Sebuah kejadian membuat Haris yang merupakan seorang pemimpi perusahaan besar langsung hancur.
Dia kehilangan segalanya dalam satu hari dan memilih untuk mengakhiri hidupnya tapi setelah mati, dia justru menemukan kenyataan kalau orang yang selama ini dia sembunyikan mengandung anaknya.
Hamka Haris Stuart, seorang anak buta warna yang lahir dari rahim adik angkat Haris yang terus di sakiti karena hanya seorang anak dari istri kedua.
Bagaimanakah Hamka bisa menemukan warna dalam hidupnya setelah dia tahu kalau ayah yang selama ini dia panggil Daddy bukanlah ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk adik bayi
"Masya Allah nak, Anak kamu perempuan" ungkap Safira yang membantu kelahiran Lyra, mereka berada di rumah Langit karena saat itu, Aurora mengalami pecah ketuban saat terjatuh di kamar mandi, dan tidak bisa di bawa ke rumah sakit lagi karena dia sudah akan melahirkan saat itu juga.
Sebelumnya Aurora sudah di bawa ke rumah sakit tapi Aurora ingin pulang karena dokter mengatakan kalau itu hanya kontraksi palsu, tapi siapa yang menyangka kalau baru pulang dari rumah sakit Aurora malah melahirkan.
"Alhamdulillah Fira, kamu ambil kain dan juga handuk, nanti kita mandikan setelah tali pusarnya di gunting dokter, panggil Fatan saja kesini" ucap Vania
"Jangan, panggil Hani saja, dia kan dokter kandungan" ucap Ranti
"Astagfirullah Vania lupa, iya panggil Hani kesini" ucap Vania
Sagara segera memanggil Hani untuk datang ke rumah Langit, bahkan Boni juga sengaja ikut untuk mengantar istrinya itu karena dia juga ingin melihat putri pertama di keluarga Langit setelah anak kembar pertama mereka keduanya laki laki.
"Bagaimana Hani? Apa bayinya sehat?" Tanya Ranti
"Alhamdulillah Bu Ranti, bayinya sehat, beratnya tiga koma enam kilo gram, dan panjangnya empat puluh lima centi meter" jawab Hani yang sudah memotong tali pusar bayi yang di beri nama Lyra Langit Danendra itu dan membersihkannya, bahkan juga memeriksa keadaan Aurora yang sudah di bantu untuk membersihkan diri oleh Vania dan Safira.
"Lihat, anak kalian mirip Langit lagi, hei Langit! Kenapa kamu malah bengong saja dan memeluk Ola? Cepat sini lihat anak kamu" panggil Vandra
"Nanti saja bang, Ola masih butuh pelukan Langit, dia habis tenaganya karena melahirkan, ini pertama kalinya Langit lihat proses kelahiran langsung, Langit nggak tega lihat Ola" jawab Langit yang terus menciumi wajah Aurora meski masih terbaring lemah di atas kasur lantai di ruang santai lantai dua.
"Liam, Lintang, lihat adik kalian sini" panggil Sagara pada dua cucunya yang saat itu berusia hampir enam tahun.
"Cantik kan?" Tanya Vania
"Iya cantik, tapi mirip Daddy, kenapa nggak mirip mommy saja pasti lebih cantik" jawab Liam membuat semuanya tertawa bahkan bayi yang sedang tertidur itu juga ikut menyunggingkan senyumnya.
Pagi harinya, Aurora tidak mau ke rumah sakit karena merasa kondisinya baik baik saja, dia hanya akan melakukan pemeriksaan rutin di bantu oleh Hani yang akan mengawasinya setiap hari. Banyak anggota Dark Dragon yang ingin melihat bayi Lyra karena penasaran dengan wajah pertama Danendra yang seorang perempuan, karena Bulan adik Sagara tidak full mirip Mahesa, ada mirip Sintia nya juga.
"Siapa namanya Langit?" Tanya Adrian yang sedang menggendong bayi Lyra.
"Namanya Lyra Langit Danendra Om" jawab Langit
"Nama yang cantik seperti orangnya juga cantik" ungkap Sari
"Opa"
"Apa?" Tanya Adrian menatap datar anak yang berdiri di sampingnya.
"Mau gendong Lyra, Hamka sudah bisa lihat warna seperti warna mata Alda" ucap Hamka pamer karena saat Hamka tahu warna hijau Adrian sudah sibuk di pesantren miliknya.
