Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN ANGIN DI ATAS AWAN
Suhu di dalam Stadion Kuarsa Putih mendadak merosot tajam begitu sepasang selop sutra murni milik Qian Yue’er menyentuh permukaan arena. Embun es tipis yang berkilauan mulai merambat cepat, menutupi retakan-retakan kuarsa yang tersisa dari pertarungan brutal Zei sebelumnya. Udara yang semula pengap oleh debu pertarungan seketika berubah menjadi sedingin puncak gunung salju. Puluhan ribu penonton menahan napas serentak, terpesona oleh keanggunan mutlak sang dewi dari Sekte Cendrawasih.
Di seberang arena, Lin Ran dari Sekte Pedang Hijau berdiri dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit gemetar. Sebagai kultivator elemen kayu tingkat tinggi, ia tahu betul bahwa elemen es milik Qian Yue’er adalah musuh alami dari energinya. Daun dan kayu akan membeku dan rapuh di bawah cengkeraman musim dingin. Namun, sebagai murid elit, ia menolak untuk menyerah tanpa perlawanan.
Lin Ran mengacungkan pedang kayunya yang berwarna hijau zamrud. Qi elemen kayu yang tebal meletup dari tubuhnya, memicu pertumbuhan ribuan jarum kayu raksasa yang melayang di sekelilingnya seperti badai hijau yang siap dilepaskan.
GONGGG!
"Badai Jarum Bambu Hijau!" raung Lin Ran, mengayunkan pedangnya ke depan.
Ribuan jarum kayu tajam melesat membelah udara dengan suara desingan yang memekakkan telinga, memenuhi seluruh ruang arena hingga tak menyisakan celah untuk menghindar. Penonton di tribun kasta bawah berseru tegang, membayangkan bagaimana jubah putih murni Qian Yue’er akan robek oleh serangan masif tersebut.
Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat seluruh isi stadion terkesima. Berbeda dengan gaya bertarung Zei yang mentah, mengandalkan pijakan bumi, dan membenturkan tubuhnya secara langsung dengan serangan lawan, Qian Yue’er bertarung tanpa menyentuh tanah sedikit pun.
Dengan satu hentakan ringan, tubuh anggunnya melayang ke udara, didorong oleh pusaran Qi elemen angin yang membentuk sepasang sayap transparan di punggung jubah putihnya. Ia bergerak seperti bayangan angsa liar, menari di antara ribuan jarum kayu dengan kelincahan yang mustahil. Tak selembar pun benang jubahnya yang berhasil disentuh oleh serangan Lin Ran.
Qian Yue’er menatap dingin ke arah lawannya dari atas udara. Ia mengangkat tangan kanannya yang halus, lalu menjentikkan jari tengahnya dengan gerakan yang sangat santai.
TINGGG!
Gelombang energi es berwarna biru muda melesat dari ujung jarinya, menyebar seperti riak air di udara. Detik itu juga, badai jarum kayu hijau milik Lin Ran yang masih melayang mendadak berhenti bergerak. Lapisan es kristal yang tebal membungkus setiap jarum kayu tersebut, membekukannya hingga kehilangan momentum dan menjadi sangat rapuh.
"Hancur," ucap Qian Yue’er, suaranya sedingin angin kutub.
Dengan lambaian tangan kirinya, ribuan jarum kayu yang telah membeku itu berputar arah, berbalik melesat kembali ke arah Lin Ran dalam wujud hujan kristal es yang tajam dan mematikan. Lin Ran terbelalak horor. Ia mencoba membuat perisai kayu dari bawah tanah, namun es milik Yue’er telah membekukan permukaan panggung begitu dalam, memutus hubungan energinya dengan tanah.
BOOM! BOOM! BOOM!
Hujan kristal es menghantam pertahanan Lin Ran hingga hancur berantakan. Lin Ran terhempas ke belakang, jubah hijaunya robek di berbagai tempat karena sayatan es, dan seluruh tubuhnya diselimuti oleh embun beku yang kaku. Sebelum ia sempat bangkit, ujung pedang es tipis yang diciptakan Qian Yue’er dari udara kosong sudah berada satu inci di depan tenggorokannya.
"A-aku... aku menyerah," bisik Lin Ran dengan bibir membiru karena kedinginan.
Wasit turnamen mengangkat tangannya dengan takjub. "Pemenang... Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih!"
Stadion meledak dalam gemuruh kekaguman yang luar biasa. Sorak-sorai memuji kecantikan dan kekuatan sang dewi menggema di langit-langit stadion. Tanpa mengeluarkan sepeser pun keringat atau menyisakan satu noda pun di jubah putihnya, Qian Yue’er membubarkan pedang esnya dan melayang kembali ke arah tribun VIP dengan keanggunan yang tak tergoyahkan, seolah kemenangan ini hanyalah rutinitas pagi yang membosankan.
Dari lorong pemain, Zei menyaksikan seluruh pertarungan itu tanpa berkedip sekejap pun. Berkat khasiat Pil Pemurni Sumsum Bumi yang meresap di matanya, ia bisa melihat aliran Qi di dalam tubuh Qian Yue’er dengan sangat jelas. Aliran energi gadis itu luar biasa lancar, bergerak secepat angin namun memiliki ketajaman es yang mematikan.
Zei menunduk, menatap telapak tangannya yang penuh kapalan. Sebuah pemikiran mendalam mulai merayap di benaknya. Ia menyadari kelemahannya yang paling krusial: jika dirinya adalah batu gunung yang tak tergoyahkan di atas tanah, maka Qian Yue’er adalah langit luas yang tak terjangkau. Semua teknik andalannya, mulai dari Sisik Naga hingga Membajak Bumi, membutuhkan kontak langsung dengan lawan atau pijakan bumi yang kokoh.
Jika ia harus menghadapi lawan yang bertarung di udara seperti Yue’er di babak-babak selanjutnya, pertahanan buminya hanya akan menjadi samsak hidup yang perlahan-lahan dihancurkan dari atas. Aku harus bisa membuat buminya menjangkau langit, batin Zei meneguhkan tekad, otaknya mulai berputar memikirkan bagaimana cara mengevolusikan getaran Qi tanahnya agar bisa melompat ke udara.
Tiba-tiba, suara terompet perak kembali bergemuruh, memotong lamunan Zei. Papan kuarsa raksasa di tengah stadion kembali berputar dengan liar, memancarkan cahaya emas yang menyilaukan untuk menentukan bagan pertandingan babak delapan besar—perempat final turnamen.
Jantung Zei berdegup kencang saat melihat untaian cahaya emas itu bergerak membagi nama-nama peserta yang tersisa. Detik berikutnya, cahaya itu mengunci takdir baru di atas batu kuarsa.
Nama Zei muncul di bagan kiri bawah, dijadwalkan bertanding melawan seorang jenius dari sekte sekutu Taring Besi yang terkenal kejam. Namun, yang membuat napas Zei mendadak tercekat adalah alur garis bagan di atasnya. Jika ia berhasil memenangkan pertandingan berikutnya, dan jika Qian Yue’er juga memenangkan pertandingan di bagan sebelah kanan, maka jalur bertarung mereka akan saling bertubrukan secara resmi di babak semifinal.