NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Bagaikan Sesuatu Yang menjijikan.

...

Lonceng besi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Cheongju berdentang keras tepat pukul enam pagi, memecah kabut tipis musim dingin yang masih enggan beranjak dari halaman penjara. Suara langkah-langkah kaku dari ratusan tahanan yang keluar dari sel masing-masing mulai memenuhi koridor, menciptakan gema yang monoton dan melelahkan. Rutinitas pagi hari selalu dimulai dengan hal yang sama: bimbingan massal dan apel pagi di aula utama.

Marysa berjalan di barisan paling belakang dari rombongan sel nomor 407. Kepala sipir wanita yang mengawal mereka sesekali meneriakkan instruksi dengan suara melengking, memaksa para tahanan untuk berjalan tegak dan berbaris rapi.

Kondisi fisik Marysa pagi ini tidak bisa dikatakan baik. Setiap kali dia melangkahkan kaki kanan, rasa nyeri yang menusuk dari rusuknya akibat pukulan Chae-won semalam membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Namun, wajahnya tetap setenang air di dalam sumur tua. Sudut bibir kirinya tampak membiru pekat, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat karena kurang tidur. Luka robek kecil di sana sudah mengering, meninggalkan bekas darah mati berwarna keunguan yang menegaskan bahwa malamnya tidak dilewati dengan tenang.

Aula bimbingan pagi itu terasa sangat luas, dingin, dan berbau kayu lembap. Ratusan tahanan wanita duduk bersila di atas lantai beton, menghadap ke sebuah panggung rendah tempat para pejabat sipir dan beberapa perwakilan dari kepolisian distrik memberikan ceramah moral berkala. Ini adalah bagian dari program pembinaan kepribadian, sebuah formalitas yang bagi sebagian besar tahanan hanyalah waktu tambahan untuk memejamkan mata sejenak.

Marysa memilih posisi duduk di area tengah, mencoba melebur di antara kerumunan agar tidak memancing perhatian sipir yang berjaga di sepanjang dinding. Dia menundukkan wajahnya sedikit, membiarkan beberapa helai rambut hitamnya jatuh menutupi bagian pipinya yang memar.

"Pagi ini, kita kedatangan tim pengawas dari Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Metropolitan Seoul yang akan memantau jalannya program integrasi tahanan kasus khusus," suara sipir pria yang berdiri di balik mimbar bergema melalui pengeras suara yang berdengung tipis.

Mendengar nama institusi itu, jantung Marysa memberikan reaksi refleks. Dadanya terasa berdenyut aneh. Dia perlahan mendongak, mengabaikan rasa kaku di lehernya. Sepasang matanya yang kelam bergerak menyisir area panggung, lalu beralih ke pintu masuk VIP di sisi kanan aula.

Dan di sanalah pria itu berada.

Herry berjalan masuk dengan langkah kaki yang konstan, tegap, dan penuh wibawa. Pagi ini dia tidak mengenakan mantel hitam panjangnya, melainkan seragam dinas harian kepolisian lengkap dengan pangkat kapten yang tersemat kokoh di pundaknya. Kemeja birunya yang disetrika sempurna membungkus tubuh tegapnya, memberikan kesan seorang penegak hukum yang bersih, disiplin, dan tanpa celah. Wajahnya yang tampan dengan garis rahang yang tegas terlihat sangat segar, seolah beban pekerjaan sebesar apa pun tidak mampu merusak penampilannya.

Dia sedang bertugas. Sebagai bagian dari unit elit yang menangkap kepala klan mafia terbesar, kehadirannya di penjara ini adalah untuk memastikan bahwa prosedur penahanan pasca-vonis berjalan sesuai dengan protokol ketat negara.

Herry berdiri di samping meja pejabat lapas, memegang sebuah papan jalan plastik hitam berisi berkas-berkas evaluasi. Matanya yang sedingin es dan sewarna jelaga memindai ratusan tahanan yang duduk di lantai aula dengan tatapan yang sangat datar. Baginya, manusia-manusia di dalam ruangan ini hanyalah angka-angka statistik kriminal yang telah berhasil diklasifikasikan oleh hukum.

Marysa menatap pria itu tanpa berkedip. Jarak mereka mungkin sekitar lima belas meter, namun di mata Marysa, sosok Herry terasa berada di dunia yang sangat jauh dan tidak terjangkau. Pria itu terlihat begitu bersinar di bawah lampu aula, sangat kontras dengan dirinya yang duduk bersila di atas lantai beton yang kotor dengan tubuh penuh memar.

Pada satu momen yang terasa berjalan dalam gerak lambat, pandangan mata Herry yang sedang memindai barisan tahanan mendadak berhenti. Sepasang mata dingin sang kapten mengunci langsung ke arah posisi Marysa duduk.

Kontak mata itu terjadi lagi.

