NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:876
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Kemenangan Pertama dan Tatapan Cemburu Hendra

Matahari siang menyengat terik di atas kawasan mega proyek Central District. Deru mesin alat berat, dentingan besi, dan hilir mudik para pekerja bangunan menciptakan simfoni kesibukan yang luar biasa. Di area gerbang utama, tiga puluh armada truk kontainer raksasa berlambang Pratama Corp berbaris rapi, menurunkan berton-ton material semen dan besi baja kualitas prima yang sempat mandek selama berminggu-minggu.

Rani berdiri di atas podium peninjauan dengan mengenakan kemeja putih yang rapi, celana kain hitam, serta helm proyek berwarna putih. Di sampingnya, Riko berdiri dengan gagah, mengenakan kemeja formal yang lengannya digulung dan helm proyek senada.

"Ibu Rani, Tuan Riko, laporan dari bursa efek baru saja masuk," Sekretaris Maya menghampiri mereka dengan tablet digital di tangannya, wajahnya semringah penuh kegembiraan. "Sentimen positif dari kedatangan armada logistik subuh tadi membuat saham Rani Group melonjak naik delapan persen dalam waktu tiga jam perdagangan! Para investor asing yang kemarin sempat ragu kini mengonfirmasi ulang komitmen pendanaan mereka!"

Rani mengangguk profesional, mencoba menahan senyuman kemenangannya. Namun begitu Maya melangkah mundur, Rani menoleh ke arah Riko. Sinar matanya tidak bisa berbohong—ada rasa kagum, lega, dan getaran hangat yang tertinggal pasca-pelukan subuh tadi.

"Kita berhasil, Riko," bisik Rani, suaranya melembut, kehilangan nada angkuh Alpha Woman-nya. "Logistikmu menyelamatkan muka perusahaanku di depan dewan komisaris."

Riko menatap hamparan proyek di bawah mereka, lalu menoleh menatap Rani dengan senyum tipis yang menawan. "Ini baru permulaan, Rani. Aku sudah katakan padamu, aku tidak akan membiarkan proyek istriku hancur hanya karena gangguan dari pecundang."

Sebelum Rani sempat membalas atau memprotes panggilan "istriku" yang kini terdengar makin manis di telinganya, sebuah kehebohan kecil terjadi di gerbang masuk area steril proyek. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik memaksa masuk, dikawal oleh dua orang pria berbadan tegap.

Pintu mobil terbuka, dan melangkah keluar seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan setelan jas desainer mahal, rambut yang ditata klimis, dan wajah yang biasanya dipenuhi senyum kepalsuan. Pria itu adalah Hendra Wijaya—dalang di balik boikot logistik sekaligus mantan rival bisnis yang selalu terobsesi untuk menaklukkan Rani dan menghancurkan Riko.

Namun siang ini, tidak ada senyuman di wajah Hendra. Wajahnya tampak tegang, matanya memerah karena amarah, dan rahangnya mengencang sempurna begitu melihat puluhan truk Pratama Corp berhasil membongkar muatan di dalam area proyek. Sabotase preman bayarannya subuh tadi gagal total, dan dia baru saja mendapat kabar bahwa anak buahnya berakhir di rumah sakit dengan tulang kering patah.

Hendra melangkah lebar menaiki tangga podium peninjauan, mengabaikan peringatan dari petugas keamanan proyek.

"Rani!" seru Hendra, suaranya bergetar menahan amarah yang siap meledak. Dia berhenti tepat tiga langkah di hadapan Rani. "Bagaimana bisa kamu nekat memasukkan armada ilegal ini ke dalam proyekmu?! Aku sudah memperingatkanmu, dewan komisaris tidak akan menyetujui kerja sama dengan vendor bangkrut seperti Pratama Corp!"

Rani melangkah maju satu tapak, melipat kedua tangannya di depan dada, memasang dinding es dan keangkuhan mutlaknya sebagai seorang penguasa korporasi.

"Jaga bahasamu, Tuan Hendra Wijaya," jawab Rani dengan nada suara yang begitu dingin dan menusuk. "Armada ini tidak ilegal. Kontrak kerja sama taktis antara Rani Group dan Pratama Corp sudah ditandatangani secara sah di atas meja kerja saya kemarin pagi. Dan mengenai dewan komisaris? Paman Broto sendiri yang menyetujui efisiensi biaya lima belas persen yang ditawarkan oleh rute logistik Riko. Jadi, di sini... kamulah satu-satunya pihak asing yang tidak berkepentingan yang sedang membuat kekacauan."

Wajah Hendra seketika berubah merah padam mendengar skakmat dingin dari Rani. Dia menolehkan pandangannya, menatap tajam ke arah Riko yang berdiri dengan tenang di samping Rani, menopang tangan di saku celananya dengan aura dominan yang teramat pekat.

"Riko..." desis Hendra, matanya berkilat penuh kebencian dan rasa cemburu yang teramat besar. Dia tidak menyangka pria yang tiga tahun lalu dia usir dari Jakarta dalam keadaan hancur, kini kembali berdiri di samping wanita tercantik dan paling berkuasa di bursa saham dengan wibawa yang jauh lebih mengerikan. "Jangan merasa menang dulu. Kamu hanyalah tikus bangkrut yang beruntung bisa memeras keponakan keluarga Broto dengan pernikahan kontrak murahanmu ini!"

