NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerinduan dan Godaan Tak Diundang

Di kediaman besar keluarga Alexander, malam demi malam terasa makin sepi dan dingin. Meski masalah di perusahaan sudah selesai sepenuhnya dan nama baik mereka pulih kembali, rumah itu tak pernah lagi sama seperti dulu. Tak ada suara tawa renyah Arshen, tak ada cerita‑cerita hangat Angga, dan yang paling terasa hilang, kelembutan Ayranza yang dulu sering mengisi setiap sudut ruangan.

Suatu malam larut, saat seluruh rumah hening, Mommy Xena duduk sendirian di beranda belakang yang menghadap ke taman luas. Di pangkuannya tergeletak selimut bayi yang sempat disiapkan jauh‑hari sebelum kepergian Ayranza. Selimut halus berwarna krem bermotif daun kecil, yang kini hanya diam terlipat rapi. Matanya berkaca‑kaca menatap kegelapan, pikirannya melayang jauh ke Desa Bukit Jernih yang entah di mana letaknya.

Tak lama kemudian Daddy Xavier muncul membawa dua cangkir teh hangat. Ia berjalan pelan dan duduk di samping istrinya, tak langsung bicara. Sudah berminggu‑minggu ia menyimpan rasa bersalah dan kekhawatiran dalam diam, namun mendapati istrinya tampak begitu rindu dan sedih, hatinya pun meleleh.

“Masih terjaga saja, Honey?” tanyanya pelan sambil menyodorkan secangkir teh.

Mommy Xena menerima teh itu, lalu menatap suaminya dengan mata yang mulai berlinang air mata tertahan.

“Xavier… aku sangat merindukan mereka. Terutama Ayranza dan cucu yang belum sempat kita gendong. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang, apakah bayinya sudah lahir dengan selamat, apakah mereka cukup makan dan hangat di tempat persembunyian itu.” Suaranya bergetar menahan kepedihan. “Aku tak pernah membayangkan akan seberat ini menanti kabar tak menentu.”

Daddy Xavier menepuk lembut tangan istrinya di atas meja kecil. Wajahnya yang biasanya keras dan tegas kini tampak jauh lebih lunak.

“Aku pun sama, Honey. Dulu aku marah besar pada Axel karena merasa ia ceroboh dan merusak segalanya. Tapi lama‑kelamaan aku sadar, kemarahan takkan mengembalikan mereka. Kami sudah terlalu lama membiarkan jarak ini terbentang lebar. Aku juga ingin sekali memeluk cucu kami dan melihat Ayranza kembali dengan wajah ceria seperti dulu.”

Pembicaraan malam itu berlanjut panjang, penuh kerinduan dan penyesalan yang perlahan menyatukan tekad mereka: mereka takkan berhenti sampai menemukan tempat persembunyian itu, menjemput mereka pulang, dan memperbaiki segala kesalahan yang terjadi.

Sementara itu, di sisi lain kota yang ramai, Axel masih sering pergi ke tempat‑tempat malam untuk melarikan diri dari rasa sakit dan sepi, meski kini ia tak lagi meminum minuman keras sampai lupa diri. Ia duduk di sudut sepi sebuah kafe elit yang ramai dikunjungi kalangan berduit, matanya kosong menatap orang‑orang yang berlalu‑lalai. Rasa lelah bercampur bingung masih sangat mendalam.

Tiba‑tiba seorang wanita berpenampilan sangat menarik, berbusana mahal, dan penuh percaya diri melangkah mendekat lalu duduk begitu saja di hadapannya tanpa basa‑basi banyak. Namanya Cindy, sosok yang cukup dikenal di lingkungan pergaulan kota.

“Kau Axel Alexander, kan?” sapanya dengan nada manja namun tegas, menatap Axel tepat ke manik matanya. “Sudah lama aku ingin berkenalan denganmu. Katanya kau sekarang sendirian dan sedang butuh teman, bukan?”

Axel sedikit terkejut namun tetap tenang. Ia berusaha bersikap sopan namun menjaga jarak.

“Maafkan saya, Nyonya… Nona. Tapi saya tak butuh teman baru malam ini. Dan sebaiknya kau tak membuang waktu duduk di sini.”

Cindy justru tersenyum makin lebar, tak sedikit pun mundur. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nada bicaranya makin halus namun penuh maksud tersirat.

“Jangan dingin begitu dong. Aku tahu segalanya soal kondisimu sekarang. Istri lari membawa adik‑adiknya, masalah perusahaan baru selesai, dan kau kesepian luar biasa. Aku datang bukan sekadar ingin kenalan biasa. Aku ingin jadi pacarmu. Aku bisa menemanimu kapan saja, membuatmu lupa pada masa lalu yang pahit itu, bahkan bisa membantu memulihkan posisimu kembali lebih kuat dari sebelumnya.”

Ia melirik sekilas ke sekeliling lalu berbisik lebih rendah.

“Banyak orang akan iri melihat kita berdua bersama. Aku tak menuntut banyak hal kok, cukup terima aku di sisimu dan biarkan aku menjaga hatimu yang sedang terluka.”

Axel diam sejenak, menatap wajah cantik namun penuh keinginan itu. Di satu sisi tawaran itu terdengar menggiurkan. Terutama saat ia sedang rapuh dan kesepian. Namun seketika bayangan wajah Ayranza yang teduh, janji setia di hadapan keluarga, serta rasa bersalah yang masih berat menindih dadanya langsung muncul seketika. Ia sadar benar: wanita ini tak tahu apa‑apa soal isi hatinya, ia hanya datang saat sedang jatuh, dan hubungan semacam itu justru akan memperburuk keadaan kalau‑kalau Ayranza pulang suatu hari nanti.

Dengan tegas namun tetap sopan Axel menggeleng mantap.

“Terima kasih atas niat baikmu. Tapi aku masih suami orang, meski sedang berjauhan. Hati dan tanganku masih terikat sepenuhnya pada istriku. Aku takkan pernah menggantikan tempatnya dengan siapa pun, apalagi sekarang saat dia sedang butuh perlindungan.”

Wajah Cindy berubah sedikit kecewa namun tak marah. Ia masih berusaha sedikit membujuk.

“Yakin sekali begitu? Bagaimana kalau dia tak pernah mau kembali? Atau sudah bahagia di tempat barunya?”

Axel berdiri tegak, menatap wanita itu sekali lagi dengan pandangan yang mantap dan tak tergoyahkan.

“Kalau pun begitu, itu urusan nanti. Yang pasti sampai napas ini masih ada, aku takkan berhenti berjuang dan menunggunya. Sekarang izinkan aku pulang.”

Ia segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Cindy yang terpaku sendirian di meja sambil menatap punggung Axel yang menjauh dengan perasaan campur aduk, antara rasa kagum karena keteguhannya dan rasa kecewa karena tak bisa membelai hatinya yang sedang rapuh itu.

Di dalam mobil yang melaju perlahan pulang, Axel menarik napas panjang lega sekaligus makin rindu. Penolakan tadi menguatkan tekadnya. Tak ada godaan duniawi yang mampu mengubah tujuannya, yaitu menemukan Ayranza, kedua adiknya, dan anaknya yang baru lahir, lalu memperbaiki semuanya sampai bahagia kembali utuh seperti dulu.

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!