"Alhamdulillah.. itu adalah warna hijau, ingat ya, mata Alda itu hijau seperti batu emerald" ucap Adrian
"Iya makanya Hamka panggil Esmeralda Emerald, Hamka ingat warna itu hijau"
"Iya itu warna hijau nak" ucap Safira
"Sini Lyra akan Hamka bawa pulang, karena Lyra Hamka bisa lihat warna hijau" ucap Hamka meminta Lyra dari gendongan Adrian
"Tidak bisa sayang, Lyra masih bayi, tubuhnya masih lemah" ucap Ivanka menahan tangan Hamka.
"Tapi Hamka mau bawa Lyra" ucap Hamka
"Tidak bisa" jawab semua orang membuat Hamka terkejut.
Hamka lalu pergi ke arah luar dengan wajah datarnya, Kalingga dan Liam mengikutinya dari belakang karena kasihan dengan Hamka yang sepertinya begitu ingin menggendong Lyra tapi mereka juga tahu mungkin para orang dewasa hanya khawatir saja Lyra terjatuh.
"Hamka kamu mau kemana?" Tanya Liam karena Hamka terus berjalan keluar gerbang
"Hamka kamu jangan kabul! Kamu juga kan punya adik, kalau kamu mau kamu bawa saja adikku yang kembal, mereka belisik" teriak Kalingga
"Aku cuma mau Lyra" jawabnya berhenti sejenak lalu berjalan lagi.
"Mama, papa! Hamka kabul, dia mungkin akan ikut Om Halis" panggil Kalingga
"Kemana?" Tanya Zhafran dan Lucas yang keluar dengan panik
"Tuh... Ke alah lual, jalannya juga cepat, Liam yang ikuti dali belakang" jawab Kalingga menunjuk arah timur yang artinya itu arah keluar gerbang perumahan
"Cepat cari, si Haris mungkin akan menyangka anaknya kita lukai" ucap Adrian
Lucas dan semua orang akhirnya berlarian untuk mencari Hamka dan Liam, tapi meski mereka sudah berpencar mereka tetap tidak menemukan dua anak itu, malah menemukan sandal milik keduanya di depan gerbang rumah Brandon.
"Cek CCTV rumah Lo Don, mungkin mereka sembunyi di suatu tempat" ucap Hendra
"Biar Vandra cek semua CCTV perumahan ini pa, nanti Vandra hubungi kalau ada tanda tanda di mana mereka" ucap Vandra segera kembali ke rumah
"Iya, papa akan cari di sekitar pohon beringin tempat Yuyun, mungkin dia kesana" ucap Hendra segera berlari bersama Langit dan Adrian.
"Nggak ada, tuh mereka tiba tiba hilang depan gerbang rumah gue, jangan jangan gerbang rumah gue jadi gerbang gaib" ucap Brandon
"Ini pasti ulah Om Haris Opa"
"Tapi kenapa Haris bawa Liam juga, apa dia mau jadi Wewe gombel yang suka menculik anak" ucap Lucas kesal
"Kita coba panggil Om Haris saja, Altair, Meda, kalian cari keberadaan Om Haris" ucap Gafi
"Altair nggak bisa lihat Om Haris bang, dia memagari tempat dia sembunyi, tapi Altair yakin Hamka dan Liam ada bersamanya" jawab Altair
Di tempat Yuyun, Adrian juga tidak menemukan Hamka, Yuyun bilang kalau Hamka di sembunyikan Haris, tapi bukan di alam gaib, mungkin di tempat jasad Haris berada, tapi tidak ada yang tahu jasad itu berada karena Haris memindahkan jasadnya ke tempat yang tidak bisa di temukan orang lain bahkan tak tersentuh oleh jin lain juga.
CCTV perumahan juga tidak memperlihatkan Hamka dan Liam keluar dari perumahan itu, mereka hanya menghilang di depan rumah Brandon. Jadilah mereka hanya bisa menunggu Haris mengembalikan dua anak itu kepada keluarganya.
######
Malam hari
"Kasihan Liam dan Hamka belum makan Yang" ucap Aurora khawatir
"Apa tidak ada petunjuk mereka dimana?" Tanya Langit
"Nggak ada Om" Jawab Andromeda
"Hiks... Hiks.. mau Lyra... Kenapa Hamka nggak boleh bawa Lyra.... Hiks.. Hiks..."
Suara tangisan Hamka terdengar ke penjuru rumah Langit tapi tidak terlihat dimana Hamka berada ataupun Liam putra mereka.
"Hiks... Papa.. Hamka mau ikut papa saja" ucapnya lagi