Mendengar kata "pernikahan kontrak" disebut oleh Hendra, jantung Rani sempat berdesir panik. Namun, Riko justru melangkah maju, memposisikan tubuh tegapnya tepat di depan Rani, seolah menjadi perisai hidup yang melindungi istrinya dari tatapan kotor Hendra.

Riko menatap Hendra dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan—seolah-olah pria kaya di hadapannya ini hanyalah sebutir debu yang tidak berharga.

"Hendra," suara bariton Riko terdengar begitu berat, dalam, dan bergaung penuh penekanan di atas podium. "Tiga tahun lalu, aku membiarkan bajingan seperti Haris mengkhianatiku karena aku terlalu fokus melihat ke depan. Aku membiarkanmu merasa menang sejenak dengan uang hasil curian dari perusahaanku. Tapi hari ini, aku ingatkan satu hal padamu..."

Riko maju satu langkah lagi, mengikis jarak hingga Hendra terpaksa mendongak untuk menatap mata elang Riko yang begitu mengintimidasi.

"Kamu bisa menyuap orang dalamku di masa lalu, kamu bisa mengirim belasan preman bayaranmu di subuh buta untuk membakar trukku, tapi kamu tidak akan pernah bisa menyentuh proyek ini, perusahaanku yang sedang bangkit, ataupun..." Riko menjeda kalimatnya, lalu dengan gerakan tangan yang sangat natural namun posesif, dia merangkul pinggang ramping Rani, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dalam dekapannya di hadapan mata Hendra. "...ataupun menyentuh istriku. Rani bukan lagi wilayah yang bisa kamu dekati dengan uang atau ancaman murahanmu, Hendra. Mulai hari ini, setiap langkah yang kamu ambil untuk mengganggunya, akan berhadapan langsung dengan seleret sanksi hukum dan kebangkrutan yang akan aku rancang khusus untuk Wijaya Group."

Hendra terbelalak. Dadanya naik turun memburu karena rasa cemburu yang membakar habis akal sehatnya. Dia melihat bagaimana Rani—sang Alpha Woman yang terkenal anti disentuh oleh pria mana pun—kali ini sama sekali tidak menolak atau melepaskan rangkulan tangan Riko di pinggangnya. Rani justru menyandarkan tubuhnya dengan nyaman pada dada bidang Riko, membalas tatapan Hendra dengan senyum kemenangan yang sarat akan kepemilikan mutlak atas suaminya.

"K-kalian..." Hendra terbata-bata, tangannya gemetar menunjuk mereka berdua, merasa terhina dan hancur secara mental melihat kekompakan intim di antara dua mantan rival ini.

"Pekerjaan kami sangat banyak, Tuan Hendra. Silakan tinggalkan area proyek saya sebelum saya meminta tim keamanan menyeret Anda keluar seperti sampah," tambah Rani dingin, memberikan pukulan verbal pamungkas yang membuat harga diri Hendra runtuh berkeping-keping.

Tanpa bisa berkata-kata lagi, Hendra berbalik dengan menghentakkan kakinya murka. Dia berjalan cepat menuruni podium, melompat ke dalam mobil sedannya, dan memacu mobilnya pergi meninggalkan area proyek dengan suara derit ban yang memekik kencang di tengah kepulan debu.

Setelah mobil Hendra menghilang, keheningan yang intim kembali menyelimuti podium peninjauan. Riko perlahan melonggarkan rangkulannya di pinggang Rani, namun tatapan matanya masih mengunci wajah cantik istrinya yang kini sudah merona merah akibat akting posesif—atau mungkin perasaan nyata—di depan Hendra tadi.

Riko tersenyum tampan, matanya berkilat jenaka. "Akting yang sangat bagus di depan penonton, Ibu Rani. Kamu terlihat sangat meyakinkan sebagai seorang istri yang bucin."

Rani buru-buru memalingkan wajahnya, merapikan helm proyeknya dengan salah tingkah demi menyembunyikan debaran jantungnya yang melompat gila. Monolog batinnya menjeritkan pengakuan yang selama ini dia takuti: rangkulan Riko tadi tidak terasa seperti akting sama sekali. Itu terasa begitu nyata, begitu protektif, dan dia menginginkannya lagi.

"Aku... aku hanya profesional agar Hendra tidak curiga," gumam Rani gengsi, mencoba mempertahankan sisa dinding esnya yang sebenarnya sudah mencair total. "Ayo kembali ke kantor. Kita masih punya banyak manifes yang harus ditandatangani, Suamiku."

Mendengar kata "Suamiku" yang diucapkan Rani dengan nada malu-malu namun manis, Riko terkekeh rendah, melangkah mengekor di belakang istrinya dengan perasaan menang yang seutuhnya—bukan hanya memenangkan pertempuran bisnis, tapi juga mulai memenangkan hati sang Alpha Woman yang paling keras kepala di dunia ini.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!