemuran baju bayi.

​Siska terdiam di tempatnya duduk. Dia menatap bayi Doni yang ada di dalam pelukannya. Doni sedang tertidur sangat nyenyak, napasnya teratur dan sesekali bibir mungilnya bergerak seolah sedang bermimpi meminum susu. Kehangatan tubuh bayi itu sedikit mengurangi rasa tidak nyaman yang mendadak kembali merayap di hati Siska setelah melihat tangan Selfi.

​Mungkin Mbak Selfi beneran sudah nggak ngerasa sakit, pikir Siska mencoba berpikiran positif, meskipun logikanya tahu bahwa kulit yang berubah menjadi abu-abu pucat itu sama sekali tidak bisa dikatakan normal.

​Malamnya, setelah Ferdi pulang dan mereka selesai makan malam bersama, Siska memutuskan untuk belajar di kamarnya di lantai dua. Jam dinding di kamarnya berdetak konstan menunjukkan pukul sebelas malam. Lorong rumah sudah sepi, dan lampu ruang tengah sudah dimatikan oleh Ferdi.

​Saat Siska sedang membaca materi kuliahnya, suasana malam yang biasanya sunyi mendadak terasa berbeda. Hawa dingin yang sangat pekat perlahan masuk lewat celah-celah jendela kamar atas, membuat tengkuk Siska meremang . Rasa dingin ini terasa sangat akrab—rasa dingin yang sama seperti malam sebelum Selfi melahirkan.

​Tiba-tiba, dari arah lantai bawah, Siska mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan.

​Tap... tap... tap...

​Itu adalah suara langkah kaki bertelanjang dada yang berjalan lambat menyusuri lorong bawah. Siska mengira itu mungkin Mas Ferdi yang sedang ke dapur untuk mengambil air minum, atau Mbak Selfi yang ingin mengecek boks bayi Doni.

​Namun, langkah kaki itu berhenti tepat di bawah kamar Siska, yang berarti posisi orang tersebut sedang berada di kamar utama. Tak lama setelah langkah kaki itu berhenti, sebuah suara lain mulai terdengar. Suara itu begitu tipis, namun di tengah keheningan malam yang pekat, Siska bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

​Srek... srek... srek...

​Jantung Siska seketika berdegup kencang. Tangannya yang memegang pena mendadak membeku. Suara seretan itu kembali lagi. Suaranya bukan berasal dari atas plafon rumah seperti sebulan yang lalu, melainkan berasal dari dalam kamar utama di lantai bawah.

​Rasa penasaran yang bercampur ketakutan membuat Siska memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya. Dia berjalan tanpa alas kaki, melangkah dengan sangat hati-hati di atas tangga kayu agar tidak menimbulkan suara derit sedikit pun. Suasana lantai bawah sangat gelap, hanya dibantu oleh sisa cahaya lampu jalan yang menerobos masuk dari ventilasi jendela depan.

​Siska berjalan berjingkat menuju kamar utama yang pintunya terbuka sedikit, menciptakan celah kecil yang membiarkan kegelapan di dalam kamar itu terlihat dari luar. Siska menempelkan wajahnya pada celah pintu, mengintip ke dalam dengan napas yang tertahan.

​Di dalam kamar, di atas ranjang, Ferdi tampak tidur sangat nyenyak dengan posisi telungkup, tidak terusik sama sekali oleh hawa dingin yang menusuk. Sementara itu, Selfi tidak ada di atas kasur.

​Selfi sedang berdiri membelakangi pintu, tepat di depan boks bayi tempat Doni tidur. Tubuh wanita itu tampak sangat kaku. Tangan kanannya yang dihiasi cincin permata merah terangkat tinggi di udara, bergetar hebat di bawah kegelapan kamar.

​Yang membuat Siska merinding adalah gerakan tangan kiri Selfi. Tangan kiri Selfi sedang memegang sebilah pisau dapur kecil yang biasa digunakan untuk memotong buah. Di bawah temaramnya malam, Siska bisa melihat kilauan tajam dari mata pisau tersebut yang diarahkan tepat di atas boks bayi Doni.

​Siska hampir saja menjerit berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat dia melihat Selfi perlahan-lahan menurunkan pisaunya. Selfi tidak menusuk bayinya. Dia mengarahkan pisau itu ke telapak tangan kanannya sendiri yang memegang cincin pesugihan.

​Sreeet...

​Dengan gerakan yang sangat dingin dan tanpa ekspresi kesakitan sedikit pun, Selfi mengiris telapak tangan kanannya sendiri. Darah segar yang berwarna merah pekat langsung mengucur deras dari luka robekan tersebut. Selfi kemudian memosisikan tangannya yang terluka di atas boks bayi, membiarkan tetesan-tetesan darah segarnya jatuh tepat di atas selimut dan mengenai pipi mungil bayi Doni yang sedang tertidur.

​Bersamaan dengan jatuhnya tetesan darah itu, bayi Doni yang semula tidur tenang tidak terbangun atau menangis. Sebaliknya, Doni justru menggerakkan bibir mungilnya, mengisap sisa darah yang menetes di dekat mulutnya dengan gerakan yang sangat alami, seolah-olah dia sedang meminum susu ibunya sendiri.

​Siska membekap mulutnya erat-erat dengan kedua tangan. Air mata ketakutan langsung mengalir deras membasahi pipinya. Pemandangan di depannya begitu gila dan mengerikan. Kakak iparnya yang terkenal sangat lembut dan penyayang, malam ini melakukan ritual gila yang melibatkan darah dan bayinya sendiri.

​Saat Selfi selesai meneteskan darahnya, dia perlahan membalikkan badannya menghadap ke arah pintu, seolah tahu ada seseorang yang sedang mengawasinya dari balik celah.

​Siska dengan cepat menarik kepalanya mundur, bersembunyi di balik dinding lorong yang gelap. Jantungnya berpacu seperti mau copot. Di dalam keheningan kamar utama, Siska mendengar suara langkah kaki Selfi yang berjalan kembali menuju ranjang, diikuti oleh suara bisikan serak yang sangat pelan dari mulut wanita itu.

​"Seratus hari... sebentar lagi... anakku akan tumbuh..."

​Siska tidak berani bergerak selama beberapa menit. Setelah memastikan tidak ada suara lagi dari dalam kamar, dengan tubuh yang lemas dan gemetar hebat, dia merangkak naik kembali ke lantai dua. Dia mengunci pintu kamarnya, meringkuk di sudut ruangan di balik tumpukan kardus bukunya sambil menangis tanpa suara hingga fajar menyingsing.

​Malam itu, Siska sadar sepenuhnya bahwa ketakutannya selama ini bukanlah halusinasi. Teror di rumah ini tidak pernah pergi, melainkan sedang bersembunyi dengan sabar, menanti hari keseratus di mana kutukan cincin pesugihan itu akan meledak dan menuntut bayaran yang sesungguhnya.

jangan lupa like dan komen ya suy 🤗

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!