Herry mengenali wajah itu. Tentu saja dia ingat, wanita itu adalah Marysa, mantan kepala klan mafia yang baru dua minggu lalu dia seret ke meja hijau. Mata Herry menyipit tipis ketika mendapati sudut bibir wanita itu yang membiru pekat akibat luka baru, serta cara duduk wanita itu yang sedikit condong ke kanan sebuah gestur tubuh dari seseorang yang sedang menyembunyikan cedera di bagian rusuk.

Sebagai seorang detektif berpengalaman, Herry langsung tahu apa yang terjadi. Marysa sedang mengalami masa "penyambutan" yang keras dari para tahanan lama di dalam selnya. Kekerasan antar-narapidana adalah hal yang lumrah di penjara seketat ini, terutama bagi seseorang yang dulunya berada di puncak kekuasaan seperti Marysa.

Namun, tidak ada satu pun percikan empati atau rasa kasihan yang muncul di dalam manik mata Herry. Tatapannya tetap kosong, asing, dan sedingin es yang membeku di puncak musim dingin. Dia menatap luka di wajah Marysa seolah-olah dia sedang melihat sebuah goresan kecil pada dinding semen yang tidak penting. Baginya, seorang kriminal yang terluka di dalam penjara adalah konsekuensi logis dari jalan hidup kelam yang mereka pilih sendiri. Setelah beberapa detik yang terasa menyiksa bagi dada Marysa, Herry dengan santai mengalihkan pandangannya ke barisan tahanan lain, memutuskan kontak mata sepihak seolah Marysa tidak lebih dari sekadar angin lalu.

Dia benar-benar melihatku sebagai orang asing yang menjijikkan, batin Marysa.

Rasa sesak yang semalam sempat mengendap di dasar dadanya kini naik kembali ke tenggorokan, terasa mencekik dan panas. Kenyataan bahwa pria yang lima tahun lalu memegang tangannya dengan erat di tenga Pelabuhan Incheon, pria yang pernah menatapnya dengan binar kehidupan yang hangat, kini melihatnya dengan tatapan sekosong itu... rasanya jauh lebih menyakitkan daripada seluruh pukulan yang dia terima dari Chae-won semalam.

Perlahan, di atas bibirnya yang terluka dan membiru pekat, Marysa menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Dia tersenyum.

Sebuah senyuman kecut yang penuh dengan kegetiran murni. Senyuman yang mengolok-olok kebodohan hatinya sendiri yang masih saja berdegup kencang hanya karena melihat pria itu berjalan masuk ke dalam ruangan. Sudut bibirnya yang robek terasa sedikit perih karena ketarik oleh senyuman itu, memicu setitik darah segar yang kembali merembes di sela-sela warna biru memarnya, namun Marysa tidak peduli.

Dia mempertahankan senyuman kecut itu sambil terus menatap Herry dari kejauhan. Dia mematuhi nasihat ibunya untuk tetap tersenyum agar pikirannya tidak membuatnya gila, dan dia juga mematuhi perintah ayahnya untuk tetap tersenyum agar tidak terlihat lemah di hadapan orang. Di mata orang lain yang mungkin melihatnya sekarang, Marysa akan terlihat seperti seorang psikopat wanita yang tidak waras, tersenyum di tengah penderitaan fisiknya. Namun, hanya Marysa yang tahu bahwa senyuman itu adalah cara terbaiknya untuk meratapi cintanya yang telah mati dan dikubur hidup-hidup oleh amnesia pria itu.

Di atas panggung, pejabat sipir masih terus membacakan poin-poin bimbingan mengenai pertobatan dan masa depan yang bersih setelah keluar dari lapas. Kata "masa depan" terdengar seperti sebuah lelucon paling sarkas di telinga Marysa. Dia dijatuhi hukuman seumur hidup, tidak ada masa depan di luar dinding batu ini untuknya. Dan bahkan jika ada, masa depan Herry sudah bukan lagi miliknya. Pria itu sudah memiliki seorang tunangan, seorang wanita terhormat yang akan menemaninya naik ke puncak karier kepolisian.

Herry tampak membisikkan sesuatu kepada salah satu petugas lapas senior di sampingnya, menyerahkan papan jalan hitam itu, lalu berbalik arah untuk berjalan keluar dari aula bimbingan karena tugas pengawasannya pagi itu telah selesai. Dia melangkah pergi tanpa pernah berbalik lagi untuk melihat ke arah barisan tahanan.

Pintu VIP berdentum menutup di belakang tubuh tegap Herry, membawa pergi satu-satunya sumber cahaya yang sempat mereduksi kegelapan di dalam mata Marysa.

Setelah kepergian Herry, aula bimbingan terasa kembali dingin dan pengap. Marysa menurunkan kembali pandangannya ke lantai beton, menghapus senyuman kecut di bibirnya, dan membiarkan kekosongan total kembali mengambil alih jiwanya.

...

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!